Ada kabar pahit yang diceritakan David Beasley dalam konferensi video Dewan Keamanan PBB pada 21 April 2020 lalu. Ia, sebagai kepala Program Pangan Dunia (WFP), melaporkan, Covid-19 bisa mengakibatkan lonjakan orang yang kelaparan: dari 135 juta menjadi 250 juta jiwa. Karena itu, menurutnya, otoritas dunia perlu segera mengambil peran. Sebab, menurutnya lagi, “Waktu tidak berpihak pada kita.”

Situasi dunia memang berubah begitu cepat. Darurat kesehatan serta lumpuhnya aktivitas ekonomi sekaligus mampu mendatangkan bahkan mempercepat bencana kelaparan. 

Potensi mempercepat itu terlihat dari negara-negara yang memang tengah mengalami krisis makanan. Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afganistan, Venezuela, Ethiopia, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, Nigeria, dan Haiti. Pandemi hanya menjadi palu godam selanjutnya bagi mereka untuk kian terpuruk.

Indonesia tak terkecuali. Kendati belum (dan jangan sampai) mengarah pada risiko kelaparan massal, dalam situasi ketidakpastian akibat pandemi ini, semua hal bisa saja terjadi. Hal tersebut setidaknya mulai tampak saat viralnya video memilukan: seorang ibu yang meninggal kelaparan di Banten, dua kakak-beradik yang didapati tengah kelaparan di Sumatra Selatan, juga satu keluarga yang lemas kelaparan di Sulawesi Barat.

Berita kelaparan tersebut seolah tervalidasi oleh data bahwa, akibat Covid-19, ada 1,94 juta pekerja yang dirumahkan dan terkena PHK (Kemenaker, 2020). Otomatis, angka pengangguran dimungkinkan bertambah: dari 2,9 juta menjadi lima juta orang. 

Di tengah ketidaktahuan kapan pandemi ini akan berakhir, pengeluaran akan jalan terus di saat income kosong. Hal ini berlaku juga bagi yang bekerja di sektor informal, terutama yang bergantung pada penghasilan harian. Di titik itu, risiko terburuk terjadinya kelaparan massal menjadi mungkin.

Sehingga, tak bisa tidak, dampak lanjutan dari pandemi ini harus juga mulai dipikirkan. Sebab faktanya, Covid-19 bukan lagi sekadar wabah, ia sudah menjadi problem kemanusiaan. 

Maka, selain intervensi pemerintah, seperti yang telah dibahas banyak pakar dan peneliti dalam pelbagai opininya di media massa, juga yang tak kalah penting adalah peran masyarakat yang secara kolektif bahu-membahu memastikan, seminimalnya, tak ada satu tetangganya yang kelaparan.

Ramadan dan Berderma

Puasa Ramadan sudah memasuki pekan kedua. Masih banyak di antara kita, umat Islam, yang mengeluhkan situasi pandemik ini dikarenakan hilangnya suasana Ramadan sebagaimana biasanya. Kegiatan seperti tarawih berjemaah, buka puasa bersama, dan tadarusan mesti dilakukan di rumah. 

Hari-hari Ramadan yang biasanya semarak menjadi senyap. Kelimun yang guyub itulah yang dirasa hilang.

Suasana Ramadan memang banyak yang hilang, tetapi nuansanya sejatinya tetaplah sama. Apalagi di masa Covid-19 ini justru nuansa keguyuban itu kian terasa. 

Kendati sama-sama terdampak dan mulai kesusahan, ada inisiatif dari masyarakat untuk tetap saling membantu sesama, baik secara berkelompok, maupun sendiri-sendiri. Digalakkannya bermacam kegiatan donasi serta dibukanya dompet amal dari pelbagai organisasi kemanusiaan menunjukkan tren positif masih tumbuh suburnya solidaritas sebagai modal sosial bermasyarakat.

Melihat fakta itu, kita semestinya tidak tertungkus lumus meratapi ketidaknormalan situasi sehingga kita merasa tidak bisa optimal dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadan. 

