Researcher
3 bulan lalu · 341 view · 14 min baca menit baca · Perempuan 55484_74825.jpg
Okezone

Rapor Merah Feminisme Indonesia Abad 21

Hari Perempuan Internasional yang belum lama berselang, sangat disayangkan, harus diapit oleh dua kejadian yang tidak mengenakkan. Pertama, kampanye emak-emak yang menakut-nakuti warga dengan isu pelarangan azan dan hijab serta legalisasi pernikahan sesama jenis kelamin. Kedua, bom bunuh diri di Sibolga yang dilakukan oleh seorang ibu yang terafiliasi ISIS.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa suara sumbang menentang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, sebagian malah datang dari kaum perempuan. Alasannya pun aneh-aneh: misalnya kalau suami minta istri membuatkan kopi, istri yang menolak bisa memolisikan suami. 

Orang yang menuntut perluasan pasal zina dalam KUHP juga perempuan, akademisi pula. Perempuan jugalah yang menuntut agar iklan BlackPink yang memakai rok mini dihapus.

Yang paling aneh dan menyedihkan adalah makin banyaknya perempuan di level akar rumput yang mendukung pernikahan dini, poligami (tepatnya poligini), dan menyalahkan sesama perempuan yang diperkosa karena pakaiannya terlalu terbuka. Dan yang paling mengerikan adalah makin aktifnya perempuan dalam terorisme. Bahkan kabarnya para ibu ini lebih militan dari suami mereka.

Saya bingung mengapa hal ini terjadi ketika perempuan berprestasi mulai merambah perpolitikan negeri, seperti Ibu Khofifah dan Ibu Risma di Jawa Timur, beberapa bupati dan walikota di Jawa Tengah, kabinet Presiden Jokowi dan tentu saja parlemen. Tolong koreksi kalau saya salah, tetapi saya tidak menemukan ada satupun pejabat publik tersebut yang mendukung (apalagi rela di-) poligami; bahkan mereka juga memperjuangkan peningkatan batas minimum usia pernikahan.

Selain itu, wacana feminisme makin menguat, termasuk di media sosial di mana bertebaran tagar seperti #PowerOfEmakemak atau #MeToo. Artikel, vlog, diskusi, dan debat feminisme menjamur. 

Banyak juga kaum laki-laki yang dengan gigih memperjuangkan feminisme dan kesetaraan gender secara umum, bahkan dari kalangan agama yang selama ini identik dengan patriarki. Lalu apa yang salah?

Kalau saya menengok ke belakang, saya tumbuh di lingkungan di mana feminisme adalah hal lumrah. Ibu saya punya gelar doktor. Nenek saya bahkan jadi pegawai kantoran di zaman Belanda dulu. 

Pendeta di gereja kami tidak sedikit yang perempuan. Tidak satupun perempuan di keluarga kami yang menikah muda (sebelum usia 20 tahun), begitu pula dengan orang tua teman-teman saya.

Mungkin Anda berkata, itu kan lingkungan Kristen. Tetapi saya juga mendapati keadaan yang kurang lebih sama di antara teman-teman sebaya yang Muslim. Tak satupun yang poligami, termasuk orang tuanya. 

Ada beberapa orang kampung sekitar yang menikah muda, tetapi tidak ada paksaan untuk segera menikah, apalagi dengan alasan ‘menghindari zina’. Dan tidak ada yang berakhir dengan perceraian karena kurangnya tanggung jawab salah satu atau kedua pihak.

Lalu mengapa di era milenial ini malah feminisme terkesan pincang? Di level elite tampak progresif, tetapi di akar rumput malah makin digerogoti. Feminis militan modern dengan cepat berteriak, “Ini salah patriarki!” Bisa jadi. Tetapi mengapa zaman dulu, ketika harusnya patriarki lebih bercokol, tampaknya feminisme jauh lebih baik?

Latar Belakang

Ada baiknya kita melihat dulu seperti apa feminisme modern ini. Feminisme gelombang pertama berkisar pada persamaan hak seperti pendidikan, pekerjaan, dan politik. Gelombang kedua mulai membahas isu yang lebih luas, seperti seksualitas/hak reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan. 

Sampai di sini, menurut saya, feminisme masih berfokus pada pemenuhan hak asasi manusia untuk perempuan di segala bidang.

Memasuki dekade 1990-an, feminisme mulai bergerak ke arah menonjolkan peran dan identitas perempuan. Di gelombang ketiga inilah para feminis baru mendefinisikan ulang kemerdekaan perempuan sebagai pengutamaan perempuan. 

