Senja itu persis dengan senyummu, kala aku duduk di teras rumah yang dibangun oleh orang tuaku sejak tahun 2006 silam. Aku menatapnya dalam-dalam, merah meronah jingga menyerupai bibir manismu di cakrawala. Sayangnya kau tak suka gincu.

Deretan pegunungan nan abu-abu dibuatnya, seperti alismu yang berliku pas di ujungnya, aku masih sangat hapal. Senja indah sekali hari ini, aku yakin kau juga menyaksikannya. 

Bila benar, berarti sore ini kita disatukan oleh senja. Teras rumahmu juga persis dengan teras rumahku, sama-sama menghadap ke Barat, tempat matahari terbenam, itulah puncak senja.

Ayahku masih di kebun, ibu sibuk menyapu, mengumpulkan sampah dan dedaunan kering yang mungkin semalam terlepas dari ranting, membakarnya. Aku tak yakin kenangan kita ikut terbakar dalam tumpukan api yang disebabkan oleh ibuku. 

Yakinku adalah kau juga sama sepertiku, sulit melupakan hal-hal yang indah di masa lalu. Kau pasti bertanya-tanya tentang keindaha yang aku maksud. Santai saja, berkenalan denganmu adalah bagian keindahan menurutku.

Kau pernah ingin berkunjung ke desaku. Sedikit aku jelaskan, desa itu seperti surga dalam wujud nyata, hijaunya persawahan, indahnya gubuk petani. Semua itu adalah simbol ketenangan jiwa. 

Kau pasti sedang membayangkannya, lihat saja belakang rumahmu, hijaunya hutan bakau, persis dengan indahnya hamparan sawah.

Kita memiliki banyak kisah, salah satunya, kau pandai membakar ikan dan memasak sayuran, aku pernah mencoba. Saat itu aku bersama tiga orang temanku, enak sekali. Kapan-kapan kau boleh mengajakku lagi. 

Itu adalah rangkaian cerita sederhana bagimu, tapi sangat indah dalam hidupku. Bukan ikan dan masakanmu yang menarik, tapi wajahmu saat kutatap, sungguh memukau. 

Kecuali ingatanmu telah dihapus teknologi, sebab belakangan aku baca. Ternyata sudah ada teknologi penghapus kenangan.

Hidup di pantai memang menyenangkan. lampu-lampu nelayan di laut, gemuruh ombak, angin sepoi-sepoi dan sejumlah perihal yang tak ada di desaku itu ada di sekitarmu. 

Memang kita baiknya bertukar adegan, kau yang menikmati sawah di teras rumahku, biar aku yang menikmati deras ombak di dadamu.

Aksani, entah ini namamu atau hanya julukan dari ibumu. Tetapi nama bukan hal penting, walau orang mengatakan bahwa banyak hal-hal sederhana menjadi istimewa karena penamaan. 

Namun, aku masih percaya kutipan lama. Nama hanya simbol, berembuknya rasamu dan rasaku lah sebagai kualitasnya.

Antara pantai dengan desa di pegunungan, kita dipisahkan oleh jarak. “Jarak bukan alasan, ketika Tuhan mengizinkan” katamu. Menjadi hal pembeda antara dirimu dengan perempuan lain, Aksani. 

Kau selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasmu, aku suka itu. walau diketahui bahwa Tuhan menciptakan manusia, membekalinya dengan hati lalu melengkapinya mulut, agar ia mampu mengungkapkan isi hatinya. 

Tetapi kau tetap melibatkan Tuhan, menjadikan doa sebagai alasan memendam rasa, dan mungkin benar. itu adalah caramu mencintai dengan religius.

Semua itu hanya perkara kecil Aksani. Aku ingin berbicara lebih dari sekedar perasaanku padamu. Aku ingin mengingatkan tentang bumi kita dan segenap isinya, walau itu telah kau akui sebagai takdir Tuhan.

Aku ingin mengingatkan akan tempat tinggal yang semula kau agungkan sebagai keindahan ekologis, aku ingin menerangkan sedikit tentang aku dan kamu yang tinggal di tempat yang berbeda namun sama-sama berbahaya.

Baca Juga: Cinta yang Luka

Tidakkah kau saksikan, sejumlah pantai direklamasi Aksani? Dataran rendah yang dulunya tempat moyangmu memancing ikan telah berubah wujud jadi tiang beton dan bangunan gedung mewah. 

Bukan hanya tempatmu, desaku juga telah berubah secara perlahan. Dari hijaunya sawa dan jernihnya air, kini mulai pucat laksana lumpur akibat pembuangan limbah dari beberapa tambang yang telah dapat izin pemerintah. 

Sawah menguning sebelum waktunya, banyak mengira itu akibat perubahan cuaca yang tak menentu. Batinku menolak, sebab Tuhan memang menciptakan bumi beserta isinya, tetapi Tuhan juga menaburkan hukum sebab-akibat yang mengikakt manuisa untuk patuh dan seharusnya tak merusak.

Tempat bermain waktu kecil dulu, mungkin kau diajak ayah menangkap gurita, menombak ikan besar atau memancing udang, paling tidak melempar jala di empan.  Akan hilang dengan perlahan oleh kejamnya beberapa di antara kita. 

Tempatmu dengan tempatku, keduanya adalah surga gunung dengan pantai, akan hilang digantikan polusi udara yang mematikan.

“Pemerintah itu baik” katamu beberapa tahun yang lalu. Bahkan kau ikut mensosialisasikan agar setiap orang memilih. “Jangan Golput” saranmu. Tetapi buktinya kita semakin tersingkir Aksani. 

Dataran rendah akan ditimbun, dijadikan perumahan untuk pejabat. Sementara gunung akan terus dikeruk, kalau tidak ditambang, ia dibakar. Sebab ada eksploitasi dan akumulasi kapital di balik setiap kerusakan di bumi.

Kemarahanku pada pemerinta memuncak pada setiap kali sore menyapa. Aku membayangkan tempat terbaikmu di teras menatap senja, hilang dan berubah jadi pabrik milik konglomerat. 

Aku semakin tak menerima pembangunan pemerintah, bilamana selalu mengorbankan rakyat kecil, dan tentunya sangat menghalangi kasih sayang antara aku dan kamu, berpadu satu dalam puncak bahagia lewat senja.

Semoga ini hanya menjadi khayalan bodohku saja Aksani. Atau mungkin saking inginnya aku melihatmu tenang, nyaman, damai nan bahagia, sehingga segala hal konyol beradu-pilu di kepalaku.

Namun, perlu diingat. Banyak peristiwa-peristiwa tak terbayangkan justru terjadi dalam kenyataan. Diam-diam mencintaimu yang hingga saat ini kau masih belum percaya, salah satunya.