Memasuki pertengahan bulan Ramadhan 1442H umat Islam yang wajib menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan perlu memperhatikan aktifitasnya selama menjalankannya, lebih lagi puasa sebagai aktifitas religius juga menganjurkan untuk melakukan ritus-ritus yang dapat menambah kekhusyukan dalam beribadah.

Ramadhan bulan yang suci menjadi kesempatan bagi setiap umat Islam untuk lebih meningkatkan ketakwaan, juga banyak sekali keutamaan-keutamaan terkandung  didalam bulan ramdhan. Seperti bulan dimana Al-Qur’an diturunkan sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 185 “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Keutamaan lain yang terkandung didalam Ramadhan juga terdapat pada Hadist Nabi Muhammad SAW ”Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain ibadah puasa bulan ini juga disebut sebagai bulan penuh keberkahaan sebagai sarana bagi kita untuk terus menambah pundi-pundi pahala, karena hanya dibulan ramadhanlah kebaikan kita akan dilipat gandakan.

Contoh keutamaan lain bulan Ramadhan adalah hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahaan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dibulan Ramadhan disebut malam lailatul qodar. menjadi malam yang special dibulan Ramadhan karena malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan seperti Firman Allah dalam Al-Qur’an  “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS.Al-Qadr:1-3).

Meski Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah dan kebaikan yang sangat di agungkan umat Islam namun masih saja ada hal kontradiktif yang dilakukan, alih-alih sebagai rasa bangga atas datangnya bulan Ramadhan atau juga sebagai penyambutan bulan yang suci akan tetapi malah menjadikan bulan tersebut penuh dengan kenistaan.


Citra Spiritual

Puasa memang sebagai aktitas religius pada seluruh agama di dunia. Praktik puasa juga dilakukan oleh beberpa umat beragama sebagai peningkatan spiritual. Mahatma Gandhi juga sebagai orang yang melakukan ritus puasa menekankan pentingnya puasa dan doa, karena untuk meningkatkan kehidupan spiritual, mempraktikkan nir-kekerasan, mengendalikan diri, mencari kebenaran dan juga menjumpai tuhan (Kautsar Azhari, 2008)

Seiring dengan berkembangnya teknologi dalam hal ini media sosial, dengan tiap hal yang di posting melalui media tersebut tentunya menjadi bagian dari sebuah proses komunikasi. Sehingga penggunaan media sosial biasa dikatakan sebagai aktifitas komunikasi. Pengguna media sosial akan mulai untuk membuat suatu kebiasaan baru yang berkaitan dengan sisi personal penggunanya yang menggambaran diri mereka kedalam media tersebut. Dengan demikian akan membentuk citra diri mereka dari kegiatan sehari-hari terutama disaat bulan ramadhan seperti saat ini.

Mulai dari mengunggah  foto, video ataupun caption yang menggambarkan diri mereka sebaik mungkin. agar dapat menciptakan kesan sesuai dengan gambaran yang diciptakannya, sehingga persepsi orang yang melihat unduhan tesebut akan menimbulkan suatu kesan yang positif. Mereka memposting tentang kehidupan mereka di sosial media yang terkadang berlawanan dengan kehidupannya yang nyata.

Jika dikaitkan dengan teori interaksi simbolik, individu diatas biasa digambarkan kedalam konsep dramaturgi. yang mana itu muncul untuk memenuhi kebutuhan akan pemeliharaan keutuhan diri dan menjadi suatu model untuk mempelajari tingkah laku manusia.

Goffman menafsirkan dramaturgi sebagai konsep diri dimana dia menggambarkan pengertian konsep diri lebih bersifat temporer, dalam arti bahwa diri bersifat jangka pendek, bermain peran, karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial yang berlainan, yang interaksinya dalam masyarakat berlangsung dalam episode-episode pendek. Berkaitan dengan interaksi, definisi situasi bagi konsep diri individu tertentu dinamakan Goffman sebagai presentasi diri.(Susilo dan Kodir, 2016)

Dramaturgi adalah suatu pendekatan yang lahir dari pengembangan Teori Interaksionisme Simbolik. Dramaturgi muncul untuk memenuhi kebutuhan akan pemeliharaan keutuhan diri dan menjadi suatu model untuk mempelajari tingkah laku manusia, tentang bagaimana manusia itu menetapkan arti kepada hidup mereka dan lingkungan tempat dia berada Karyanya melukiskan bahwa manusia sebagai manipulator simbol yang hidup di dunia simbol (Susilo dan Kodir, 2016).

Sehingga fokus pendekatan dramaturgi adalah bukan pada apa yang orang lakukan, bukan pada apa yang ingin mereka lakukan atau pada menggapa mereka melakukan, akan tetapi pada bagaimana mereka melakukannya. serta menekankan dimensi ekspresi/impresi aktivitas manusia.

Dengan kata lain bahwa makna kegiatan manusia terekplore dari cara mereka mengekspresikan diri saat berinteraksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku yang sama-sama ekspresif ini maka perilaku manusia akan bersifat dramatik. dramaturgi juga memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan”perilaku yang disetujui dan dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Bukti nyata bahwa terjadi permainan peran dalam kehidupan manusia dapat dilihat pada individu seseorang saat menggunakan media sosial.

