Seperti apakah posisi manusia menjelang kehadirannya di alam materi? Terdapat pendapat–kuketahui setelah membaca novel The Orenge Girl karangan Jostein Garder–menyatakan manusia lahir karena memenangkan lotre menikmati kenyamanan rahim ibu dan berekreasi di dunia yang menakjubkan, bahkan ajaib. 

Tahu tidak kalau bakal calon bayi dibawakan bekal saat masih menjadi segumpal daging karena belum tersambung dengan plasenta di dalam rahim? Baca deh novel Holy Mother karangan Akiyoshi Rikako.

Menjadi pengetahuan umum bahwa banyak sperma bersaing untuk membuahi sel telur, sebab itukah manusia boleh mengklaim dirinya berjuang saat masih menjadi sperma? Aneh jika terdapat orang mengklaim dulunya adalah sperma, mengapa melupakan sel telur? Padahal sperma dan sel telur sama-sama cikal bakal manusia.

Lalu bagaimana dengan kromosom? Kromosom berisi ribuan DNA. Kromosom pun memiliki dua jenis bentuk, yaitu XX untuk perempuan sedangkan XY untuk laki-laki.

Pembentukan satu individu ditentukan oleh perpaduan berbagai DNA secara acak yang banyaknya sampai ribuan! Lalu bagaimana bisa manusia dapat menentukan hadirnya ke dunia dengan kuasa sendiri?

“Kita tak minta dilahirkan, bukan berarti menyerah dan terima tanpa bertanya.” Sepenggal lirik lagu dari For Revenge berjudul Tak Mengalah mengingatkan manusia bahwa ia tidak punya kuasa apa pun menentukan kehadirannya di dunia.

Walau begitu, lagu tersebut memotivasi manusia untuk terus melanjutkan hidupnya, berjuang tanpa kenal menyerah bahkan ketika mengetahui kebenaran yang pahit sekalipun.

Sudahkah membaca novel karangan Jostein Garder yang berjudul The House of Tales? Tokoh utama dalam novel tersebut diceritakan mengidap penyakit yang parah, karenanya ia akan mengalami semacam kelumpuhan di sekujur tubuh.

Mental tokoh utama sedang diuji, bahkan telah memperlihatkan sedikit goncangan. Goncangan mentalnya makin menjadi ketika merasa dilecehkan oleh dokter pribadinya, karena tokoh utama sangat menjunjung tinggi harga diri.

Oleh sebab ketika harga dirinya sebagai lelaki tidak dapat dipertahankan, bahkan menganggapnya rusak tanpa bisa diperbaiki, ia memutuskan bunuh diri. Akankah semesta berlaku kejam? Untuk mengetahuinya, maka baca dulu novelnya.

Rasa tidak berharga bahwa diri tidak berguna, perasaan yang mungkin dialami oleh lebih dari seratus orang di dunia. Perasaan tersebut dapat menghinggapi tidak hanya para korban penggagahan, bahkan pelakunya (apabila masih mempunyai nurani). Adakah obat untuk mengatasi perasaan tidak berharga, tidak berguna, yang biasa dinamakan rendah diri?

Alangkah malang nasib seseorang yang selalu merutuki diri sendiri. Nietzsche pernah mempertanyakan perihal persentase penderitaan setiap individu ketika mengarungi kehidupan.

Bukankah lebih banyak kegembiraan daripada penderitaan dalam alur sejarah kehidupan per individu? Bacalah buku Mengapa Aku Begitu Pandai karangan Nietzsche agar mendapati penyataannya mengenai manusia yang lebih mudah berduka, tanpa terpikir mencari sukacita.

Lagi pula setiap manusia menerima cobaan sesuai takaran yang akurat, tidak pernah melebihi kemampuan setiap individu. Tuhan Mahatahu, dan tidak akan melimpahkan beban berat melebihi kemampuan individu itu sendiri.

Aku mendengarnya dari pengajian. Kiai yang berceramah menyadurnya dari kitab suci Alquran. Ngomong-ngomong, aku pernah mendengar pengajian menyatakan Tuhan tidak akan pernah berbohong pun saduran dari kitab suci Alquran.

Maka lebih baik mencoba sekali lagi menelusuri perjalanan hidup yang telah diarungi, semoga dengan begitu perasaan ingin bersyukur menghinggapi. Mungkin nikmat sekali mendapati kesan ketika senyum-senyum sendiri karena mengingat kenangan.

Tetapi bagaimana jika terdapat kasus seseorang menjadi rendah diri karena kenikmatan yang selalu dirasakannya, bahkan ia mengharap kedukaanlah yang melimpahinya? Ia membenci dirinya yang selalu dimanja dan parahnya tidak puas dengan kontribusinya selama ini. 

Bahkan terdapat seseorang yang marasa dirinya tidak pernah berkontribusi. Mungkinkah itu hanya soal waktu? Ya benar, itu hanya soal waktu, soal momentum!

Bacalah buku berjudul Nyanyian Bunga karangan Kahlil Gibran, karena di dalamnya terdapat pesan yang menyatakan bahwa terpenting dari diri manusia adalah jiwanya, hanya jiwanya!

Artinya, selama manusia selalu menginginkan kebaikan bagi orang lain, bahkan tanpa mampu beraksi dan hanya mampu mengharapkannya dalam hati, itu pun cukup. Percayalah pada waktu dan momentum.

Tetapi (maaf karena tulisan ini masih berlanjut) setelah kembali membaca Nyanyian Bunga, aku diingatkan bahwa anugerah Tuhan yaitu akal sebagai sensor kebaikan dan keburukan hanyalah miskin papa tanpa pengetahuan.

Dapat diartikan bahwa manusia yang berjiwa baik sekalipun tanpa pengetahuan akan rentan terombang-ambing. Jika ditinjau dari sudut pandang fenomena, maka akan didapati banyak contoh.

Namun terdapat fenomena lain, ketika banyak orang tidak berpendidikan bahkan lahir dalam lingkungan miskin yang mendorongnya berbuat kufur sekalipun, bila jiwanya baik maka ketika menentukan sebuah keputusan kecenderungannya mengarah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi semua pihak.

Jadi pesan praktis dalam tulisan ini adalah: a. jangan lupa mempertimbangkan sudut pandang sukacita dalam setiap alur sejarah; b. harapkanlah kebaikan jiwa, bila perlu berdoalah; c. biasakan untuk tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.