Syair-syair perjuangan itu diulang-ulang oleh Jarot. Dirinya sudah mandi keringat dan pada hitungan ke-100 push up-nya. Sedang istigfarnya hampir seribu kali.

Dilakukannya dalam waktu 5 menit, sebagai hukuman mandiri. Ah, ada-ada saja. Air matanya sudah bercampur keringat.

Beberapa push up-nya terhenti karena otot bisepnya sudah kepayahan. Dadanya sesak kehabisan napas. Tampak beberapa tetesan warna merah di lantai. Hidungnya berdarah!

Teringat selalu olehnya sebuah petikan menarik seorang pejuang kemerdekaan di Afghanistan dahulu kala, “Inilah salat Subuh yang tercepat dalam hidupku karena dinginnya salju.” Kata-kata yang pernah diucapkan oleh Singa Padang Pasir, Syekh Abdullah Azzam.

Ini sangat kontras sekali. Mungkin kemenangan bagi Jarot yang justru menghukum diri karena kesalahan yang mungkin itu sudah di luar kemampuannya untuk menolaknya. Sedangkan sang pejuang kemerdekaan dengan petikan di atas itu justru hanya mencari kemudahan saja.

Ada apa kau, Jarot? Apa yang sedang terjadi, hingga berdarah-darah seperti itu? Padahal Jarot sudah mampu dan bisa dikatakan melebihi kemampuan sang pejuang Afghanistan itu.

Bagi Jarot, tak perlu memotong durasi salat karena dingin. Dan dia sudah praktik, bahwa salat itu ada aklimatisasi, bisa merajai keadaan ekstrem apa pun dengan latihan penyesuaian yang teratur.

Tuhan hanya beri izin kanibalisasi wudu dengan tayamum, keadaan darurat dengan salat khauf, musafir dengan jama' qoshor. Namun, tidak untuk suhu ekstrem

Jarot biasa memperpanjang sujud dan rukuknya di tempat-tempat tinggi itu. Selalu menjaga konsentrasi bacaannya. Agar berpadu indah dalam rekonstruktif kardio dan otak.

Dia selalau sukses menghalau bahaya mengantuk saat hipotermia. Ketika para hipotermis itu akan kesulitan bangun tidur jika ia tertidur, cuma ada dua pilihan: terbangun atau tertidur selamanya; mati.

Jarot masih ingat bagaimana terkena hipoksia, keadaan defisit oksigen yang sangat menyakitkan itu akibat tipisnya oksigen di ketinggian. Dia pernah dievakuasi Gino, sejawatnya yang alim dan teman akrab dulu di SMA itu.

Apa hubungannya alim dengan hipoksia? Ternyata remeh. Gino yang alim namun penakut suka wirid. Bacaan-bacaan suci yang dibaca berulang-ulang dengan aturan dan jumlah tertentu itu mampu menghemat respirasi dataran tingginya.

Kata Gino saat mengajari Jarot, ia menjelaskan tentang kontraksi otot diafragma dan torak itu bisa dimaksimalkan oleh solmisasi tilawah hukum tajwid. Bagi Gino, itu sudah biasa dilakukan santri surau di kampungnya. Melatih napas di kolam wudu saat bermain air sambil menyelam.

Kata Gino lagi bahwa pelatihan napas pendek saat latihan tajwid itu menghemat asupan oksigen. Jarot, atau siapa pun, akan megap-megap atau sesak napas defisit 15% pada tekanan 534 mmHg di ketinggian 3000 meter dari permukaan air laut.

Untuk urusan lakrimasi, atau hal mengeluarkan air mata, Gino jagonya. Sesi menangis ini didapatkan saat acara renungan malam 17 Agustusan di kampungnya. Wah, menarik!

Kalau para tokoh politik melakukan renungan malam dengan mengingat kegagalan partainya yang otomatis air mata menetes deras. Teringat uangnya ludes untuk kampanye.

Namun, beda dengan latihan lakrimasi si Gino. Guru ngajinya hanya menyuruh mengingat ibunya. Ya hanya ibunya. Maka keluarlah dengan deras air matanya.

Lakrimasi Gino biasa meledak pada hulunya, atau saat Gino disuruh pak ustaz untuk membaca ayat-ayat duka lara. Tentang ancaman neraka dan ayat-ayat permohonan ampun.

Gino juga sukses di gunung. Menangis, meresapi betapa kecilnya dirinya. Menurut Gino, menangis di gunung itu perlu. Membantu bola mata agat tetap lembab.

