Hari ini aku pergi ke kantor Kecamatan. Tujuanku, untuk melapor kedatangan karena mendapat tugas sebagai Pendamping Desa di kampung ini.

Pak Camat adalah seorang laki-laki  yang masih muda, gagah, dan sangat welcome. Beliau menyambut kedatangan kami dan gembira dengan tujuanku untuk bertugas di sini.

“Iye, Petta. Mari ki, saya kami mau ke sekolah dulu,” kata Pak Arif, seorang teman yang menemaniku. Rupanya camat di sini dipanggil dengan Petta. Kami meminta izin pamitan.

Eng…eng… eng…, sebuah motor berhenti di depan kami.

“Eh, kanda,” kata seseorang sambil membuka helm merahnya.

“Iye, Dinda,” kata pak Arif. Dia lagi-lagi menjabat tangan orang ketika bertemu dan pasti berkata, "apa kabar, Andi?". Lalu kudengar lagi dengan jelas, Pak Arif berkata, “Apa kabar, Andi?”

Aku memperhatikan cowok yang masih di atas motor itu. Mereka asyik berbincang saling menanyakan kabar dan kegiatan. Mungkin, mereka baru bertemu lagi. 

Samar-samar kudengar pak Arif bertanya. Mengapa cowok itu ke kantor camat. Dijawab oleh cowok itu, mau minta tanda tangan petta camat. Mereka bicara dalam bahasa Bugis. Suaranya terdengar bagus dengan logat mendayu-dayu sesuai dengan aksennya.

Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Aku melihat seekor kupu-kupu yang beterbangan di halaman kantor camat yang begitu luas. Aku berlari kecil untuk mengikuti arah terbangnya. Ah, rupanya banyak kupu-kupu di halaman karena di sana banyak tanaman. Lagipula, udaranya segar sekali.

“Halo, selamat pagi.” Kataku pada kupu-kupu yang beterbangan. Aku mulai menyenangi mereka yang sangat cantik di pagi ini. Tidak seperti semalam, yang sedikit menakutkan.

“Bu, sini bu.” teriak pak Arif memanggilku. Rupanya, dia ingin mengajakku berkenalan dengan temannya tadi.

Laki-laki berkemeja biru polos itu turun dari motornya, setelah memarkirnya, dia mengulurkan tangannya kepadaku. Dari pembawaan dirinya, dia terlihat dewasa dan berwibawa padahal paras wajahnya kelihatan masih muda dibawahku.

Aku tertegun, sangat mengesankan.

“Irfan.” katanya

Aku juga mengulurkan tanganku dan berkata “Rara.” Aku memandangnya dari jarak dekat, rasanya pernah melihatnya. Entah dimana, dia bukanlah orang yang asing bagiku. Aku terus memperhatikannya. Dia juga memandangku seksama dengan eksperesi yang datar. Apa dia juga berpikir yang sama? Kejadian yang sama terulang kembali, de javu.

Pak Arif mempromosikanku pada Irfan, kalau aku dapat tugas disini, di kecamatan ini. Dan pak Arif menganggap Irfan adalah adiknya, adik angkatnya. Memang kelihatannya masih muda pantasan pak Arif memanggilnya dengan kata Dinda, terkadang juga Andi. Andi yang bisa berarti adik, selain gelar di tanah Bugis itu sendiri.

Aku tersenyum. “Kita kerja dimana?” aku melihat ke Irfan dengan bertanya yang sangat sopan.

Dia menjawab dengan tenang, katanya serabutan.

Serabutan? Aku nyengir, apakah dia marah, tidak nyaman rasanya dia menjawab begitu. Aku merasa pertanyaanku padanya salah. Aku menatapnya lagi.

Roman wajahnya keras, mungkin juga dirinya keras atau semangatnya yang tinggi. Rahangnya kuat, alisnya yang tebal. Matanya tajam tapi tatapan matanya lembut, mungkin sebenarnya dia punya jiwa penyayang. Aku pikir, aku bisa menilai orang melalui karakter wajahnya. Ah, atau mungkin aku yang terlalu perasa, sensitif. Namun, dia terlihat sangat menarik dengan janggut dan cambang yang tumbuh dimukanya, rapi. Ah, jarang anak muda memelihara itu. Dia manis sekali.

“Ow, dia masih kuliah S2, bu. Irfan ini pintar komputer, kalau ada apa-apa ibu bisa hubungi dia.” kata Pak Arif berpromosi mengangkat derajat temannya, dia menjelaskan sambil tertawa.

“Oh, iya, bisa dong aku suruh nanti install laptop.” kataku bercanda berusaha mengakrabkan suasana sambil memperhatikannya.

Pak Arif tertawa sementara dia, Irfan hanya tersenyum. Dan kami pun berpamitan padanya untuk ke sekolah.

De javu?

