Ramadan merupakan bulan yang suci nan mulia bagi umat Islam di seluruh dunia. Bulan di mana keutamaan dan keberkahan dituangkan oleh Allah SWT kepada setiap makhluknya yang beriman. Juga, pada bulan ini umat Islam diwajibkan untuk berpuasa, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (Surat al-Baqarah, Ayat 183)."

Puasa secara etimologi fikih merupakan al-imsaku, yaitu menahan diri. Sedangkan secara terminologi berarti menahan dan mencegah diri secara sadar dari makan, minum, berhubungan suami istri dan hal-hal sejenisnya selama sehari penuh. 

Bertolak dari definisi tersebut dapat diambil satu kesimpulan general bahwa puasa, selain menahan diri dari makan dan minum, juga suatu usaha menahan diri dari perbuatan tercela dan keji.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Imamuna, al-Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah, bahwa puasa yang sebenarnya itu harus disertai menjaga dan menahan semua anggota tubuh dari perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Berarti harus menjaga mata dari memandang perkara-perkara yang tidak baik, menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak ada gunanya, dan memelihara telinga dari mendengarkan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, sebab dosa orang yang mendengar itu sama dengan orang yang berkata. 

Apa yang disampaikan oleh al-Ghazali di atas sangat layak bila dijadikan rujukan dalam rangka “muhasabatun nafsi” (mengintrospeksi diri) dan mengevaluasi lingkungan sekitar kita, mengingat kehidupan sosial kita mulai tidak waras, di mana hoax, ujaran kebencian, dan adu domba merajalela dan mengintai setiap jengkal kehidupan sosial kita.

Disadari atau pun tidak, keseharian masyarakat kita dewasa ini sedang dibayang-bayangi oleh aktivitas-aktivitas kebencian terhadap seseorang ataupun kelompok yang tidak sepaham dan sealiran dengan diri dan kelompoknya. Kebencian tak ubahnya suatu ideologi yang harus diimani dan diamalkan. Rasanya kurang afdhal jika “teologi kebencian” tidak menjadi pokok dari aktivitas kesehariannya.

Media sosial, seperti facebook, twitter, dan media-media sosial lainnya menjadi tempat nomor wahid dalam menebar hoax, kebencian, dan adu domba. Lazim akan kita temukan beribu-ribu postingan kebencian di media sosial kita. Ia membabi buta menyasar setiap pengguna media sosial.

Jika tanpa filter dan akal sehat, tentu itu akan merusak sendi-sendi keberagaman dan  kerukunan yang dibangun sejak lama oleh para founding father kita.

Keberagaman dan perbedaan, baik perbedaan pendapat, kelompok, aliran, ras, suku dan agama merupakan sunnatullah dan tentu sangat manusiawi yang harus disadari dan diterima dengan lapang dada dan akal sehat, supaya tidak menjadi alasan retaknya sebuah persatuan antar sesama. Apalagi di sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi, seperti Indonesia, perbedaan bukan hanya sunnatullah yang harus disadari, akan tetapi merupakan sunnatullah yang juga dilindungi oleh negara melalui undang-undangnya. 

Atas nama apa pun, perbedaan tidak boleh kita jadikan suatu alasan untuk menebar kebencian dan menyulut pertikaian antar sesama warga negara Republik Indonesia. Justru perbedaan alangkah lebih baiknya jika kita jadikan wahana dan jalan memajukan bangsa ini. Kita jadikan setiap perbedaan sebagai bahan evaluasi bagi diri kita dan kelompok kita masing-masing.

Jadi pada bulan Ramadan kali ini, patut kiranya bagi kita untuk melakukan imsakun nafsi (menahan diri) dari setiap perbuatan yang tercela dan biadab, seperti berprasangka buruk, menebar hoax, dan kebencian. Jika tidak, maka puasa kita akan sia-sia.

Hanya haus dan lapar yang kita rasakan, bukan pahala dan surga. Sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. “Kam min shaimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal atsy," yang artinya, betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak memperoleh pahala puasa, mereka hanya merasakan lapar dan haus.