Belakangan diketahui bahwa Sindrom Sjogren bisa mengeringkan air mata atau hipolakrimasi hingga buta. Maka. si Gino pun menelaah kebalikannya, bahwa ketika banjir air mata juga dapat membutakan.

Seperti yang terjadi pada Nabi Ya’qub as atas derita kehilangan anak tercintanya, Nabi Yusuf as. Nabi itu menangis terus. Hingga, memutih matanya dan akhirnya buta.

Karakter Jarot benar-benar dibentuk oleh Gino. Jarot selalu dinasihati oleh Gino bahwa seorang pendaki itu harus bijak dan berani berlatih menghadapi penyakit ketinggian.

Melatih durasi salat dan hafalan surah-surah panjang untuk memberi ruang aklimatisasi yang cukup pada interval waktu salat yang sudah ditentukan. Akan terasa nikmat saat tahiyatul akhir. Tentunya ditutup dengan salam dan diakhiri dengan sebatang sigaret kretek dan secangkir kopi hangat itu.

Namun, Gino agak kecewa dengan Jarot. Apa yang dilakukan di pendakian Gunung Argopuro itu sangat memalukan. Seolah menghapus semua militansi yang pernah diajarkan.

Waktu itu, di penghujung akhir semester, dua tahun yang lalu. Ketika Jarot belum kenal Lidya. Yang dikenalnya hanya Katerina, gadis yang hirsutisme itu. Sebuah anugerah kelebihan pertumbuhan rambut itu. Hampir-hampir Katerina berkumis. Lengan dan betisnya penuh rambut halus.

Jarot saat itu di puncak kariernya sebagi ketua suku organisasi kepecintaalaman di fakultasnya. Liburan kala itu berbarengan dengan datangnya awal puasa. Namun, tak menyurutkan niat Jarot untuk mendaki Gunung Argopuro, edan. 

"Usahakan tiga hari," kata Jarot.

"Ngawur!" Katerina protes.

“Kok ngawur?"

“Baiklah, tiga hari,” Katerina lucu banget, tiba-tiba saja mengiyakan tanda putus asa. Begitu menggebunya terhadap wajah Jarot, entah cinta apa nafsu, yang pasti selalu menurut, manut.

“Setuju,” kata Gino. Dia itu humoris, tak peduli konflik. Semua dilahapnya mentah-mentah penuh canda dan ramah.

“Hurrah!” ketiganya berjingkrak bak calon siswa Navy Seal.

Jarot memaksa. Tiga hari menggempur trek Argopuro dalam keadaan berpuasa. Gunung yang menyandang peringkat pertama trek terpanjang di pulau Jawa itu akan dilahapnya dengan modal dengkul.

Marinir saja dua hari, ini sipil kok yakin banget? Panjang trek sejauh kurang lebih 40 km. Padahal standar waktu tempuh sekitar 5-6 hari bagi pendakian normal.

Gunung ini berada dalam kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang. Wilayahnya luas, sekitar 15 ribu hektare. Sekali nyasar dan hilang bisa jadi tamat. Hewan liar pun tanpa malu-malu sering melintas di jalur pendakian. Satu lagi yang membuat ini gila, Ramadan!

“Rin, sudah penuh power bank-nya?” tanya Jarot kepada Katerina.

Dara itu tampak nyenyat, lanyak tak acuh, sibuk dengan handphone-nya.

“Aku sudah bawa charger sel surya, kok, Rot!” seru Gino.

“Bagus!”

Pukul delapan pagi yang cerah, terlihat beberapa pendaki mulai berangkat meniti trek awal gunung Argopuro. Jalanan berupa makadam dengan suasana dan pemandangan pedesaan yang begitu asri.

Tak rugi dengan tiket masuk yang terbilang mahal untuk gunung ganas seperti Argopuro ini.

"Cuma bertiga, Dik?" sapa seorang paruh baya pencari arnong, si selada air itu

"Iya, Pak," jawab Katerina.

“Hati-hati, Dik!”

Tanpa menjawab, Katerina meneruskan langka beratnya. Bagi pemegang adat, memang janggal jika bertiga. Sakulah sebuah batu dari salah satunya. Itu petunjuk adat kalau tetap memaksa berangkat ganjil.

