Dahulu, di Iberia utara, tinggal satu kota tak penting bernama Numantia. Kota itu ditinggali oleh orang-orang Kelt, sebagai penduduk asli. Walau begitu, kota itulah satu-satunya yang berani mencampakkan keberadaan imperium Romawi, yang ketika itu sebagai penguasa di hampir seluruh penjuru negeri.

Pada suatu masa, tatkala penguasa Romawi hilang sabar melihat gelagat orang-orang Numantia, ia mengirim Scipio Aemilianus, seorang jenderal paling terkemuka, untuk meratakan kota kecil yang pembangkang itu. Ia bahkan diberi tiga puluh ribu pasukan.

Aemilius orang yang cerdas (sebagai bukti, ialah otak yang meratakan kota Kartago) dalam mengatur siasat dalam perang. Ia tak mau menggunakan orang-orangnya (tiga puluh ribu pasukan) untuk menjalankan tindakan yang tak harus sekalipun dapat: adu fisik. Lebih bersebab orang-orang Numantia dikenal dengan ketangkasan yang baik dalam bela diri.

Lalu apa yang dilakukannya? Yang dilakukannya adalah mengisolasi kota Numantia dari dunia luar. Tak ada akses atau kontak ke mana pun. Akhirnya, kota itu mengalami kelaparan. Hanya berkisar satu tahun kota itu mencapai titik resesi.

Bagaimana akhirnya? Orang-orang Numantia justru membakar kota mereka sendiri. Beberapa riwayat menyebutkan, orang-orang Numantia sampai membakar diri mereka untuk menghindari perbudakan dari orang-orang Romawi.

Fakta ini, bagaimanapun, membuat penguasa Romawi jengkel. Numantia memang keras kepala, mungkin melebihi batu, sekalipun sejarah tetap menyebutkan bahwa imperium Romawi adalah penguasa hebat pada masa itu.

Miguel de Cervantes menulis tragedi itu dengan judul, kurang lebih, Pengepungan Numantia. Ia begitu gamblang menulis kehancuran kota Numantia, sekalipun tak bisa dipisahkan bahwa tragedi itu pula yang melahirkan satu simbol kemerdekaan bagi Spanyol. 

Demikian yang terjadi, sejarah Numantia berakhir dengan satu keagungan yang tak henti-henti, sekalipun Numantia kini adalah sebuah kota yang “dipaksa hidup” dalam romantisasi sejarah.

Ada banyak kisah perjuangan di mana sebuah negara-bangsa mempertahankan eksistensinya dengan darah. Atau syair-syair di mana seorang revolusioner menuliskan perlawanan terhadap negaranya. 

Dan benar saja, sekilas perjuangan orang-orang Numantia memang tampak silau. Tapi, buat saya, bukan bagaimana kita silau akan perjuangan orang-orang Numantia, tetapi lebih bagaimana kita melihat keadaan itu dalam aspek yang lebih dekat.

Kisah orang-orang Numantia barangkali tak begitu pas atau cocok dalam membaca anatomi pergerakan penuntasan kasus kemanusiaan Randy dan Yusuf. Tapi jika berkenan, saya ingin melakukannya.

Saya membayangkan negara ini persis sebagai imperium Romawi. Sekalipun yang dikuasai adalah wilayahnya sendiri, jangan lupakan bahwa Randy dan Yusuf (sebagai orang-orang neo-Numantia, katakanlah begitu) mati sebab melawan atau mempertahankan yang (nyaris) diambil paksa oleh negara ini: keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai penjelas, Randy dan Yusuf adalah dua dari ribuan massa aksi yang terlibat dalam penolakan RUU KUHP beberapa bulan lalu, sampai terbunuh. Dan itulah yang dipertahankan: yang (hendak) diambil paksa oleh negara ini.

Jika bagi orang-orang Numantia mati adalah cara suci dalam melawan, siapa sangka Randy dan Yusuf pernah membaca tulisan Cervantes? Artinya, demi keadilan, nyawa menjadi taruhannya. Sekalipun dengan cara ditembak dada, dan kepala menjadi sasaran benda tumpul, tak ada yang tahu.

Lalu bagaimana setelahnya? Orang-orang Neo-Numantia gagal memaknai kisah berikutnya. Di belakang penguasa Romawi, ada Scipio Aemilianus sebagai seorang, yang tentu saja mampu mengurai perlawanan hingga kontraksi dan (mungkin) mati.

Mereka dijebak pada “tertangkapnya” tersangka pembunuh Randy dan Yusuf (pada Kamis 8 November, Brigadir AM menjadi tersangka, sekalipun mengenai ini, masih terdapat perdebatan yang serius). Seolah-olah, itulah keadilan. Itulah jalan terang. Itulah yang diperjuangkan. 

Sementara, dapat kita katakan bahwa itu sebagai taktik di mana Aemilianus mengisolasi orang-orang Numantia dengan tiga puluh ribu penduduknya. Bukan malah menyerang dengan membabi buta.

Apa yang terjadi? Perlawanan tidak berakhir sama sebagaimana yang dilakukan orang-orang Numantia. Bukan maksud agar ikut membakar diri, melainkan, harusnya, tetap bertahan dalam perlawanan itu sendiri. 

Jikapun kelak serupa orang-orang Numantia yang ujung perlawanannya dihabisi oleh kelaparan, percayalah, orang-orang Neo-Numantia justru telah melakukannya jauh sebelum kelaparan itu tiba.

Orang-orang neo-Numantia dibuat tidur, bagaimanapun. Terlupa, bahwa keras kepala serupa orang-orang Numantia itu terkadang diperlukan, sekalipun mesti dibayar dengan kelaparan berkepanjangan atau sampai bunuh diri.   

Seperti yang kita tahu, Spanyol menjadikan tragedi orang-orang Numantia sebagai simbol kemerdekaan mereka, mewarisi bara perlawanannya. Ini tepat apa yang diungkapkan Soekarno dalam pidatonya dalam satu kesempatan: jangan warisi abunya!

Tapi orang-orang neo-Numantia justru melakukan sebaliknya. Menjaga abunya, tanpa menjaga agar nyala api tetap membara dan terbakar.

Sejarah bagaimanapun tak pernah ditulis oleh orang yang sama. Kita bagaimanapun tak tahu, esok hari akan lahir sebagaimana Numantia menyebar kegagahannya bagi Spanyol. Laiknya seorang penulis, ia tak pernah hidup dalam catatan sejarah yang berkali-kali.        

Dan pada kali ini, entah siapa yang bertindak sebagai Aemilianus, si jenderal yang tangkas, yang jelas, mereka telah memenangkan sejarah. Pada titik inilah yang saya maksudkan: Randy dan Yusuf menjadi “mereka yang terlupakan”.