“Art wants to create the finite that restores the infinite….” — Gilles Deleuze & Félix Guattari (1994)

Konon segala sesuatu di alam semesta ini pada dasarnya sama—kalau ini katanya Paul Klee dalam lukisannya Equals Infinity (1932). Saya suka dengan filosofinya karena masih sangat kontekstual, saat Tuhan mengirimkan bala tentaranya untuk meneduhkan bumi pada awal 2020.

Bangunan suci—hitam pekat yang kerap dijamah jemaat dari berbagai sudut mata angin ini berhasil menjungkirbalikkan cara orang mengimani Tuhan. Ka’bah namanya—dengan berbagai pernak-pernik dunianya seketika lengang dari hiruk pikuk kerumunan massa untuk bertawaf atau sekadar menerima tamu agung pilihan Tuhan, kok bisa?

Sesungguhnya kekuatan mahadahsyat yang menyesatkan di tengah pergulatan negara-negara di dunia dalam menundukkan Covid-19, salah satunya adalah media massa. Ia terdiri dari serpihan gambar-gambar atau video-video serta untaian kata-kata yang melegakan tenggorokan bagi yang mampu mengecap rasa madunya, sebab ia suka berkamuflase di badai pandemi ini. Sampai orang buta membedakan antara yang batil dan benar.

Viralnya foto seseorang (hanya) yang duduk bersimpuh di depan ka’bah tempo lalu sungguh menambah permasalahan baru bagi sebagian kalangan masyarakat yang cuma menelan mentah-mentah berita itu, dilansir dari cekfakta.tempo.co (30/4).

Bagi Anda yang baru tahu, ini kisah ngomongin tentang komodifikasi seonggok foto yang dibungkus dengan dalih agama. Foto itu dijadikan alat oleh segelintir oknum nakal untuk menebar nilai-nilai agama, namun dicederai oleh penafsiran dan simpulan yang sembrono bahkan sesat pikir.

Tidak ada korelasi antara seseorang yang duduk di depan Ka’bah dengan makhluk pilihan Tuhan yang hanya bisa mengunjungi Ka’bah dalam situasi pandemi. Faktanya, pria yang duduk di depan Ka’bah itu bukan satu-satunya pria yang diberikan izin menjamah rumah Tuhan itu. Barangkali Anda bisa mencari detailnya di mbah Google, karena saya tidak akan membahas secara rinci pada kesempatan agung ini.

Tak bermaksud memperkeruh situasi saat ini, lukisan yang sama-sama kita lihat di atas pun merupakan salah satu bentuk “replika” dari menguat dan mengakarnya disrupsi informasi. “Jangan-jangan saya adalah salah satu orang yang juga menebar replika itu?” Pengalaman di atas tentu mudah diduga, sebab Nabila Abuljadayel adalah seorang pelukis bukan seorang peneliti yang harus cermat menganalisis berbagai sumber.

Ternyata bicara fakta dan data saja tidak cukup, manakala cara mempresentasikan ke publik itu tidak tepat. Alhasil, sesat pikir tak jarang mendominasi titik akhir perjalanan terjal yang disebut sebagai kesimpulan.

Pengalaman Nabila memberikan jawaban teka-teki Ka’bah dalam konteks keruangan. Secara sederhana ia mengartikan bahwa tempat suci itu tak sembarang dijamah orang. Orang-orang pilihan saja yang boleh ke sana. 

Ini betul, karena memang hanya orang-orang yang dipilih yang bisa ke rumah Allah itu—dalam konteks ibadah haji. Salah satu fakta sosial yang mungkin menjawab teka-teki Nabila, misalnya antri pergi haji.

Berdasarkan fenomena tersebut, ada sedikitnya tiga proses yang perlu dicermati. Pertama, fotografer yang mengabadikan momen seseorang yang tengah duduk di depan Ka’bah. Kedua, pengalaman Nabila melihat foto seseorang yang tengah duduk di depan Ka’bah. Ketiga, proses mematerielkan yang imateriel itu (lukisan) berdasarkan pengalaman Nabila melihat foto.

Saya tidak akan membahas detail teks dan konteks mengapa hal yang demikian bisa terjadi di tulisan ini. Namun, saya akan meminjam istilah alih wahana yang dikenalkan Sapardi Djoko Damono dalam bukunya yang berjudul “Alih Wahana” (2018). Dalam bukunya itu, ia mendiskusikan perkara pengubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian yang lain, atau ia menyebutnya sebagai alih wahana.

Anda pernah menonton film The Da Vinci Code (2006), Murder on the Orient Express (2017) atau Laskar Pelangi (2008)? Ya, ketiganya adalah beberapa contoh film hasil adaptasi dari novel. Anda pernah membaca ulasan film-film tersebut? Barangkali mendengar kabar atau menyimak komentar yang kurang lebih bernada demikian: “masih bagus cerita di novelnya daripada filmnya” atau sebaliknya?

Itulah bentuk proses kreatif dalam berkesenian, terjadinya proses pengubahan bentuk dari untaian kata-kata yang tertulis dalam novel menjadi suatu hal yang kini bisa didengar dan dilihat dalam sebuah sajian film. Ketika novel diwujudkan dalam bentuk audiovisual (film), maka ia beralih wahana dan, oleh sebab itu, mengalami perubahan sesuai wahananya yang baru.

Hal yang demikian ini terjadi pula dalam konteks fenomena yang kita bahas di atas. Foto (viral) yang terdiri dari jutaan piksel itu menginspirasi Nabila dalam melukis. Foto tersebut diubahnya menjadi lukisan yang terdiri dari susunan beberapa objek, warna serta komposisi garis, bentuk, dan ruang—yang kemudian difoto dan diunggah di media sosial, lantas kembali viral.

Bagi Paul Klee, seorang pelukis itu seharusnya melukis apa yang dilihatnya, bukan apa yang akan dilihatnya. Menariknya, di dunia virtual ini, simbol-simbol visual itu mudah diproduksi secara massal serta cepat direproduksi dan “dikloning” atau bahasa gaulnya cepat beranak pinak.

Di era disrupsi informasi, salah satu contoh orang tak berdosa lainnya ialah orang-orang yang menyebarkan informasi di grup-grup WhatsApp atas dalih pemakluman dengan menggelontorkan pertanyaan: “Ini hoaks bukan ya?” sambil menukilkan laman yang ditanya itu di grup-grup WhatsApp.

#SebuahRenungandiRamadan2020