Bagi Jarot dan Gino sendiri, mendaki jumlah besar itu tabu. Sangat mengganggu alam. Kebisingan, sampah, dan risiko rusakan besar. Jarot mendapatkan dogma ini dari para seniornya yang bermotto: "Sadar Kawasan!" Kekinian topik "Sadar Kawasan" sudah banyak dikampanyekan di media sosial.

Dulu, Jarot selalu mengimbau mereka untuk tidak mendatangi kawasan Cagar AlamJarot selalu mewanti-wanti pengembalian Cagar Alam ke fungsi awalnya. Dan hanya boleh didatangi yang punya kepentingan penelitian.

“Memang apa bedanya Cagar Alam dengan Suaka Margasatwa?” tanya Katerina tiba-tiba.

Pertanyaan itu bagai menampar Jarot. Hari ini mereka bertiga sudah berada di salah satu kawasan yang ditanyakan tadi, yaitu Gunung Argopuro yang masuk dalam kawasan Suaka Margasatwa.

Jarot punya alasan yang dibuat-buat untuk Argopuro ini. Katanya, untuk mengukur volume oksigen maksimal paru-parunya. Para atlet menyebutnya dengan VO2 max! Hmm, sepertinya alasan yang dibuat-buat.

Jarot yakin apa yang dilakukannya ini berjenis penelitian ilmiah, hahahaha. Jadi boleh dan bebas memasuki kawasan Suaka Margasatwa. 

Dia biasa mengatakan di forum-forum "Sadar Kawasan" bahwa Cagar Alam dan Suaka Margasatwa itu beda sedikit dan hampir mirip Setali tiga uang dengan Kas Daerah, membuka luas kawasan Cagar Alam dan Taman Marga Satwa. 

Katanya, Cagar Alam itu mempunyai kekhasan atau keunikan jenis tumbuhan dan keanekaragaman yang memerlukan upaya perlindungan. Sedang Suaka Margasatwa berfokus pada satwa liarnya. Dan, kini mereka melanggarnya dengan alasan yang dipaksakan.

Hentakan kaki-kaki mereka berlanjut. Beberapa kali diselingi pasang aksi untuk dijepret di photobooth alami. Ada pohon berbatang besar, bongkahan batu hingga apa pun yang bisa laku untuk komoditas notifikasi dan like di media sosial.

Gino juga pernah melanggar kampanyenya sendiri tentang “Sadar Kawasan”, saat dirinya melatih apa yang telah diberikan ke Jarot. Gino teringat mendaki gunung Semeru yang masuk dalam kategori kawasan Taman Nasional yang hingga kini masih dipromosikan sebagai kawasan wisata terbuka. Padahal, menurut konsep "Sadar Kawasan", ini jelas melanggar aturan.

Dan, lebih parah lagi si Katerina, rumahnya yang di Surabaya dekat dengan Taman Hutan Raya R. Soerjo komplek Gunung Arjuno-Welirang itu, hampir tiap akhir bulan mendaki gunung tersebut.

Terus yang dimaksud kampanye itu mana? Mencari alasan yang dipaksakan agar terkesan penelitian ilmiah? Atau hanya pesanan korporat efek persaingan bisnis? Entahlah.

“Bapak tadi itu bawa arnong, ya?” tanya Katerina memecah keheningan. 

Sedari tadi hanya riuh oleh dengus napas dan sesekali terdengar batuk-batuk efek terkurasnya oksigen. Ditambah lagi suara menjijikkan dahak yang warna kuning nikotin itu beberapa kali dikeluarkan paksa oleh pemiliknya. 

“Itu khas vegetasi Argopuro, lumayan mahal harganya,” terang Gino.

“Lumayan juga dampak pengambilan arnong si selada air di sini, jalur-jalur terbentuk oleh gerusan ban motor,” tambah Katerina.

“Coba, tuh, Jarot dikampanyekan,” Gino terkekeh. Jarot hanya tersenyum. Melawan penduduk kaki gunung? Berpikir dua kali. 

Selain berladang dan berkebun, penduduk kaki gunung Argopuro melakukan pengambilan arnong sebagai mata pencaharian sampingan di kawasan Cikasur, sebuah hamparan sabana di ketinggian 1500 meter yang dihiasi oleh sungai kecil yang jernih itu.

“Kampanye pelarangan pengambilan arnong sama saja bunuh diri,” kata Jarot.

“Kan, tugasmu itu?” sindir Katerina.

“Dulu pernah ada kejadian di sini yang seram, ketika penduduk merebut wilayah hutan.”

“Hah! Kok berani?” tanya Gino.

