Lagu, lagu dan lagu. Jangan mengganggu! Aku hanya sedang ingin beradu nostalgia lalu.

…. Emancipate yourself from mental slavery

None but ourselves can free our mind

Have no fear for atomic energy

cause none of them can stop the true

how long shall they kill our prophets

while we stand aside and look? Ooh

Some say it’s just a part of it

We’ve got to fulfill the book

Won’t you help to sing 

These songs of freedom?

‘Cause all I ever have

Redemption Songs ….

 

“Dalem banget ya maknanya?” katamu sembari meraih gitar, mulai memainkan berbagai plucking dan mencari-cari rima yang pas untuk menyanyikan lirik demi lirik milik Bob Marley itu. Selalu begitu. Bisa kujamin, seminggu kau akan selalu menyanyikan lagu yang sama hingga merasa bosan sendiri. 

Anehnya, aku suka. Menikmati setiap momen maestoso, setiap kali mata elangmu menutup mencari ide aransemen baru. Lalu, tiba-tiba membuka netra, berbinar pertanda inspirasi itu menghinggapi kepala. Sesaat kemudian memainkan gitar secara adagio, perlahan, tetapi mengalun pasti.

Lain waktu, kudapati kau mengalami distorsi, kehilangan groove dan hanya duduk diam berjam-jam. Menyisa kepul sigaret yang kujauhi sambil terbatuk-batuk di sudut lain. Seperti petikan gitar yang mengalami dischord, fade out. Tak selaras, kehilangan harmoni. Ah, Setahuku, musisi memang terkadang seperti itu.

“Hei, suaramu bagus juga. Timbre dengan vibra yang unik!” katamu saat mendapatiku ber-accapela, menyisa rona pada wajah terciduk merah. Tak terbiasa orang lain mendengarku bernyanyi. Senandung itu hanya terbuang di kamar mandi, menemaniku mencuci atau sekadar berdendang ria saat menepi. Dan kau orang pertama yang memuji. Rasanya … tiba-tiba saja berada di udara dengan bunga-bunga indah entah dari mana. Merasa malu, tetapi bahagia.

“Bernyanyilah bersamaku!” ajakmu suatu hari. Saat itu kita sedang memandang hujan menari-nari, menyesap secangkir coklat hangat dan kue-kue kecil berbentuk hati. Lalu, tanpa sadar aku ber-la-la-la sendiri tanpa menyadari kau terus saja tersenyum menikmati. 

Kupikir bercanda, tapi ekspresi wajah dengan rahang tegas itu tak berubah. Aku terdiam. Seperti sebuah lagu dengan interval intro menuju reff , diselingi interlude yang panjang. Cukup lama. Hingga akhirnya kututup dengan coda sebagai jawaban, “Baiklah, akan kucoba”.

Semua berawal dari situ. Hari-hari setelahnya kuhabiskan dengan berlembar-lembar verse dan rangkaian rhapsody. Kucoba mendengarkan banyak genre. Mulai dari Klasik, Jazz, Blues, Rap, R&B, Rock, Reggae, Techno, Country, Pop hingga Dangdut. Semua memiliki khasnya masing-masing. Awalnya hampir menyerah. Seiring terlalu banyak hal harus dipelajari bersamaan.

Terkadang aku tak tahu menyelaraskan melodi. Beberapa perpindahan tempo membuat bingung. Ada saat di mana seharusnya allegro yang cepat bermain, tetapi malah mengambil tempo largo--lambat sekali. Membuat pitch-ku ke mana-mana. Fals, sumbang, begitu lemah di falsetto.

 

“Aku tidak memintamu menjadi seorang komponis opera, mengapa jadi seserius itu?” Suara Bassmu terbahak ketika kutanya apa suara alto-ku punya kesempatan menjadi sopran. Pertanyaan dijawab pertanyaan, membuatku memberengut tak puas. Sedikit merasa terhina.

 

“Bulan ini aku manggung. Kita duet ya? Kali ini gantikan bernyanyi. Aku hanya akan mengiringi. Tampil Duo.”

Glek!

Kau adalah seorang performer di salah satu mall terkenal di kota ini. Ditambah beberapa kafe ternama. Meski terkesan cuek, tubuh tinggi atletis dengan wajah maskulin bermata setajam elang itu selalu berhasil menyihir pendengarnya. Sering sekali wanita terpekik kagum setiap kali kau manggung. Para pengagum. Lalu, membayangkan menggantikanmu bernyanyi di depan ratusan orang membuatku ciut nyali.

