Sebelum berangkat ke sekolah, ayah menyeruput kopi yang diseduh ibu di atas mejanya. Kelihatan ia sudah terlambat beberapa menit untuk apel pagi di sekolah, pagi ini. Dengan cepat-cepat sembari menahan panas kopi, ia meneguk cangkir yang hampir habis kopinya hingga tersisa ampasnya. 

Hari ini ada ujian bidang studi Biologi dan IPS untuk murid-muridnya. Ia baru sadar ketika akan mengambil sepatu fentovel hitamnya di rak sepatu untuk mengenakannya. 

Kebiasaan sebelum ke sekolah, ayah mencium jidat mama dan mengucapkan selamat. Pagi ini, rupanya waktu tidak memungkinkan untuk ayah melakukan hal itu. Ibu tak menegurnya, atau setidaknya mengingatkan Ayah sebab, ia tahu, ayah sudah terlambat. Ia kelihatan terburu-buru. 

Beberapa tengkulak dan kepala desa yang baru saja bertandang ke rumah juga tak ia hiraukan. Ia bergegas menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, ia melihat anak-anak tak lagi berseliweran di halaman sekolah. Mereka semua telah siap siaga di dalam kelas, menanti guru yang masuk untuk memberikan ujian. Ia berjalan dengan sedikit berlari, menuju ruang guru untuk menandatangani daftar hadir guru. 

Setelah itu, ia membopong  rangka manusia dan globe, menuju ruang kelas 5 yang berada di posisi paling ujung sekolah. Baru saja menginjakkan kaki di depan pintu….

“Siap! Hormat.” komando Ketua Kelas. Semua murid bangkit berdiri.

“Selamat pagi, pak guru..” sahut semua anggota kelas serentak.

Ayah menganggukan kepala, menyimpan perabot-perabot yang ia tenteng itu di atas meja tripleks yang sudah lapuk kayu-kayunya. Suasana kelas kembali sunyi. 

Kebiasaan anak-anak  saat ujian, mereka selalu tenang. Momen yang selalu menegangkan, entah karena gugup atau takut akan menghadapi ujian semester yang mana, akan menentukan setiap siswa naik kelas atau tidak. Tergantung nilai ujiannya.

Pagi itu, ujian jam pertama adalah bidang studi Biologi. Sesuai pesan ayah beberapa hari sebelumnya pada siswa-siswanya, ‘belajar menghafal bagian tubuh manusia pada rangka manusia dan nama pulau serta benua pada globe yang sudah disiapkan.’ 

Ada beberapa bagian tubuh manusia yang selalu ayah prioritaskan untuk mereka hafalkan. Misalnya, bagian dada serat rusuk-rusuknya, pangkal paha, leher dan tengkuk, juga bentuk tulang hidung seperti prisma yang memiliki segi yang sama.

Ia memanggil nama sesuai urutan abjad yang sudah tertera pada daftar hadir kelas di atas meja.

“Anton.” Panggilan pertamanya.

“Hadir, pak.” Sahut murid itu.

“Maju dan sebutkan bagian-bagian tubuh manusia pada rangka ini dengan Bahasa Indonseia yang baku” ajaknya.

“Baik, pak,”  jawab Anton sambil menggaruk-garuk kepalanya, wajahnya terpampang senyum sinis seperti tak percaya diri. Situasi gamang mengahantui dirinya.

Anton berjalan perlahan menuju depan kelas. Di hadapan teman-temannya, ia terus memperbaiki celana seragamnya yang hampir melorot turun. Persisnya, ia tidak menggunakan ikat pinggang. Ia berdiri tegak lurus seperti seorang tentara dalam barisan upacara kenegaraan.

Ayah menatapnya sambil memegang pena dan kertas untuk menuliskan nilai baginya. Ayah tahu, Anton adalah siswa yang bandel. Banyak PR yang tidak ia kerjakan, juga banyak absen di kelas alias tidak hadir. Banyak kekisruhan yang melekat pada dirinya. Saat yang pas untuk ayah menghakiminya. 