“Mari istirahat dulu,” tawar Jarot.

Sudah tengah hari. Puasa lagi. Bibir-bibir mulai mengering. Haus mencekik leher. Gino yang berperawakan agak gemuk itu menyiramkan air ke kepalanya. Tampak segar. Entah berapa tetes yang tak sengaja masuk ke mulutnya.

“Itu fenomena gerakan-gerakan juru selamat, ratu adil, gerakan pribumi, gerakan kenabian, dan gerakan penghidupan kembali. Ketika masyarakat pinggir hutan ini, termasuk yang ada di wilayah Tapal Kuda, merebut tanah Perhutani," terang Jarot.

 “Tapal Kuda?” tanya Katerina.

“Ya, istilah daerah sepanjang lereng pegunungan Argopuro yang membentang mulai dari Probolinggo hingga Banyuwangi, itulah Tapal Kuda.”

“Terus, bagaimana, Rot, peristiwanya?” tanya Gino.

“Kondisi hutan awalnya berupa hutan lindung dalam naungan Perhutani kemudian direbut oleh masyarakat, dijadikan lahan pertanian kopi, pisang, dan tanaman jenis lain,” jelas Gino.

‘Wih, serem.”

“Seseram cerita Dewi Rengganis,” celetuk Jarot.

“Yuk lanjut,” tawar Jarot.

Dia sengaja memutus cerita Dewi Rengganis. Katerina penakut, pun si Gino. Argopuro memang tak lepas dari cerita Dewi Rengganis. Nama itu diabadikan di salah satu puncak gunung Argopuro.

Masyarakat sekitar Argopuro pun sebenarnya lebih mengenal nama Rengganis dari pada Argopuro. Nama Argopuro berlatar belakang dari adanya reruntuhan pura atau kompleks kraton di puncak yang konon menjadi kerajaan di mana Dewi Rengganis menghabiskan hidupnya setelah mengasingkan diri karena terdesak persaingan kekuasaan.

Seperti gunung-gunung lainnya, pendaki harus berberhati-hati dan menjaga tingkah laku. Tidak boleh berkata kasar dan berteriak-teriak di Argopuro. Jika tidak, menurut masyarakat setempat, Dewi Rengganis akan marah dan mengakibatkan kabut turun, bahkan disertai hujan badai.

Beberapa cerita juga menyebutkan pendaki ada yang hilang karena menghadapi kemarahan Dewi Rengganis.

“Bagaimana tentang Taman Hidup, Jarot ?” tanya Katerina.

“Ah, sama dengan danau-danau gunung lainnya,” jawab Jarot menenangkan suasana. Sore itu mereka sudah sampai di Pos Mata Air Dua.

Seperti biasa, mereka hanya mengguyur-guyur kepala dengan air. Pendakian bulan Ramadan sungguh sepi. Mungkin hanya mereka bertiga, edan!

Tentang Dewi Rengganis, mereka dapatkan hanya dari cerita mulut ke mulut teman-teman yang pernah ke argopuro. Mereka beriga masih mentah tentang hal-hal gaib tersebut.

Saran Jarot tentang larangan berseliweran atau mandi di Danau Taman Hidup cukuplah mudah dilaksanakan. Memang siapa yang mampu bertahan mandi di suhu dingin itu. Katanya, Dewi Rengganis dan dayang-dayangnya suka menggoda pendaki yang menceburkan diri dalam danau.

Sesaat kemudian, tibalah sudah waktu berbuka. Berbarengan dengan datangnya mereka bertiga di Pos Cikasur. Jarot mendirikan tenda, Katerina memasak dan tentunya Gino sibuk mencari kayu-kayu kering untuk perapian.

“Apa Telaga Kautsar yang diceritan pak ustaz sama dengan danau Taman Hidup ya?” tanya Katerina yang culun.

“Jelas gak sama dong,” jawab Jarot.

“Aku pernah baca tentang Telaga Kautsar,” Katerina menyerocos. 

“Gimana?” tanya Gino

“Sebuah sumber mata air yang sangat jernih di surga," terang Katerina.

“Gitu doang?” Gino terkekeh. Penjelasan Katerina terlalu awam. Mana bisa detail. Ngaji saja Senin-Kamis.

Setelah dua hari perjalanan, akhirnya rombongan tiba juga di Danau Taman Hidup yang angker itu. Bilur-bilur kulit akibat sabetan Daun Jancukan berduri panas yang banyak dijumpai sepanjang jalur itu, serasa terobati oleh keindahan Danau Taman Hidup di ujung sore itu. 

