Tiga puluh satu hari, penuntasan kasus “pembunuhan” Randy dan Yusuf belum juga selesai. Pihak kepolisian tampak begitu lincah main lidah, mengabarkan yang itu-itu juga. Entah dibayar berapa; saya tak ingin curiga.

Bukan skeptis atau putus harap bahwa kasus ini akan selesai sebagaimana diharapkan. Tapi jauh daripada itu, mungkin akan hilang seperti kasus yang lain.

Kita boleh menyangkal sekuat-kuatnya atau bermimpi setinggi-tingginya bahwa pada akhirnya pembunuh si dua “mati muda” itu akan tertangkap dan dipenjarakan. Atau meminjam istilah yang begitu sastrawi: kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Tak ada soal sampai di sini. Tapi begini, bagi saya, istilah itu hanya akan berlaku bila negara ini memang tak punya sejarah pelanggaran HAM, yang kenyataannya tak juga selesai.

Saya tak bermaksud menganggap elegi Randy dan Yusuf sebagai ratapan kecil belaka, hingga tak ada iktikad baik dari negara untuk serius menanggapinya. Tapi lambannya penuntasan kasus siapa penghilang nyawa mereka menjerumuskan kita pada kesimpulan bahwa negara ini memang terlampau abai pada soal-soal kemanusiaan.

Saya coba segarkan kembali beberapa pelanggaran HAM yang belum selesai—data dari Komnas HAM—sebagai penegas bahwa soal-soal kemanusiaan di negara ini hanya lahir di masa-masa kampanye belaka.

Pada tahun 1965, pasca-peristiwa Gerakan 30 September atau G30S, terjadi pembunuhan massal. Pada tahun 2012, Komnas HAM merilis, korban mencapai 1.5 juta orang, sebagian besar anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) dan organ-organ yang berafiliasi dengannya.

Peristiwa 15 Januari atau Malari, 1974. 11 orang meninggal, sekitar 700-an orang ditangkap. Penembakan Misterius, atau Petrus. 1982-1985. Korban mencapai 1.678 orang. Peristiwa Talangsari-Lampung, 1989, dengan korban mencapai 803 orang.

Tragedi Semanggi I, 1998, korban mencapai 127 orang, dan Tragedi Semanggi II pada tahun berikutnya korban mencapai 228 orang. Penembakan Mahasiswa Trisakti, tahun 1998. Korban mencapai 685 orang. Dan kerusuhan Mei tahun 1998, hasil dari Komnas Ham membenarkan ada 1.308 orang menjadi korban.

Kita tahu kasus pelanggaran HAM yang belum selesai di atas ini hanya segelintir belaka. Kita masih ingat Munir dan Novel Baswedan. Atau Marsinah dan Widji Thukul. Tapi paling tidak dapat membuka mata kita bahwa apa yang dimaksudkan dengan “Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” adalah muskil di negara ini.

Atau katakanlah mirip dengan narasi-narasi kampanye. Teramat “populis”, hadir sebagai penenang bagi orang-orang kalah dalam hidup, menghadirkan harapan baru bahwa pada suatu waktu kebenaran akan menemui mereka, dan berkata, “Kalian menang, wahai pecundang!”

Harapan itu Masih Ada?

Entah berapa kali sudah massa aksi menyambangi Polda Sultra demi mengungkap siapa “pembunuh” Randy dan Yusuf. Yang jelas, demonstrasi itu berakhir dengan lempar batu dan dibalas Water cannon ­serta gas air mata. Dan beberapa korban mesti tumbang dan luka-luka.

Apa harapan itu masih ada walau sedikit? Bahwa kelak hakim akan memutuskan “pembunuh” Randi dan Yusuf dipenjarakan? Tentu saja masih ada, sekalipun di dimensi yang lain ketidakpercayaan akan diselesaikannya juga muncul.

Ketidakpercayaan ini sebetulnya sekaligus alarm buat negara, tapi sekaligus juga alarm bagi perjuangan mengungkap kasus pembunuhan mereka.

Pertama, mengapa untuk negara? Tak perlu kita bercermin jauh-jauh untuk mengambil contoh. Ledakan massa aksi pada tahun 1998, yang melahirkan reformasi itu, sumbernya dari ketidakpercayaan. Dan korban demi korban jatuh di waktu-waktu sebelum 21 Mei merupakan pemantik terhadap ledakan sesudah sampai pada ketidakpercayaan.

Pertanyaannya, sesudah sampai pada ketidakpercayaan, siapa lagi yang berkenan menjadi martir muda serupa Randy dan Yusuf?

Kedua, mengapa sekaligus menjadi alarm bagi perjuangan mengungkap kasus pembunuhan Randy dan Yusuf?

Agak rumit untuk mengurai pertanyaan ini. Tapi saya membayangkan apa yang terjadi pada aksi kamisan di Jakarta. Aksi itu telah dilangsungkan selama ratusan kali di depan Istana Negara. Menuntut hal yang sama: penuntasan kasus HAM masa lalu.

Saya ingin katakan, bahwa tak ada hasil apa pun dari aksi kamisan tersebut, kecuali sebuah realitas bahwa aksi itu telah dilakukan selama ratusan kali.

Apa yang saya bayangkan mengenai aksi kamisan ini, nantinya akan menular terhadap aksi demonstrasi mengungkap siapa “pembunuh” Randy dan Yusuf, sebelum dicatat sebagai turunan dari aksi kamisan.

Maka dua atau tiga kali dalam sepekan, ratusan massa aksi akan bertandang ke Polda Sultra sebelum berakhir dengan lempar batu dan siraman water cannon serta gas air mata. Lalu pulang. Begitu seterusnya.

Tentu saja dua “alarm” ini tak akan terjadi esok atau lusa atau pekan depan, sebab ledakan dalam gerakan mahasiswa tak selalu datang tiba-tiba, pun dengan rutinitas seperti yang saya maksud: kamisan.

Tapi jika alarm pertama dikehendaki, maka kerja-kerja dalam gerakan mesti dibangun lebih intens, dan wabah ketidakpercayaan terhadap negara juga harus dibangun. Dan itu menjadi tidak mungkin. Sebab, saya pun tak ingin menjadi martir.

Dan bila alarm kedua lebih mungkin dikehendaki, maka narasi “kebenaran akan menemukan jalannya sendiri” akan hadir tanpa membawa pengaruh apa pun, dan percayalah, Randy dan Yusuf akan mati sekali lagi.