Konon, dalam serial kartun Uzumaki Naruto, guru Naruto yang bernama Hatake Kakashi punya kemampuan unik. Ia mampu meniru gerak lawan selama tiga detik sebelum lawan bergerak ketika tengah bertarung. Kemampuan ini membuat dirinya berjuluk “si ninja peniru”.

Kemampuan ini beberapa kali menyulitkan ninja yang menjadi lawannya. Sebagai contoh ketika menghadapi Momochi Zabuza. Zabuza kesulitan menaklukkan ‘jurus’-nya sendiri. Pada akhirnya, Kakashi berhasil menaklukkan Zabuza.

Jurus ini pula yang dipakai oleh Zinedine Zidane ketika timnya, Real Madrid, melawan Atletico Madrid di final Liga Champions 2016 yang berlangsung di San Siro, Milan. Secara keseluruhan, penampilan Real Madrid bisa dibilang tidak terlalu bagus. Tapi ada yang unik dari cara  bermain Real Madrid. Ya, tim berjuluk Los Blancos ini memainkan cara Atletico bermain.

Atletico dikenal sebagai tim yang bermain negatif dengan mengutamakan kerapatan pertahanan dan menunggu saat yang tepat untuk melakukan serangan balik untuk mencuri gol. Strategi khas Diego Simeone ini kerap diterapkan ketika Atletico menghadapi tim yang selevel atau lebih kuat. Strategi ini terbukti berhasil menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munchen dari ajang Liga Champions musim ini.

Barcelona dan Bayern bermain dengan mengandalkan penguasaan bola. Seluruh pemain aktif menjelajah setiap sudut lapangan sembari mencari celah yang ditinggalkan para pemain Atletico. Namun disiplinnya para pemain Atletico tak memberi ruang sama sekali. Setiap pemain Atletico dituntut menjaga konsentrasi dan menjaga area masing-masing.

Keasyikan menyerang menyebabkan lawan lupa menjaga garis pertahanan. Para pemain Atletico yang ditempatkan berada agak dalam di garis pertahanan sendiri secara tidak langsung memang bertujuan untuk memancing lawan jauh meninggalkan garis pertahanan mereka. Mereka pun biasanya diinstruksikan Simeone untuk membiarkan lawan menguasai bola. Skema inilah awal mula terjadinya gol Fernando Torres di Camp Nou dan gol Antoine Griezmann di Allianz Arena.

Namun, cara ini tak berjalan di final kemarin. Selama 10 menit awal pertandingan mulanya berjalan normal. Real dibiarkan menguasai bola dan berputar-putar di lapangan tengah. Duo Fernandez (Gabi dan Augusto) yang berada di tengah siap siaga memberi umpan jauh pada Griezmann dan Torres bila sewaktu-waktu Real kehilangan bola. Tak jarang, para pemain Atletico harus bermain keras untuk mencuri bola ketika melihat kesempatan terbuka.

Permainan keras ini pula yang menjadi petaka awal. Setelah peluang emas di menit keenam milik Casemiro dimentahkan kiper Jan Oblak, Real akhirnya benar-benar unggul di menit 15. Mirip dengan peluang Casemiro, gol ini bermula dari tendangan bebas yang diambil Toni Kroos. Gareth Bale yang jadi target pertama memantulkan bola ke mulut gawang Oblak. Lalu, sentuhan Sergio Ramos, gol.

Dari sinilah mula Atletico melawan ‘jurus’-nya sendiri. Real bermain lebih tenang dan tidak terburu-buru dalam menyerang. Tiga gelandang Real (Kroos, Casemiro dan Luka Modric) bermain agak ke dalam, dekat dengan 4 bek di belakang. Mereka membiarkan para pemain Atletico build-up serangan dari tengah namun ketika sampai sepertiga pertahanan akhir Real, dipotong. Gabi dan Augusto yang terbiasa menyerang cepat melalui counter pun kebingungan mencari cara menyalurkan bola ke depan.

Koke dan Saul pun yang biasa memanfaatkan kecepatannya dalam meyerang pun kebingungan ketika melihat ‘ramai’-nya para pemain Real di pertahanan mereka. Sebaliknya, para pemain Real ‘meniru’ cara Atletico ketika melakukan counter. Beberapa kali bola jauh berhasil diumpan pada Ronaldo, Bale ataupun Benzema ke pertahanan Atletico. Beberapa kali terjadi overload, jumlah pemain Real lebih banyak ketimbang Atletico di sepertiga pertahanan Atletico.

Atletico yang hanya menguasai 29% dan 30% bola ketika menghadapi Bayern dan Barcelona, kini berbalik unggul penguasaan bola atas Real. Bahkan di sepertiga terakhir babak pertama, Atletico sempat unggul hingga 62% penguasaan bola.

Serangan Atletico baru lebih variatif di babak kedua dengan masuknya gelandang Yannick Ferreira-Carrasco. Pemain berusia 22 tahun ini beberapa kali sukses menerobos pertahanan Real. Tercatat 6 dribel sukses ia bukukan. Puncaknya, pada menit 79 Carrasco berhasil samakan kedudukan memanfaatkan umpan bek kanan Juanfran. Namun, ini saja yang menjadi serangan membahayakan yang berhasil diciptakan para pemain Atletico.

Setelah tak ada gol di perpanjangan waktu, Real akhirnya meraih gelar ke-11 setelah unggul 5-3 di babak adu penalti. Kegagalan ini mengulangi kegagalan dua tahun sebelumnya di Lisbon, Portugal.

Atletico pun memakan jurusnya sendiri. Andai saja, Atletico yang berhasil mencuri gol lebih dahulu mungkin yang kita saksikan adalah Atletico seperti biasanya, seperti Real bermain sejak menit ke-16 di partai yang turut disaksikan Jorge Lorenzo itu.

Ada adagium menyebut ‘menyerang membuatmu memenangkan pertandingan, tapi bertahan membuatmu menjuarai turnamen’. Dan Real alias Los Blancos alias Los Galacticos yang sukses memakai adagium itu untuk merebut gelar Liga Champions musim ini. Hala Madrid! Aupa Atleti!