Hidup di dalam masyarakat yang heterogen sangatlah rawan terjadi konflik, Indonesia sebagai salah satu Negara yang multikultural dan multietnis. Konflik horizontal merupakan hal yang sangat sulit dihindari, ketersinggungan sangat akrab dalam kehidupan bermasyarakat, Apalagi ketika bersinggungan dengan Ras, seperti Tindakan Rasisme.

Rasisme sudah menjadi penyakit akut yang telah lama melekat ditubuh bangsa Indonesia, rasisme bukan merupakan sesuatu yang baru terjadi hari-hari ini, melainkan bekas jejak rasisme telah ada sejak lama, jejak tersebut akan mengantarkan kita ke masa pra kemerdekaan.

Rasisme dan Dampaknya

Menurut Drs Irwan Martua Hidayana, M.A., Associate Professor Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), bahwa “Secara umum, rasisme merupakan sebuah pandangan, sikap, dan tindakan yang diskriminatif terhadap kelompok tertentu atas dasar perbedaan biologis,” (Sri Anandiati Nursastri, 2020, para. 4).

Robertus Robert salah seorang sosiolog Universitas Negeri Jakarta menyampaikan bahwa penjajahan bangsa Eropa di Nusantara sangat memiliki kaitan erat dengan perilaku rasialisme saat ini, sebab tindakan rasialisme membuka jalan untuk penaklukan suatu bangsa, menurut Robert ketika seseorang dikenai tindakan rasialisme misalnya dalam kasus sebutan “Monyet”, orang yang dituju dengan panggilan itu akan dijatuhkan dalam struktur hierarki sosial, bukan sekedar disegregrasikan, orang itu akan menempati posisi bawah dalam piramida struktur sosial masyarakat, ketika ini terjadi maka sejatinya orang tersebut telah ditaklukan. (Nurhadi Sucahyo, 2021).

Hal yang melandasi kenapa tindakan rasisme merupakan tindakan yang dilarang secara hukum dan mendapat kecaman dari banyak orang ialah karena tindakan tersebut melecehkan martabat manusia selain itu juga, karena dampak yang ditimbulkan juga sangat berbahaya seperti perpecahan di masyarakat dengan berbagai bentuk. 

Kekerasan merupakan salah satu dampak yang sangat akrab dalam kehidupan kita, salah stau dampak nyata yang masih membekas dalam ingatan bangsa ini ialah kerusuhan yang terjadi 98, penjarahan, pembunuhan bahkan pemerkosaan pun terjadi, dan yang  menjadi korban salah satunya ialah Etnis Tionghoa.

Komnas Perempuan Menyampaikan bahwa“Tragedi Mei 1998 adalah wujud nyata keterkaitan antara rasisme dan diskriminasi berbasis gender, kemudian Tim Gabungan Pencari Fakta Kerusuhan 13-15 Mei 1998 mengonfirmasi bahwa sekurangnya terjadi 85 tindak kekerasan seksual yang diarahkan kepada perempuan Tionghoa, 52 di antaranya adalah perkosaan,” (“Siaran Pers Komnas Perempuan.” 2021, para. 3).

Dampak lainnya dari tindakan rasisme ialah sebagaimana yang diuraikan di dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis, seperti memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya; atau menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis. Artinya rasisme bisa berupa verbal maupun non verbal.

Tindakan ini tidak hanya terjadi secara Horizontal yakni antara masyarakat namun terjadi juga secara vertikal yakni antara Negara melalui seluruh perangkatnya dengan rakyat.

Era Reformasi sudah hampir berumur 24 tahun Namun Rasisme masih menghiasi etalase-etalase media masa, harusnya pemerintah melihat hal ini sebagai sebuah kemandekan dalam proses bernegara, sehingga ada upaya lain dalam menangani penyakit bangsa ini yang sudah lama di idap oleh Bangsa Indonesia yakni Rasisme.

Akar-akar rasisme 

Hadirnya solusi untuk mengatasi sebuah masalah tentunya harus berawal dari melacak akar permasalahannya terlebih dahulu, menurut penulis sejauh penelusuran penulis terhadap Faktor-Faktor apa saja yang melatarblakangi terjadinya tindakan rasisme. 