 

“Tak apa. kita akan berlatih. Pasti bisa!” Dan kita benar-benar menghabiskan waktu berlatih bersama. Entah sudah berapa sesap coklat hangat serta kue berbentuk hati menemani hari. Tak pernah menghitung. Yang kutahu hanya ‘harus bagus, harus bagus, harus bagus’. Kuucapkan itu berkali-kali. Setiap hari.

******

“Cantik,” ucapmu memuji penampilanku dan kau harus menerima akibatnya. Lengan kekar itu menjadi sedikit merah. Padahal, cubitan itu tidak terlalu keras. Ah, mungkin karena degubku tak tahu harus diartikan apa. Merasa wajah merona karena dipuji atau terlalu nervous untuk penampilan perdana. Takut salah. Bagaimanapun, nama besarmu menjadi taruhan. Tak ingin mempermalukan.

Ada tarikan napas panjang dan hembusan perlahan. Bagiku, waktu seperti mengalami rit. Berhenti seketika saat lagu pertama mulai kita mainkan. Membuat beberapa mata memandang dan berpasang-pasang langkah terhenti. Mendengarkan. 

Kau tersenyum dan kuanggap itu kekuatan untuk terus menuntaskan lagu. Perlahan tapi pasti. Satu demi satu. Lirik demi lirik terus saja kunyanyikan. Tentu saja sambil sesekali menyapa pengunjung yang ikut berhenti. Semakin lama-semakin kunikmati alunannya. Terbiasa hingga tak lagi merasa beban.

 

Masih ingat reaksi pertamaku saat berhasil menyelesaikan semuanya? Menangis di belakang panggung dan kau datang membawa berlembar tisu sambil tertawa. Mungkin heran mengapa harus menangis padahal seharusnya bahagia aksi kita selesai hampir sempurna. 

Derai tawamu terhenti karena sedetik kemudian aku menghambur, menumpahkan tangisku di dadamu. Membuat kau terdiam--membiarkan. Mulai paham bahwa ini hanya perasaan haru. Benar-benar tak menyangka bisa sampai sejauh ini. Lirih terdengar bisikan itu. Begitu dekat.

“Kau hebat. Mereka menyukaimu. Hanya saja …”

“Hanya saja apa?” Kuseka air mata. Terhenti mendengar ucapan menggantung.

 

“Hanya saja aku harus berhati-hati mulai sekarang. Saingan bertambah satu lagi. Bisa-bisa job-ku dialihkan semua ke kamu. Ha-ha-ha.” Kali ini benar-benar terbahak. Dan kau tahu betul akibat kalau sudah mulai menertawaiku seperti itu.

 

“Aduh! Sadis amat ni perempuan!” Cubitan khas mendarat di lengan. Lagi. Rasakan itu!

*************

Hidup harus terus berjalan. Bukan begitu? Hanya saja terkadang kita tak siap pada setiap beat yang berubah-ubah. Berharap semuanya seperti menikmati seseorang bernyanyi ballad yang mengalun lambat, begitu terlena hingga lupa bahwa suatu saat musiknya harus terhenti dan semua pemusik harus pulang.

“Janji akan menjaga ini?” tanyamu sambil mengeluarkan sebuah gitar akustik yang kini berpindah tangan. Ke tanganku.

“Aku ….”

“Bisa ‘kan?”

“Sampai kapan?”

“Sampai aku kembali.”

“Kapan?”

“Doakan lebih cepat.”

Hanya itu. Kemudian mesin bersayap membawamu menjauh. Terbang tinggi. Sejauh cita-cita lama yang belakangan sering membuat kita bertengkar.

“Aku akan kembali berlayar. Sebentar lagi ayah turun kapal. Ia memintaku menggantikannya.”

Kalimat yang terdengar seperti suara oktaf countertenor tertinggi diteriakkan tepat di telinga. Sakit. Sesakit nyata bahwa permainan melodimu tak lagi bisa kukagumi di depan mata atau ketuk kecil di kepala saat salah mengambil nada.

Harmoniku patah.

[Al, kapan pulang? Kangen]

Tak pernah terbaca.