Mereka juga mengklaim ulang simbol-simbol ‘feminin’ seperti hijab dan tank top – yang dulu dianggap mengekang dan mengobjektifikasi – sebagai identitas feminis. Kira-kira, pada gelombang ini, feminisme mulai mendefinisikan dirinya sebagai lawan patriarki.

Perlahan-lahan peran perempuan dianggap lebih penting dari laki-laki. Kasarnya, jika dulu perempuan dianggap ‘pabrik anak’, sekarang laki-lakilah yang dianggap cuma bisa ‘bikin anak’ tetapi tidak bisa memelihara dan mendidik. 

Di beberapa negara, pendidikan tanpa disengaja bergeser mengutamakan anak-anak perempuan karena (menurut penelitian) mereka lebih cerdas dan patuh daripada anak laki-laki, sehingga investasi pendidikan anak perempuan dianggap lebih efisien dan efektif.

Di gelombang ketiga inilah feminisme merambah isu lingkungan hidup, seks, gender, ras, budaya, ekonomi, agama, dan sosial politik; atau istilah kerennya ‘interseksionalisme’. 

Idealnya, perempuan harus peka dengan isu di luar perempuan. Tetapi karena fokus melawan patriarki inilah beberapa feminis mulai mengaitkan sisi negatif dari isu-isu di atas (kerusakan lingkungan, seksisme, homofobia, rasisme, imperialisme, kapitalisme, fundamentalisme agama) sebagai ‘produk patriarki’.


Feminisme gelombang keempat sebenarnya mirip dengan gelombang ketiga. Hanya saja diperkuat dengan peran media sosial. Dari sinilah awal mulanya tagar seperti #MeToo atau #GrammyIsSoMale dan semacamnya. 

Interseksionalisme di gelombang ketiga dapat dikatakan menjadi arus utama (mainstream) dalam gelombang keempat. Bisa dikatakan, feminisme gelombang pertama dan kedua (terutama liberal klasik) sudah pudar pesonanya; bahkan sudah dianggap bagian dari ‘patriarki’.

Tabrakan Budaya

Bagaimana dengan Indonesia? Feminisme abad ke-21 berhadapan dengan tumbuhnya fundamentalisme agama pascareformasi. 

Jika Anda pernah melihat perempuan di Iran sebelum revolusi 1979 atau Afghanistan sebelum Taliban, kira-kira begitulah gambaran mengapa perempuan Indonesia ‘zaman dulu’ (sebelum reformasi) kelihatannya lebih bebas. Perbedaannya, jika revolusi di kedua negara itu membuat fundamentalisme benar-benar menindas feminisme, reformasi di negara kita menabrakkan keduanya.

Saya ingat ikon feminisme yang pertama kali diserang pascareformasi adalah Kartini. Ia dianggap sebagai ‘produk Barat’ (konspirasi Belanda?) untuk mengikis nilai-nilai tradisional, nasionalisme, dan agama. 

Celakanya, gugatan terhadap Kartini bukan hanya datang dari fundamentalis, tetapi juga feminis. Kartini dianggap feminis palsu karena dipengaruhi kolonial dan mau saja dipoligami. Perayaan Hari Kartini dengan parade baju tradisional juga digugat sebagai pengerdilan citra perempuan.

Mengapa feminisme modern ini malah menggugat pejuang feminis masa lalu ketika fundamentalisme mengancam kebebasan perempuan? 

Karena mereka mengaitkan ‘liberalisme Barat’ dengan kapitalisme, menggugat objektifikasi perempuan (penggambaran cantik dan seksi) sebagai rape culture, dan menganggap hijab (dan bahkan niqab/cadar) sebagai pilihan perempuan untuk melawan ‘islamofobia Barat’. Kapitalisme, objektifikasi perempuan, dan islamofobia diyakini sebagai produk patriarki.

Hal ini malah mengakibatkan gayung fundamentalisme bersambut. Maka feminisme yang dilanda kegalauan identitas dipelintir dengan konservativisme. Di satu sisi mereka membenci konsep kebebasan dan keterbukaan ‘Barat’, tetapi senang disanjung karena lebih hebat dari laki-laki. Maka mereka menjawab kira-kira begini: “Fundamentalisme agama sudah lebih dulu melindungi dan memuliakan perempuan.”

