Jika ada tempat untuk #BlackLivesMatter dan untuk setiap insan yang memberi dukungan akannya, maka hari ini semua juga patut melek terhadap betapa rasisnya dunia kecantikan dan standarisasinya. Beri sedikit ruang untuk menyuarakan #BeautyLivesMatter, menjadi cantik dalam standar yang berbeda adalah hak setiap perempuan.

Rasisme hadir dan menjadi paham kaum dungu buta kemanusiaan, bahkan untuk standar kecantikan ala Indonesia telah menjadi darah daging rasisnya. Hal ini makin diperparah dengan banyak yang enggan bersuara karena konstruksi pola pikir telah di-brainstorming oleh standarisasi kecantikan produsen kapitalis; 

"Kamu tidak memiliki kapitalisme tanpa rasisme! Tidak mungkin bagi orang kulit putih hari ini percaya kapitalisme dan tidak percaya pada rasisme." ~ Malcom X

Berbagai macam produk kecantikan dan standarisasinya adalah senjata kapitalis yang merongrong kaum hawa. Menurut Malcom X, rasisme tak dapat terpisahkan dari kapitalisme; keduanya saling berkolaborasi memainkan peran, dalam hal ini kapitalisme yang memantik rasisme terjadi dalam dunia kecantikan. 

Sejak lama kapitalisme berperan mengakumulasi ekonomi dari monopoli beberapa orang di suatu wilayah yang memengaruhi munculnya pandangan rasial bangsa lainnya agar mereka dapat mengontrol perekonomian suatu wilayah dengan akreditasi ras superior.

Belajar dari sejarah Indonesia, sejak dulu Belanda yang merupakan Eropa dengan bangga menjuluki dirinya sebagai ras superior dengan mengontrol perekonomian bangsa selama ratusan tahun. Sudah dari sejak bangsa ini terjajah wacana mengenai standar kecantikan, dan superioritas berpengaruh terhadap persepsi cantik dari dulu hingga sekarang. 

Berawal dari tahun 1940, Jean Arthur aktris Hollywood menghiasi halaman majalah Pandji Poestaka sebagai seorang model sabun mandi. Kulit putih ala wanita Eropa-nya digunakan untuk daya pikat yang kemudian otak rakus produsen menggunakannya sebagai upaya brainstorming.

Dalam produk yang dipromosikan, para produsen melakukan upaya menciptakan peesepsi bahwa cantik adalah memiliki kulit yang putih ala wanita ras Kaukasia. Iklan-iklan di masa kolonial hanya menampilkan perempuan Eropa namun berbahasa Melayu. Bukan hanya mempromosikan kulit putih wajah bercahaya, produsen era kolonial juga mengampanyekan cantik haruslah seperti model dari brand mereka.

Persepsi tentang ras Kaukasia dengan kulit putihnya adalah standar kecantikan yang memiliki derajat tinggi, sedangkan pribumi berkulit gelap memiliki status yang rendah. Padahal awalnya brand pemutih hanya dikhususkan kepada perempuan Kaukasia, sedangkan para budak yang berkulit gelap dilarang menggunakan brand pemutih.

Hal ini adalah bagian dari politik semata. Karena pada masa kolonial, Eropa ingin memantapkan segala bentuk dominasi dalam memperkuat bangsanya sebagai ras yang superior. Kian hari memperjelas yang tadinya hanya dikenal seksual adalah wacana politik (sexual is political), kini dalam perkembangannya kecantikan juga bagian dari wacana politik (beauty is political).

Sayangnya perempuan Indonesia lupa dengan sejarah di masa lampau atau mungkin memang sebagian dari mereka tak mengetahui akannya. Tak ada yang berubah tentang wacana kecantikan perempuan Indonesia. Sejarah pergolakan kecantikan dan wacananya tak pernah menjadi PR. Ia lebih terasa sebagai hasil memuaskan dari sebuah nilai ulangan harian.

Standarisasi kecantikan sejak era kolonial hingga sekarang tak berubah atau menghilang, melainkan makin menjadi. Setiap saat produsen brand kecantikan iklan di tanah air melakukan promosi standar cantik ala "kulit putih seperti wanita Jepang" atau "kulit putih merona seperti wanita Korea" merupakan suatu upaya kezaliman meraup untung dari insecurity kaum hawa. 

Setiap membuka media sosial, mulai dari kolom komentar Instagram, Twitter maupun Facebook, selalu kita dapati promosi tawar-menawar produk kecantikan "obat pelangsingnya, kaka" atau "obat penggemuk badannya, kaka" atau "krim pemutih wajahnya, kaka!". Doktrin wacana kecantikan makin menjadi darah daging rasisnya. Cantik ala Indonesia dipaksa cantik ala Eropa atau Jepang dan Korea.