Semua tampak bugar, kecuali Katerina yang agak timpang jalannya. Ah, itu wajar.

“Akhirnya sampai juga di sini,” kata Gino yang kepayahan.

"Alhamdulillah," Jarot bersyukur sambil diturunkan tas punggungnya yang tampak berat sekali. Karena harus berbagi dengan Katerina yang cedera.

Keceriaan tetap saja disuguhkan oleh ketiganya. Bagaimanapun payahnya, gunung adalah tempat terbaik untuk mencari muka. Tetap tersenyum bersama untuk merasakan bolak-balik hati, antara nyeri dan ngeri, sepi dan keterasingan, lugu dan bejat, yang kesemuanya berkumpul mengimbangi alam.

Tas-tas punggung besar mulai dibuka, peralatan masak berdentingan keluar dari pembungkusnya. Pelataran danau yang sunyi sedikit riuh oleh mereka. Api unggun telah menyala anggun. Panci panci pun telah tergantung di atas api.

Jarot berjalan mendekati jilatan api unggun yang mulai menari rendah yang dibangun Gino. Sepertinya Katerina mulai kedinginan dan ingin hangatkan tubuhnya.

Gino berganti bercumbu dengan telepon genggamnya. Menggoyang-goyangkan ke kanan kiri; jamak orang melakukan apa yang dilakukan si Gino untuk mencari sinyal 4G bagi antarmuka media sosialnya.

Siaplah unggah foto-foto, sebuah aktivitas yang mungkin terlihat narsis. Namun, bagi sebuah pendakian, itu sangat penting, ketika kita menjadi seorang survivor yang mungkin tersesat, hingga netizen bisa melacak koordinat terakhir foto yang diunggah tersebut.

Gemintang di atas sana tertawa mungil, menahan geli ke arah Gino, seakan jadi narahubung antara kekecewaan minus sinyal dan rasa pantang menyerah.

Tak menyerah dengan keadaan, akhirnya Gino mengangkat telepon genggamnya tinggi-tinggi, seolah ingin menjitak gemintang yang tertawa mungil tadi. Tetap nihil, sinyal terlalu lemah.

Suasana tergagas latitusi, dingin, ambang jauh dari sapuan propagasi sinyal. Diperkirakan hanya dipermainkan relay, amputasi longitudinal, tiada sinyal.

“Woooo… malah selfie.” Jarot menginterupsi. Gino tak sesenti pun bergeming. Kekarkan satu pijakan, rotasikan pijakan lain, membingkai pemandangan yang dipaksa mekar oleh lampu blitz.

“Nyerah, deh.”

“Ya, sudah gak usah online.”

Rainbow Six, Tango over,” canda Katerina ala tactical military speak itu.

“Hahaha….. Rainbow Six? memang siapa yang ditarget?” tanya Jarot .

“Ehhh, tahu arti jargon “Rainbow Six? Katerina balik bertanya.

Tauk!!"

Gito puas dengan swafotonya. Dia paling awal berbuka puasa. Nafsu makannya besar banget. Terlihat dari gunungan nasi di piringnya. 

“Kadang kita harus membidik dua kali." Jarot merancau tak tahan.

“Apaan?” Kernyitlah dahi si Katerina.

Cukup nekat Jarot berkata seperti itu. Gino kecewa dengan kemesraan mereka. Kok bisa jadi begini. Tak seperti Jarot yang biasa dilihatnya. Gino paham, Katerina dengan sejuta mata dan telinganya merekam semua gestur si Jarot. Gino menderu di dadanya dalam sebuah pembelaan norma dan akhlak.

Bulan muncul di ujung awan. Bersinar terang ke danau Taman Hidup. Tak satu pun dari mereka bertiga yang mendekati dermaga kayu reyot di pinggir danau. Waswas dengan ceritanya. Hanya memandang dari pelataran danau.

Kalau diperhatikan betul dengan pandangan tajam terpakau, danau itu memproduksi aneka mimemetolith. Ketika mata menatap batuan dan bukit yang menjadi latar belakang danau, tampak seperti monster yang tidur.

Gambaran-gambaran seram jauh menjadi lebih eksplisit secara psikologis di mana pikiran tertipu oleh masukan sensorik yang berupa objek yang dilihat. Imaji dari dan bentuk-bentuk yang dikenal dan sebenarnya bentuk itu tidak ada.

