Penulis
1 tahun lalu · 466 view · 3 menit baca · Filsafat 24481_56921.jpg
coachfederation.org

Rasionalitas Kaum Beriman

Hegel barang kali benar bahwa segala sesuatu membutuhkan justifikasi kebenaran secara rasional, termasuk soal iman. Kepercayaan terhadap sesuatu tidak lantas memiliki kekuatan pendukungnya ketika ia tidak memiliki sesuatu yang bisa membenarkan. Dalam konteks yang lebih spesifik ini, epistemologi merupakan jalan satu-satunya bagi penerapan nalar rasional yang dibutuhkan.

Segala sesuatu memiliki kapasitas yang dapat dipikirkan, tidak bisa dibenarkan bahwa seluruh perilaku hidup harus rasional, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa seluruh potensi tentang apa dianggap kebenaran tidak pernah keluar dari batas-batas rasionalitas yang secara serempak dimiliki manusia.

Jika dirunut kebelakang, tidak pernah ada yang tau sampai sejauh mana batas rasionalitas, kaum mistik kadang kala menyelimuti hal-hal abstrak dengan kapasitas rasionalitas mereka, yang tampak jelas dibelakang jusifikasi itu sebuah Selimut Tebal yang mereka sebut kesejatian, padahal itu adalah akar-akar pikiran yang sangat abstrak, sama misteriusnya dengan penampakan-penampakan roh obyektif yang diperjuangkan.

Iman tentu saja adalah soal kepercayaan, tetapi dibalik itu ada semacam kebutuhan bahwa apa yang dipercayai sekaligus membutuhkan pengakuan yang tegas, dalam wilayah inilah rasionalitas menemukan tempat untuk kembali.

Ketika Kant melakukan formalisasi terhadap prinsip-prinsip epistemologi bagi landasan pengetahuan manusia, dia benar bahwa ada sebuah bentuk penerimaan apriori sekaligus aposteriori yang universal dalam diri manusia. Pijakan dari bentuk formalisasi ini memberikan justifikasi bahwa sejak gagasan itu lahir, cara manusia berpikir mulai terarah melalui batas-batas epistemologi yang dimiliki.

Ini menunjukan secara tegas bahwa segala pengetahuan yang dimiliki tentang suatu entitas, memiliki rujukan obyektif dalam pikiran. Dari sudut pandang yang tampak obyektif ini, menjadi jelas bahwa sains bukanlah ilusi atau sekedar bualan para ilmuwan, karya sastra jadi menemukan unsur ontentiknya, dan prinsip-psinsip moralitas tindakan dapat dipahami sebagai sebentuk sistem kewajiban terlepas dari suka atau tidak terhadap apa yang telah menjadi suatu tindakan.

Tentu saja itu adalah sudut pandang dari satu dimensi yang sedikit banyak menggemparkan cara manusia dalam merevolusi alam pikiran. Tetapi harus disadari bahwa tidak setiap dari sesuatu dapat dengan tepat diformalisasi sebagaimana anggapan Kant, juga rasionalitas kadang justru terasa tumpang tindih ketika pada saat yang sama ia ingin menemukan hukum-hukum universal bagi tatanan kehidupan, ini tidaklah serasional yang dipikirkan Hegel. Tapi dua tokoh ini menjadi penting dalam merumuskan tentang hakikat bagaimana alam semesta ini bekerja dalam struktur pikiran manusia yang begitu kompleks.

Iman adalah sejenis abstraksi realitas yang dapat ditemukan melalui struktur penerimaan apriori manusia, rasionalitas akan berhenti ketika kepercayaan terhadap sesuatu telah menjadi tetap dan stabil, itulah mengapa kadang-kadang, dalam sistem Iman tidak begitu dibutuhkan justifikasi rasional. Rasionalitas dapat dikatakan sebagai anak nakal yang tak akan berhenti menggoda sistem iman sampai keimanan itu menjadi lelah untuk menghayati lagi atas apa yang dipersepsi Nyata, bahkan ketika itu dalam pikiran.

Tetapi tidak lantas ini menjadi pertentangan obyektif antara iman dan akal budi, tidak ada yang mengaku sampai pada taraf kesejatian dengan menginggalkan prinsip-psinsip rasionalitas yang menjadi pijakan dari seluruh potensi anak tangga yang ingin dinaiki. Obyektifitas pikiran memang lebih sering mengalami penghayatan-penghayatan abstrak ketimbang hal-hal yang memiliki akar indrawi, meski ini terjadi pada wilayah kedalaman dan ketekunan yang kompleks.

Manusia dengan taraf rasionalitas yang tinggi cenderung mampu menguasai roh mental dari kepribadian yang menyeluruh, seperti menstabilkan antara nalar indrawi, pikiran, dan jiwa yang mengendalikan seluruh aksi mental. Iman akan tampak lebih bersifat rasional ketika tiga dimensi ini dapat secara serempak bermain dan memainkan peranannya.

Kaum beriman adalah ciri-ciri masyarakat rasional yang tidak pernah dirisaukan tentang kebenaran-kebenaran yang begitu beragam, satu sikap yang meyakinkan terhadap satu dimensi agama, akan jauh lebih penting dan bermanfaat, ketimbang harus menjustifikasi kepastian-kepastian yang terlampau jauh untuk diungkap kebenarannya.

Sekarang menjadi tidak penting tentang identitas agama apa yang melekat pada setiap individu, batas-batas ini akan dihentikan dengan satu sikap Iman yang meyakinkan, ini jauh melampau seluruh kebenaran dari seluruh sistem keyakinan atau agama yang pernah ada di muka bumi ini. Jika Tuhan bukanlah entitas yang mudah dipahami, maka keyakinan akan menghentikan kesulitas-kesulitan yang menghalangi, ini adalah sikap sejati, dan kebenaran sejati melampui kebenaran-kebenaran yang tampak beragam dari semua keragaman agama.


Artikel Terkait