Diawali oleh adegan pertengkaran Alexandra Rhea (Raihaanun) dan Beno (Reza Rahadian), Twivortiare membuka film dengan menggigit. Konflik dalam film sudah diisyaratkan sejak awal. Sehingga tidak terlalu bertele-tele untuk menarik perhatian penonton.

Beno Wicaksono, dokter jantung yang mencintai profesi serta pasiennya, menikah dengan Alexandra Rhea, bankir sukses yang juga punya dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Kesibukan yang bercampur aduk dengan ego pribadi serta diperparah oleh miskomunikasi membuat Alex dan Beno bercerai.

Dua tahun kemudian, ternyata mereka belum benar-benar bisa melangkah dari masa lalunya. Bahkan Denny (Denny Sumargo), pacar Alex yang baru, belum sanggup mengalahkan pesona Beno. Alex dan Beno akhirnya memutuskan menikah lagi.

Pertarungan mereka mengatasi masalah yang belum sepenuhnya selesai pada perkawinan pertama menjadi inti cerita film ini. Hadir pula sosok Adrian (Arifin Putra), klien Alex yang kaya raya, dan dr. Rani (Citra Kirana), kolega Beno di rumah sakit. Bagaimana pergulatan mereka mengatasi masalah? Akankah mereka kali ini menyerah lagi?

Twivortiare mengangkat tema relasi dua orang dewasa. Kisah cinta dua pribadi matang yang menghadapi masalah. Jalan cerita film ini menggambarkan realitas menjalankan sebuah hubungan. Bukan menampilkan hubungan yang ideal dan manis.

Namun sayangnya, film ini hanya menampilkan plot cerita yang berulang, miskomunikasi dan potensi kehadiran pihak ketiga. Konflik tidak ditingkatkan ke level lanjutan. Walaupun potensi tersebut sangat terbuka, potensi tersebut tidak dieksploitasi oleh sutradara Benni Setiawan.

Mungkin karena memang jalan cerita novel memang hanya sampai di situ. Film Twivortiare diangkat dari novel berjudul sama karya Ika Natassa. Durasi 103 menit terasa cukup wajar. Dengan plot yang nyaris mengulang, akan jadi membosankan bila durasi film lebih dari 103 menit.

Tema-tema seperti izin suami, cara Beno memesankan makanan untuk Alex, cara Adrian memperlakukan Rhea, hanya menampilkan pola ketimpangan relasi kuasa antara suami-istri, klien kaya raya dan relationship manager-nya. Klise.

Dengan latar belakang Alex sebagai perempuan yang mapan secara sosial dan finansial, sebenarnya bisa saja kritik terhadap patriarki diselipkan ke dalam cerita. Namun, Alex tidak digambarkan mengkritik ambisi dominasi Beno mengatur pesanan makanan.

Alex juga tidak tampak melawan Adrian yang cukup agresif menampilkan hasrat kuasanya sebagai laki-laki kaya. Adrian kelihatan sekali berusaha mencengkeram Alex. Walaupun Alex sudah tampak enggan. Twivortiare hanya melanggengkan pandangan-pandangan kuno dalam relasi perempuan dan laki-laki.

Kekuatan utama film ini terletak pada peran aktor dan aktris utamanya. Reza dan Raihaanun benar-benar menunjukkan kualitas langganan pemenang penghargaan perfilman Indonesia. Secara individu, mereka berhasil menampilkan karakter dokter dan bankir yang memesona.

Baik Reza maupun Raihaanun juga sangat meyakinkan penonton dalam menampilkan karakter menyebalkan sekaligus mudah dicintai. Relasi kimiawi di antara mereka nyaris sempurna. Tidak ada kesan mereka hanya sebagai rekan kerja atau teman biasa, seperti dalam dunia nyata.

Cerita yang memang berkonsentrasi pada karakter Beno dan Alex mampu dimaksimalkan kedua aktor dan aktris. Reza dan Raihaanun benar-benar menjadi Beno dan Alex dalam perilaku, pandangan, dan hal-hal rinci lainnya. Pemilihan pemeran utama dalam film ini boleh dibilang sempurna.

Aktris dan aktor pendukung lain, termasuk beberapa aktor dan aktris senior, berperan cukup wajar. Tidak terlalu memukau tapi juga tidak mengecewakan. Denny Sumargo, Dwi Yan (ayah Alexandra), Lydia Kandou (Ibu Alexandra), Roy Marthen (Ayah Beno), Aida Nurmala (Ibu Beno) bermain aman.

Anggika Bolsteri (Wina) dan Boris Bokir (Ryan), dua sahabat Alex, memberi suasana segar di antara pertengkaran Beno dan Alex. Pada paruh akhir, adegan kepanikan Wina dana Alex menjadi pemecah yang memberi napas penonton pada babak kritis Beno dan Alex.

Sinematografi film ini juga cukup aman. Pengambilan gambar cukup meyakinkan dalam merepresentasikan potret pasangan kelas menengah sampai kelas atas. Kelas yang hampir bisa memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan hidup.  

Musik tema Kembali ke Awal yang dibawakan Glenn Fredly menjadi sajian pemanis yang melengkapi romansa dua orang dewasa ini. Selain pemilihan aktor dan aktris utama, menunjuk Glenn sebagai pencipta dan pembawa musik tema adalah keputusan tepat lainnya dalam film ini.

Secara umum, Twivortiare layak ditonton, terutama bagi mereka yang menjalani hubungan dalam fase dewasa. Penonton akan sangat mungkin tersenyum kecil karena beberapa adegan memang menggambarkan realitas keseharian mereka dengan pasangan.

Kehilangan waktu berkualitas atau interaksi dekat dengan kolega yang rentan membuat pasangan cemburu menjadi isu-isu yang dekat sekali dengan relasi dua orang dewasa. Terutama mereka yang tinggal di kota besar.

Tentu akan lebih menarik lagi bila plot film ini dibuat lebih dinamis. Namun kisah cinta yang menghadirkan relasi nyata yang digeluti oleh pasangan sibuk di kota besar menyegarkan sudut pandang film-film drama cinta Indonesia.