Diatas motor bersama pak Arif. Aku memikirkan si Irfan tadi. Dimana aku pernah melihatnya? Apa dia mirip dengan teman laki-lakiku di Jogja dulu? Atau dia mirip dengan keluargaku di Mandar sana? atau dia mirip dengan tetanggaku di Makassar? Ah, aku belum menemukannya.

Irfan, Irfan, Irfan mengapa aku langsung memikirkanmu? Kamu seperti pangeran yang tiba-tiba turun dari langit. Aku kenapa ya? Apa aku tiba-tiba jatuh cinta?  love at first sight? Impossible or Im possible. 

Satu Bulan Kemudian.

“Pagi Bu Rara.” kata seseorang menghentikan lamunanku

Mengapa aku begitu mengenal suaranya? Astaga, apakah itu suara Irfan? Aku melihat keluar ke pagar besi yang rendah Cuma sekitar 1 meter. Suprice, itu Irfan yang barusan menyapaku. Tuhan, aku berdebar dag-dig-dug melihatnya. Aku sempat speechless, aku yang masih kaget berusaha menenangkan diriku.

“Hhhaiii…” kataku melambai dengan grogi.

Dia turun dari motor dan mendekati pintu. Kali ini, dia tampak begitu santai dengan baju kaos hitamnya, celana jeans selututnya yang berwarna senada dengan bajunya, dan sandal jepit berwana biru. Cuek sekali.

Aku mendekati pagar ingin membukanya. Aku masih berbaju tidur, dengan kondisi rambut yang awut-awutan. Dan mungkin dengan mata sayu yang ada beleknya. Aku merapikan rambut panjangku dengan tangan agar sedikit rapi. Aduh, perasaan aku tidak mengundangnya datang hari minggu ini. Tidak nyaman juga menghadapi tamu dalam keadaan begini.

Aku merapikan rambut panjangku dengan tangan agar sedikit rapi.  Ada apa ya? Tanyaku dalam hati antara sebel karena dia tiba-tiba datang dan senang dia menemuiku. “Mari masuk.” aku tersenyum melihatnya datang mengunjungiku.

“Makasih, bu.” dia menggunakan kata Ibu untuk menghormatiku yang lebih tua dan juga untuk menghormati profesiku. Padahal, ini di rumah, bukan di kantor atau sekolah. Bisa saja dia hanya memanggilku dengan kata, kakak.

Di kampong ini, Irfan memang sudah sering menyapaku tapi via sms dan Whats App. Atau kami bertemu di kantor desa yang tidak disangka-sangka, rupanya dia juga pemerhati di kampungnya sendiri. Di Kantor, dia menyapaku dengan “Hai, bu?” ketika kujawab sapaannya dia menghindariku dan pergi. Entah maksudnya apa?  

Tapi, kali ini maksudnya, dia datang untuk mengajak makan barobbo di rumahnya. Ini makanan khas Sulawesi yang terbuat dari jagung yang dipenuhi sayuran plus lauk seperti udang. Irfan memang suka mengajakku kemana-mana, membuat kami semakin akrab saja.

Suatu Hari Di Kontrakan

Aku ingin melihat rak buku di rumah ini. Aku ingin membaca buku di rumah ini. Keluarga suami bu Erni adalah seorang pejabat pemerintahan pada zaman dulu. Makanya tidak heran rumah ini sangat elit, cantik dan terpelajar punua banyak koleksi buku.

“Buku apa ini? It looks superstition.” Kataku pada diri sendiri lagi. Aku langsung tertarik dengan buku bersampul hitam polos bergambar kupu-kupu berwarna merah. Tampak kuno dan misterius dengan kertas bukunya yang tua dan sudah berwarna kecoklatan. Buku itu berjudul:

Ratu Kupu-kupu

Di suatu kerajaan,

Rachel adalah putri kesayangan Raja Henry dari permaisuri Anna. Dia merupakan gadis cantik yang periang namun kemudian dia merana karena kekasihnya Pangeran Edward memilih menikah dengan putri dari kerajaan yang lain.

Akhirnya, sejak lima tahun terakhir, Rachel yang sakit hati memilih menyendiri. Dia tak mau bersosialisasi di istana sehingga menjadi pendiam dan jarang mau bicara dengan siapa pun termasuk dengan ayahnya Raja Henry maupun ibunya, Permaisuri Anna. Hal itu membuat Raja Henry dan permaisuri Anna sangat sedih melihat putri mereka satu-satunya yang sebenarnya adalah gadis yang sangat baik, dan penurut. Namun, karena terlalu galau, dia berubah.

Raja dan permaisuri kemudian mencari cara agar putri bisa bahagia dengan memberikan kebun bunga seluas satu hektar. Putri Rachel senang sekali, saat itu, dia hanya berbicara pada bunga dan kupu-kupu di kebun bunganya karena dia sangat senang berkebun bunga khususnya bunga mawar.