Perhelatan buka bersama berakhir. Masing-masing puas dengan imajinya. Mulai dari yang religius hingga yang cabul. Dua bukit latar dari Taman hidup diparaskan bak dadanya yang membusung.

Katerina telanjur berimaji sosis yang semenit lalu ditelannya. Memaraskan genital si Jarot yang kadang dicuri pandangnya dalam bungkus yang berlapis-lapis itu. Bagaimana imaji itu cepat tersaji secara nyata, itu yang Katerina tak kuasa menahannya.

“Belum tidur, Rin?" Jarot berbasa-basi.

“Belum. Mana Gino?”

“Di tepi danau, kontemplasi katanya."

Suasana tenda temaram saja. Disinari lampu yang sudah soak dayanya. Katerina berselimut sleeping bag warna gelap. Meringkuk di pojokan tenda. Jarot memasang bantalnya dari tumpukan baju kotornya.

“Sepertinya terkilir juga kakiku yang satu lagi,” ucap Katerina dalam keremangan.

“Masih sakit?”

“Masih, tolong balurkan balsam ini.”

Katerina bangkit. Dibukanya sleeping bag yang menyelimutinya. Jarot bersiap membalur balsam yang diberikan Katerina.

Tak disangka, dalam gelung sleeping bag itu, Katerina sudah tak pakai apa-apa. Jarot kaget. Namun, cepat terkendali dengan menunduk. Katerina mengeluarkan satu kakinya yang terkilir.

Batas bukaan resleting sleeping bag membuat pandangan kontras. Warna gelap sleeping bag beradu dengan kaki mulus Katerina yang terjulur.

“Di sini.”

‘Mana?”

“Lihat dong letaknya.”

Cepat Jarot melumurinya. Dan kembali berbaring. Dengan gejolak membara, diusapnya mukanya untuk menenangkan. Lupa ada sisa balsam. Uhh, panas!!

Katerina kembali meringkuk. Jarot berharap Gino cepat datang. Sialan, pakai kontemplasi di pinggir danau segala.

Jarot gelisa sedang Katerina diam dalam ringkukan ketatnya. Udara memang sangat dingin. Menembus lapisan double layer tenda dome kualitas apa pun. 

Lima belas menit terasa waktu yang lama baginya. Sedang Katerina sudah di titiknya yang itu. Titik berbahaya, bak dalam dunia aviasi, keadaan di mana pesawat berada pada satu titik tertentu yang sudah tidak ada pilihan lain, harus terus melanjutkan perjalanannya sampai tujuan. Pun, tidak boleh kembali ke bandara.

Jika sang pilot memutar arah pesawat kembali ke bandara sebelumnya, maka malapetaka akan menimpa pesawat dan semua penumpang yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu, setiap pesawat yang telah berada pada titik ini, point of no return atau moment ini, maka sang pilot harus terus mengarahkan pesawat itu pada tujuannya. Tidak ada pilihan lain, titik.

“Aku mau ambil kopi dulu, ya?"

“Silakan,” jawab Katerina dengan suara yang sudah berat gemetaran.

Matanya memerah. Tubuhnya sedikit meliuk menggesek sleeping bag yang berbahan dakron itu, terdengar gemeresik sekali.

Jarot keluar dengan kepala pening dan muka terasa terbakar oleh balsam tadi. Dia berjalan menuju menemui Gino di tepi danau. Lama mematung juga di situ.

Keangkeran danau lewat sudah oleh gejolak nafsunya yang tak tertahankan. Sisa-sisa imaji liar kini menguat lagi. Mengalahkan cerita-cerita seram Danau Taman Hidup.

Bukit yang ditatapnya makin terbangun sisi realitasnya. Masih membayangkan wajah Katerina. Momen-momen saat membalur balsam tadi yang sempat menangkap belahannya yang indah itu.

Sedang di tenda itu, suara berisik gesekan dakron itu makin keras saja. Berakhir pekikan kecil. Pertama bagi mereka berdua mendengar pekikan aneh itu.

Ini mungkin yang disebut dengan keseraman dan keangkeran Danau Taman Hidup di Argopuro. Kejadian-kejadian nyata yang bisa membabat habis tatanan logika yang sewaras-warasnya. 

Modal-modal keimanan, semisal hamasah, himayah, rahbaniyah, bisa-bisa anjlok berdebum. Tak perlu diuji dengan hantu atau sejenisnya. Cukup dengan yang itu tadi saja.