Alhamdulillah, kita kembali bertemu dengan bulan yang penuh dengan segalanya. Ampunan, berkah dan segalanya ada di bulan yang datang setahun sekali dalam perhitungan kalender hijriah ini. Ramadan identik dengan berbagai hal yang berbau ibadah mahdhah (hubungan dengan Allah) dan Ghoiru Mahdhah (hubungan dengan manusia).

Ada sesuatu yang cukup pelik namun menggelitik dengan bulan yang satu ini, yakni pertanyaan berapa? Mengapa pertanyaan yang satu ini dikatakan menggelitik? Berhubungan dengan apakah pertanyaan yang satu ini? Mari kita kupas. Karena ada dua ibadah yang sudah saya sebutkan di awal. Maka tidak jauh dari kedua jenis ibadah ini saja.

Pertama, ibadah yang berhubungan dengan Allah. Pertanyaan berapa selalu muncul untuk salah satu ibadah yang hanya ada di bulan Ramadan. Ya, benar sekali, ibadah salat tarawih. Acap kali kita mendengar pertanyaan, “di masjid itu tarawihnya berapa?” Pertanyaan yang juga khas muncul hanya di bulan Ramadan.

Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali muncul karena, tentu saja, perbedaan ideologi dari pihak yang menggunakan tarawih dua puluh dan yang delapan rakaat. Lalu manakah yang benar dan manakah yang salah? Pertanyaan ini pun sulit dijawab. Keduanya memiliki argumen dan pendapat yang sama-sama kuat. Dan tidak tidak dapat disalahkan sepihak karena ini merupakan ijtihadi. Lalu siapakah yang salah? Yang salah adalah yang berdebat hingga tak salat tarawih. Hehehe.

Kedua, ibadah yang berhubungan dengan manusia. Ini yang agak rumit, karena ini berhubungan dengan ibu-ibu rumah tangga. Yupz, benar sekali. Berapa yang satu ini berhubungan dengan harga kebutuhan pokok. “Ini berapa, Bang?” “kok mahal?” Pasti jawaban yang  muncul adalah: “Maklum, Bu, bulan puasa”.

Entah apa hubungannya bulan puasa dan harga kebutuhan pokok yang naik. Apakah memang peraturan menteri ekonomi yang menaikkan harga di bulan Ramadan atau memang sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa ketika bulan puasa harga seluruh bahan pokok harus naik. Atau, entahlah ...

Di balik itu semua, kita seyogyanya memiliki daya supaya kejadian berapa tidak menjadi permasalahan yang berlarut-larut. Cukup laksanakan salat tarawih tanpa menanyakan berapakah rakaatnya. Karena bisa jadi pihak yang tidak sepaham dengan kita mengartikan hal tersebut bukan sebagai sebuah pertanyaan (kan jadi ribet). Ya anggaplah, kalo kurang, ya nambah. Kalo kebanyakan, ya itung-itung bonus ibadah lah, Gitu aja kok repot !

Permasalahan harga kebutuhan pokok. Ya, bikin skala prioritas atau apalah yang mampu menahan gempuran kenaikan harga kebutuhan pokok yang serba apalah apalah.

Daging naga dimakan pita
Pita si anak tetangga
Semoga puasa kita (yang menjalankan)
Diterima Tuhan yang maha esa

Jalan-jalan ke Bekasi
Cukup sekian terima kasih