Peran tradisional perempuan tidak lagi dianggap penindasan, tetapi keunggulan. Ibu perkasa yang berkarier sekaligus berkeluarga dianggap kalah dari ibu rumah tangga yang bisa mengendalikan uang suami (yang ‘diberkati’ Allah karena tidak membiarkan istrinya bekerja). 

Hijab yang tadinya dianggap mengekang, berbalik menjadi senjata. Perempuan yang tidak berhijab dianggap sebagai komoditas (patriarki) murahan yang dijual bebas (‘permen lollipop yang tidak dibungkus’).

Tak heran muncul motivator, ustaz dan ustazah dengan seminar dan ceramah dengan menyanjung pernikahan sebagai target utama dalam hidup, tetapi paradigmanya dibalik. 

Dalam beberapa narasi, bukan perempuan lagi yang dikejar-kejar supaya cepat nikah, tetapi laki-laki yang tidak cepat melamar yang dipermalukan. Tidak jantan, takut berkomitmen, miskin, dan sebagainya. Laki-laki yang mengajak pacaran dianggap mengajak berzina – mirip penggambaran feminisme tentang date rape.

Saya mendapati banyak laki-laki yang marah karena perempuan fundamentalis main pukul rata dengan menuduh mereka tidak bisa mengendalikan hasrat seksualnya. Solusinya selalu mereka harus segera menikah, atau perempuan memakai hijab syar’i – bahkan niqab – untuk menghindari male gaze dan objektifikasi (lagi-lagi konsep feminisme.) 

Lucu, kan? Kapan lagi bisa menikmati patriarki sambil melecehkan laki-laki?

Dan tentu saja tidak ketinggalan emak-emak. Entah siapa yang memulai ‘glorifikasi’ emak-emak naik motor matic yang melanggar peraturan lalu lintas tetapi tidak bisa disalahkan. 

Memang ada feminis waras yang mengatakan tidak sepatutnya perempuan dianggap wajar kalau melanggar peraturan, seolah dari sononya sudah begitu (seksisme). Tetapi suara mereka seperti tenggelam, dan the power of emak-emak pun merambah ke isu lain.

Apalagi kalau bukan politik? Emak-emak (atau pemilih perempuan pada umumnya) dianggap sebagai lumbung suara. Bukan karena mereka teliti memeriksa rekam jejak kandidat atau punya kekuatan ekonomi, tetapi karena mereka lebih banyak emosional dan militan. Kondisi ini membuat mereka jauh lebih berpengaruh daripada bapak-bapak. Dan memang sisi inilah yang dieksploitasi.

Kesannya hebat, kan? Punya posisi tawar politik yang lebih besar daripada laki-laki. 

Apakah mereka sadar bahwa mereka dimanfaatkan politisi yang didukung kelompok garis keras yang melanggengkan salah satu bentuk patriarki terburuk? Tidak, yang penting mereka kelihatan kuat dan menentukan. Bahkan jika kekuatan emosi dan militansi mereka dimanfaatkan untuk tujuan yang paling jahat: terorisme.

Lalu di mana para feminis? Bukankah jelas isu-isu tersebut saling terkait (interseksional)? Apakah mereka tidak sadar bahwa wacana konservatif yang asyik itu berkembang menjadi ekstremisme yang memakan korban? Apakah mereka kecolongan, ikut menikmati, atau sibuk dengan yang lain?

Menara Gading

Tolong koreksi saya kalau saya salah: memang banyak – sangat banyak, malah – perempuan yang bekerja di hutan belantara ketidakadilan demi memerdekakan dan memberdayakan perempuan dan rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi yang suaranya bising adalah feminis – perempuan dan laki-laki – yang cerewet soal penindasan mikro: mengritik Dilan yang ‘mengobjektifikasi’ Milea, membela emak-emak yang horny melihat Jonathan Christie, catcalling, body shaming, dan sebagainya.

Sebuah media online pernah mewawancara beberapa tokoh perempuan tentang feminisme. Salah satu pertanyaannya adalah: bagaimana pendapat mereka tentang tuduhan bahwa feminisme adalah ‘produk Barat’? 

Jawabannya bagus semua, tetapi tidak menyentuh satu detil kecil: bagaimana rakyat biasa (grassroot) bisa menerima feminisme sebagai suatu konsep universal jika mereka asyik memakai istilah glass ceiling, privilege, microagression, mansplaining, trigger warning, dan sebagainya?

