Ralf Rangnick akan menyulap Manchester United (MU) menjadi menakutkan seperti Liverpool. David De Gea dan kawan-kawan bakal menerapkan filosofi heavy metal gegenpressing di stadion Old Trafford. Rangnick inspirator bagi Jurgen Klopp. Rangnick gurunya Thomas Tuchel, Ralph Hassenhuttl dan Julian Nagglesman.

Ralf Rangnick sukses di Hoffenheim dan RB Leipzig. Filosofi mantan pelatih Schalke 04 itu merevolusi sepakbola Jerman hingga meraih juara dunia 2014. Mungkin itu euforia yang ada di kepala pendukung Manchester United saat mendapat kepastian penunjukan Ralf Rangnick sebagai manager sementara MU. 

Puja-puji yang menyiratkan antusiasme pun terlihat di media-media sepakbola Inggris. Baik fans maupun media tampaknya sudah membayangkan pria kelahiran 29 Juni 1958 tersebut langsung mampu menyulap MU menjadi seperti Liverpoolnya Jurgen Klopp atau Chelseanya Thomas Tuchel. Namun benarkah demikian?

Kemunculan The Professor

Semua kredit pada Rangnick memang benar. Pada Februari 1983, skuad Viktoria Backnang, klub kecil divisi enam Liga Jerman,  menghadapi tim Dynamo Kiev asuhan pelatih legendaris Valery Lobanovsky.

Pelatih Victoria Backnang yang masih berusia 25 merasa tertekan selama 90 menit. Timnya bahkan tidak diberi kesempatan bernafas dan meletakkan bola di kaki pemainnya. Ia merasa timnya tertekan secara sistematis.

Saat itulah instingya mengatakan ia melihat permainan sepakbola yang berbeda. Pelatih muda tersebut bernama Ralf Rangnick. Sejak itu, ia selalu mencatat dan mempelajari Dynamo Kiev besutan Lobanovsky tiap mereka berkunjung latihan ke Backnang.  Kebetulan, saat itu Rangnick juga sedang mengambil lisensi pelatih.

Sepakbola Jerman di era 80an dikuasai oleh formasi 3-5-2 dengan libero dan sistem penjagaan orang-perorang . Formula itulah yang membawa mereka menjadi juara dunia dan Eropa sejak 1974. Inspirasi sepakbola menyerang-menekan Rangnick yang didapatkan dari Valery Lobanovsky, Arigo Sacchi dan Zdenek Zeman terasa aneh saat itu.

Pasca Piala Dunia 1998, berkaratnya sistem libero Jerman terlihat. Saat itu Der Panzer disingkirkan Kroasia di perempat final dengan skor 3-1. Kekalahan tersebut memicu sepakbola Jerman memikirkan rancang ulang strateginya.

Pada sebuah wawancara televisi, Rangnick memaparkan idenya tentang sepakbola menekan-menyerang. Ia kemudian dijuluki Profesor. Problemnya, ide Rangnick masih mengalami resistensi dari kubu konservatif sepakbola Jerman saat itu.

Rangnick saat itu sedang mengalami karier bianglala dari klub kecil ke klub papan tengah. Sejak 1997-2005, ia menangani Ulm 1864, VfB Stuttgart dan Schalke 04. Rangnick tidak pernah benar-benar berhasil di klub-klub tersebut. Mengantar Schalke 04 menjadi runner up Bundesliga dan DFB Pokal 2004-2005 adalah prestasi terbaiknya sampai saat itu.

Di Hoffenheim Rangnick mencapai puncak awal kariernya. Ia membawa klub tersebut dari divisi tiga hingga peringkat ketujuh Bundesliga dalam waktu tiga musim. Kunci suksesnya, Rangnick mendapat otoritas dan kebebasan penuh menangani tim.

Rangnick berwenang sejak mengimplementasikan filosofi bermainnya di lapangan hingga merekrut pemain. Ia lebih senang merekrut pemain di bawah usia 23 tahun. Alasannya, pemain muda lebih mudah menyerap filosofi baru, fisik lebih kuat untuk bermain menekan-menyerang dan bisa dijual dengan harga yang lebih mahal.

Pada September 2008, Hoffenheim mengalahkan Borussia Dortmund besutan Jurgen Klopp dengan skor 4-1. Kekalahan tersebut menginspirasi Klopp memformulasikan dan memainkan gegenpressing. Klopp menemukan gaya bermain yang ingin diterapkannya. Kala itu, filosofi Rangnick pelan tapi pasti mulai diyakini lalu dipraktikkan oleh hampir semua pelatih Bundesliga hingga timnas Jerman.