Begitu juga ketika seseorang membentuk citra diri mereka kedalam media sosial, dengan kondisi seperti sekarang (ramadhan)secara alami mereka akan membentuk citra diri mereka sebagai umat Islam yang sangat senang, bangga, dan taat ketika memasuki bulan Ramadhan.

Teori dramaturgi juga menjelaskan bahwa identitas manusia tidak stabil dan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri(N Saridina dan Farida,2018). Sehingga citra diri seseorang bisa saja berubah-ubah tergantung interaksinya dengan orang lain. Seperti tingkat spritualitas dalam diri individu yang menggunakan media sosial juga bisa saja berubah-ubah, melalui unggahan dimedia sosial mereka dapat saja mencitrakan nilai-nilai spiritualitas dalam dirinya ketika dihadapkan dengan situasi yang dapat menimbulkan ekspresifitas.


Pseudo-Religion

Ketika nilai spiritualitas seseorang  menyambut Ramadhan di analogikan sebagai arena pertandingan, maka sejatinya Ramadhan menjadi arena perjuangan bagi individu, dan secara luas akan juga bersambung ke keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Untuk sebuah eksistensi diri melalui wacana dan simbol hegemonik yang diekspresikan ditiap kegiatan. contoh yang sering kita temui ketika buka puasa bersama atau sholat tarawih, adanya masyarakat yang mempertontonkan perhiasan duniawi.

Secara sadar masyarakat juga menganugerahi identitas baru dalam batas waktu tertentu untuk sebuah gaya pakaian, aksesosis yang dipakai maupun kendaraan saat kegiatan Ramadhan. Serasa nilai religiusitas yang terkandung di bulan Ramadhan ini malah tergerus kemuliaannya

Menurut Charles Y Clock dan Rodney Stark menyebutkan bahwa ada lima dimensi religiusitas(Jamaluddin, 2005), Pertama dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan seseorang dengan berpegang teguh pada doktrin-doktrin keagamaannya. Kedua dimensi praktik keagamaan mencakup bagaimana perilaku seseorang mengamalkan ritual-ritual keagamaannya. Seperti jika orang katolik ia akan pergi sembahyang ke gereja, jika dia Muslim juga akan melakukan Sholat, membayar Zakat dan juga melaksanakan Puasa Ramadhan.

Ketiga dimensi penghayatan yang menyangkut-pautkan bagaimana pengetahuan atau wawasan keilmuan agama dari penganut agama itu sendiri. Sehingga seseorang beragama yang mengetahui dan memahami secara kelimuan ajaran-ajaran keagamaannya berarti ia religius. Keempat dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada pengalaman belajar atau mengenal dasar-dasar keyakinan rohaniyah.

Dan dimensi Kelima adalah pengalaman dan konsekuensi, dari komitmen agama dan tanggung jawab moral untuk menjaga prilaku yang sesuai dengan norma-norma agama yang dianut. Sehingga ia selalu merasakan bahwa kehadiran tuhan tidak terbatas oleh sekat-sekat dunia dan ada dimana saja. Serta merasa bahwa setiap tindak tanduknya selalu diawasi sehingga ia harus selalu mencerminkan nilai-nilai keagamaan ditiap prilaku kesehariannya.

Namun dari kelima dimensi keagamaan diatas, tingkat kebanyakan dari kita hanya berhendi di dimensi ke tiga, oleh karena itu masih banyak orang yang secara lisan mengaku beriman, beragama dan melakukan ibadah akan tetapi tingkah laku dan kesehariannya jauh dan lebih bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diyakininya.

Jika kita tarik kembali dikehidupan pada bulan Ramadhan sekarang ini, serasa hanya sebatas penyambutan, menahan lapar dan haus sehingga makna Ramadhan sendiri menjadi snagat terasingkan. Ditambah lagi citra diri seseorang dalam perihal spiritualitas yang hanya diukur dari unggahan di media sosial mereka.

Sering kali berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan sehari-hari dengan apa yang di citrakan ke halayak. Jika dikaitkan dalam skema produksi, seseorang akan menjadi mangsa pasar terbaik dengan tubuhnya. Tubuh akan dibagi menjadi dua bagian, tubuh luar dan dalam. Tubuh luar akan “dituntut” mengkonsumsi segala hal yang berkaitan dengan penampilan (kosmetik, pakaian dan aksesoris)agar dapat status sosial di masyarakat. Sedangkan tubuh bagian dalam akan “dituntut” memasukkan atau mengkonsumsi suplemen kesehatan, kecantikan dan makanan tertentu kedalam tubuh untuk mendapatkan “legalitas” sebagai orang yang selalu “sehat” dan bisa dimasukkan kedalam ruang masyarakat yang harus “higienis”(Heru Nugroho, 2004)

Maka jika direfleksikan ke dalam situasi Ramadhan kali ini banyak sekali konstruksi identitas baru dari individu-individu yang mulai mencitrakan diri mereka sebagai sosok yang sangat religius dimedia sosia. Akan tetapi hakikatnya mereka hanya sebatas identitas palsu dan ujungnya menjadi Pseudo-Religion(keberagamaan palsu). Dengan demikian perlu kita tekankan kembali pada substansi dari bulan Ramadhan yang penuh bekah, sumber pahala dan dapat menjadi kesadaran kritis bagi umat Islam, sehingga kehadiran bulan Ramadhan tidak akan kehilangan maknanya.