Pegawai Negeri
2 tahun lalu · 290 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 88373.jpg
Dokumen Pribadi

Ramuan Strategi Mempawah Mangrove Conservation Dalam Melestarikan Ekosistem Mangrove Pesisir

Membangun Jejaring Komunitas

Upaya pelestarian ekosistem mangrove pada saat ini telah menjadi suatu isu dan gerakan yang terus berkembang seiring dengan terus meningkatnya isu kerusakan ekosistem mangrove dan pesatnya pamanfaatan ruang pada wilayah pesisir. Seakan berada dalam suatu pertandingan olahraga tarik tambang, dimana dua hal yang saling bertolak-belakang tersebut terus berlomba memperlihatkan kekuatan serta kecepatan untuk memperoleh kemenangan. Urgensi pengendalian pemanfaatan ruang kawasan pesisir sangat diperlukan dalam rangka menjaga stabilitas dari tarik-menarik kepentingan antara kebutuhan pelestarian lingkungan hidup dengan kebutuhan peningkatan perekonomian daerah.

Telah banyak instrumen pengendalian pemanfaatan ruang seperti peraturan zonasi pemanfaatan ruang dan peraturan perundangan terkait tata ruang, lingkungan hidup, kawasan pesisir, sumber daya air, dan lain sebagainya yang mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup terutama ekosistem mangrove. Begitupula dengan konsep dan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove yang terus berevolusi sesuai dengan karakteristik wilayah maupun sosial budaya masyarakat sekitar dimana kegiatan pelestarian ekosistem mangrove tersebut dilakukan. Trial and Error, pastinya akan menjadi suatu proses yang wajib dirasakan oleh banyak penggiat pelestarian lingkungan hidup dalam meramu konsep dan strategi pelestarian. Sukses tanpa mengalami kegagalan mungkin terasa terlalu biasa, tapi sukses setelah mengalami banyak kegagalan adalah hal yang sangat luar biasa.

Membangun Jejaring Komunitas

Berbekal sedikit pengetahuan tentang pelestarian ekosistem mangrove, beberapa pemuda di Kabupaten Mempawah (Kalimantan Barat) pada tahun 2012 memberanikan diri membentuk Mempawah Mangrove Conservation (MMC), sebuah komunitas yang bergerak dalam usaha pelestarian ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Mempawah. Organisasi ini lahir dari keprihatinan akan kondisi bentang pesisir Kabupaten Mempawah dengan potensi garis pantai sepanjang 89,224 km yang telah mengalami abrasi cukup serius pada beberapa lokasi. Luasan hutan mangrove yang tersisa hanya sekitar 1.042 Ha (Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Mempawah Tahun 2011). Karakteristik wilayah Kabupaten Mempawah yang merupakan kawasan pesisir dan dilalui jalan arteri yang menghubungkan Kota Pontianak dan Kota Singkawang sangat menunjang tumbuhnya pusat-pusat kegiatan baru dan perkembangan kawasan industri yang akan berdampak pada kerusakan ekosistem mangrove apabila tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik.

Pada tahap awal perjalanan komunitas, MMC tidak membuat ramuan khusus dalam usaha pelestarian, hanya mengajak dan menghimbau masyarakat pesisir untuk ikut berpartisipasi aktif melalui pelaksanaan kegiatan penanaman bibit mangrove pada beberapa lokasi yang mengalami abrasi berdasarkan hasil pengamatan di sepanjang pesisir Kabupaten Mempawah. Mengajak masyarakat bukan hal mudah untuk dilakukan, apalagi karakteristik masyarakat pesisir yang bekerja sebagai nelayan dengan kondisi pendapatan perkapita yang masih sangat rendah. Passion untuk memenuhi kebutuhan ekonomi jauh lebih kuat apabila dibandingkan kebutuhan untuk melestarikan lingkungan hidup. Kondisi inilah yang menjadi penyebab utama gagalnya usaha pemberdayaan masyarakat pesisir dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove, ketika “jiwa” belum terbangun untuk melestarikan, maka “raga” tidak akan tergerak untuk berbuat.

Membangun jiwa harus menjadi prioritas awal dalam memberdayakan masyarakat dan menjaring volunteer/relawan. Strategi yang dilakukan adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang betapa pentingnya ekosistem mangrove, mengedukasi pelajar tentang pentingnya peran pemuda dalam usaha pelestarian lingkungan, dan mengedukasi diri sendiri bahwa alam tidak membutuhkan manusia tetapi manusialah yang membutuhkan alam. Keberadaan Rumah Mangrove sebagai pusat edukasi lingkungan hidup menjadi sebuah bukti betapa MMC sangat mementingkan pembangunan jiwa pada awal pergerakan. Nilai-nilai edukasi inilah yang akan menjadi ramuan dasar dalam menyusun strategi pelestarian ekosistem mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Mempawah.

