Tertarik menulis dengan topik ini setelah terlibat dalam sebuah percakapan dengan paman penulis yang kesimpulan akhirnya adalah bahwa bohong jika rasisme benar-benar bisa dihapuskan. Kami tidak terlalu jauh membicarakan kasus-kasus yang terjadi di dunia, melainkan cukup di Indonesia saja.

Di Indonesia, tepatnya di kota tempat saya tinggal Jakarta, saat ini tidak terlalu nampak rasisme dalam bentuk yang tersurat. Penulis tekankan lagi, yang tersurat saja karena nyatanya yang tersirat masih banyak terjadi. Memang sehari-harinya penulis tidak melihat ada seorang warga yang dilarang masuk ke sebuah tempat hanya karena berbeda etnis.

Sebuah hal yang baik memang, tetapi contoh barusan adalah salah satu bentuk rasisme dengan tingkatan paling bawah. Rasisme dalam tingkatan yang lebih berbahaya justru masih ada.

Seperti apa sih rasisme yang penulis maksud? Penulis akan coba ambil contoh kasus pengalaman penulis dan rekan-rekan yang sebenarnya bisa jadi secara tidak sadar kita pernah mengalaminya, baik sebagai korban maupun pelaku.

Pernahkah Anda berbelanja di sebuah toko, kemudian mendapatkan diskon hanya karena Anda dan pemilik toko berasal dari etnis yang sama? Jika iya, sebenarnya itu adalah bentuk rasisme juga. Mengapa pelanggan dari etnis lain tidak diberikan diskon?

Bisa jadi pelanggan lain tersebut memiliki potensi menguntungkan lebih besar daripada Anda. Dalam bisnis, setidaknya menurut pengalaman penulis, harusnya tinggi rendahnya nilai seorang pelanggan adalah dari potensi pelanggan tersebut memberikan keuntungan kepada perusahaan, bukan berasal dari etnis apa pelanggan tersebut. Jadi, secara bisnis juga sudah tidak sehat. Contoh nyata yang terdokumentasi dapat disimak di link berikut: http://www.travelingprecils.com/2016/04/pengalaman-pahit-diusir-dari-potato.html.

Lebih dalam lagi, mari kita lihat soal pernikahan. Tidak jarang juga orangtua di era globalisasi ini masih memaksakan anaknya untuk menikah dengan orang yang satu etnis atau paling tidak satu kampung halaman. Memang untungnya apa? Ada priviliges dari pemerintah, kah? Tidak, kan? Alasannya biasanya agar tidak ada bentrok antar budaya. 

Duh! Kalau agama, penulis masih setuju harus sama karena sebagai seorang penganut sebuah ajaran agama, penulis percaya bahwa agama keberadaannya menyangkut dunia dan akhirat, jadi benar-benar harus ditaati. Kalau etnis ini kan hanya masalah perbedaan budaya, bisa diselaraskan.

Anehnya, banyak orangtua yang senang jika anaknya mendapatkan pasangan WNA, terutama orang kulit putih dan Arab (kulit putih juga). Padahal sudah jelas WNA budayanya sangat jauh dengan budaya Indonesia. Lantas, mengapa bisa terjadi yang seperti itu?

Kalau tadi sudah membicarakan rasisme dalam bisnis dan pernikahan, penulis tersebit satu bidang lagi dalam kehidupan di Indonesia di mana rasisme masih terjadi. Buka berarti hanya terjadi di tiga bidang saja, tetapi akan terlalu banyak jika disebutkan semua.

Apakah Anda tahu bahwa setiap etnis di Indonesia ada saja label yang tertempel pada diri mereka? Penulis pikir bukan hal asing bahwa orang Jawa dianggap terlalu lembut/lambat, orang Sunda dianggap matre, orang Batak dianggap preman/penipu, orang Tionghoa dianggap kaya dan pelit, orang Papua dianggap suka berkelahi, serta masih banyak label-label terhadap etnis lainnya.

Entah siapa yang pertama kali membuat label tersebut, tetapi bagi penulis itu sangat tidak penting dan tidak valid. Secara prinsip matematika Jika dan Maka, jika ada sebuah pernyataan yang menyatakan "Semua", kemudian ada satu contoh yang berbeda, maka pernyataan tersebut tidak valid.

Penulis harap Anda bukan bagian dari orang-orang yang masih berpikiran seperti itu, tetapi jika iya, penulis harap Anda dapat berpikir lagi mengenai baik buruknya hal yang kalian lakukan itu.