2 tahun lalu · 1785 view · 5 menit baca · Agama salman.jpg
Raja Salman

Raja Salman Tak Pantas Menyandang Gelar Raja

Beberapa hari yang lalu kedatangan Raja Salman telah menyita perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia yang hingga kini masih digemparkan dengan hiruk-pikuk soal pilkada. Ada yang bersuka-cita dengan kedatangan sang raja. Tapi tak sedikit juga masyarakat Indonesia yang merasa biasa-biasa saja.

Sejak dari bandara hingga tiba menuju istana, Raja Salman mendapatkan sambutan istimewa dari para ulama dan para pejabat negara kita. Di bali, Raja Salman menginap di hotel bintang lima yang konon tarif permalamnya mencapai puluhan juta. Karena Raja Salaman adalah seorang raja, maka hal seperti itu tentu adalah hal yang biasa. Apalagi ia tiba di negeri tercinta sebagai tamu negara.

Menyambut seorang tamu negara dengan kemewahan dan rasa suka cita tentu tidak ada salahnya. Islam sendiri memberikan tuntunan agar kita memuliakan orang yang bertamu ke rumah kita. Dalam sebuah hadits, misalnya, Rasulullah Saw bersabda: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir falyukrim dhaifah” (Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya)”

Selama seseorang datang untuk bertamu kepada kita, maka ia harus dimuliakan sebagaimana mestinya. Tak peduli apakah tamu itu Donal Trump, Erdogan, Bassyar Asad maupun Raja Salman yang kini berkunjung ke Indonesia. Memuliakan tamu—seperti yang tercermin melalui hadits di atas—adalah bagian dari tuntunan Agama kita.

Saya tak begitu paham apa tujuan utama kedatangan Raja Salman di Indonesia. Apakah betul Raja Salman ingin membangun kerjasama dan mempererat tali persatuan dengan Indonesia? Atau jangan-jangan—seperti yang dicurigakan oleh sebagian kalangan—ia dan rombongannya datang untuk menginvestasikan ajaran Wahabi yang selama ini dikutuk oleh para ulama kita. Saya tidak bisa berkata iya, juga tidak bisa berkata tidak.

Yang menjadi bahan renungan saya saat ini adalah status Raja Salman sebagai raja yang selama ini diperlakuan secara istimewa sedemikian rupa. Secara pribadi, saya tidak memendam rasa iri kepada Raja Salman dengan limpahan kekayaan dan kemegahan yang dimilikinya. Kedudukan dan kekayaan yang dimiliki oleh Raja Salman adalah anugerah dan karunia dari Allah Swt.

Sudah menjadi ketentuan-Nya, bahwa di dunia ini manusia diciptakan dengan bekal kekayaan dan kedudukan yang berbeda-beda. Di antara hamba-Nya ada yang ditakdirkan sebagai rakyat jelata, ada juga yang ditakdirkan sebagai penguasa. Di antara mereka ada yang hidup miskin papa, dan sebagian dari mereka ada juga yang ditakdirkan hidup kaya raya.

Raja Salman masuk kedalam kategori hamba Allah yang kedua. Di samping sebagai penguasa, Raja Salman dikaruniai bekal harta yang melimpah dan kedudukan yang istimewa di mata manusia.

Kekayaan yang dimilikinya telah membuat hidupnya serba mudah dan bisa meraih apa saja. Gelar raja yang disandingkan dengan namanya telah menjadikannya sebagai orang terhormat yang diagungkan di belahan dunia manapun ia menginjakkan kakinya.

Itulah Raja Salman. Dan itulah potret kehidupan raja-raja di dunia pada umumnya. Kehidupan mereka adalah kehidupan yang serba ada. Kedudukan mereka adalah kedudukan yang dihormati oleh siapapun saja.

Orang yang harta dan kedudukannya biasa-biasa saja mungkin akan merasa iri kepada meraka. Namun, sebagai hamba, kita tak memiliki pilihan lain kecuali rida dengan seluruh ketentuan dan ketetapan Yang Maha Kuasa.

Jika kita ditakdirkan hidup miskin maka kita harus bersyukur dengan yang ada. Dan jika kita ditakdirkan hidup kaya maka kekayaan itu tak boleh membuat kita bangga dan jumawa di hadapan orang-orang yang kekayaannya di bawah kita.

Kita perlu menyadari bahwa baik raja maupun rakyat jelata, miskin ataupun kaya, terhormat ataupun hina, istimewa maupun tidak istimewa, di mata Tuhan Yang Maha Kuasa seluruh umat manusia itu terikat dengan satu tali ikatan yang sama. Mereka semua adalah hamba yang lemah dan tak memiliki kuasa apa-apa. Mereka semua adalah makhluk tak berdaya yang kelak akan kembali kepada Penciptanya. 