Di kebun bunganya, Rachel biasanya ditemani oleh seorang tukang kebun. Tukang kebun ini menemaninya di kebun bunganya atau di taman kerajaan. Tukang kebunnya adalah seorang pemuda yang tampan dan kuat. Namanya Richard. Sebenarnya, dia sangat mengagumi putri raja itu. Tapi, dia cukup tahu diri dengan posisinya hanya sebagai seorang tukang kebun istana.

Suatu hari ketika dilihatnya putri itu bicara dengan bunga-bunga dan kupu-kupunya. Richard menjadi sangat terpesona. Dia pun melukis putri yang anggun itu di taman. Lalu, memberikannya pada si putri. Si putri yang masih bersedih itu akhirnya bisa tersenyum melihat lukisan dirinya. Sejak saat itu, perlahan-lahan dia mulai mau menyapa Richard yang selama ini tidak diperdulinya.

Mereka pun selalu berdua, bukan hanya di kebun si putri atau taman istana saja. Terkadang, mereka pergi berkuda dan berkereta bersama mencari bunga-bunga ke hutan, Atau sekedar mencari lebah madu, mencari obat atau tumbuhan untuk Putri Rachel yang menyukai sesuatu yang alami. Mereka juga mengunjungi penduduk di desa, membeli sesuatu di pasar dengan menyamar sebagai orang biasa.

Akhirnya, si Putri jatuh cinta pada Richard. Dia jatuh cinta pada sosok Richard yang gagah, Richard yang kuat, Richard yang bisa melukis,  Richard yang cerdas dalam diskusi mereka.  Richard yang memiliki segalanya, semuanya yang membuat putri Rachel terpesona, melupakan masa lalunya dan membuatnya merasa bahagia. Dia jatuh cinta. Mereka berdua pun saling jatuh cinta.

Ketika bunga-bunga bermekaran, dan kupu-kupu mulai berdatangan di kebun Istana yang sepi. Richard menyatakan perasaannya pada Putri Rachel melalui bunga-bunga mawar yang dibentuknya menjadi mahkota. Keberanian, kejujuran dan ketulusan Richard membuat Putri Rachel memberikan hatinya seutuhnya padanya. Dia tidak melihat Richard sebagai seorang yang biasa namun sebagai laki-laki yang luar biasa. Richard adalah rajanya.

Pernikahan mereka disaksikan kupu-kupu dan burung-burung yang berdatangan ikut merestui mereka. Seakan-akan kupu-kupu dan burung-burung adalah mahluk yang bisa menjadi saksi janji suci mereka. Rachel tahu, tidak mungkin mereka menikah di istana kerajaan. Ayahnya, Raja Henry tak akan merestui pernikahannya dengan budak istana.

Ketika itu pertama kalinya, Putri Rachel merasakan cinta yang sempurna menjadi perempuan yang memberikan cinta dan dicintai dengan penuh kasih sayang. Perempuan yang memperhatikan dan diperhatikan keinginan juga kebutuhannya. Perempuan yang dimanja dan memanjakan karena Richard memang lebih muda darinya. Dia bukan lagi seorang "perawan tua". Dia melepaskan segala hasrat dan hati hanya untuk Richard.

Setelah kejadian itu, putri Rachel dan Richard tak bisa lagi menyembunyikan cinta mereka. Mereka meminta Raja Henry menikahkan mereka. Namun, Raja dan istrinya tidak menyetujui hubungan mereka apalagi sampai menikahkan mereka.

Putri yang mencintai Richard. Tapi tidak direstui, ternyata bukan hanya karena perbedaan umur putri Rachel yang lebih tua lima tahun atau karena status Richard yang hanya seorang tukang kebun tidak pantas bersanding dengan putri Raja. Apalagi, ternyata Richard merupakan pangeran dari kerajaan tetangga yang menyamar menjadi tukang kebun untuk menyeludup ke kerajaan Raja Henry.

Niat Pangeran Richard awalnya untuk mengetahui strategi kerajaan Raja Henry dengan niat menghancurkan negara itu dari dalam namun dia rupanya terlanjur jatuh cinta pada Putri Rachel. Sebenarnya, Richard pun mengalami dilemma antara menghancurkan Negara putri Rachel dan menyatukan dua Negara yang  bertentangan itu. Pangeran Richard pun keluar dari istana untuk ikut berperang membela negaranya melawan Negara Putri Rachel karena jalan diplomasi tidak bisa dilakukan lagi.

Xxx

Aku menangis tersedu-sedu membaca novel ini. Tiba-tiba saja, novel itu merasukiku. Aku bagaikan putri Rachel, si Ratu Kupu-kupu dan Irfan itu jelmaan dari pangeran Richard.

(Bersambung)