“Kelak, aku akan kalah oleh waktu dan jarak yang tak terlampaui. Hingga aku melupakan suara dan wajahmu.”

Kalimat itu merupakan salah satu narasi puitis yang terdapat di dalam film anime berjudul 5 Centimeters per Second. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi penonton yang seakan ikut merasakan perasaan tokoh utama.

Masih terkenang jelas di ingatan bagaimana saya meneteskan air mata saat menyaksikan film bergenre romance ini beberapa bulan yang lalu. Memang film ini tidak mengisahkan tentang hidup yang merana dan sengsara, tapi film animasi dari Jepang atau biasa disebut anime ini mampu membuat saya tersentuh dengan jalan ceritanya yang sederhana dan realistis.

5 Centimeters per Second adalah film anime yang disutradarai oleh Makoto Shinkai. Film yang menjadi salah satu anime terpopuler di dunia ini banyak menarik minat penonton yang dikarenakan kesederhanaannya  yang membekas di ingatan. Film ini juga banyak mengandung nilai kehidupan sehari-hari yang mungkin hampir sebagian orang pernah merasakan dan mengalaminya.

Film ini terbagi menjadi 3 chapter di mana setiap chapter-nya berpusat pada seorang tokoh laki-laki yang bernama Takaki Tohno. 3 chapter ini dibagi menjadi kehidupan SD-SMP, SMA dan saat sudah dewasa seorang Takaki Tohno yang di setiap chapter-nya memiliki kisah dengan beberapa wanita. Namun  secara garis besar, film ini bercerita tentang kisah cinta antara Takaki Tohno dan Akari Shinohara.

Mengambil latar belakang kota Tokyo dan menampilkan visualisasi yang mendetail. Menit awal film ini dibuka oleh pemandangan bunga sakura yang gugur dan beterbangan diiringi dengan narasi puitis.

Takaki dan Akari sudah saling mengenal sejak kecil dan sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berdua sama-sama sering sakit dan tidak bisa terlalu banyak melakukan kegiatan, jadi saat di sekolah mereka hanya menghabiskan waktu bersama di perpustakaan.

Secara alami mereka menjadi teman dekat. Karena sangat dekatnya mereka memutuskan untuk melanjutkan bersekolah di SMP yang sama. Namun pada suatu malam sebelum masuk SMP, Akari menelepon Takaki dan mengabarkan bahwa dirinya akan segera pindah ke luar kota dan tidak bisa melanjutkan sekolah bersama seperti yang mereka rencanakan.

Meski mereka sudah berpisah dan berada di tempat yang berbeda, mereka berdua masih saling berkomunikasi lewat surat. Takaki yang meskipun sibuk dengan kegiatannya selalu menyempatkan diri untuk berbalas surat dengan Akari.

Setelah selama setahun Takaki lalui tanpa Akari dan hanya berkabar lewat surat, Takaki akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Akari sebelum Takaki meninggalkan Tokyo karena pekerjaan ayahnya.

Perjalanan Takaki untuk bertemu dengan Akari dipenuhi dengan berbagai cobaan dan rintangan, mulai dari surat yang akan diberikan kepada Akari terbang tertiup angin di tengah perjalanan, kereta yang terlambat karena badai salju hingga dinginnya malam yang harus dilalui Takaki, namun hal itu tak membuat Takaki mundur untuk bisa bertemu lagi dengan Akari.

Perjalanan yang harusnya sudah sampai 4 jam lalu itu berhasil dilalui Takaki. Di stasiun, Takaki melihat Akari duduk menunggu seorang diri.

Malam itu mereka lalui bersama sambil mengenang semua kenangan yang telah mereka lewati. Hingga akhirnya pagi kembali hadir dan memisahkan mereka lagi karena Takaki harus segera kembali.

Selanjutnya di chapter 2 menceritakan Takaki di tahun terakhir masa SMA di kotanya yang baru. Di sini Takaki dipertemukan dengan seorang gadis lain, kanae Sumida, gadis yang sangat mengagumi Takaki.

Chapter kedua ini lebih berfokus pada Kanae Sumida hingga pada bagian akhir chapter Kanae akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada Takaki. Namun, Takaki yang masih dibayang-bayangi Akari hanya bisa diam memandang Kanae menangis didepannya.

Chapter 3 disuguhkan dengan kisah Takaki yang sudah dewasa, berada di dunia kerja dan kembali menjalani hidupnya di Tokyo. Takaki yang dewasa menampilkan karakter yang suram dan memiliki kehidupan monoton. Kebahagiaan seakan-akan tak pernah hadir di hidupnya.

Pada chapter ini, Takaki sudah berpacaran dengan wanita lain yang bernama Mizuno. Hubungan mereka terasa hambar bahkan terkesan bukan seperti orang berpacaran. Takaki banyak mengabaikan semua panggilan telepon dan pesan yang dikirim oleh Mizuno. Takaki benar-benar masih terjebak dalam bayang-bayang Akari.

Chapter terakhir ini juga begitu mengejutkan karena kembali menampilkan Akari yang sudah menikah dan memiliki suami. Akari menuju Tokyo dan hendak menemui suaminya. Dia melewati jalan di mana biasanya dia dan Takaki bermain saat SD dulu.

Di tengah perjalanan, mereka dipertemukan namun tak saing mengenal. Saat Takaki baru sadar bahwa ia baru saja melihat Akari, kereta api sudah lewat dan menghalangi pandangan Takaki yang berada di sisi yang berbeda dengan Akari. Hingga akhirnya saat kereta sudah lewat, ternyata Akari sudah pergi.

Ending yang cukup mengharukan bagi saya, ditambah lagi saat adegan di mana Takaki tersenyum karena meskipun sekilas, ia bisa melihat Akari lagi.

Mungkin bagi Takaki mengingat kembali sesuatu dimasa lalu memang kegiatan yang menyenangkan. Namun, hal itu tidak akan pernah cukup baik untuk kita jalani kembali.

Pesan yang bisa kita ambil dari film ini adalah jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Jika kau mencintai seseorang, maka kau harus ungkapkan. Karena mungkin saja dia sedang menunggumu untuk hal itu. Di film ini, Takaki bahkan tak pernah menyatakan cintanya pada Akari, hingga akhirnya seumur hidup selalu dibayangi oleh Akari yang kini sudah menjadi istri orang lain.