Di hadapan manusia, seorang manusia seperti raja boleh saja diagungkan sedemikian rupa. Tapi di hadapan Yang Maha Kuasa, semua manusia adalah sama dan yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya adalah adalah iman-takwa serta amal kebajikan yang dilakukannya.

Islam memandang manusia setara. “La farqa baina 'arabiyyin wa ‘ajamiyyin illa bittaqwa” (Tak ada yang yang membedakan antara seorang Arab dengan orang non-Arab kecuali takwa). Demikian sabda Nabi kita.

Di dunia, derajat seorang manusia bisa saja ditentukan oleh sebuah jabatan, gelar, maupun tumpukan harta. Tapi di hadapan Allah Swt, semua itu tak akan ada artinya jika apa yang kita miliki tak disertai dengan keimanan yang lurus dan hati yang ikhlas dalam menyembah dan mengabdikan diri kepada-Nya.

Hanya kepada-Nya kita menyembah. Dan hanya di tangan-Nya nyawa kita berada. Dialah Sang Maha Raja Diraja Penguasa jagad raya yang berhak kita agungkan dan kita sembah dengan seluruh jiwa raga kita.

Raja di dunia semuanya adalah raja palsu yang tak pantas menyandang gelar Raja. Mereka boleh menyandang gelar raja, tapi mereka harus ingat bahwa “kerajaan” mereka tak akan pernah mampu menghampus status kehambaan mereka kepada Sang Maha Raja Diraja Penguasa Jagad raya beserta isinya.

Al-Quran menggambar kehidupan dunia ini sebagai kehidupan yang berisikan senda-gura dan permainan saja. Kehidupan yang sesungguhnya, kata al-Quran, adalah kehidupan di alam baka (QS 29: 64)

Kehidupan di dunia tak akan ada artinya jika dibandingakan dengan kehidupan di alam sana. Kehidupan di dunia adalah kehidupan yang fana. Sedangkan kehidupan di alam sana adalah kehidupan yang abadi dan kekal sepanjang masa.

Dunia tempat kita berpijak pada hakikatnya sarat dengan kepalsuan dan penuh dengan tipu daya. Orang yang tadinya berstatus raja bukan hal yang mustahil jika kelak ia menjadi rakyat biasa-biasa saja. Orang yang saat ini kita pandang paling kaya di dunia sangat mungkin di kemudian hari menjadi orang yang paling miskin sejagad raya.

Orang yang kita pandang sebagai sosok yang mulia saat di dunia tak menutup kemungkinan jika di kemudian hari ia menjadi manusia yang hina dan tak dihormati oleh siapa-siapa.

Orang yang kita pandang mulia selama dunia belum tentu bisa menjadi orang yang mulia di alam sana. Sebagaimana orang yang kita pandang hina ketika dunia, tak menutup kemungkinan jika kelak ia menjadi orang yang lebih mulia ketimbang orang yang dimuliakan ketika di dunia.

Itulah tipuan dunia. Itulah tipuan dunia yang selama ini kita kejar dengan mengorbankan harta, nyawa bahkan Agama. Sampai kapanpun dunia tak akan pernah mampu menjanjikan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dunia hanya mampu menyediakan kesenangan dan kenikmatan saja. Tapi dunia tak akan pernah mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan yang kekal sepanjang masa.   

Dunia menjadi tidak ada artinya tatkala ia menjauhkan kita dari Sang Pemilik dunia. Dunia hanya akan bermakna jika ia kita gunakan sebagai kendaran untuk menjemput rida Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tenggelam dalam kenikmatan dunia tak jarang membuat kita lalai dan lupa kepada Sang Pemilik dunia. Tapi kedekatan dengan Sang Pemilik dunia pasti akan menjadikan kehidupan kita lebih indah dan lebih bermakna.

Sampai kapanpun, kita semua adalah hamba yang kelak akan menemui Sang Penguasa jagad raya. Baik raja Salman maupun kita, kelak akan meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Yang Maha Kuasa sebagai hamba yang lemah dan tak berdaya. Ketika itu, tak ada lagi yang bisa menyandang gelar raja kecuali Sang Maha Raja Diraja.

Selama di dunia, raja Salman dan raja-raja dunia lainnya boleh menyandang gelar raja. Tapi di alam baka, yang berhak menyandang gelar raja hanyalah Sang Penguasa jagad raya, bukan raja Salman, ataupun raja-raja yang lainnya. Karena mereka semua adalah hamba, sekalipun mereka ditakdirkan hidup sebagai raja. 

Kairo, Saqar Quraish, 6 Maret 2017