Standarisasi kecantikan yang dikontrol oleh pola mencari keuntungan "ekonomi" tentunya akan mengikuti ras mayoritas. Di Indonesia yang begitu plural, kita akan mendapati cantik alami berbeda setiap perempuannya, di bagian timur dengan kulit eksotis dan rambut yang keriting, berlanjut ke arah barat perempuan berkulit kuning langsat atau sawo matang dan berambut lurus.

Namun dengan standarisasi kecantikan berupa kulit putih, rambut lurus, dan tubuh langsing tinggi semampai melahirkan keadaan jiwa insecurity perempuan Indonesia yang memiliki cantik alami non standard.

Kaum perempuan dari timur Indonesia salah satunya dengan kulit eksotis dan rambut keriting akan merasa krisis kepercayaan diri dan merasa malu dengan cantik alami yang mereka anugerahi. Dari sinilah awal lahirnya tabiat body shaming dan segala bentuk rasisme lainnya.

Stereotip terhadap warna kulit perempuan timur ataupun perempuan lainnya di Indonesia yang memiliki kulit gelap berdampak besar bagi psikologis. Mirisnya, beberapa perempuan yang mendapat perlakuan rasis lantas menghukum dirinya sendiri dengan memakai produk pemutih kulit sebagai bentuk melawan insecurity yang dialaminya. Bukan hanya tentang kulit, perempuan yang memiliki badan gemuk pun kerap kali terganggu dengan stereotip cantik harus langsing. 

Selain persepsi cantik yang dibangun oleh produsen kapitalis, konstruksi tentang konsep kecantikan pun menyeret kaum adam dalam pusarannya. Cantik dari sudut pandang kaum laki-laki telah terkonstruk dari pola pandang kapitalis dan ini menyebabkan standar kecantikan perempuan tak terlepas belenggu oleh pergolakan gender.

Para lelaki cenderung menginginkan perempuan yang cantik ala standar produsen kecantikan, sehingga kadang menjadi satu problem perempuan Indonesia ketika masih hidup dari sudut pandang kaum adam akan otoritas terhadap tubuhnya sendiri.

Cantik hari ini diidentikkan 3 hal; luka, mahal, dan kemudian rasis. Perempuan yang berkaca dari standar kecantikan semu melakukan banyak hal yang melukai diri mereka sendiri demi mencapai kriteria cantik yang dibangun society. Berpuluhan atau ratusan juta digelontorkan hanya untuk mewujudkan harapan menjadi cantik ala standar yang ada, dan kemudian cantik yang tak memenuhi standar hanya menjadi bahan perundungan dan rasis semata.

Standard of beauty setiap saat akan berubah, seiring dengan perkembangan zaman dan budaya. Jika menelisik pada suku primitif di setiap penjuru dunia, mereka juga memiliki standar kecantikan versinya tersendiri, seperti suku Kenya ataupun suku suku primitif Afrika.

Salah satunya juga adalah standar cantik suku Maori, perempuannya dihiasi oleh tato yang bercorak tribal di dagunya; suku Dayak dari Indonesia, perempuannya memanjangkan cuping telinga mereka sebagai simbol kecantikan. 

Perbedaan dari setiap standar kecantikan di dunia bagi saya hanya difaktori oleh dua hal, yaitu; standarisasi kecantikan ala kapitalis, yang merupakan standar cantik semu guna meraup keuntungan secara ekonomi dan politik.

Dan yang kedua adalah standar kecantikan yang terpengaruh oleh culture dan suku. Ini sebenarnya sama saja dengan standar kecantikan pada umumnya yang menggambarkan beauty is pain, tapi yang membedakan hanya tak ada keuntungan berupa uang yang diraup melainkan hanya keuntungan daya pikat.  

Perempuan Indonesia dari setiap suku dan budaya memiliki variasi cantik berbeda yang tak semua bangsa di dunia ini miliki, cantik dan mempesona ala nona dari timur Maluku, Papua, NTT, anggun dan berbudi ala wanita Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan serta NTB.

Semuanya memiliki keunikan dan pesona perempuan Indonesia.

Satu yang pasti, standar kecantikan ala perempuan Indonesia adalah berbudi luhur dan berbudaya. Tak ada perempuan di dunia ini yang tidak cantik. Menentukan standar kecantikan versinya sendiri adalah hak setiap perempuan selama dia pandai mensyukuri anugerah yang diberi padanya.