Isu-isu interseksional dengan istilah canggih itu memang kedengaran seksi, dan sesuai dengan semangat feminisme gelombang ketiga dan keempat. Tetapi yang sehari-hari dikenal masyarakat kita adalah pemerkosaan, KDRT, kawin paksa, perundungan (bullying), terbatasnya pendidikan, kesulitan ekonomi dan sebagainya. Hal-hal mikro dengan istilah canggih itu hanyalah buih yang cepat hilang dibandingkan limbah masalah makro yang dialami lapisan akar rumput.

Akibatnya, masyarakat awam menjadi terasing dari gerakan feminisme. Bukan karena tidak mengenalnya sama sekali, tetapi mereka tidak terlibat dalam dialektikanya karena nggak mudeng

Mereka hanya mengenalnya dengan jargon secuil, seperti “perempuan lebih bebas”, “perempuan lebih unggul”, dan “lelaki hidung belang”. (Ironis, feminis modern yang sangat ribut dengan privilege, malah menggunakan istilah-istilah canggih yang hanya dimengerti mereka yang punya privilege.)

Usaha-usaha untuk mencerdaskan masyarakat dengan konsep kesetaraan dan perlindungan gender tidak menyentuh mereka. Sekali lagi, hal ini dimanfaatkan oleh kelompok fundamentalis.  


Mereka lebih terhubung secara kultur, bahasa, dan agama. Bahkan mereka juga lihai merambah kelas menengah atas yang relatif terbuka pada arus informasi. Fundamentalis mudah mengakses kalangan yang akrab dengan dialektika feminisme, tetapi feminis progresif enggan menyapa ‘pangsa pasar’ fundamentalisme.

Kata-kata yang Tidak Mau Istirahat

Ibu Susi Pudjiastuti pernah berujar dalam suatu forum, kurang lebih begini: jika perempuan ingin maju dan sukses, jangan cuma omdo (omong doang), tetapi harus bertindak. 

Saya terkejut ketika beberapa feminis (sebagian bahkan laki-laki!) menyanggah pernyataan beliau dengan mengatakan bahwa kita perlu lebih banyak berbicara tentang isu-isu perempuan.

Saya tidak membantah bahwa banyak isu perempuan yang sangat perlu disuarakan untuk meningkatkan kesadaran publik. Tetapi saya khawatir mereka salah menangkap maksud Bu Susi, yaitu, pertama, ia mendorong perempuan untuk tidak hanya bergosip atau meratapi nasib, tetapi bergerak mendobrak batasan; kedua, isu-isu yang disuarakan itu perlu diikuti dengan tindakan. Tetapi mengapa mereka getol sekali soal pembicaraan isu?

Ada dua kemungkinan. Pertama, mereka ingin ‘menyadarkan’ bahwa perempuan tidak bisa bertindak maksimal karena terhalang oleh patriarki, karenanya isu-isu tersebut perlu disuarakan. Tetapi yang saya khawatirkan adalah yang kedua, mereka sekadar hanyut dalam tren kebebasan bicara yang semu, terutama di media sosial. Hal ini terjadi bukan hanya dalam feminisme, tetapi juga gerakan sosial, politik, ekonomi, dan bahkan iptek.

National Geographic pernah mewawancarai seorang astrofisikawati yang menuntut perubahan ‘cara kita membicarakan’ eksplorasi ruang angkasa. Misalnya, “kolonisasi” atau “pemukiman” planet Mars perlu diganti, karena kata “kolonisasi” identik dengan penjajahan dan “pemukiman” mengingatkan pada pendudukan Israel di Palestina. 

Ia bahkan mengritik kaus “Occupy Mars” yang dipakai Elon Musk karena – sebagai kapitalis – ia membajak perjuangan “Occupy Wall Street” melawan kapitalisme.

Sebuah artikel di BBC tak kalah ajaibnya: menggagas perubahan istilah medis organ kelamin perempuan menjadi lebih feminin. (Tuba Fallopi, misalnya, berasal dari nama ilmuwan pria asal Italia.) Tetapi memang di mana-mana – terutama media sosial, ingat feminisme gelombang keempat – hal ini menjadi trend. Kita perlu lebih banyak berbicara tentang kelompok marginal dan perlu mengubah cara kita berbicara tentang mereka.