Kontinuitas pelaksanaan kegiatan penanaman dan edukasi lingkungan hidup ternyata cukup efektif dalam meningkatkan jumlah volunteer mangrove yang aktif terlibat dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh MMC. Hingga 2017, tercatat sekitar 3.684 volunteer yang berasal dari berbagai elemen masyarakat, komunitas pemuda, pelajar, mahasiswa, akademisi, instansi pemerintah, dan pihak swasta. Volunteer yang berasal dari komunitas pemuda merupakan elemen yang paling signifikan dalam meningkatkan kerjasama apabila dibandingkan dengan konsep pemberdayaan/pelibatan masyarakat setempat. Keberhasilan MMC dalam membuat jejaring komunitas pemuda dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove ini merupakan wujud dari meningkatnya trust (tingkat kepercayaan) dari berbagai komunitas terhadap usaha pelestarian yang dilaksanakan oleh MMC.

Peran media sosial dalam mensosialisasikan dan mempublikasikan kegiatan tentunya menjadi ramuan khusus yang sangat mendukung keberhasilan. Kondisi inilah yang melahirkan gerakan yang cukup massive dalam usaha pelestarian ekosistem mangrove di Kabupaten Mempawah. Bergerak bersama dengan satu tujuan untuk melestarikan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir, menjalin ikatan antar berbagai komunitas, seperti akar-akar pohon bakau yang mengikat lumpur sehingga terbentuklah daratan baru yang memberikan harapan baru pula bagi generasi di masa mendatang. Sebuah rentetan peristiwa yang tampaknya akan berujung pada sebuah happy ending, semoga.

Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal Masyarakat

Memberdayakan masyarakat setempat sangat memerlukan ramuan strategi yang jitu dan harus sesuai dengan karakteristik masyarakat pesisir, dimana kebutuhan mereka terhadap usaha peningkatan ekonomi jauh lebih besar daripada melestarikan lingkungan hidup. Oleh karena itu, pendekatan pengembangan ekonomi lokal menjadi pilihan strategi yang dilaksanakan oleh MMC untuk meningkatkan peran serta masyarakat sekitar. Banyak cara yang telah dilakukan, antaralain dengan membentuk kelompok-kelompok masyarakat terutama dari kalangan ibu-ibu rumah tangga untuk mengolah berbagai makanan dan minuman berbahan dasar mangrove. Beberapa produk olahan mangrove yang telah dihasilkan dan cukup diminati pasar adalah sirop mangrove dan dodol mangrove. Sesaat terbersit harapan agar produk olahan mangrove dari kalangan ibu-ibu rumah tangga tersebut dapat memprovokasi lahirnya kelompok pengolahan dari kalangan bapak-bapak rumah tangga, mungkin saja akan terciptanya produk olahan baru yang akan diminati pasar, mungkin saja produk tersebut adalah obat kuat dari akar mangrove, bukankah kemungkinan-kemungkinan tersebut mungkin saja terjadi?.

Proses terus berlanjut dan ramuan strategi terus diracik sedemikian rupa oleh MMC sehingga diharapkan ekosistem mangrove yang lestari dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Agustus 2016, MMC bersama volunteers dan banyak stakeholder pembangunan di Kabupaten Mempawah telah meresmikan “Mempawah Mangrove Park”, destinasi pariwisata berbasis komunitas yang memadukan konsep ekowisata dan edukasi lingkungan hidup, sebagai tempat untuk berwisata sekaligus tempat untuk belajar tentang pelestarian ekosistem mangrove, tempat dimana kita akan belajar akan pentingnya ekosistem mangrove bagi kawasan pesisir, tempat bagi manusia untuk mengenal dan “belajar” dengan alam yang juga merupakan ciptaan Allah SWT. Keberadaan ekowisata ini telah memberikan multiplier effect yang cukup besar bagi perkembangan perekonomian masyarakat sekitar dan pesisir, langkah sederhana namun memberikan efek yang sangat signifikan bagi perekonomian lokal masyarakat dan upaya pelestarian ekosistem mangrove di pesisir Kabupaten Mempawah.

Penutup

Ramuan strategi dari upaya pelestarian ekosistem mangrove oleh Mempawah Mangrove Conservation (MMC) ini memang terkesan biasa saja, namun yang terpenting adalah keberanian untuk memulai sebuah gerakan pelestarian lingkungan hidup. MMC memperlihatkan hasil kerja dan tak hanya basa basi sehingga tumbuhlah kepercayaan berbagai komunitas dan stakeholders lain untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. MMC terlebih dahulu membangun “jiwa” sebelum mengajak “raga” untuk berbuat, secara perlahan-lahan mengedukasi berbagai elemen masyarakat tentang pentingnya ekosistem mangrove pesisir, hasilnya adalah peningkatan peran serta masyarakat dan kuatnya jejaring komunitas dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove. Salam Lestari dari Mempawah!

Artikel Terkait