Beberapa hari yang lalu, Najha, anak saya yang berusia delapan tahun mengajak jajan bakso. Maka saya dan Najha bersama istri berangkatlah jajan bakso. Karena kami hidup di desa, untuk jajan bakso yang enak saja harus menempuh perjalanan sekitar lima kilometer ke kota kabupaten.

Sampailah kami ke tempat yang dimaksud. Tempatnya cukup bersih dan memang suasananya mendukung untuk bersantap penuh semangat. Kami bertiga memesan tiga porsi bakso dan langsung melahapnya.

Di tengah acara makan bakso itu, Najha tiba-tiba berteriak karena mendapati sehelai rambut di dalam mangkuknya. Saya mencoba menenangkan Najha. Saya mengalihkan perhatiannya agar tidak fokus memperhatikan mangkuknya. Saat saya mengalihkan perhatiannya, istri saya membuang sehelai rambut yang ada di mangkuknya.

“Tidak ada rambut di dalam mangkuk. Ayah tidak melihatnya.”

“Tadi ada, Ayah.”

“Ah, Mungkin itu khayalanmu karena kebanyakan nonton tik-tok.”

Najha diam.

“Makanya, kalau makan baca basmalah.”

“Sudah, Ayah.”

Dia sepertinya heran karena sudah tidak ada sehelai rambut di dalam mangkuknya. Untungnya dia mau meneruskan makan baksonya sampai habis.

Saya khawatir bila Najha trauma tidak mau makan bakso lagi seperti yang terjadi pada anak teman saya. Ya, teman saya pernah bercerita waktu makan bakso kejadiannya persis yang dialami Najha. Hanya saja anak teman saya itu menyaksikan ketika ayahnya membuang sehelai rambut. Setelah itu tidak mau menghabiskan bakso. Bahkan tidak mau makan segala jenis bakso lagi. Bila ini terjadi pada Najha, tentu kami ikut bersedih karena tidak akan jajan bakso lagi bersamanya.

Mungkin kita semua pernah mengalami hal yang sama. Ketika sedang asyik makan, e, ada sehelai rambut di makanan kita. Kadang sebelum kita makan kita sudah melihatnya. Atau malah saat kita makan, kita mengunyah makanan dan sehelai rambut itu menyusup di mulut kita. Lalu kita melolosnya pelan-pelan. Atau jangan-jangan kita telah memakan sehelai rambut itu tanpa kita tahu.

Menemukan rambut pada makanan memang hal biasa bagi kita. Mungkin manusia Indonesia pernah menemukan sehelai rambut pada makanan yang disantapnya.

Kecilnya ukuran helai rambut membuat orang tidak tahu kalau ada benda yang seharusnya tidak ada di dalam makanan. Menemukan rambut yang terlihat di dalam makanan biasanya membuat selera makan menghilang karena memikirkan kebersihan makanan. 

Berbagai imajinasi pun berseliweran di kepala. Beberapa pertanyaan soal pemilik rambut dan kondisi kebersihan rambut pasti langsung menghantui pikiran. Apalagi jika sebagian rambut sudah sempat ikut masuk ke dalam mulut bersama makanan.

Saya sempat membayangkan bila setiap hari kita makan, tanpa kita sadari ada sehelai rambut ikut masuk ke dalam perut kita. Tentu yang terjadi adalah miris mengkhawatirkan keadaan perut.

Secara umum, rambut kepala berada di bagian luar tubuh yang terbuka. Jika tidak dilindungi penutup maka rambut akan mudah terpapar kotoran dan bakteri. Jika masuk ke dalam perut akan menyebabkan sakit perut dan diare.

Mungkin kita pernah mengalami diare dan mencoba mengingat-ingat makanan apa yang kemarin di konsumsi. Ternyata makan yang kita konsumsi bukanlah makanan yang pedas yang membuat kita sakit perut. Bisa jadi karena kita tidak menyadari kalau kita menelan sehelai rambut.

Rambut manusia dikategorikan sebagai kontamnan mikrobiologi karena berpotensi menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme. Jika mikroorganisme pada rambut ini masuk dan tercampur pada makanan maka bisa jadi pemicu keracunan.

Rambut yang masuk ke dalam makanan kemungkinan besarnya adalah milik orang yang memasaknya. Tentunya orang yang memasak makanan kondisi rambutnya basah karena mengandung minyak, keringat, zat pewarna atau shampo. Belum lagi bagi orang yang malas menjaga kebersihan rambut, bukan tidak mungkin akan ada kotoran atau hewan kecil seperti kutu yang ikut masuk ke dalam makanan.

Jika kita menemukan rambut di makanan, maka otomatis merusak selera makan. Rambut yang belum termakan, bisa langsung dibuang. Tetapi bagaimana jika termakan sebagian dan baru kita menyadarinya. Tentu rasanya tidak ingin meneruskan makan lagi.

Menelan sehelai rambut sebenarnya tidak memiliki dampak yang signifikan bagi tubuh. Namun, lain cerita jika hal itu terus berulang dan kita menelan rambut dalam jumlah yang cukup banyak.

Menelan rambut satu sampai dua helai secara tidak sengaja mungkin bisa terjadi pada siapa saja. Dan hal ini pada dasarnya tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

Akan tetapi, jika menelan rambut dilakukan secara sengaja dan sering, maka bisa saja memberikan dampak terhadap tubuh. Kita tahu bahwa rambut manusia memiliki kandungan kimia yang disebut keratin. Tubuh tidak dapat menghancurkan keratin sehingga ketika kita menelan rambut, keratin akan termakan secara utuh dan masuk ke dalam tubuh. Akhirnya rambut yang tertelan akan mengendap di dalam tubuh.

Jika terus-menerus dibiarkan, rambut-rambut tersebut akan membentuk ‘bola rambut’ yang bersarang di tubuh kita. Banyaknya rambut yang ditelan bisa menggumpal menjadi bola rambut. 

Saat bola rambut mencapai usus pasti dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Gumpalan rambut dalam saluran pencernaan tidak hanya dapat menyebabkan sumbatan pada saluran pencernaan, bahkan bisa memicu adanya perdarahan.

Mengikat atau menguncir rambut menjadi salah satu cara agar rambut tidak terjatuh dan menyusup ke dalam makanan, terlebih apabila rambut yang dimiliki panjang terurai.

Selain mengikat rambut, kita bisa menggunakan penutup kepala saat memasak. Penutup kepala ini berfungsi untuk mencegah rambut jatuh pada makanan sehingga kebersihannya tetap terjamin.

Penutup kepala bisa membantu menyerap keringat yang ada di sekitar dahi maupun kepala sehingga saat memasak, kita tidak perlu menyeka terlalu sering atau menyentuh area kepala.

Kita harus selalu memperhatikan kebersihan dapur dalam mempersiapkan makanan. Kita harus membersihkan dapur setiap memulai dan setelah selesai memasak. Memastikan meja dapur bersih dan terbebas dari debu maupun rambut. Dengan menerapkan kebersihan, kemungkinan menelan atau memakan rambut tidak akan terjadi.

Menelan rambut yang ada di dalam makanan kalau hanya sehelai, tentu tidak berbahaya. Namun, kita perlu dan waspada jika jumlah rambut yang tertelan semakin banyak, terlebih jika kita tidak menyadarinya.

Kalau kita makan rambut nenek? Itu beda lagi.

----

Moch Taufiqurrohman seorang ASN yang suka menulis dan melukis.