Rasisme adalah sebuah gagasan yang diciptakan manusia untuk membedakan-bedakan orang dilihat dari warna kulit, suku, hingga daerah tinggal. Biasanya rasisme selalu lekat dengan superioritas dari kelompok tertentu. Mereka bisa melakukan apa saja karena merasa lebih unggul. Akhirnya, hak-hak dari orang yang berbeda itu justru dilanggar. Bahkan mengarah pada tindakan kriminalisme.

Rasisme ada di dunia ini sejak lama. Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Akar kebencian rasialis terhadap kelompok minoritas Tionghoa di Indonesia rupanya masih ada. Dan sejarah mengulang dirinya sendiri. Pertama sebagai tragedi dan selanjutnya sebagai lelucon. Kelompok Tionghoa di Indonesia sudah mengalami banyak diskriminasi. Apa sebenarnya yang menjadi akar dari sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?

Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshall College, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa kebencian terhadap etnis Tionghoa merupakan hasil dari politik pecah belah Soeharto. Dalam jurnal penelitian berjudul "Political Institutions and Ethnic Chinese Identity in Indonesia", Freedman menyebut Soeharto memaksa masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka sebagai bukan pribumi.

Sebagian kecil etnis Tionghoa di Indonesia pada masa Soeharto menikmati berbagai fasilitas investasi sehingga menjadi sangat kaya. Sekelompok kecil ini akhirnya dianggap sebagai representasi seluruh etnis Tionghoa, sebagai kelompok yang memiliki kekuasaan dan punya kekayaan dengan cara yang culas. Kejatuhan Soeharto pada 1998 membuat pembedaan ini menjadi semakin rumit. Kerusuhan yang muncul di berbagai kota di Indonesia menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran kebencian.

Kebencian terhadap etnis Tionghoa sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang dibikin oleh penguasa, baik Belanda maupun Jawa. Hendri F. Isnaeni, dalam artikel Duka Warga Tionghoa di majalah Historia, menyebutkan bahwa dalam sejarah, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Mulai Chinezenmoord 1740 sampai Mei 1998. Dalam konteks Perang Jawa masyarakat Jawa saat itu membenci orang Tionghoa karena menjadi bandar-bandar pemungut pajak.

Orang-orang Tionghoa oleh para Sultan Jawa dijadikan bandar-bandar pemungut pajak di jalan-jalan utama, jembatan, pelabuhan, pangkalan di sungai-sungai dan pasar. Melihat efektifnya orang-orang Tionghoa memungut pajak, Belanda dan Inggris melakukan hal yang sama di daerah-daerah yang telah dikuasainya.

Tragedi pembantaian Perang Jawa membuat kebencian antara Etnis Jawa dan Tionghoa berkembang. Orang Tionghoa menjadi takut terhadap Orang Jawa sementara Orang Jawa menganggap Tionghoa sebagai mata duitan dan pemeras.

Kebencian ini mendarah daging, menyebar luas, tanpa sempat ada rekonsiliasi atau penjelasan. Kebencian menahun ini yang kemudian berkembang di Indonesia. Hendri F. Isnaeni menulis bahwa pada awal abad ke-20, kembali tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912 dan kerusuhan di Kudus pada 1918.

Pada masa revolusi, kembali terjadi gerakan anti etnis Tionghoa, seperti yang terjadi di Tangerang pada Mei-Juli 1946, Bagan Siapi-api pada September 1946, dan Palembang pada Januari 1947.

Tragedi terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi pada saat 1965. Cina yang menjadi negara komunis besar saat itu dianggap punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S). Banyak masyarakat Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena dianggap komunis atau mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak berhenti sampai situ saja, orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras harta masyarakat lokal.

Di sini ide primordial pribumi melawan pendatang menjadi legitimasi untuk melakukan kejahatan.

Pada dasarnya rasisme di Indonesia ini merupakan idealisme dari ajaran peninggalan kaum penjajah dahulu semasa penjajahan di Indonesia. Dan mengapa ajaran seperti itu masih saja digunakan hingga kini?

Negara kita ini dengan susah payah berdiri memerdekakan kebebasan dan menyatakan bahwa Republik Indonesia adalah negara yang bebas merdeka (17 Agustus 1945) serta kita sepakat bahwa seluruh bangsa Indonesia akan menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika, yang bertujuan agar kita semua bersatu, sehingga kesatuan akan menghindarkan negara dan bangsa ini terjajah kembali.

Ironisnya, kini kita sudah dijajah kembali oleh ideologi peninggalan kaum penjajah! Artinya kita telah dijajah dengan pemahaman kita sendiri, tentang bagaimana kita hidup bersama, tentang bagaimana kita menjalankan keyakinan Agama kita masing-masing, tentang bagaimana kita memandang orang lain, tentang bagaimana kita bergaul dengan orang lain, tentang bagaimana kita belajar, dan sebagainya.

Ideologi rasisme, menurut saya adalah ideologi yang terkejam yang pernah ada di dunia ini. Sebagai contoh yang tidak akan pernah terlupakan bagi seluruh bangsa di dunia ini adalah buah karya kekejaman Nazi yang dilandasi oleh ideologi rasisme ras. Nah apakah contoh itu tidaklah cukup bagi kita di Indonesia untuk jangan pernah terjerat apalagi menggunakannya dalam kancah dunia perpolitikan di Indonesia.

Apakah kita sebodoh dan serendah itu untuk menghidupkan kembali, apalagi menggunakan ideologi rasisme dalam mencapai keinginan serta tujuan tertentu demi kekuasaan dan kekayaan semata?

Apakah kita sebodoh dan serendah itu hingga mau saja termakan dengan isu-isu rasial yang dilontarkan oleh sebagian kecil kelompok organisasi ataupun pribadi seseorang yang dengan nyata hanya demi untuk meraih tujuan popularitas, kekuasaan, kekayaan dan kepentingan pribadi/golongannya semata?

Apakah kita ingin negara kita ini kembali dijajah kembali? Dibodohi seperti dulu oleh kaum penjajah?

Kembali ke akar masalahnya, menurut saya bahwa rasisme hanya digunakan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan bahkan mungkin tidak beragama! Kenapa demikian? Sudah jelas bahwa di tiap agama mengajarkan tentang bagaimana hidup yang rukun, dan sudah sangat jelas pula bahwa diceritakan bagaimana asal-usul manusia diciptakan oleh Tuhan.

Dalam cerita itu ditegaskan bahwa kita semua adalah satu keturunan dari Adam dan Hawa. Jadi jelas! Bahwa pada prinsipnya kita semua di dunia adalah bersaudara. Nah, jika benar demikian, kenapa juga kita harus terbawa unsur rasial?

Semoga artikel yang singkat di atas dapat menjadi bahan kajian ulang (intropeksi diri) bagi para politikus serta bangsa dan negara Republik Indonesia agar jangan pernah terjerat dengan benih ideologi kaum penjajah.