Barang siapa memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya. ~ Nabi Muhammad Saw. 

"Gondrong" mungkin adalah kata bagi mereka yang memiliki rambut panjang terurai dan sedikit urakan. Orang gondrong dianggap memiliki gaya hidup yang acuh tak acuh serta identik dengan hal negatif layaknya kekerasan. Namun itu semua adalah interpretasi orang-orang Indonesia terhadap mereka yang memiliki rambut gondrong.

Namun, jika dilihat secara sejarah, gondrong merupakan lambang dari kebebasan dan simbol dari perlawanan terhadap tirani. Sebagai contoh, pahlawan dari Sulawesi Selatan, yakni Sultan Hasanuddin. Sosok yang dijuluki si Ayam Jantan dari Timur ini memiliki rambut yang lumayan panjang dan terurai.

Bahkan pada masa pergerakan melawan penjajah, rambut gondrong pernah menjadi identitas bagi para pemuda pejuang karena mereka beranggapan bahwa rambut pendek dan tersisir rapi adalah pencerminan kaum kapitalis yang menjajah Indonesia.

Pemuda pejuang saat itu tampil di medan perang dengan rambut panjang terurai dan pistol terselip di pinggang.

Pandangan negatif terhadap pemilik rambut gondrong sudah telanjur jadi di benak masyarakat. Stigma seperti suka mabukan, nakal, jorok, dan segenap perilaku menyimpang lainnya kerap bertengger. Mulai dari tukang becak, mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, bahkan akademisi intelektual pun beramai-ramai mengamini streotip negatif tersebut.

Yang hingga kini membekas di ingatan saya adalah apa yang dikatakan dosen saya, "Mas, orang gondrong suka minum/mabok. Kamu begitu, ya?" Saya menganga heran dan kaget mendengar ujaran dosen senior di fakultas saya tersebut.

Ternyata sudah begitu dalam endapan di benak kolektif masyarakat bahwa pemilik rambut gondrong berprilaku menyimpang dan kerap melanggar norma sosial. Sekaliber dosen tersebut pun mengamininya.

Keheranan dan kaget tersebut segera sirna setelah saya sadar bahwa ia adalah didikan Orde Baru. Gingga ia menamatkan S2-nya pun tiang Orde Baru masih runcing dan berdiri kokoh.

Sebenarnya sebelum pemerintahan Orde Baru, tepatnya di masa-masa terakhir rezim Soekarno, pelarangan rambut gondrong telah terjadi. Bahkan sempat booming di kota-kota besar kala itu.

Di bawah kekuasaan Orde Lama, negara kita pernah melakukan razia paling konyol dalam sejarah: razia rambut gondrong. Melalui Badan Koordinasi Pencegahan Rambut Gondrong (Bakoperago) yang bekerja sama dengan TNI, Soekarno melancarkan razia tersebut.

Razia rambut gondrong ini bermula dari merebaknya budaya hippies di Amerika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Kaum hippies yang berpandangan liberal dan menolak adanya negara jelas merupakan ancaman bagi Indonesia yang masih seumur jagung.

Terlebih kapitalisme yang identik dengan Amerika menambah kebencian Bung Karno yang menganut marhaenisme dan Pancasila sebagai dasar negara. Berpindahnya kekuasaan ke tangan Orde Baru tidak serta-merta menghilangkan pelarangan rambut gondrong, justru makin dimasifkan.

Jika dulu Soekarno melarang dengan cara repsesif, maka di bawah Soeharto dimasukkan ke dalam sistem pendidikan. Rezim Soeharto menanamkan ke dalam pikiran semua masyarakat (murid dan wali murid) bahwa berambut gondrong adalah perilaku preman, bajingan, bahkan teroris.

Melalui program pembinaan keluarga, Soeharto mewajibkan setiap orang tua untuk melarang anaknya berambut gondrong, Diwajibkan memiliki rambut cepak layaknya ABRI.

Melalui pandangan yang dibangun oleh kedua rezim tersebut dalam puluhan tahun telah berhasil menguasai pikiran masyarakat dewasa ini tanpa harus dikritisi dan deretan peristiwa tersebut terus berkembang hingga kini menjadi sebuah kebenaran mutlak yang tanpa celah secuil pun untuk mengubahnya.

Dekonstruksi Pandangan

Dampak dari berjalannya peraturan tersebut bisa menjadi jawaban bagi pemilik rambut gondrong yang cenderung dianggap melanggar norma.

Saya dan juga mungkin teman-teman gondrong lainya bertanya-tanya heran, ada apa sebenarnya dengan gondrong? Sehingga yang menjadi korban adalah gondrongers yang tidak memiliki dosa masa lalu.

Saya pribadi kerap mendapat represi mental dari kampus, seperti ditegur dosen, jadi buah bibir dekan, hingga jadi bahan celaan.

Setelah enam puluh tahun lepas dari Orde Lama dan tujuh belas tahun bebas dari Orde Baru, sebenarnya merupakan waktu yang sangat cukup untuk melunturkan stigma tersebut, Namun kenyataanya masih bertahan hingga kini.

Masyarakat sudah sepatutnya sadar bahwa tidak ada hubungan sama sekali antara model rambut dan perilaku seseorang. Sejauh ini belum ada saya mendengar penelitian mengatakan seperti itu, karena kedua entitas tersebut merupakan dua hal yang berbeda.

Jika menengok pada masa abad dua puluh ke bawah, rambut gondrong banyak dimiliki oleh para filsuf, penyair, politikus, dan tokoh-tokoh sains lainya. Yang paling terkenal adalah paman Einstein dengan model rambut kruelnya, Karl Marx dengan gondrong bergelombangnya. Hingga Plato, Aristoteles, dan Socrates, semuanya memiliki rambut gondrong.

Sir ST. Raffles dalam bukunya The History of Java menggambarkan bahwa dulu para raja di Jawa memikili rambut panjang sampai pundak. Bahkan konon nabi besar umat Islam Muhammad Saw, panjang rambutnya sebahu. 

Di masa kini pun kita punya sosok Hilmar Farid seorang sejarawan dan budayawan. Ada juga tokoh masyarakat Emha Ainun Najib alias Cak Nun dan juga Sekjen PPMI Nasional, yang mana mereka semua gemar memanjangkan rambutnya.

Artinya, jauh sebelum sekarang, rambut gondrong identik dengan tokoh berpengaruh dunia malah menjadi protoipe para cendekia.