Setelah itu, Rangnick kembali ke Schalke 04. Pada musim 2010-2011, ia mempersembahkan DFP Pokal dan membawa anak asuhnya menuju semifinal Liga Champions. Sebelum dihentikan oleh klub masa depan Rangnick, Manchester United.

Selanjutnya RB Leipzig yang menjadi bukti tangan dingin Rangnick. Di sana, Rangnick menerapkan kemajuan teknologi dan analisis rinci untuk memoles bakat pemain lalu menjualnya dengan harga yang menguntungkan dan mengganti dengan pemain berbakat lain. Tentu saja ia tetap konsisten menerapkan filosofi menekan-menyerangnya.

Deretan bakat yang dipoles Rangnick di antaranya, Manuel Neuer, Joel Matip dan Julian Drexler saat di Schalke 04. Kemudian ada Roberto Firmino (Hoffenheim), Naby Keita dan Timo Werner (RB Leipzig).

Rangnick meyakini, pemain akan termotivasi bila pelatih dapat membuat mereka menjadi lebih baik.  Hal-hal penting lain seperti taktik, aturan, kebugaran akan dipatuhi dan dipenuhi pemain bila pelatih bisa mengubah pemain menjadi lebih hebat.  

Maka logis bila dari beberapa kandidat yang diwawancara manajemen Manchester United, Rangnicklah yang paling meyakinkan. Berdasarkan rekam jejaknya, ia memang konseptor andal yang sangat mungkin mudah meyakinkan pemegang kepentingan saat presentasi.

Keraguan Pada Rangnick

Rangnick terbukti mampu mengubah tim buruk menjadi tim bagus. Namun, mantan pelatih Vfb Stutgart itu tampaknya masih belum meyakinkan membangun tim bagus menjadi tim juara. Gelar juara paling mentereng yang pernah diraihnya hanya DFB Pokal 2010-2011 bersama Schalke 04.

Rangnick sebagai pelatih mungkin lebih mirip seperti Marcelo Bielsa, Klaus Topmoller, Hector Raul Cuper atau Mauricio Pochettino. Mereka terkenal sebagai pelatih yang berhasil membangun tim semenjana menjadi tim yang kompetitif. Namun mereka belum berhasil menyuntikkan mental pemenang kepada para pemain. Koleksi gelar juara mereka masih kering.

Manchester United adalah klub besar pertama yang ditangani Rangnick sepanjang 38 tahun karier melatih. Mantan pelatih TSG Hoffenheim tersebut memang dipuji memiliki filosofi permainan yang meyakinkan. Namun, kekurangan pengalaman melatih klub besar tentu menjadi tanda tanya kompetensinya menangani tim.

Apakah Rangnick memang ahli memilih pelatih dan pemain, menanamkan filosofi permainan tapi kurang lihai mengendalikan sekumpulan pemain yang punya ego tinggi? Apalagi di MU sekarang. Inilah skuad termewah yang pernah ditangani Rangnick sepanjang kariernya.

Lagipula, manajer di tengah musim tidak akan mampu menjalankan filosofi permainannya secara komprehensif. Tidak ada waktu latihan yang cukup untuk beradaptasi. Komposisi pemain yang tersedia pun belum tentu cocok dengan filosofi bermain manajer tersebut. Sedangkan sulit merealisasikan pembelian pemain penting pada bursa transfer tengah musim di bulan Januari. 

Beberapa Kemungkinan Akhir Musim

Rangnick berpeluang memperkenalkan filosofi bermain menekan-menyerangnya. Pria yang pernah melatih Hannover 96 tersebut juga dapat memberikan rapor pemain dalam menerapkan filosofi menekan-menyerang pada pelatih baru. Tentu sebagai konsultan pada musim depan, ia berwenang memilih manajer yang memiliki filosofi sama dengannya.

Dengan semua pertimbangan tersebut, ekspektasi ideal bagi pendukung MU hanyalah meraih posisi empat besar Liga Inggris di akhir musim. Memang MU masih berkompetisi di Piala FA dan Liga Champions.

Namun menjuarai salah satu atau bahkan kedua kompetisi tersebut sebaiknya hanya dianggap sebagai bonus ekstra bila terjadi di akhir musim. Ralf Rangnick belum punya rekam jejak sebagai manajer juara yang andal menangani klub besar sejauh ini.

Bahkan, bukan tidak mungkin Rangnick hanya akan membawa The Red Devils berkompetisi di ajang Liga Europa musim depan. Hal itu dapat terjadi bila Rangnick gagal mengimplementasikan filosofinya karena para pemain tidak terbiasa dengan struktur menekan-menyerang sedangkan ia gagal menemukan pola yang sesuai dengan kapasitas pemain yang tersedia saat ini.