Peneliti
2 tahun lalu · 241 view · 3 menit baca · Budaya 66765.jpg
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Eminem-04.jpg

Rap-Battle Eminem dan Debat Pilkada Jakarta

Seorang kulit putih sekalipun bisa menemukan aneka kesulitan hidup di Detroit pada pertengahan dekade 1990an. Detorit adalah sebuah kota terpencil di Amerika Serikat, di dalamnya orang kulit hitam jadi mayoritas, setidaknya penguasa dunia bawah.

Wajah polos underground Detroit 

Seperti kota lainnya, Detroit punya kehidupan ‘tersembunyi’ yang eksklusif. Para pekerja kasar dan serabutan atau yang dikenal dengan istilah kerah biru, mengorganisir diri ke dalam kelompok bercirikan ras dan jenis kesenangan, misalnya musik. Yang kita pahami, rap adalah salah satu musik yang berasal dari bangsa negro yang direproduksi di Amerika, dan tentu saja menjadi identitas para kulit hitam.

Jika di siang hari, mereka menyebar di tempat kerja, di malam hari mereka berkerumun di club-club malam, tempat mereka menuang minuman keras, tertawa lepas, memaki kehidupan, bercinta, dan bernyanyi. Dunia underground Detroit, di sana ada agenda adu skil bernyanyi rap tiap pekan yang dihelat oleh komunitas The Shelter.

Distrik 8 Mile menceritakan bagaimana para rapper kulit hitam yang dikenal luas dan kerap melahirkan jagoan raper dunia. Kita mengenal Dr Dre yang juga mementori Eminem, 50 Cent, D12 adalah dedengkot rap berkulit hitam. Dalam kisah 8 Mile, semacam seleksi alam, raper diadu layaknya kerbau saling tanduk. Setiap serial battle, peserta diharuskan mengeksplorasi sebebas-bebasnya tema yang disodorkan panitia menjadi syair, dan selanjutnya saling menyerang melalui argument nyiyir dan makian. Kata-kata meledak-ledak berbunyi fuck, shit dan bitch diteriakkan layaknya mengucap halo.  

Bagi pecinta rap, Mile 8 adalah dunia rap yang masih idealis dan orsinil. Dunia undergroundnya adalah pertarungan idealis para rapper, skil adalah keutamaan, dan hanya latihan serta kreativitas yang bisa berada pada titik itu. Jadilah, Detroit menjadi ajang tarung bebas yang mematikan. Rapper tidak hanya harus siap konsep, mereka pun harus punya geng, kelompok yang menyorakinya saat berlaga, sekaligus membelanya saat terjadi adu fisik.

8 Mile dirilis pada November 2002, sebuah film yang diterjemahkan dari perjalanan hidup Eminem, seorang yang akhirnya menjadi raja rap dan berkulit putih. Kisah hidup rapper yang bernama Jimmy Smith, kadang juga menyebut dirinya dengan Marshal Matter, bukan semata kisah seorang musisi berjuang meniti karir, 8 Mile menunjukkan sisi Detroit yang sebenarnya, kumuh dan rawan rasis.

Eminem berjuang dalam kungkungan dominasi kulit hitam yang menguasai rap. Sementara di kehidupan sehari-hari, ia dan ibunya tinggal di sebuah trailer kumuh, tempat banyak kalangan pekerja kasar bermukim. Apa yang dimilikinya adalah hanya bakat, kreativitas, dan keberanian. Lirik lagunya banyak dituangkan di kertas yang dicoretnya tak beraturan. Dan hasilnya, sederet lagunya yang mendunia bahkan mendapatkan penghargaan, diantaranya Lose Your Self, Toys Soldier, Beautiful, Stan, Cleaning Out My Closet dan banyak lagi.  

Sementara, bagi Curtis Hanson, sang sutradara 8 Mile, ia melepaskan diri dari kehidupan Amerika yang wah, memilih menyalurkan keberaniannya dengan memotret dengan jujur wajah Detroit yang disesaki para kulit hitam pekerja kasar, markas para rapper.

Debat Pilkada Jakarta yang tidak jujur

Apa yang terjadi di Jakarta saat menghadapi Pilkada 2017, sebenarnya menceritakan kompleksitas cerita hidup, mulai dari pertarungan kuasa, pemodal, politisi, kelompok radikal dan pertarungan konsep agama. Pertarungan konsep agama, sebenarnya lebih pada upaya memaksakan menafsir

Saya tidak ingin membuat perbandingan apa diperjuangkan oleh Eminem di Detorit dan apa yang dilakukan Ahok di Jakarta. Hanya saja, jika rap dianalogikan sebagai sebuah agama, maka setting film itu menunjukkan posisi Eminem yang inferior. Kenyataan rap adalah identitas kulit hitam, begitulah mereka menerjemahkan dominasi dan kekuasaan mereka pada musik yang dengan bit cepat ini.

Debat Pilkada DKI telah sampai pada seri terakhir. Pertarungan ide dan program disiarkan langsung di televise dan disaksikan oleh bukan hanya warga Jakarta. Jika The Rabbit menjalani rap-battle di panggung club malam yang eksklusif, yang hanya dihadiri oleh anggota geng dan dijaga ketat oleh penjaga yang bermuka samar. Meski tertutup, justru pertarungan berlangsung bebas, menyerang tanpa ampun, dan pecundang segera turun panggung jika melewati ambang batas waktu namun sudah kehabisan kosakata.

Sedangkan debat Pilkada DKI berlangsung terbuka, namun materi yang disuguhkan lebih banyak yang bernada normatif, jika tidak ingin disebut melangit. Andai geng The Shelter ikut menonton, mereka pasti muak dan berteriak bulshit mendengar janji-janji kosong para calon pemimpin yang tampan dan sok pintar itu.

Mana ada rumah DP nol persen, atau cobalah googling, biasakah anda temukan rumah di tengah Jakarta seharga 300an juta? Hanya ada satu kemiripan debat pilkada DKI dengan rap-battle 8 Mile, Anies yang begitu bersemangat menyerang personal ke Ahok.

Setelah Pilkada putaran kedua nanti, kita berharap tak ada lagi teriakan rasis oleh sekelompok kerah biru. Karena, bagaimanapun kuatnya pengaruh dan dominasi kulit hitam pada musik bergenre hip-hop, pada akhirnya mereka memberi pengakuan dan mendukung Eminem mencapai puncak tertinggi dunia musik.

Urusan toleransi memang tidak cukup dituangkan dalam materi kuliah pun rumah ibadah yang suci. Kita bisa belajar bagaimana para kulit hitam di Detroit memberi ruang pada Eminem yang berkulit putih.

Artikel Terkait