Gegap gempita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dan hiruk-pikuknya kaum muslimin menjalani Ramadhan, di satu sisi bisa dipandang sebagai pertanda maraknya kehidupan beragama khususnya di negeri ini. Namun di lain pihak, bisa sebagai bahan perenungan kita semua terutama bagi peningkatan mutu keberagamaan kita.

Lihatlah, bagaimana repotnya pemerintah mengkoordinasikan pihak-pihak yang diajak bersama-sama menghitung dan meneropong hilal untuk menetapkan awal nulan Ramadhan. Bahkan tahun ini masyarakat umum pun dilibatkan dalam kegiatan rukyah. Lihatlah, spanduk-spanduk yang menyambut kedatangan Ramadhan yang terpampang di seantero jalan-jalan.

Lihatlah, kesibukan para produser dan para insan-insan pertelevisian serta para pemilih PH yang bahkan jauh-jauh hari menyusun program-program Ramadhan. Lihatlah, hingar-bingarnya masjid-masjid dan musholla serta meriahnya acara buka bersama di mana-mana. Lihatlah, kepedulian instansi-instansi termasuk kepolisian yang dengan serius berusaha menghormati Ramadhan. Luar biasa. (Gus Mus: 2011: 185-186).

Dari semua kesibukan itu, apa sebenarnya makna otentik dari di syariatkanya puasa di bulan Ramadhan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya akan paparkan pendapat sebagian ulama terkait dengan tujuan dan hikmah di syariatkanya puasa di bulan Ramadhan. Hal ini juga bertujuan sebagai kritik terhadap kehidupan sosial-keagamaan sebagian orang di negeri ini.

Puasa yang dilakukan umat Islam digarisbawahi oleh al-Quran sebagai “bertujuan untuk memperoleh takwa”. Tujuan tersebut tercapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri. Menurut Muhammad Fakhruddin Ar-Razi ketika menafsirkan ayat tentang bulan Ramadhan dan ibadah puasa (QS. Al-Baqarah: 185), menyebutkan bahwa ayat tersebut adalah sebagai alasan (‘illat) dipilihnya bulan Ramadhan sebagai bulan puasa.

Karena, Allah memberikan keistimewaan pada bulan tersebut dengan menurunkan tanda ketuhanan yang paling agung (ayat rububiyyah), yakni al-Quran. Maka, manusia sebagai hamba Allah sangat pantas untuk mengabdikan diri dengan mengerjakan ibadah yang menjadi simbol penghambaanya (ayat al’ubudiyyah), yakni puasa.

Lebih lanjut lagi Ar-Razi memberikan alasan mengapa ibadah puasa yang dipilih sebagai simbol penghambaan bukan ibadah yang lain. Menurutnya hal tersebut bertujuan untuk memutus egoisme manusia (al ‘alaiq al basyariyyah). Agar setiap manusia dapat mencapai kesadaran akan eksistensi Zat dan mendapatkan pancaran nur dan mukasyafah (tersingkapnya tabir ketuhanan).

Puasa adalah sebab yang paling kuat (aqwa al-asbab) untuk menghilangkan egoisme manusia. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa arbab al-mukasyafat (orang-orang yang memiliki keistimewaan batin) mampu menembus tabir-tabir dengan media puasa. Penjelasan Ar-Razi ini menggunakan argumentasi sufistik yang ditandai dengan ungkapan yang berbau mistik.

Menurut Prof. Quraish Shihab, dalam berpuasa, dari segi hukum, seseorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali (makan, minum, dan hubungan seksual) dalam waktu-waktu tertentu. Dalam berpuasa, yang bersangkutan juga sekaligus berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifatnya.

Oleh karena itu, masih menurut Prof. Quraish Shihab, Rasulullah telah mengingatkan dalam sebuah hadits, “Berakhlaklah kamu sekalian dengan sifat-sifat Tuhan.” Kalau ditinjau dari segi hukum puasa, maka sifat Tuhan yang diusahakan untuk diteladani oleh yang berpuasa adalah: (1) bahwa Dia (Tuhan) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS. 6: 14); dan (2) Dia (Tuhan) tidak memiliki teman manita (istri) (QS. 6: 101).