Padahal, di masa banyaknya orang mulai kesusahan bahkan kelaparan, berderma adalah laku yang lebih dari sekadar optimal. Berderma jadi bukan hanya ibarat menanam benih di tanah gembur, tetapi juga di musim subur atau penghujan.

Bukankah di bulan Ramadan segala perilaku baik dilipatgandakan pahalanya, termasuk berderma? Bukankah berderma yang paling utama justru pada bulan Ramadan?

Berderma dan  Kesehatan Otak

Ada sebuah artikel menarik bertitimangsa Senin, 4 Mei 2020 di harian Republika, judulnya “Doa dan Efek Kesehatan,” yang ditulis seorang neurosaintis, Taufiq Pasiak. Ia dengan berani menyimpulkan, melalui sejumlah riset kesehatan, doa berperan penting dalam perawatan kesehatan. 

Lalu, ia menambahkan bahwa doa intercessory atau non local healing dapat melengkapi perawatan medis yang diberikan pada pasien Covid-19.

Efek dari doa dan berderma sesungguhnya memiliki reaksi kimia yang sama bagi tubuh. Ia dipercaya mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Dengan kita saling berbagi dan membantu mereka yang tengah kelaparan, selain mendapatkan keutamaan berderma di bulan Ramadan, tubuh kita juga diyakini akan kian imun dari bakteri dan mikroba yang biasanya rutin menyerang sistem pernapasan dan pencernaan kita.

David Klein, psikolog, mencoba membuktikan hal tersebut dalam uji pengamatannya. Ia membagi dua kelompok antara mereka yang diminta melakukan aktivitas sosial semisal berderma dan tidak. 

Hasilnya mengejutkan, setelah air liur mereka diteliti, terdapat penambahan protein jenis A pada tubuh mereka yang berderma. Artinya, karena berderma, tubuh akan memproduksi sel-sel kekebalan yang dibutuhkan untuk melindungi tubuh.

Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya hubungan antara jaringan pembuluh otak dan kelenjar limfa. Maksudnya, ketika kita berderma akan timbul perasaan senang dan bahagia, emosi positif hasil dari pelepasan hormon endorphin itulah yang memicu tubuh meningkatkan imunitasnya (Samith, al-Zakat Tahmi al-Amradh al-Nafsiyah wa al-Sikusumaiyah, al-Ra’y al-Thibbiyah, edisi 10681, 2008).

Selaras dengan itu, ahli neurosains, Prof. Taruna Ikrar menjelaskan dalam bagian akhir bukunya Ilmu Neurosains Modern (2016) bahwa semua emosi kita merupakan hasil dari reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Termasuk perasaan tenang-bahagia ketika berderma. 

Selain endorphin sebagai hormon pengubah rasa sakit menjadi gembira, hormon oxytocin yang berada di dalam hipotolamus pada otak juga akan bereaksi sewaktu kita berdonasi dan memberi bantuan pada orang yang kesusahan. Hormon ini adalah hormon utama kebahagiaan. Oleh karenanya, ia kerap disebut sebagai essence of empathy karena perasaan kedermawanannya (Ikrar, 2017).   

Dan bulan Ramadan sejatinya menjadi momentum bagi kita untuk lebih mengaktifkan essence of empathy tersebut. Apalagi dalam situasi Covid-19 ini. 

Selain mendapatkan manfaat kesehatan dan kebahagiaan yang dirasa karena hidup lebih bermakna, dengan berderma dan memastikan tidak ada satu orang pun di sekitar kita yang lagi kelaparan, kita juga sesungguhnya telah berusaha menjalankan satu perintah agama yang paling humanistis: 

“Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (al-Maidah: 32).”

Dunia boleh dan harus cemas mendengar laporan pilu David Beasley atas risiko bencana kelaparan berskala besar akibat Covid-19 di sebagian negara di dunia. Tetapi, selalu ada terang bintang di kegelapan malam. Terang itu terpancar, setidaknya, dalam berderma dan laku filantropis.