Ada semacam cara pandang yang keliru di era media sosial ini, yaitu bahwa aktivitas kita di media sosial mempunyai dampak nyata. Kalau kita rajin membagi ayat kitab suci, kita religius. Kalau kita memasang emoticon sedih pada berita bencana, kita berjiwa sosial tinggi. Kalau kita berkomentar marah para peristiwa diskriminasi, kita menjunjung tinggi keadilan sosial (‘SJW’). Kita menghakimi mereka yang berpendapat sebaliknya, salah bicara, atau menyinggung meski tanpa sengaja.

Memang benar netizen yang mahabenar dengan segala nyinyirnya itu bisa membuat perbedaan di dunia nyata. Orang yang ‘kena’ tagar #MeToo – entah benar-benar melecehkan perempuan secara fisik atau sekadar menyinggung – menjadi malu dan dan terkucil, bahkan kehilangan peluang bisnis. 

Tetapi apakah perang tagar itu mengubah kenyataan di akar rumput? Apakah hal itu mencegah pemerkosaan anak di pelosok daerah atau kekerasan pada buruh migran?

Saya mendapati kenyataan yang pahit: belum ada seminggu sebelum tulisan ini diterbitkan, seorang calon pendeta perempuan diperkosa dan dibunuh dua orang lelaki di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Keduanya juga memukul seorang anak perempuan yang naik motor bersama korban sampai pingsan. Pelaku sudah ditangkap dan didapati mereka sejak awal mengincar untuk memerkosa korban.

Saya mencari-cari apakah ada tanggapan dari para feminis (harap digarisbawahi: yang saya ikuti di media sosial) tentang kekejaman itu. Setidak-tidaknya yang mirip dengan dukungan pada ibu Nuril atau mahasiswi UGM yang dilecehkan. 

Hasilnya NIHIL. Ada yang asyik membahas debat pilpres, isu-isu dan narasi LGBTQ, bahkan penggunaan kata-kata yang masih bertendensi patriarki seperti “tegakkan keadilan”. Bahkan RUU PKS – yang jelas diperlukan untuk mencegah hal seperti ini – tidak disinggung.

Kita vs Mereka

Era media sosial juga memunculkan masalah baru, yaitu polarisasi. Contoh paling mudah tentu saja adalah fenomena cebong vs kampret di tahun politik ini. 

Tetapi yang paling miris dari hal tersebut adalah adalah getolnya perlawanan terhadap golput atau yang masih ragu (swing voters). Gambaran mereka tentang golput persis seperti orang-orang yang menghuni tepian neraka Dante karena tidak memihak atau ingin melihat persoalan dari kedua sisi.

Beberapa kalangan sudah memperingatkan bahaya memusuhi golput atau swing voters. Terpilihnya Trump, Bolsonaro atau Brexit tidak lepas dari kalangan liberal progresif yang malah asyik menyamakan mereka yang setuju pada sebagian konsep konservativisme dengan mereka yang rasis, seksis, dan merusak lingkungan. Karena merasa dimusuhi, mereka yang berada di tengah sulit melihat ada harapan untuk hidup nyaman jika Clinton menang pilpres atau Inggris Raya tetap bergabung dalam Uni Eropa.

Feminisme abad ke-21 juga tidak kebal dari hal semacam ini, dan semangat interseksionalisme seolah mempertebal militansinya. Ada berbagai genre dalam feminisme dan (seperti ‘isme’ lainnya) ini adalah hal yang lumrah. Namun celakanya, beberapa feminis menuduh feminis lainnya ‘tidak cukup interseksional’; karenanya dianggap bukan feminis sejati, dan bahkan antek patriarki.

Misalnya saja soal hijab. Saya menganggap lumrah jika seorang perempuan memutuskan berhijab – bahkan bercadar – tanpa paksaan (apalagi ‘dipaksa’ karena endorsement artis). 

Tetapi alangkah naifnya jika kita menutup mata pada pemaksaan hijab hanya karena hijab diklaim sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni budaya Barat oleh feminisme abad ke-21. Sialnya lagi, feminis yang kritis terhadap hijab juga malah dicap sebagai antek patriarki Barat.

Beberapa feminis – terutama yang vokal – memang menganggap bahwa interseksionalisme bukan hanya soal peka terhadap isu-isu umum di luar perempuan, tetapi juga menyelesaikan isu-isu tersebut harus dengan cara perempuan. Dengan kata lain, mereka mengklaim sebuah ‘standar emas feminisme’. 

Dalam beberapa kasus, feminis yang menggunakan pendekatan rasional dan logis dalam mencari solusi suatu isu sosial dianggap ‘mengadopsi cara berpikir laki-laki yang patriarkis’.

