Peneliti
6 bulan lalu · 1499 view · 3 menit baca · Politik 98681_79350.jpg

Re-Aksi 212, Aksi Gendruwoisme

Dungu. Begitu kira-kira kata yang pas untuk rencana mengulang aksi 212 di Monas, tanggal 02 Desember 2018, akhir pekan ini.

Dungu bukan menunjuk pada (ngataian) orang-orangnya, tapi perilakunya (meminjam pengertian Rocky Gerung, yang kerap suka sekali melontarkan kata-kata ini).

Alasannya, tampak hilangnya akal sehat, tujuannya ngawur, tidak jelas juntrungannya, tidak terpuji, tidak elegan, memaksakan kehendak, kehabisan cara, dan bahkan ada kecenderungan pada gejala psikopat.

Mengulang aksi 212 ini, tak lebih hanya sebagai aksi gendruwoisme. Merujuk pada Goenawan Mohamad, bahwa gendruwoisme adalah gerakan menyebarkan paranoia — takut akan ancaman yang sebenarnya tak ada. Gendruwoisme adalah cara menggerakkan massa. Gendruwoisme membuat kecurigaan massal jadi kebencian kolektif. Bukankah ini adalah dungu dan gejala psikopat?

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita terhadap aksi 212 di Monas tahun 2016, baca juga tulisan saya: Rencana Aksi 212, Salat Jumat di Jalanan dan Gejala Psikopat dan Buah Bibir dari Monash tentang Buih di Monas. 


Mengulang aksi 212, seperti juga dulu saat pilkada DKI Jakarta 2016 yang lalu, selalu dibilang pure adalah kegiatan keagamaan biasa. Padahal jelas-jelas kali ini pun adalah aksi politik untuk mendukung Prabowo - Sandi. Tidak percaya? Lihat saja nanti dari atribut-atribut dan simbol tangan peserta aksi. Sudah bisa dipastikan merefleksikan dukungan ke Prabowo - Sandi.

Inilah politisasi agama yang nyata. Agama dan ayat-ayat Tuhan menjadi dagangan dan komoditas yang sangat murah. Tuhan diajak berkampanye untuk kepentingan politik sesaat. Tuhan diseret-seret menjadi jurkam politik jangka pendek. Lagi-lagi, langit suci sengaja dikoyak oleh tangan-tangan kotor dan tak beradab yang menghalalkan segala cara demi memuaskan birahinya dan kebelet untuk berkuasa. Bukankah ini sama artinya dengan proses desakralisasi dan degradasi kedudukan Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi?

Lantas untuk apa sebenarnya re-aksi 212 ini diadakan, kalau bukan untuk politisasi agama? Bukankah ini tujuannya adalah untuk menunjukkan kekuatan massa pendukung capres mereka, sekaligus menegaskan sebagai ancaman yang menakutkan (sebenarnya, hanya untuk menebar paranoia dan menakut-nakuti saja) bagi kubu Jokowi - Ma'ruf Amin, begitu?

Berdalih dibalik alasan bahwa umat Islam itu mayoritas, jumlahnya besar dan acara syiar keagamaan sehingga perlu re-aksi 212 ini. Padahal ujung-ujungnya adalah kampanye dan dukungan untuk kubu Prabowo - Sandi.

Inilah gerakan gedruwoisme itu. Politik untuk menakut-nakuti dan dungu itu. Politik yang tidak berdasarkan akal sehat dan menyebar paranoia itu.



Jujur, rencana busuk kegiatan re-aksi 212, sejak awal dan jauh-jauh hari sudah pasti diprediksi oleh timses kubu Jokowi - Ma'ruf Amin. Busuk, karena kegiatan ini jelas-jelas tidak murni kegiatan keagamaan. Tapi lebih kentara sebagai politisasi agama. Jadi, jelas re-aksi 212 ini sudah diantisipasi sebelumnya. Dus, kubu Jokowi - Ma'ruf Amin tidak perlu merasa takut dan khawatir akan mengganggu dan memengaruhi tingkat elektabilitasnya dalam pilpres 2019. Karena re-aksi 212 ini adalah cara-cara basi dalam berdemokrasi.

Selain itu, membandingkan re-aksi 212 atau aksi alumni 212 ini dengan aksi 212 dulu saat pilkada DKI Jakarta tahun 2016, tentu berbeda jauh. Baik situasinya, temanya, maupun cakupan wilayah. Dulu itu gegara kasus Ahok yang notabene saat itu cagub petahana dalam perkara penistaan agama. Pilkada DKI Jakarta tentu berbeda dengan pilpres 2019. 

Pilkada hanya satu provinsi. Cakupan wilayahnya hanya provinsi DKI Jakarta. Pilpres itu nasional, mencakup seluruh provinsi. Kalau tolok ukurnya aksi 212 saat pilkada DKI Jakarta dan Anies Baswedan yang terpilih, kemudian dipakai untuk re-aksi 212 yang sekarang dan pilpres 2019, tentu tidak relevan dan tidak tepat. Karena jauh berbeda. Re-aksi 212 ini tidak segreget dibanding aksi 212 yang dulu. Efek re-aksi 212 ini tampaknya tidak begitu besar pengaruhnya terhadap elektabilitas capres 2019. Yang pasti, Indonesia bukan hanya Jakarta. Jangan suka berhayal alias paranoia!

Sebagai catatan, berharap jangan sampai nanti ada klaim bahwa kehadiran peserta reuni 212 ini dijadikan tolok ukur dari tinggi keimanan dan girah keislamannya. Karena baik itu yang hadir maupun yang tidak hadir reuni 212 sama-sama belum tentu juga seperti itu. Terlepas, Jokowi, Ma'ruf Amin, Wiranto, Tito Karnavian, dan lainnya; yang notabene adalah alumnus 212, sepertinya absen. Apalagi saya yang bukan alumnus. Hanya nanti kalau ada yang bukan alumnus, tapi hadir juga, adalah hak masing-masing dan baik-baik saja. Paling-paling karena nggak ada kerjaan, atau  itung-itung sekadar jalan-jalan ke Monas. Wallahu a'lam bi al-shawab.

Artikel Terkait