Ayah terus melototinya sambil sesekali berpura-pura menuliskan nilai pada kertas yang ia pegang. Begitulah kebiasaannya. Menakut-nakuti siswa yang bandel dengan pesan, tidak akan memberikan nilai atau mendapatkan nilai merah.

Anton juga belum mulai menyebutkan nama-nama pada benda itu. Ia hanya menatap teman-temannya sambil sesekali tertunduk dan mengelus-elus hidungnya. Kesekian kalinya ia membetulkan celananya yang sudah rapi itu.

Rupanya ayah sudah kehabisan kesabaran menunggu Si Bocah malang itu beraksi.

“Anton, ayo sebutkan apa yang sudah kau hafal tentang rangka manusia ini.” Tukas ayah kesekian kalinya.

Anton dengan senyum sinis menatap gurunya itu. Ia nyaris mengeluarkan air mata. Mukanya merah. Dua urat yang terpampang di jidatnya terlihat jelas. Rupanya ia tidak mempelajari apa yang harus diuji hari ini. Ia tak tahu harus berkata kepada gurunya.

Ayah tak tega untuk tidak memberikan nilai baginya namun, apa yang harus ia buat bagi murid malas itu. Kasihan, anak itu sudah dua tahun belum naik kelas. 

Perlahan ia menyimpan kertas dan pena di atas kayu palang jendela kelas, diambilnya mistar panjang nan tebal yang terbuat dari kayu merah, lalu mendaratkannya pada kepala Anton sambil berisik “dasar buta huruf, rasakan ini”.

Beberapa kali ia menghantam kepala Anton, membuat napasnya ngos-ngosan. Tarikan napasnya tidak beraturan. Keringat bercucuran di wajahnya. Ayah benar-benar naik pitam. Sedangkan Anton tak mengeluarkan sedikitpun rintihan kesakitan. Ia benar-benar anak yang kebal pukulan. 

Memang sudah beberapa kali Anton membuat ulah di sekolahnya; berkelahi dengan teman-temannya, melempar guru atau siapa saja yang tidak ia sukai, mengganggunya. Ia juga adalah siswa yang paling ditakuti oleh siswa-siswa lain di sekolah itu. Dapat dikatakan Anton adalah denjer di sekolahnya.

Ayah menyuruh Anton kembali ke tempat duduknya. Setelah itu, ia panggil nama berikut dan seterusnya, sampai selesai. Beruntung, mereka semua menghafal apa yang dipesan gurunya. 

Rian, sang wakil ketua kelas itu hampir memiliki nasib sama dengan Anton tetapi, ia masih mampu mengeluarkan beberapa kata terkait rangka manusia itu. Ia berhasil menyebut beberapa nama dari tulang-tulang kosong itu. Artinya, ia tahu beberapa atau mungkin semua tapi lupa karena trauma dengan peristiwa ‘penghakiman’ Anton yang baru usai.

Setelah semua mendapatkan bagian dalam ujian itu, lonceng tanda istirahat berdentang. Ayah mempersilakan mereka meninggalkan kelas. Anton paling terdahulu berlari keluar sambil menguik seperti anak anjing kehilangan induknya.

“Dasar,” ayah bergumam sendiri. Matanya membuntuti langkah seribu murid bandel itu. Meskipun begitu, yang kutahu dari ayah, ia bukan seorang pendendam. Tentu saja ia tidak berlarut-larut memarahi Anton atau menyimpan dendam baginya. 

Begitulah ketegasan seorang guru mendidik murid-muridnya. Selebihnya, mereka adalah anak dan orang tua di dalam kehidupan bermasyarakat.

Lima belas menit kemudian, lonceng berdentang lagi. Siswa-siswa itu melepaskan tali merdeka, kelereng, lalu mengambil alat tulisnya masing-masing, berlari menuju kelas. Ayah sedang mengalkulasi nilai-nilai mereka saat ujian pertama yang telah usai.

Kali ini, ayah benar-benar meredam amarahnya. Ia berkomitmen dengan dirinya sendiri untuk tidak memukul satu dari antara siswa-siswinya. Kalaupun masih ada yang tak tahu seperti Anton, akan ia suruh keluar ruangan.

