Manusia sebagai bagian dari ekosistem di muka bumi tidak lepas dari interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi dengan lingkungannya. Dalam interaksi tersebut manusia berkewajiban untuk menjaga, memelihara dan melestarikan planet bumi beserta isinya.

Dalam rangka melestarikan lingkungan manusia membuat kesepakatan dengan menetapkan hari-hari penting yang berkaitan dengan lingkungan, seperti; tanggal 22 Maret diperingati Hari Air Sedunia (World Day for Water), tanggal 22 April Hari Bumi (Earth Day), dan 5 Juni diperingati Hari Lingkungan Hidup (World Environment Day).

Peringatan tersebut bertujuan menggugah setiap manusia di bumi untuk mengambil tindakan kongkrit demi meningkatkan kesadaran global, setidaknya misi yang dibawa adalah mengajak penduduk bumi untuk berinteraksi dengan alam, mengenali, dan menikmati keindahan alam sehingga tergeraklah keinginan untuk melindungi bumi.

Dalam pandangan Islam manusia memiliki tugas sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Begitu juga manusia dilarang untuk membuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak suka terhadap orang-orang yang membuat kerusakan (QS. Al-Baqarah: 11).

Islam merupakan agama yang memperhatikan lingkungan, terbukti dengan adanya ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan Hadits yang menjelaskan, menganjurkan, dan bahkan mewajibkan setiap manusia untuk menjaga keberlangsungan kehidupannya dan kehidupan makhluk lain di bumi.

Lalu apa hubungannya antara melestarikan lingkungan hidup dengan bulan Ramadhan atau apa hubungan antara kesalehan ekoloogis dengan ibadah puasa?

Puasa: Membangun Kesalehan Ekologis 

Berdasarkan maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penetapan hasil hisab Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1440 hijriyah, bahwa tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin 5 Mei 2019 dan 1 Syawal jatuh jatuh pada hari Rabu tanggal 5 Juni 2019.

Jika tanggal 5 Juni 2019 Hari Raya Idul Fitri, maka  bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pertanyaannya kemudian, apakah kewajiban ibadah puasa yang dilaksanakan oleh umat Islam selama satu bulan dapat membangun kesalehan ekologis?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesalehan merupakan ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah; kesungguhan menunaikan ajaran agamanya yang tercermin pada sikap hidupnya. Definisi tersebut mempunyai sinonim dengan definisi ketaqwaan, yaitu menjalankan kewajiban yang diperintah oleh Allah dan meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

Maka kesalehan dan ketaqwaan dua jalan sama beribadah kepada Allah untuk membangun nilai-nilai spiritual yang berdimensi Ilahiyah, insaniah dan alamiyah. ibadah puasa Ramadhan secara spiritual bertujuan untuk membentuk manusia yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Ramadhan saat yang tepat untuk membangun kesadaran dan kesalehan ekologis di bulan suci Ramadhan karena bertepatan dengan umat Islam menjalankan ibadah puasa yang mempunyai kesadaran spiritualitas yang lebih baik dibandingkan dengan bulan lain di luar Ramadhan.

Esensi kesalehan ekologis adalah manusia mampu menjaga, melestarikan, mengelola, memperbaiki, dan mendayagunakan lingkungan demi kesejahteraan hidup manusia sekaligus memberikan kenyamanan untuk beribadah dan mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Dengan memiliki kesalehan ekologis, diharpakan perilaku manusia semakin ramah dan harmoni terhadap lingkungan hidup sekitarnya, karena manusia juga yang akan merasakan akibatnya apabila tidak bersikap saleh terhadap lingkungan yang ditempati. Terdapat dua alasan yang mendasar membangun kesadaran kesalehan ekologis, yaitu;

Pertama, lingkungan hidup beserta sumber daya alamnya yang lestari pada gilirannya akan menjamin keberlanjutan proses pembangunan. Kegiatan pembangunan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia, bahkan dapat merubah tatanan sumber daya alami menjadi sumber daya buatan.

Kedua, martabat manusia dan kualitas hidupnya bergantung pada lingkungan tempat hidupnya, dalam arti, baik-buruknya kualitas lingkungan akan berpengaruh pada kualitas hidup manusia di dalamnya.

Manusia mempunyai kecenderungan lebih gampang memanfaatkan dan merusak lingkungan hidup, daripada menanam dan menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, membendung nafsu serakah untuk mengeksploitasi alam itu jauh lebih sulit daripada menumbuhkan kesadaran dan kesalehan ekologis.

Di sinilah, perlunya konsep kecerdasan ekologis berkaitan erat dengan makna ibadah puasa di dalam konsep Islam. Secara etimologi, puasa bermakna “menahan” atau “menahan diri dari segala hal”yang membatalkan.

Dalam pandangan ulama sufi, puasa mempunyai pengertian yang sangat luas dan tinggi, puasa bukan sekedar menahan makan dan minum sebagaimana menurut terminologi fiqh, tetapi puasa adalah menahan makan dan minum, serta menahan semua anggota tubuh, fikiran dan hati dari segala macam perbuatan dosa.

Ketika sesorang melakukan ibadah puasa tidak hanya dilatih secara spritual dan sosial, tetapi sesunggunya juga dilatih kecerdesannya secara ekologis.

Menahan secara etimologis bisa diterjemahkan, menahan untuk tidak berbuat kerusakan di bumi, menahan untuk tidak membuang sampah sembarangan, menahan untuk tidak membuang limbah sembarangan, menahan untuk tidak menggunakan air dengan boros, menahan untuk tidak melakukan pencemaran, menahan untuk tidak mengeksploitasi alam dengan berlebihan, dan sebagainya.

Manusia yang mempunyai kesalehan ekologis setidaknya peka terhadap masalah lingkungan hidup secara global, seperti: gas rumah kacah, perubahan iklim, penasan global (global warming), pencemaran air dan udara, kelangkaan sumber daya air, deforestasi dan degradasi lahan, kehilangan keanekagaraman hayati, dan issu lingkungan lainnya.

Memang kesadaran ekologis perlu untuk dilatih secara intensif agar umat Islam melek secara ekologis sehingga mampu dan mengetahui cara berhubungan dan bersikap dengan arif terhadap ekosistemnya.

Salah satu tujuan dari ibadah puasa adalah melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu, terutama nafsu yang negatif yang membisikkan kepada manusia untuk berbuat buruk. Pengendalian nafsu dengan berpuasa tidak hanya yang bersifat personal, seperti; menahan marah, menahan diri dari yang membatalkan puasa, namun juga menahan nafsu yang berhubungan dengan alam semesta.

Semoga ibadah puasa Ramadhan tahun ini tidak hanya dimaknai dengan kegiatan ubudiyah yang sifatnya hanya berorientasi pada kebutuhan untuk memenuhi spiritual belaka. Akan tetapi, ibadah puasa yang dihiasi dengan perilaku sadar lingkungan sebagai khalifah di bumi. Wallahu ‘Alam bish Shawab.