Diterpa hawa sejuk sehabis hujan, kuah Soto memang tak bisa disalahkan.

Dua hari ini saya melewati masa habis donor darah sejak minggu malam kemarin.

Meski badan saya sudah berasa segar dan fit, namun entah mengapa saya ketagihan dengan cara berjalan yang lunglai cenderung terhuyung sesekali.

Kenapa demikian? Salah satunya biar ada alasan bagi saya untuk menyisihkan sebagian anggaran pendapatan dan belanja buat menyisir mampir warung tempat makan yang menyediakan masakan bergizi membahagiakan jiwa dan raga.

Seperti siang hari ini setelah hujan lebat mengguyur sebentar di kawasan timur Jakarta, dengan langkah yang agak saya buat tertatih-tatih bagai Kakek Astagina guru dari Brama Kumbara sang satria Madangkara dalam serial drama radio Saur Sepuh, saya mencoba bertandang ke sebuah warung tepi jalan raya, yang dari jarak 50-an meter terpampang tulisan; Soto Wong Boyolali Asli.

Diterpa hawa sejuk sehabis hujan, kuah Soto memang tak bisa disalahkan. Warung ditata rapi dan bersih, beberapa meja dan bangku kayu dipajang rapi.

Dua orang pria menyapa ramah mempersilakan dan menanyakan menu pilihan. Saya memilih Soto ayam yang dipisah dengan nasi, meski saya tahu berpisah seringkali memilukan hati.

Sambil menunggu saya lihat ada sosok foto Rambo yang menjadi maskot warung Soto khas Boyolali ini.

Rambo, sosok kekar pemberani yang diperankan oleh aktor kawakan Silvester Stalone, telah puluhan tahun dikenal antar generasi sejak film pertama tentangnya dibuat berjudul First Blood pada tahun 1982.

First Blood bermakna Darah Pertama. Wadaw!

Lalu, Soto Boyolali siang ini bagi saya adalah Soto Pertama. Waw!

Tampak menggugah selera nan melezatkan ketika pesanan tiba di atas meja, tepat hadapan.

Hamparan Sajian Soto Bening ala Boyolali Berhias Gurih Gongso Paru

Disajikan dalam mangkok ukuran tanggung bervolume bangsa 300-an mL. Kuahnya begitu bening dibanding Soto format Jawa Timuran.

Aroma hangat bersensasi gurih bawang goreng menyeruak lincah di antara relung-relung udara dingin yang tengah menyelimuti Jakarta Timur.

Aneka Lauk Pilihan Pendamping Soto Boyolali

Taburan irisan tipis kentang goreng, suwiran daging ayam kampung goreng, juntaian soun dan irisan daun bawang hijau yang berenang-renang riang dalam semangkok kuah Soto ini, mengubah hawa sontak menghangat.

Dipisahnya semangkok nasi dengan semangkok kuah Soto beserta isinya adalah tepat.

Keduanya pun lalu begitu bahagia melepas kerinduan, saat bertemu dalam rongga awal pencernaan saya, kemudian mereka pun menebar rasa bahagia pula pada ujung terjauh syaraf indra penikmat cita rasa saya.

Jika nasi dan kuah Soto beserta isinya dicampur sejak awal penyajian, sebetulnya sah-sah saja. Hanya kurang dramatis. Kurang memicu kerinduan mendalam antara nasi dan Soto.

Kurang lengkap jika Soto Boyolali ini tanpa aksesori yang disediakan sebagaimana uniknya Soto olahan Jawa Tengah, antara lain bacem Paru dan tempe Mendoan.

Tak hanya sekedar aksesori, kedua lauk sandingan tersebut juga bisa menambah pikatan cita rasa.

Apalagi kehadiran sambal dan lelehan kecap lantas membuat nasi dan kuah Soto semakin kegirangan larut dalam kebahagiaan yang membahagiakan, menjadikan saya sang penikmat menguyahnya pelan-pelan, sangat disayangkan jika harus cepat-cepat ditelan.

Segenap indera cita rasa saya dihajar tanpa ampun oleh paduan rasa segar, gurih, pedas, manis karamel kecap, kenyal-kenyal baceman Paru dan manutnya tempe mendoan yang mau diapain aja sambil tampil kepleh memanja.

Aneka Gorengan Penambah Selera Menikmati Semangkok Soto Boyolali

Seisi mangkok Soto Boyolali yang menjelang tandas pun lalu saya miringkan menyentuh bibir mungil saya, kuahnya hingga tuntas tiada tersisa.

Tak pelak, gas sendawa pun pelan-pelan sopan lirih bersuara, “Heq...”

Seteguk teh panas rasa mondo-mondo menjadi penawar agar indera cita rasa tak terlalu larut dalam kebahagiaan.

“Belum ada cabang warung Soto-nya mas?” Saya menyapa satu dari kedua Mas penyaji.

“Oh, niki malah cabangnya mas. Pusatnya di LA...” Jawab Mas yang terlihat lebih senior, karena beruban.

Woh... Jauh ya, LA Kalifornia?”

“Sanes mas, LA, Lenteng Agung....”

Oalaah... Iya iya. Kuahnya Soto-nya bening ya Mas, mirip Soto LA juga.”

Lhaa... LA Amerika apa gimana mas?”

Bukaan... LA mongan.”

“Ha haa saged mawon.”

“Lha enak e Mas.”

Saya pun lalu pamit setelah menuntaskan kewajiban membayar harga pesanan.

Tampak Depan Warung Rambo Penyedia Hidangan Soto Khas Boyolali

Melangkah keluar warung Soto ini, langkah saya sudah tegap bagai langkah sang murid Kakek Astagina, Brama Kumbara. Hanya saja saya tak bertelanjang dada.

Berjalan pelan, pikiran saya lalu melayang balik ke sosok Rambo, mencoba mengurai beberapa pertanyaan.

Mulai dari film First Blood, lalu sequelnya diberi judul Rambo (First Blood II).

Beberapa tahun kemudian muncul sequelnya lagi berjudul Rambo III.

Lha terus? Sekuel Rambo II-nya mana?

Oleh karena banyak orang penggemar pentalogi Rambo bertanya tentang dimana keberadaan Rambo II, maka sekuel Rambo ke 4 dan ke 5, tak ada embel-embel seri angka romawi.

Sosok Rambo Maskot Warung Soto Boyolali. Pentalogi Rambo Memang Menuai Misteri tentang Keberadaan Rambo Seri ke-2

Agak bingung dengan ulasan pikiran tersebut, sebetulnya membuat saya ingin berputar balik lagi ke warung Soto Boyolali ini.

Tapi nantilah kapan-kapan lagi. Soalnya memang saya akui unforgettable ini Soto Boyolali.