Di masa Hillary mendampingi suaminya, Bill Clinton sebagai Presiden Amerika Serikat, Ibu negara mulai merayakan Ramadhan dengan buka puasa bersama. Tradisi itu kemudian diteruskan oleh presiden setelahnya. Sebagai bonusnya, Hillary kemudian didaulat menjadi mentri luar negri.

Bukan Hillary dan Clinton yang memulai. Spellberg (2013) mencatat bahwa presiden ketiga Amerika Serikatlah yang menjadikan jamuan makan malam setelah matahari terbenam sebagai bagian dari penyambutan tamu.

Saat itu, kedatangan Mellimelli (Tunisia) pada tahun 1805. Dimana Jefferson yang sudah mengenal tradisi agama Islam, tidaklah berat melalukan itu. Sekaligus menjadi catatan khas bagi Adams yang terpilih menjadi presiden keenam Amerika Serikat.

Obama tidak saja juga menyelenggarakan buka puasa selama dua periode administrasinya. Juga memesona dunia Islam. Bahkan menyampaikan kuliah di Universitas Kairo. Setelahnya, Universitas Indonesia. Baik kuliah di Depok dan maupun Kairo, memberikan pandangan betapa Amerika juga menjadi rumah bagi masyarakat muslim.

Sampai suatu saat, Trump menghentikan apa yang ada. Begitu pula dengan menerbitkan kebijakan ekesekutif untuk melarang kedatangan penduduk dari negara-negara muslim tertentu.

Walau di masa administrasi Trump, sempat dilaksanakan pada 2019. Dengan hanya mengundang diplomat dan perwakilan negara sahabat. Sama sekali tidak mengundang masyarakat muslim Amerika Serikat. Tidak terlihat politisi muslim Amerika yang mendapatkan undangan.

Ini tidak lepas dari kritik, dikesankan oleh Gedung Putih di masa itu bahwa Islam bukanlah agama bagi masyarakat Amerika. Hanya agama yang dianut oleh para pendatang. Sekalipun Trump menyatakan bahwa acara tersebut sangat spesial, namun dengan meminggirkan warga muslim Amerika, justru tidak mengirimkan pesan yang spesial.

Padahal, kini Islam telah dipeluk jutaan masyarakat Amerika. Bukan saja pendatang. Tetapi diterima secara luas. Walau agama tidak disensus, dalam sumber yang diterbitkan Pusat Penelitian Pew menyatakan bahwa penduduk Amerika yang memeluk Islam mencapai angka 0.9%. diperkirakan mencapai angka 2.600.000.

Sekarang diproyeksikan sudah mencapai 1,1%. Dengan demikian dapat saja mencapai angka 3.500.000 jiwa.

Secara kuantitas, kedua terbesar setelah Yahudi, bagi agama non-Kristen. Itupun angka yang tersedia mengacu kepada riset 2010. Bolehjadi jumlah itu meningkat melebihi perkiraan di sebelas tahun sebelumnya.

Kantor Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri AS menyebutkan terdapat 1.209 masjid di seluruh Amerika. Sementara masjid terbanyak, tersedia di California.

Mempercakapkan agama di Amerika Serikat, bukan menjadi urusan negara. Dalam amandemen pertama konstitusi, dinyatakan bahwa setiap pemeluk agama secara merdeka dapat mengekspresikan kepercayaan yang dianutnya.

Hanya saja, negara tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan sebuah agama dengan status resmi. Sehingga setiap orang dapat menjalankan ibadah yang diyakininya.

Walaubagaimanapun, 1965 kongres menetapkan sebuah moto “in God We Trust”. Walaupun agama bukan menjadi urusan pemerintah, tetapi nyatanya ada keimanan yang disemboyankan dalam kalimat tersebut. Terpampang jelas dalam mata uang Amerika Serikat.

Kemerdekaan dalam mengekspresikan pandangan dan keyakinan itulah yang tetap memungkinkan Islam terus berkembang. Bahkan Presiden Biden, juga sesekali menjadikan kearifan Islam sebagai acuan.

Terlihat ketika Amerika Serikat dipimpin dari Partai Demokrat, memberikan pengakuan dan juga penghargaan terhadap multikultural yang dinyatakan dengan kalimat “E Pluribus Unum” (dari banyak menjadi satu).

Interaksi para presiden Amerika Serikat dengan kalangan muslim diwarnai pasang-surut. Sepenuhnya dapat terlihat bagaimana kepribadian presiden itu sendiri.

Amerika menjadi gambaran dimana Islam pada suatu masa mendapatkan posisi. Walau tidak signifikan tetapi memberikan aksentuasi.

Ketika satu dekade menjelang deklarasi kemerdekaan, Jefferson justru melakukan pencarian yang panjang melalui pembacaan terhadap Islam.

Minatnya terhadap Islam sebagaimana catatan Spellberg (2013) bahwa para pendiri Amerika Serikat telah menyelami ide-ide toleransi dalam Islam. Sehingga diskusi terkait landasan pemerintahan sesekali menjadikan Islam sebagai percakapan.

Masa kini, tidak saja kekerasan dan ujaran kebencian yang wujud kepada muslim. Itupun mulai meluas ke etnis Asia. Citra ini dimana bukan lagi setakat prasangka negative tetapi sudah menjadi laku keseharian. Walau dengan was, tetap saja kita tidak pernah berharap tesis Huntington (1996) berkenaan dengan benturan peradaban tidak akan pernah wujud adanya.

Adapun kencenderungan sosok presiden, tidaklah menjadi cerminan utuh terhadap kondisi Amerika itu sendiri. Walaubagaimanapun, kehadiran presiden tentu akan memberikan corak tersendiri.

Berita baiknya, seorang presiden di Amerika disebut dengan administratur. Sehingga selama kepemimpinanya merupakan fase administrasi belaka. Bolehjadi, apa yang telah dijalankan Presiden Trump sejatinya telah ditolak mayoritas warga Amerika dengan kegagalan untuk mempertahankan kursinya untuk periode kedua.

Amerika sendiri merupakan rumah bagi bersemainya keberagaman. Dimana multikulturalisme tidak saja dijadikan sebagai moto ataupun sekadar slogan. Sebagai tanah impian, Amerika menjadi rumah etnis dari seluruh dunia.

Membawa cita masing-masing. Sehingga bolehjadi menyimpan semua capaian itu untuk diwujudkan di Amerika Serikat. Termasuk keberadaan individual muslim yang tetap saja nyaman dimana dalam cita-cita Amerika, mereka juga diberikan tempat.

Esposito (2002) memandang bahwa tidak saja secara praktis. Walau kerap dalam keseharian menyandingkan Islam dan Amerika merupakan ujian yang terus berlangsung. Tetap mendapatkan penolakan bagi orang-orang yang tidak menjadikan inklusif sebagai sebuah nilai kehidupan. Hanya saja, gugatan pluralisme Barat dalam hal ini Amerika tetap menyertakan misi keislaman di dalamnya.

Sebagaimana Moore (2010) dalam gambaran lain bahwa kadang-kadang Islam dipandang sebagai antitesa apa yang ada di Amerika itu sendiri. Dimana Islam dipandang sebagai bukan benda yang Amerika.

Apapun itu, dengan merujuk pada Spellberg (2013) sekali lagi, bersemainya bacaan terhadap Islam menjadikannya tetap dipercakapkan dan dijadikan diskursus tersendiri sebagai bagian ketika di masa awal Amerika akan dibentuk.