Saya cukup terperangah mendapati beberapa kalangan mahasiswa (dan masyarakat) memberi tepuk tangan untuk kepolisian. Mereka angkat topi, mungkin dengan bungkuk badan, seperti orang terjajah. Terutama di Kendari, saya menyadari itu adalah paket kegembiraan akan dua hal.

Pertama, terpilihnya Idham Aziz sebagai Kapolri baru; yang mana kita tahu ia adalah “anak asli” dari Sulawesi Tenggara. Pengaruh primordialisme, bagaimanapun, tak dapat dipisahkan dari kegembiraan pertama ini. Kedua, akhirnya siapa tersangka pembunuhan Randy dan Yusuf ditetapkan.

Kemarin, Kamis 8 Oktober, pihak kepolisian merilis tersangka kasus pembunuhan mereka. Brigadir Abdul Malik dengan inisial AM menjadi nama yang kemudian disebut-sebut sebagai tersangka. Ia kini dikabarkan telah diterbangkan ke Mabes Polri untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Sebagaimana sayup-sayup terdengar dari banyak kalangan, muncul pernyataan membingungkan terkait penetapan tersangka ini: AM menjadi tersangka untuk dua “sebab” kematian yang berbeda. 

Pertanyaannya adalah, apakah AM menjadi “martir” untuk kelima kawannya yang lain? Atau, jika AM benar menjadi tersangka dengan seluruh bukti yang ada, bagaimana ia melakukannya? Membunuh sekaligus dua di waktu yang sangat singkat.

Saya tak ingin terjebak pada soal-soal di atas. Lebih-lebih, saya memang sudah menyebar ketidakpercayaan terhadap negara mengenai penuntasan pelanggaran HAM, setidaknya lewat tulisan-tulisan sebelumnya. Bukan telanjur, tetapi memercayakan kasus ini akan diselesaikan cepat rasanya kita tengah diminta untuk berenang di telaga yang keruh. Dan saya tak mau.

Untuk sekadar menyegarkan ingatan belaka, mari sebentar saja kembali ke belakang. Kita tahu, katakanlah, bahwa dalam kasus kematian Randy dan Yusuf, dikabarkan ada enam anggota kepolisian yang melanggar SOP; bahkan telah diberi sanksi disiplin. Bahwa ini sekadar pelanggaran disiplin, benarkah? Tak ada komando?

Mengenai ini, saya teringat satu dialog pendek dengan seorang teman.

Saya katakan begini, “Benar. Pisau hanya menjadi berbahaya ketika ia digunakan untuk menikam orang, sebagaimana senjata api tak berguna selama pelatuknya tak ditarik. Dan selama ia tak berpeluru.”

Sampai di sini, memang terdengar logis. Artinya, balok sebesar betis seorang bocah pun tak akan berbahaya selama ia tak digunakan untuk menghajar tengkuk lawan.

Alam pikir dan fungsi. Buat saya, dua indikator ini bantahannya. Apa yang kita pikirkan ketika seorang aparat kepolisian membawa senjata api? Tentu saja hendak menembak, sekalipun dalihnya untuk berjaga diri atau membikin satu tembakan peringatan. Dan sebagaimana fungsinya, tak mungkin seorang aparat kepolisian datang dengan satu buah pisang, katakanlah.

Lalu apa yang terjadi dengan komando? Percayalah! Pemberhentian pimpinan, dalam hal ini Kapolda Sultra, adalah pola usang. Cuci tangan. Pola ini memang sangat menjengkelkan. Dan yang ingin saya katakan adalah sanksi disiplin pun masih dalam sebuah paket cuci tangan.

Sebuah Muslihat?

Saya ingin menyinggung satu hal. Coba perhatikan kasus Novel Baswedan. Apa yang terjadi sekarang? 

Pikirkan ini: tetiba ada satu narasi berkembang bahwa kasus itu semata-mata hanyalah rekayasa Novel Baswedan belaka. Kalau hal ini benar, maka silakan bandingkan dengan kasus Ratna Sarumpaet; secepat apa ia dibuka kulit rekayasanya? 

Dan jika kasus Novel Baswedan benar bahwa sebuah rekayasa, maka bukankah selama ini, bahkan negara pun, tengah termakan berita bohong? Sedemikian ringkihnyakah negara ini untuk ditipu?

Bukan bermaksud menggiring perkara kematian Randy dan Yusuf akan didesain serupa kasus Novel Baswedan. Tapi bayangkan ini: pada satu ketika, membentang satu narasi bahwa kematian Yusuf dan Randy adalah peristiwa bunuh diri. Dan akhirnya, kebencian kita tiba-tiba berbalik pada dua mendiang itu. 

Sungguh, membayangkan itu kelak terjadi, rasanya benar: hanya negara yang memiliki alat canggih untuk, pada akhirnya, tampak menipu dirinya sendiri.

Seorang penyair futuris dari Rusia, Vladimir Maiakovskii, pernah membikin satu pernyataan yang sebetulnya tak enak di telinga mengenai Perang Dunia Pertama. Kurang lebih begini, “Seluruh perang ini sangat mungkin diciptakan belaka; agar seseorang dapat menulis puisi yang sangat berisi.”

Ini mungkin menjadi benar. Atau bahkan benar? Bahwa segenap kekacauan dan kerumitan menyelesaikan kasus Randy dan Yusuf barangkali sengaja diciptakan. Untuk apa? Untuk menyembunyikan peristiwa lain. 

Kerusuhan di Papua, boleh jadi. Atau boleh jadi untuk memalsukan bukti-bukti yang ada? Tak ada kepastian memang, tetapi siapa pun tak mampu membatalkan pikiran.

Dan, bisa saja, Vladmir akan membikin pernyataan begini, seandainya ia hidup sekarang. “Seluruh kekacauan dan kerumitan ini sangat mungkin diciptakan belaka; agar seseorang dapat menulis kecurigaannya bahwa ada muslihat yang sedang dijalankan.”

Bagaimanapun, seluruh asumsi di atas akan menjadi benar ketika negara tidak hadir untuk membersihkan semuanya. Sebagaimana kasus serupa Novel Baswedan, misteri kematian Randy dan Yusuf tentu saja akan terus melahirkan hipotesis beragam, beranak pinak.

Muslihat yang dirangkai akan berumur panjang selama kedok di belakangnya tak diungkap. Siapa yang mampu melakukannya?