2 tahun lalu · 1930 view · 4 menit baca · Agama bom.jpg

Rangkaian Bom dan Benih-Benih Terorisme di Sekitar Kita

Pada Minggu 11 Desember kemarin, Kairo dan Turki diguncang bom. Sehari sebelumnya, di Bekasi, polisi Indonesia menangkap tiga tersangka teroris yang berencana melakukan aksinya pada hari Minggu itu. Jika tidak digerebek polisi, ketiga teroris itu bermaksud meledakkan bomnya di tempat penting atau di tengah keramaian di Jakarta.

Apakah rangkaian pengeboman di Kairo dan Turki terkait dengan rencana pengeboman di Jakarta? Kita belum tahu jawabannya. Polisi masih terus menyelidiki hasil tangkapan mereka di Bekasi itu. Dari informasi yang dapat dikumpulkan sejauh ini, ketiga teroris itu merupakan bagian dari jaringan teroris Bahrun Naim, mastermind aksi teror Bom Sarinah pada Januari 2016 silam. Bahrun kini bermukim di Suriah dan menjadi bagian dari gerakan ISIS.

Pengeboman adalah bentuk paling brutal dari aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok ekstrimis yang mengatasnamakan Islam. Aksi-aksi kekerasan ini terjadi secara sporadis, umumnya di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.

Pertanyaannya, mengapa pengeboman dan aksi-aksi kekerasan terus terjadi? Bukankah pemerintah di negara-negara Muslim cukup gencar melakukan program deradikalisasi dan mendukung kampanye moderatisasi Islam? Apa yang salah dengan program deradikalisasi itu?

Kita tahu semua bahwa sebab-sebab terorisme sangat kompleks. Para sarjana menjelaskan adanya beragam faktor  yang mendorong orang melakukan perbuatan teror. Ada faktor ekonomi, psikologi, ideologi dan faktor-faktor lain. Namun, dalam hal kekerasan yang terkait dengan Islam, faktor “ideologi” kerap menjadi alasan utama yang dianggap paling berperan.

Tentu saja ada motif ekonomi atau alasan psikologi yang mendorong seorang Muslim menjadi teroris. Tapi, alasan itu saja tidak cukup. Mesti ada “sesuatu” yang membuat orang-orang itu terdorong menjadi teroris dan melakukan pembunuhan dengan cara-cara keji.

Ideologi Kekerasan

Apakah “sesuatu” itu? Jika Anda akrab dengan kajian-kajian seputar Islam Politik atau gerakan politik Islam, tidak sulit menemukan “sesuatu” yang membuat orang bisa menjadi penjahat atau melakukan kekerasan atas nama agama. Ya, sesuatu itu adalah doktrin atau pemahaman. Doktrin inilah yang menjadi akar persoalan kekerasan dalam Islam. Sebagaimana doktrin-doktrin baik akan mendorong orang berlaku baik, doktrin-doktrin jahat juga akan mendorong orang berlaku jahat.

Tapi, apakah ada doktrin yang jahat dalam Islam? Tentu saja, tak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Semua agama menyeru pada kebaikan. Jahat dan baik adalah soal persepsi dan soal bagaimana Hukum (undang-undang, aturan) menilainya.

Membunuh orang kafir bagi kelompok teroris (ISIS misalnya) dianggap sebagai kebaikan, tapi bagi persepsi banyak orang, itu adalah kejahatan. Menghasut dan menebar kebencian lewat ceramah bagi kelompok tertentu dianggap sebagai sesuatu yang biasa (bukan kejahatan), tapi bagi Hukum, tindakan itu bisa dikategorikan sebagai “hate speech” (ujaran kebencian), sebentuk kejahatan yang dapat terkena sanksi.

Bukan suatu rahasia lagi bahwa Islam memiliki doktrin yang bisa ditafsirkan dan digunakan untuk tujuan-tujuan kejahatan. Ayat-ayat yang menganjurkan kaum Muslim untuk membunuh kaum kafir/musyrik di manapun mereka berada (QS 2:191, 9:5) bisa menjadi masalah besar jika ditafsirkan dan digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu. Begitu juga ayat-ayat yang melarang kaum Muslim berkawan-baik (bersekutu) dengan orang-orang Yahudi dan Kristen (QS 5:51) bisa menjadi landasan untuk bersikap diskriminatif dan intoleran.

Kaum teroris dan para pelaku kekerasan memiliki irisan yang besar dengan kelompok-kelompok Muslim konservatif. Semakin besar jumlah kaum konservatif di negeri ini, semakin besar dukungan terhadap terorisme dan kekerasan.

Para teroris dan pelaku kekerasan pada mulanya adalah orang-orang biasa yang mempelajari Islam. Sebagian mereka pernah belajar di pesantren. Sebagian yang lain pernah berguru di lingkaran-lingkaran pengajian (halaqah). Mereka yang menerima ajaran Islam yang keras akan mengkonversi ajaran itu menjadi sebuah tindakan. Jika lingkungannya memungkinkan, mereka akan mengkonversinya menjadi tindakan-tindakan teroris.

Ladang Subur

Terorisme dan kekerasan atas nama agama tidak datang begitu saja. Seperti sebuah tanaman, terorisme memerlukan lahan yang subur. Jika tak ada lahan yang mendukungnya untuk tumbuh, terorisme tak akan muncul. 

Agar pohon padi tumbuh subur dan berbuah lebat diperlukan lahan yang memungkinkannya begitu. Ada tanah yang gembur, irigasi yang cukup, serta asupan vitamin berupa pupuk yang cocok.

Begitu juga dengan terorisme atas nama agama. Terorisme tidak akan muncul jika masyarakat Muslim ramai-ramai mengutuknya dan serius memerangi akar-akar yang menopangnya. Akar-akar terorisme adalah latihan-latihan kekerasan dan sikap-sikap kebencian kepada orang berkeyakinan lain. Semakin banyak kelompok dalam masyarakat kita yang mudah melakukan kekerasan atas nama perbedaan, semakin subur terorisme berkembang.

Kita sering mendengar orang melakukan penolakan (denial) jika Islam dikaitkan dengan terorisme. Mereka berargumen bahwa tidak ada hubungan antara Islam dan terorisme. Islam adalah agama damai yang menolak terorisme. Sayangnya, orang-orang ini lupa atau menutup mata bahwa para teroris itu melakukan aksi-aksi mereka dengan mengatasnamakan Islam dan merasa terpanggil melakukan aksi-aksi brutalnya setelah mempelajari doktrin-doktrin tertentu di dalam Islam.

Terorisme dengan menggunakan bom untuk membunuh sebanyak mungkin orang adalah puncak dari ideologi kekerasan yang tumbuh subur dalam masyarakat kita. Dalam bentuknya yang lebih "halus," terorisme diekspresikan dalam aksi-aksi kekerasan, seperti merazia rumah makan pada bulan puasa, membubarkan orang yang sedang beribadah, merusak patung, hingga menyeru kebencian dalam khutbah dan mimbar-mimbar pengajian.

Jika kita masih terus mentolerir tindakan-tindakan main hakim sendiri dengan mengatasnamakan agama, mentolerir perusakan patung, dan membiarkan orang menebar kebencian di mimbar-mimbar keagamaan, jangan harap kalau terorisme akan hilang dari negeri ini. 

Terorisme akan terus tumbuh selama lingkungannya penuh dengan kekerasan dan perilaku intoleran. Kekerasan dan khutbah-khutbah kebencian yang kerap kita dengar di mimbar-mimbar keagamaan adalah pupuk penyubur bagi terorisme.