Penulis
1 bulan lalu · 331 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 16583_60461.jpg

Rambut Panjang dan Cinta yang Dangkal

Rambut merupakan salah satu penunjang penampilan untuk menciptakan daya tarik. Panjang dan pendeknya sangat mendukung seseorang dinilai beretika, pun menjadi parameter kesempurnaan dalam tatanan moral. Demikian persepsi masyarakat awam yang fanatik dengan Orde Baru.

Rambut panjang sebagai identitas mahasiswa senior umumnya ditemui di kampus-kampus di Indonesia. Walau belakangan ini beberapa perguruan tinggi mengeluarkan aturan bahwa rambut tak boleh panjang, sebab dinilai tak mencerminkan intelektualitas.

Meski demikian, sebagian mahasiswa masih tetap mempertahankan gaya rambutnya (panjang) lantaran menurutnya hal itu merupakan bentuk ‘perlawanan’ atas penindasan. 

Banyak yang demikian, mempertahankan rambut tetap panjang mesti harus berhadapan dengan penundaan nilai. Berani melawan kampus atas kebebasan berekspresi. Itu umum terjadi. 

Sayangnya, beberapa hal terjadi lainnya. Teman saya, anggaplah namanya Fadly. Kurang lebih empat tahun ia mempertahankan rambutnya walau mendapat tekanan dari berbagai pihak, kecuali kekasih.

Belakangan saya ketahui, saat bertemu awalnya beberapa teman dibuat kaget. Ia sangat rapi, penampilan semrawut ditinggal pergi secara tiba-tiba. 

Ternyata ia dipaksa potong rambut oleh kekasihnya. Padahal selama ini ia dikenal sebagai salah satu aktivis yang sangat kuat mempertahankan prinsipnya, bahwa penampilan bukan ukuran isi hati.

Peristiwa itu membuktikan, walau tak semua tapi nyaris, bahwa beberapa laki-laki yang sangat kuat pun takluk oleh kelembutan perempuan. Mungkin dasar itulah membuat orang-orang beranggapan, di mana kelembutan adalah solusi melawan ‘kekerasan’.

Saya tertarik menuliskan hal ini bukan karena ingin melemahkan sesama. Hanya saja, saya ingin berbagi sedikit pengalaman bahwa laki-laki memang tak bisa lepas dari perempuan, karena itulah hakikat Tuhan menciptakan makhluk berpasang-pasangan.


Tetapi satu poin yang harus direnungkan: perihal cinta tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi efeknya bisa mengeruk gunung, menyelami lautan, hingga terbang ke luar angkasa. “Cinta memang gila,” kata teman saya.

Kalian mungkin lebih paham tentang cinta, terlepas dari cinta oleh sebab. Namun beberapa filsuf menerangkan bahwa cinta menerima apa adanya. Itulah yang hilang hari-hari ini. 

Kau bisa saja makan bersama kekasih di pantai, minum secangkir kopi berdua di gunung. Tetapi tanpa uang, kau hanya bisa mencintai dan dicintai dalam kepala masing-masing, bukan sebagai realitas.

Mencintai kekasih yang tampan dengan penampilan rapi adalah cinta karena penampilan, sementara mencintaimu diam-diam adalah cinta tanpa alasan. Tetapi di zaman yang serba elektronik ditopang dengan akses internet, begitu mudah orang berkomunikasi. Bercumbu pun terjadi lewat online. Lalu apa makna cinta di era milenial? 

Kalian tak perlu menjawab. Sebab memang beberapa pertanyaan keluar hanya untuk diresapi bukan untuk dijelaskan.

Fadly teman saya, beberapa hari belakang ini, sering diskusi perihal penampilan, prinsip dan kuatnya cinta yang dimiliki untuk kekasihnya, Fera. 

Terus-menerus ia menceritakan bahwa satu-satunya semangat yang dimiliki hanyalah Fera. Karena itulah ia rela menampik prinsipnya, demi mempertahankan apa yang ia cintai.

Penjelasan Fadly ke saya memang rasional. Hanya saja membuat beberapa teman yang lain kebingungan, lantaran sebelumnya ia mengaku dicintai oleh kekasihnya setulus hati, tanpa sebab, tanpa akibat, dan bukan oleh apa-apa. 

Penampilan Fadly membantahkan penjelasannya beberapa bulan lalu. “Memang cinta bisa mengubah apa saja,” lanjut teman saya.

Sementara teman saya yang lain juga nyaris memiliki nasib sama oleh Fadly. Memang mereka tetap berpenampilan kocar-kacir dengan rambut panjangnya, tapi buktinya, mereka masih lajang. 

Beberapa di antaranya mengaku kalau sebelumnya juga pernah menjalin hubungan. Mirisnya, sebab harus ditinggal pergi hanya karena ia tetap mempertahankan rambutnya. 

Sebagai laki-laki terhormat, lajang memang masih lebih baik daripada menuruti kekasih yang entah mengaku cinta karena ada maunya di balik ungkapan romantisismenya selama ini. Entahlah.


Antara penampilan, prinsip, intervensi, dan cinta, memang cintalah yang paling unggul dalam diri manusia. Mungkin, tanpa cinta, kau, dia, mereka, dan kita bukanlah siapa-siapa.

Hanya saja, sebagai laki-laki, atau juga perempuan (saya masukkan keduanya agar tak dianggap diskriminatif), harusnya banyak belajar tentang prinsip, kepribadian, tak terkecuali cinta.

Banyak orang membuat dirinya tersiksa hanya untuk terlihat menarik terhadap orang yang dicintai. Dengan demikian, secara tidak langsung dia telah menjadi orang lain hanya untuk menaklukan yang belum pasti.

Bukan hanya itu, sebagian lainnya pun nyaris serupa. Mencari wajah orang lain (alter ego) hanya untuk dilihat menarik pada objek sasarannya. 

Bila hal itu terjadi, maka kebenaran cinta hanya sia-sia. Dan pastinya akibat dari kesia-siaan itulah mereka menyumpahi segala hasrat yang mereka klaim sebagai cinta.

Meminjam puisi Sapardi Djoko Damono: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak perlu diucapkan kayu ke api yang membuatnya abu; aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tidak disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Sepenggal puisi dari Sapardi melukiskan begitu dalamnya makna cinta walau ia tuliskan kata ‘sederhana’ di dalamnya. Artinya, cinta memang tak bisa ditafsirkan hanya lewat secangkir kopi. Karena itulah mencintai karena penampilan adalah omong kosong.

Artikel Terkait