Kamu dan senja adalah ramuan paling sempurna untuk mengenyahkan segala gundah gulanaku. Aku makin rumit membedakan antara senja dan kamu. Jadi, kupanggil kau dengan sebutan Senja. Kenapa? Karena kau seindah langit sore menjelang waktu Maghrib itu.

Hening, indah, dan mengagumkan. Tak berlebihan jika aku memuja senja dengan sedemikian gila. Panorama alam kejinggaan telah bercampur tangan dalam menyatukan kita. Aku, kau, dan senja adalah satu.

Bagaimanapun keadaannya, semesta telah mengirimkanmu kepadaku. Entah akan menjadi tempat menetap atau akhirnya hanya persinggahan. Sebaiknya ini tetap menjadi hak semesta dan kuikuti alurnya tanpa banyak tanya.

Kisah kita berdua Senja, tak pernah bisa berhenti kuandaikan. Dua orang yang saling cinta idealnya saling mendekat. Tapi, bagaimana dengan kita yang saling diam dan perlahan menjauh?

Padahal kita sama-sama tahu. Aku ingin menghabiskan sisa umur bersamamu dan kupikir kau juga. Seharusnya kita menua bersama.

Dalam keheningan hati, ufuk barat nan mulai berganti warna bercerita tentangmu. Katanya, kau sering memanggil namaku; kau sering melihat fotoku sebelum memejamkan mata; kau sering merapalkan namaku dalam cekungan tanganmu.

Burung-burung berkisah jika kau juga sering menatap ufuk barat dan melihat pantulan wajahku di antaranya. Dan, kau tersenyum lirih rahasia sekali.

Benarkah semua itu?

Kau terlalu manis dan romantis, Senja. Tapi, kau juga tak berhenti membuat hatiku teriris meratapi kondisi "beku" ini.

Di antara arakan awan keemasan, semesta mengandung pasangan jiwa dalam dua tubuh berbeda. Jiwa-jiwa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi. Orang-orang menyebutnya dengan soulmate, the one, atau jodoh.

Unik. Dua jiwa itu harus menyamakan frekuensi agar cepat saling menemukan dan bersatu. Entah seperti apa sinyal dan getaran yang sudah diatur, dua jiwa pada akhirnya akan saling menuju. Terkadang terselip iri pada jiwa-jiwa yang sudah menyatu.

Kudengar gemerisik daun-daun menenangkanku jika pertemuan itu tidak pernah salah waktu. Apalagi salah orang. Lucunya, aku masih sering bimbang jika the one itu bukan kamu. Meskipun hatiku menyatakan kau adalah belahan jiwaku.

Kenapa aku tak percaya dengan suara hatiku sendiri? Apakah aku takut hatiku berbohong? Mungkin itu sebabnya kita masih saling diam.

Pertimbangan demi pertimbangan harus dimatangkan agar tak terjadi sesal kemudian. Tahap selanjutnya setelah (mungkin) akhirnya kita menyatu adalah perasaan saling memiliki.

Aku tidak ingin membiarkan diriku terlewat kontrol dan membelenggumu dengan egoku. Sebab, aku juga tak ingin diperlakukan demikian.

Perjalanan hidup di dunia bukan perihal pasangan saja, Senja. Ini bukan berarti kau tak ada artinya untukku. Justru, aku ingin kita berdua menjadi versi terbaik dari diri masing-masing.

Berpasangan menjadi hal paling menakutkan untukku. Aku takut kita hanya sibuk memikirkan hati masing-masing dan menuntut untuk dibahagiakan. Sedangkan kita merasa perasaan makin hambar.

Lalu, kita sama-sama mencari pelarian. Dan, timbullah perdebatan demi perdebatan. Ujung-ujungnya saling balas dendam. Untuk apa hubungan seperti itu, Senja?

Aku tahu, aku dan kau sama-sama memiliki masa lalu kelam. Itu sebabnya harus menarik napas sejenak dan mencari jawaban apakah ini perihal ego semata atau benar-benar kode semesta.

Hubungan yang kuimpikan bukan hubungan yang sedikit-sedikit "meracuni" masing-masing. Sudahlah masalah hati itu. Sudahlah jangan ada kata-kata dan perasaan insecure. Sudahlah jangan saling menghakimi dan melontarkan kata-kata kasar.

Bersamamu aku ingin mengambil jatah bahagiaku. Ya, meskipun dunia tak selalu menjamin suka. Tapi, setelah semua yang kita lewati, semoga tinggallah jatah bahagia yang kita terima.

Hatiku berkata, kau adalah sosok yang mampu mewujudkan impianku itu. Kita sama-sama berjuang untuk bahagia tanpa melulu berpikir cara "main hati".

Malam mulai menyergap. Lalu, mengisyaratkan jika jodoh harus berbentuk kesalingan. Saling suka, saling cinta, saling berjuang, saling peduli, saling setia, dan bentuk "saling" yang lain. Artinya, butuh dua individu untuk sama-sama berjuang.

Tidak bisa salah satu saja yang aktif, sementara satunya pasif berharap diperjuangkan mati-matian.

Intinya, yang paling penting adalah menemukan orang yang tepat untuk membangun hubungan. Bukan bermimpi punya hubungan dan asal siapa saja orangnya.

Aku menunggumu untuk membuktikan kepada hatiku sendiri. "Apakah benar kau orangnya?" Karena aku mencari orang yang tepat. Perihal hubungan, aku tak terlalu memikirkannya.

Lalu, aku bertemu denganmu, Senja. Kita manusia biasa yang tak saling sempurna. Tapi, melihatmu aku merasa berhenti seberhenti-berhentinya dan cukup. Berbeda dengan yang lalu, aku masih ingin berjalan, berjalan, dan berjalan.

Kini kita hanya punya pilihan berserah. Selain itu, melanjutkan langkah kaki masing-masing.

Yang akan selalu kuingat adalah senyuman tanpa bebanmu, caramu menikmati dunia, dan genggaman pada tangan mungil itu. Kau seindah senja!

Senjaku tiada terhalang awan gelap lagi. Aku bahagia mengenalmu dan cukuplah begitu.

Sampai berjumpa di lain ruang dan waktu, Senjaku. Barangkali kita akan saling jumpa kala malam telah tiba.