Selama hayat dikandung badan. Kerap kali kita mendengar dari orang-orang, bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan, penuh rahmat kasih sayang, penuh ampunan, dan juga amat penuh keberkahan. Siapa yang melewatkan Ramadan begitu saja? Maka bersiaplah, kerugian besar akan segera menimpanya.

Kalimat semacam ini hampir saja benar-benar mengapung di kepala kebanyakan kaum muslimin. Tetapi satu hal. Sudah seberapa seringkah kita merenungi seistimewa apa bulan Ramadan di sisi Tuhan? Sudahkah kita memahami seperti apa sih ruginya kita saat melalui Ramadan dengan keseharian yang biasa-biasa saja? Atau menghayati sesuci apakah keadaan kita, ketika mampu bersungguh-sungguh berkebajikan di bulan Ramadan?

Sampai di titik ini. Satu hal yang perlu kita amini bersama, betapa urgensinya ‘aktivitas merenung’ untuk kita jadikan sebagai rutinitas dalam harian 24 jam kita. Paling tidak, ambil 30 menit. Dan gunakan itu khusus untuk merenung. Merenungkan apa saja. Bisa berfikir, bertanya-tanya dalam diam, mencari jalan keluar, atau bahkan ber-muhasabah. Menghitung-hitung kesalahan yang dulu pernah dilakukan.

Termasuk untuk saat ini. Detik-detik memasuki bulan Ramadan. Kita perlu menanyakan satu hal penting. Apa itu? Ya. Tentang Ramadan, perihal sebenarnya apa aja sih yang Tuhan inginkan dari kita, saat berada di bulan Ramadan?

Kata Pak Fahrudin Faiz, seorang doktor di bidang filsafat, setidaknya ada kisaran tujuh keinginan Tuhan dari hamba-hambanya saat hendak memasuki bulan Ramadan. Yang kalaulah seandainya, kita mampu merealisasikan tujuh keinginan ini, barulah kita bisa dianggap sebagai hamba yang suci. Diklasifikasikan sebagai sosok yang baru saja bersuci dari segala lumuran dosa. Sehingga dengan kesucian itu, kita menjadi berhak menyambut idul fitri dengan rasa penuh bahagia. Kenapa? Karena sederhana. Saat itu kita tengah diibaratkan seperti anak bayi yang baru saja dilahirkan, yang belum pernah—sekalipun—berbuat suatu kemaksiatan.

Dari Ramadan, ada tujuh yang diinginkan Tuhan, dari kita sebagai hamba-hambanya yang beriman. Dan secara tersirat, melalui Ramadan, kita diminta untuk merealisasikan tujuh hal ini, yaitu: 1) Kepatuhan 2) Pengorbanan 3) Penyucian 4) Perjuangan 5) Keikhlasan 6) Latihan 7) I’tibar.

Pertama, kepatuhan.

Sebagaimana yang kita ketahui secara seksama, berpuasa di bulan yang panasnya terik kering-kerontang, bukanlah perihal sepele yang amat mudah dilakukan banyak orang. Untuk bisa mencapai itu, kita harus serius mengabdikan diri saat tengah beribadah. Dari Ramadan ini, ada siratan yang bakal tersampaikan kepada kita, bahwa Allah—saat ini—tengah menilai, dari perintah semacam ini, ada berapakah—diantara hambanya—yang benar-benar serius saat menjalankan perintahnya? Dari Ramadan kita jadi paham. Bahwa sekarang kita sedang diuji dan dinilai, seberapa besar tingkat kepatuhan kita terhadap perintah Tuhan.

Kedua, pengorbanan.

Puasa itu menahan diri dari makan, minum, dan dari segala syahwat yang menggoncang. Dari kepribadian kita sebagai sosok manusia. Mampu menahan diri dari hal-hal fundamental semacam itu, ada segenggam pengorbanan yang mesti kita kerahkan. Sebuah pengorbanan, untuk rela mengabdikan diri di hadapan Tuhan.

Dan jangan pernah merasa khawatir kalau pengorbanan itu akan sia-sia. Selama kita masih menjadi hamba yang beriman. Pengorbanan yang kita upayakan, tidak akan berakhir secara cuma-cuma. Itu semua bakal dibalas dengan balasan yang luar biasa. Bahkan ganjaran yang dimaksud, takkan pernah terlintas dalam bayangan manusia. Yang terpenting adalah, siapa yang rela melakukan apa saja demi tuhannya, maka bersiaplah keberuntungan akan selalu meliputinya. Percayalah.

Ketiga, penyucian.

Setiap sesuatu itu butuh yang namanya ‘bersih’. Atau lebih tepatnya, proses pembersihan. Misalnya begini: setelah bermain seharian, baju yang kita gunakan untuk bermain itu akan kotor, sehingga mengeluarkan bau hapeuk yang membuat hidung seketika mogok untuk bertugas lagi. Setelah mencium bau busuk di baju tadi, kita tentu tanpa perlu pikir panjang, takkan keberatan jika diminta untuk mencuci baju tersebut, bukan?

Setiap sesuatu perlu untuk kita bersihkan. Termasuk perkara hati. Hati akan kotor setiap kali melakukan perbuatan dosa. Semakin banyak maksiat, semakin kotor dan keraslah hati manusia. Meskipun wujudnya tidak tampak, hati menjadi hal penting untuk selalu kita bersihkan, di setiap harinya. Dan cara ampuh untuk menyucikan hati, adalah salah satunya dengan berpuasa. Kenapa? Karena dengan puasa, membuat kita tunduk untuk tidak melakukan perbuatan dosa. Dan ingat. Saat perbuatan dosa sudah berhasil kita pinggirkan, maka kesucian hati sebuah keniscayaan yang akan kita dapatkan.