Kedua hal tersebut terpilih untuk diteladani karena keduanya merupakan kebutuhan fa’ali manusia yang terpenting, dan keberhasilan dalam pengendaliannya mengantar kepada kesuksesan mengendalikan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Selain itu sifat ‘Maha Pengampun’, ‘Maha Pemaaf’, ‘Maha Pengasih’, dan ‘Maha Penyayang’ juga tak kalah pentingnya untuk diteladani, dan kemudian diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Selain itu, menurut Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani dalam karyanya, Manahil Ar-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Quran, puasa memiliki tiga dimensi sekaligus. Yang pertama yaitu dimensi pembersihan kejiwaan. Dimensi ini menjadi kajian inti para pakar keagamaan dan kesufian. Dimensi ini bersifat transenden, privat  dan tidak terkait dengan hubungan sosial.

Kedua, dimensi moral (akhlaqiyyah) yang merupakan lahan garapan spesialis moral. Aspek moral dalam puasa ini dapat dengan mudah kita pahami karena dalam puasa terdapat pendidikan dan pembiasaan kedisiplinan, ketaatan, penerimaan secara lahir-batin aturan-aturan yang telah ditetapkan, kepatuhan kepada pemimpin, kesabaran, ketahanan, dan perlawanan terhadap kuasa nafsu, penguatan dorongan kepada perbuatan baik, seperti sedekah, dan sebagainya.

Yang ketiga, puasa memiliki dimensi materi kesehatan. Dimensi kesehatan inilah yang sedang ramai diperbincangkan sebagai bentuk kemukjizatan Al-Quran yang telah terungkap seiring laju perkembangan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan modern membuktikan bahwa puasa tidak berbahaya bagi tubuh selama dijalankan sesuai koridor syariat.

Dengan merenungkan makna otentik dari di syariatkanya puasa Ramadhan yang telah dipaparkan oleh sebagian ulama di atas, diharapkan kita bisa menjadi apa yang telah dipesankan oleh Al-Quran, yaitu ‘menjadi orang-orang yang bertakwa’. Bertakwa disini baik secara vertikal maupun secara sosial. Bukan malah sebaliknya, “Sekian banyak orang-orang yang berpuasa yang tidak memperoleh hasil dari puasanya, kecuali lapar dan haus,” demikian sabda Nabi saw.

Sebagai penutup, saya akan kutipkan pendapat dari seorang filosof Muslim, Ibnu Sina terkait dengan pengaruh puasa terhadap orang-orang yang telah mampu merenungi makna puasanya secara otentik, yaitu meneladani sifat-sifat Tuhan, sebagai berikut:

“Seorang yang bebas dari ikatan raganya, dalam dirinya terdapat sesuatu yang tersembunyi, namun dari dirinya tampak sesuatu yang nyata. Ia akan selalu bergembiradan banyak tersenyum. Betapa tidak, karena hatinya telah dipenuhi kegembiraan sejak ia mengenal-Nya. Di mana-mana ia hanya melihat satu saja: melihat kebenaran, melihat Yang Maha Suci itu.

“Semua dianggapnya sama, karena memang semua sama: semua makhluk Tuhan wajar mendapatkan rahmat, baik mereka yang taat maupun mereka yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah atau tersinggung walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi rahmat kasih sayang, dan karena ia memandang sirr Allah (rahasia Allah) terbentang di dalam koderat-Nya.

“Apabila ia mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mengajak dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, dan tidak pula dengan kritik dan kecaman. Ia akan selalu dermawan. Ia akan selalu pemaaf. Dan tidak akan ada rasa dendam di dalam hatinya yang telah lapang, karena seluruh ingatanya tertuju kepada Allah.” Semoga puasa kita dan ibadah-ibadah kita yang lain di terima Allah. Dan semoga kita bukan termasuk orang-orang yang merugi.