Ujian brikut ini, ia tak mulai memanggil nama dari urutan abjad. Ia memulai dari nama yang paling terakhir.

“Yulius, maju!” Ia memanggil dengan nada rendah sekali.

Sebelum Yulius, si anak yang sering juara 1 di kelas itu maju, Anton mengacungkan jari telunjuk kanannya. Ayah menatapnya heran. “Ada apa lagi anak ini,” pikirnya sambil mengernyitkan jidat.

“Pak, kenapa bukan saya yang pertama dipanggil? Kan nama saya paling pertama dalam daftar hadir.”

Ayah tak menjawab apa-apa. Ia mempersilakan Anton maju. Anton maju, mengambil globe di atas meja lalu memegangnya. Globe itu belum ada tulisan nama-nama pulau, negara, maupun benua pada bagian-bagiannya.

Anton memegang globe tersebut sambil memutar-mutarnya dan menjelaskan semua tempat yang ada di dalam gambar-gambar globe dengan tepat dan benar tanpa bantuan siapapun dan apapun.

Ayah tersenyum, menatapnya sambil menuliskan nilai 100 pada kolom nama, Anton Kikhau. Setelah menjelaskan semua dengan benar, ia menyimpan globe itu kembali ke atas meja, menghormati ayah dengan cara menundukkan kepala dan punggungnya serentak, lalu berjalan kembali menuju tempat duduknya.   

Ayah seperti dikejutkan oleh keharuan yang amat dalam. Hatinya terperenyak oleh keberanian si anak lusuh itu, yang selama ini belum pernah ia lihat sepintar itu. Ia menarik napas panjang-panjang lalu melepasnya dengan perlahan, berusaha menahan air matanya yang mulai menganak sungai di pelupuk matanya.

Sebelum ia memanggil nama berikutnya, ia memperbaiki tempat duduknya, melepas tangan dari dagu yang sedari tadi  ditongkatnya karena terkagum-kagum pada Anton-- murid bodoh itu.

Ia tak segan-segan bertanya kepada Anton, “Anton, kenapa kau tidak melakukan itu dari awal ujian tadi?”

Anton menjawab dengan nada suara parau, “semalam, saya sudah menghafal semua, pak. Namun, sebelum ke sini, ayah saya berpesan, ‘tidak usah menghafal bagian-bagian rangka manusia itu, tubuhmu sendiri telah menggambarkannya.’  Katanya lagi, pak yang menghafal bagian tubuhku ini."

Anton berhenti sejenak, melap ingusnya yang mengalir dari kedua lubang hidungnya berbentuk angka 11. 

Lanjut Anton, "Kalau untuk globe, saya sudah pelajari sejak sebelum sekolah, pak. Kata ibuku, dunia ini indah dan penuh kekayaan alam namun, ia belum mampu memberikan kesejahteraan bagi kami. Untuk itu, saya ingin mempelajari bumi dan memperbaikinya biar bisa mengahsilkan makanan bagi kami.”

Ayah menatapnya dengan pilu. Kini, ayah tak mampu membendung air matanya. Ia akhirnya melepas beberapa tetes mengalir menuju bibirnya lalu terbuai dengan air liurnya.

Ia melihat tubuh Anton yang kurus kering nyaris sama dengan rangka manusia di sampingnya. Dan, memang sama. Untung saja Anton berpakaian sehingga tulang-tulangnya tertutup.

Lalu, ia mengalihkan mata ke luar lewat jeruji-jeruji jendela; matahari bersinar terang, langit biru, hutan hijau lebat, burung-burung terbang di amana-mana, jagung-jagung tumbuh subur, pohon-pohon kelapa tinggi menjulang dengan buah yang lebat, air mengalir dengan deras di sungai, sawah membentang luas. 

Ayah melihat warna alam itu seperti lukisan di dalam globe. Sama persis. 

Saat mengalihkan tatapannya ke jalan raya, dilihatnya pula Penggawa Desa melaju dengan motor dinasnya membuntuti para tengkulak dengan mobil-mobil pickupnya meraup hasil alam desa Entah dibawa ke mana. 

Alam menangis, manusia ditindas.