Alih-alih mencari kesamaan visi-misi antara feminis dari berbagai genre, feminis yang mengidentifikasi dirinya sebagai ‘radikal’ (radix = ‘akar’) menganggap feminis yang tidak sejalan – walau hanya dalam satu-dua isu – sebagai lawan. Bahkan mereka menentang autokritik dari sesama feminis, kadang hanya dengan jargon “sesama perempuan harus saling mendukung”. 

Bagi mereka, autokritik hanya boleh ditujukan pada feminis yang tidak cukup feminis, bukan feminis yang salah pakai data.

Hal ini menimbulkan beberapa dampak negatif. Pertama, masyarakat awam merasa terasing karena dianggap ‘musuh’ feminisme. 

Misalnya, rata-rata orang sudah cukup bisa menerima kalau LGBTQ dan kumpul kebo tidak boleh dikriminalisasi, tetapi mereka tidak setuju dianggap ‘fobia’ kalau tidak sependapat dengan pernikahan sesama jenis. Para ‘family men’ yang setia dan biasa berbagi tugas dengan istri tentu tidak mau digolongkan bersama para pemerkosa atau pelaku KDRT.

Kedua, kubu fundamentalis makin mendapat lahan yang lebih luas untuk dipanen, justru karena menganggap orang-orang yang berada di tengah sebagai sekutu potensial. Sementara para feminis radikal menuding perempuan yang setuju beberapa konsep konservatif sebagai ‘token’, kaum fundamentalis dengan mulut manis berhasil membujuk perempuan yang relatif moderat menuju ke ekstremisme patriarki, bahkan masih dengan bunga-bunga kehebatan perempuan.

Jalan Sunyi yang Keras

Baca Juga: Feminisme Semu

Saya mohon maaf jika saya seolah menuduh feminisme sepenuhnya bertanggung jawab emak-emak ekstrem yang ikut menindas perempuan lain, atau atas penderitaan kaum perempuan secara umum. Itu adalah tanggung jawab kita semua: pria, wanita, konservatif, liberal, pemerintah, rakyat, akademisi, dan santri. 

Saya menghormati kebebasan berpikir dan berbicara, bahkan yang sangat menyinggung harga diri saya sebagai laki-laki. Siapa saya bisa mengatur otak dan mulut orang lain?

Kealpaan untuk turun ke lapangan memberi kesadaran pada masyarakat karena asyik berdebat di dunia maya juga bukanlah murni kesalahan perempuan atau feminis. Itu adalah kodrat semua manusia, tergoda untuk mencari panggung dan mencari musuh. 

Kita semua lalai; membiarkan om, tante, kakak, adik, dan teman kita terjerumus dalam feminisme palsu atau fundamentalisme ekstrem hanya karena diksi mereka kurang canggih atau kurang sependapat dengan diri kita.

Mengapa saya secara khusus menyinggung feminisme? Karena jika mereka mengklaim bahwa masa depan ada di tangan perempuan, maka ada jutaan perempuan di Indonesia ini yang perlu diberdayakan, dan ada jutaan laki-laki juga yang perlu dirangkul untuk bersama-sama berjuang untuk persamaan dan kebebasan. Ini menuntut keterbukaan pikiran, termasuk mendengarkan pandangan yang tidak selaras betul dengan konsep-konsep di kepala kita.

Saya mendapati para perempuan yang berjuang di jalan tersebut sangat banyak namun sunyi dari pemberitaan. Padahal merekalah yang berhadapan langsung dengan kenyataan hidup penuh bahaya: penolakan masyarakat setempat dan pemerkosa yang mengintai di sudut yang gelap.

Saya masih percaya bahwa pendidikan karakter dan akademis adalah jalan keluar dari cengkeraman patriarki fundamentalis dan kejahatan seksual. 

Masalahnya, apakah pendidikan ini menyentuh masyarakat menengah ke bawah? Bagaimana pendidikan seksualitas dan kesetaraan gender dapat mereka pahami tanpa perlawanan yang sengit? Bagaimana pria dan wanita, terutama ayah dan ibu, dapat menjadi garda depan pendidikan ini, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan?

Sekali lagi mohon maaf, saya hanya sekadar mengingatkan (dengan emoticon kedua tangan terkatup). Tetapi saya mengingatkan kita semua kalau masih ada dunia nyata di luar sana, bukan mengingatkan kalau Anda lebih cantik jika berhijab.

Artikel Terkait