Tahun ini, memasuki kali kedua berpuasa dengan dalam masa pagebluk Covid-19. Tahun lalu, saya masih berkesempatan berkunjung ke London, Januari 2000. Hanya saja, semasa itu berpikiran bahwa virus ini hanya di China.

Kini, 16 bulan setelahnya. Virus sudah menjangkau wilayah saya, Antang di Makassar. Bukan setakat Wuhan saja, tetapi menjangkau setiap jengkal di dunia ini. Ada pula diantara yang wafat itu keluarga, kolega, dan handai taulan yang terjangkit virus C-19.

Corona menjadi momentum untuk redefinisi pelbagai konteks kehidupan. Tidak saja soal pemahaman akan penyakit, bahkan dalam beragama sekalipun.

Begitu pula urusan berbangsa dan bernegara. Jika sebelumnya, mudik dianjurkan bahkan pemerintah memberikan stimulus libur dalam bentuk cuti bersama, supaya masa berkunjung ke keluarga di kampung masing-masing bisa lebih lama.

Kini, kembali sebagaimana tahun lalu. Pemerintah menyampaikan larangan untuk tidak mudik. Bahkan moda transportasi penerbangan pada tanggal tertentu sudah dibatasi. Untuk menghindari mudik.

Pada soal aktivitas ibadah. Dimana masyarakat Indonesia selalu menggunakan pola komunal. Buka puasa bersama, sahur yang dinamai sahur on the road, dan juga tarawih.

Semuanya kini dibatasi, semata-mata untuk menghindari penyebaran virus.

Shalat yang sebelum Covid-19, imam menyerukan untuk merapatkan dan meluruskan shaf. Sementara sekarang, justru dijarakkan. Kapasitas masjid tidak memungkinkan untuk diisi sepenuhnya. Hanya bisa sampai 50%.

Tahun kedua ada pelonggaran, dimana tahun lalu masjid ditutup sama sekali. Begitu juga idul fithri yang dirayakan di rumah masing-masing.

Pemahaman ulang terkait dengan metode beribadah direkonstruksi. Kini buka puasa tetap bersama. Hanya saja, ada remaja masjid yang mengantarkan makanan ke setiap rumah.

Jadwal berbuka puasa tetap diedarkan untuk masing-masing jamaah menyumbang. Namun cara menikmatinya tidak dengan duduk bersama di masjid. Melainkan tetap di rumah masing-masing, dengan hidangan yang sama.

Masjid-masjidpun mulai dilengkapi dengan kapasitas streaming untuk menyiarkan ceramah daring. Khutbah atau ceramah tarwih dapat disimak melalui pelbagai platform. Masjid-masjid kini mengelola akun channel di YouTube, Instagram, dan Facebook.

Ini sebuah kesemarakan dalam menyambut Ramadhan. Dimana kreativitas terlihat dalam dunia virtual. Sekaligus dakwah tidak lagi berlalu begitu saja, tetapi tersimpan dalam bentuk digital. Sehingga dapat diakses kapan, dan dimana saja. Sekaligus memperkaya content-content digital, mengisi linimasa warganet.

Ramadhan di Jawa sebagaimana dikemukakan Moller (2005) menjadi keriuhan dan juga tradisi yang panjang sejak penyambutan sampai saat lebaran ketupat.

Saat sekarang ini, tetap dirayakan dengan kesyukuran dengan pelbagai penanganan wajib yang ada. Namun, tidak lagi dengan berkumpul. Hanya dengan keluarga inti saja. Memastikan orang-orang yang berinteraksi memiliki jejak rekam yang tidak terpapar virus.

Mudik selalu dinanti. Saat itu berkumpul dan bersua dengan keluarga di kampung. Memunguti ingatan ketika masih bersama dengan keluarga dalam suasana pedesaan. Ramadhan menjadi kesempatan untuk menikmati kenangan itu semua.

Namun, kini tidak lagi. Semuanya untuk sementara dilakukan reformulasi sehingga bisa menjadi kesempatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Sekaligus juga sebagai kesempatan memahami keprihatinan pada masa lalu, ketika datangnya Ramadhan justru tidak bisa bersua dengan keluarga.

Ramadhan dan juga Covid-19 secara bersama mengingatkan kita akan esensi. Bukan lagi sebatas seremonial.

Selama ini, Ramadhan dihiasi dengan makanan. Bukan tentang makanan itu sesungguhnya, tetapi kemauan untuk berbagilah yang menjadi makna sejatinya. Justru ini sebuah peluang bagi kita untuk mengirimkan makanan kepada tetangga, dan kerabat yang jauh. Dimana perkembangan pengiriman barang semakin beragam dan juga terjangkau sekarang ini.

Bukan lagi setakat baju baru. Tetapi kebersihan yang menjadi tuntutan. Selama Covid-19, memakai masker, dan mencuci tangan sudah menjadi kewajiban individual. Begitu pula dengan salaman, yang tidak lagi harus dengan jabat tangan. Cukup dengan sebuah isyarat.

Lagi-lagi, soal esensi yang dikemukakan. Bukan pada seremoni. Bolehjadi ketika wabah telah berlalu, dua kebiasaan ini perlu diteruskan.

Mendengarkan ceramah tarwih, menjadi kebiasaan di Ramadhan sebelumnya. Untuk saat ini, kita tetap mendengarkan ceramah dalam pelbagai bentuk sesuai dengan minat individual.

Video, blog, maupun artikel dalam platform dunia maya menjadi kesempatan “menyimak” ceramah. Bahkan ini lebih beragam, dimana sebagai pemirsa kita dapat memilih tema yang diperlukan.

Ramadhan dimaknai juga dengan tempat pulang. Saatnya melakukan perenungan terhadap apa yang dilakukan dalam sebelas bulan sebelumnya.

Justru dengan paduan dua hal, Ramadhan dan wabah adalah kesempatan terbaik untuk melakukan renungan-renungan itu.

Kita juga belajar untuk memendam rindu. Dimana dengan terbenamnya matahari dan terbitnya hilal, menandakan Ramadhan yang datang. Hanya saja, kita tidak memungkinkan untuk pulang sebagaimana biasanya.

Kerinduan itu tetap wujud, dituntaskan dalam bentuk yang lain. Selama ini, berbuka bahkan di kantor. Ramadhan di saat wabah, justru sebuah kesempatan emas. Bisa berkumpul sepenuhnya dengan keluarga.

Bekerja, belajar, dan beribadah. Semuanya dari rumah. Ini akan memberikan pesan melampaui masa-masa wabah ini. Rumahlah sejatinya yang menjadi tempat kita satu-satunya. Tempat yang paling aman dan juga memberikan kehangatan. Bukan tempat yang lain.

Ramadhan dengan keluarga justru memberikan kehangatan itu. Berjuang bersama hingga wabah ini berlalu. Termasuk bersiap untuk perjuangan setelah masa pandemi.