Keempat, perjuangan.

Berpuasa di bulan Ramadan, merupakan perjuangan besar. Karena sekali lagi. Tidak mudah untuk bisa berpuasa, dengan puasa yang sebenar-sebenar puasa. Nabi pernah menyampaikan, betapa banyaknya dari kita yang berpuasa, hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus saja. Tidak ada atsar, dampak positif yang dirasakan. Rasa takwa memudar dan tidak mengalami peningkatan. Bahkan semua terasa berlalu begitu saja. Kenapa? Karena, kata isyarat Nabi, zohirnya manusia saat itu emang keliatan puasa. Tapi ternyata tidak dengan batinnya.

Puasa tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum saja. Tetapi lebih khusus dari itu, menjaga seluruh anggota badan, untuk tidak bermaksiat di hadapan Tuhan. Ada tangan, kaki, perut, mata, (maaf) kemaluan, telinga, pikiran, dan hati yang perlu kita jaga dari ragam kesalahan. Dan—menurut pandangan kebanyakan orang—tidak mudah untuk bisa melakukan itu semua. Ada deretan perjuangan yang setiap detiknya harus kita torehkan. Dan Tuhan, sekali lagi, ingin melihat seberapa besar kita berjuang.

Kelima, keikhlasan.

Ujian berbentuk ‘keikhlasan’ ini, akan terlihat sebetapa tulusnya ibadah ini benar-benar kita peruntukkan untuk Tuhan. Apakah yakin ikhlas hanya untuk Allah semata? Atau malah cuman pingin dilihat orang saja? Atau bahkan, cuman tergiur dengan hadiah yang akan orangtua berikan? Dari sini semua akan tersingkap jelas.

Maka dari Ramadan ini, Tuhan benar-benar menginginkan hambanya untuk tidak bersikap agresif sekali untuk mengejar hiruk-pikuk dunia. Seakan-akan ada pesan yang tersampaikan kepada kita. Ah, dunia itu sementara. Sudahlah. Berhentilah berlelah-lelah mengejar dunia, tanpa ada sedikitpun memanfaatkannya buat mengejar kehidupan berikutnya. Mari serius ibadah, dengan menjadikannya hanya untuk Tuhan semata.

Keenam, latihan.

Jarak interval waktu dari awal Ramadan sampai ke akhir bulan, itu ada kisaran sekitar 30 hari kurang. Selama putaran hari-hari itu, selain diminta untuk menahan diri agar tidak melakukan ragam kemaksiatan, kita juga dituntut untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya. Selama satu bulan penuh kita diminta untuk melakukan itu.

Kalau kita merenung sejenak, dari sini kita bakalan paham, dari keseharian yang kita isi di bulan Ramadan, itu semua akan menjadi proses latihan untuk kita, untuk menjalani hari-hari di bulan-bulan berikutnya. Menjalani hari-hari dengan semangat ibadah, serta terbiasa untuk tidak menyemplung ke dalam dunia kemaksiatan. Ini semua latihan bagi kita. Dan Allah meminta kita serius melakukan latihan tersebut di bulan Ramadan, agar nanti terbiasa melanjutkan kebaikan secara berkelanjutan.

Ketujuh, I’tibar.

I’tibar artinya mengambil pelajaran. Dan pelajaran itu akan didapat setelah kita melakukan proses perenungan. Dari Ramadan kita cukup tertuntut untuk belajar lebih banyak. Sehingga dengan ini semua, kita jadi tahu, misalnya, betapa besar perjuangan (menahan lapar) orang-orang di luar sana yang nasibnya tidak sama. Kita jadi tahu, oh ternyata mereka-mereka itu sangat membutuhkan uluran bantuan dari kita. Kita juga bakal belajar, ternyata untuk mendapatkan rida dan kasih sayang Tuhan itu membutuhkan yang namanya perjuangan dan pengorbanan.

Saat Ramadan, kita juga akan dipertemukan dengan suasana silaturrahim yang begitu erat antar banyak orang. Kita merasakan indahnya perdamaian. Kita merasakan serunya saling beri bantuan. Kita akan tahu betapa nikmatnya membaca al-Qur'an dengan penuh penghayatan. Merasakan rahasia-rahasia islam yang begitu mendalam. Dan tentunya, masih banyak lagi yang akan kita dapatkan dari sana. Ya, dari Ramadan ini, Tuhan juga menginginkan kita, untuk sering-sering mengambil hikmah, dan mengutip ragam siratan pelajaran.

Ini hanya sekelumit pelajaran yang bisa kita ambil dari adanya pensyariatan puasa di bulan Ramadan. Banyak lagi sebenarnya. Tetapi dari yang hanya sekelumit ini, setidaknya kita jadi tahu alasannya kenapa kita mesti serius, dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan keistimewaan bulan Ramadan. Kita jadi paham, betapa meruginya kita, saat bersikap biasa-biasa saja saat menjalani keseharian di bulan penuh kemuliaan.

Harapannya di kesempatan Ramadan tahun ini, kita mampu merealisasikan tujuh hal mendasar tadi. Semoga kita bisa merasakan patuh yang mendalam saat ibadah di hadapan Tuhan, rela berkorban dengan segala macam bentuk rintangan. Bisa bersuci dari lumuran dosa, meminta ampunan dari Allah yang Maha Penyayang. Berjuang semaksimal mungkin saat mengejar keistimewaan Ramadan. Ikhlas, menyerahkan diri, menjadikan seluruh ibadah cuman semata-mata untuk Tuhan. Bisa serius latihan, agar mampu melanjutkan kebajikan di bulan-bulan kedepan. Dan bisa menjadi hamba pintar, yang senantiasa mengambil banyak pelajaran. Semoga.