Pertama, Mitos Ras Unggul, dimana adanya suatu kepercayaan atau doktrin yang terus dilanggengkan bahwa ada suatu ras yang lebih unggul dibanding Ras lainnya, Mereka yang dikonstruksikan sebagai ras unggul seringkali melakukan tindakan rasisme kepada kelompok yang diklasifikasikan sebagai ras kelas bawah.

Kedua, Rasa benci Karena berbagai faktor seperti Stigma yang terbentuk dan digeneralisasi, stigma yang terhadap suku tertentu tentunya terbentuk karena perilaku tidak mengenakan segelintir orang dari kelompok tertentu yang kemudian terbentuk stigma tersebut. 

Penulis berpendapat bahwa terbentuknya stigma ini karena adanya Faktor Kriminogen, artinya adanya sebab dan akibat, namun yang menjadi masalah ialah Stigmatisasi ini kemudian digeneralisasi secara luas untuk semua orang, sehingga yang diliatnya bukan lagi per individu melainkan kelompok. 

Konsep ini yang sangat memiliki keterkaitan erat dengan kasus-kasus Rasisme yang seringkali terjadi di Negeri ini.

Selain itu ekslusifitas pergaulan juga menjadi faktor penyebab terjadi rasisme, sebab pengetahuan mengenai cara pandang serta cara berperilaku orang diluar kelompok nya akan minim, sehingga dapat menjadi lahan subur untuk tumbuh kembangnya kebencian atas kelompok lain.

Ketiga, Ego kedaerahan, berbeda dengan factor pertama yakni ras mitos unggul, penulis memahaminya kalau Ras mitos unggul itu bersumber dari kepercayaan kelompok tertentu atau doktrin, sedangkan ego kedaerahan merupakan sikap merasa lebih segala hal dari daerah lain yang dilandasi dengan alasan yang rasional. Seperti lebih unggul misalnya dari segi infrastruktur, baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi.

Ketidaksetaraan suatu daerah dengan lainnya dapat menimbulkan cara pandang orang-orang yang berada di daerah yang lebih maju memandang rendah daerah-daerah yang belum maju dalam beberapa sektor. Setigmatisasi juga terbentuk disebabkan oleh hal-hal seperti ini.

Langkah Pencegahan Tindakan Rasisme

Upaya untuk mengakhiri kasus rasisme harus ditempuh dengan berbagai cara seperti melalui sektor Ekonomi maupun Pendidikan. Pertama, Pembangunan untuk daerah-daerah tertinggal baik dari segi Taraf kehidupan, pendidikan dan sarana prasarana yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. 

Pembangunan dapat menjadi jalan untuk membebaskan tiap-tiap individu dari belenggu ekonomi, sosial maupun budaya.

Dalam istilah Amartya Sen yakni Pembangunan yang membebaskan, baik itu kebebasan yang bersifat “Negatif” (Bebas dari) dan kebebasan “Positif” (bebas untuk mencapai apa yang dianggap bernilai). Kaitannya dengan rasisme, dengan adanya pembangunan. 

Kelompok yang seringkali menjadi korban atas tindakan rasisme, dapat bebas salah satunya ialah bebas dari belenggu stigma yang selama ini menjadi penghambat dalam menjalankan kebebasan yang bersifat positif.

Jadi pemerataan ekonomi melalui pembangunan dapat mengubah presepsi masyarakat dalam memandang semua daerah itu setara, sehingga tak ada lagi bahasa-bahasa yang merendahkan kelompok tertentu yang mendiami suatu daerah selain itu juga hal ini dapat merendahkan secara perlahan Ego Kedaerahan.

Kedua, Pendidikan menjadi Jalan untuk mewujudkan kesetaraan, salah satu faktor adanya pandangan yang menganggap rendah kelompok lain berdasarkan ras ialah karena kurangnya pengetahuan. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa adanya stigma merupakan hubungan sebab akibat, kelompok yang menjadi korban juga menjadi faktor kriminogen terbentuknya suatu stigma.

Perilaku terbentuk berdasarkan lingkungan, jadi untuk menghilangkan stigma harus dimulai dari perubahan perilaku, salah satunya ialah melalui peningkatan kualitas pendidikan yang kemudian merambah pada terciptanya lingkungan yang baik dan dapat membentuk perilaku yang baik pula.

Referensi :