Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki perayaan khusus atau tradisi yang unik untuk memperingati Tahun Baru Islam. Tradisi tersebut memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing, tak terkecuali dengan salah satu tradisi yang ada di Kabupaten Magetan, Jawa Timur atau lebih dikenal sebagai Ledhug Suro. 

Ledhug Suro sendiri sudah ada sejak jaman dahulu dan masih dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakatnya. Kini, Ledhug Suro juga menjadi wisata budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Magetan dan mulai menarik beberapa perhatian dari banyak orang yang mulai penasaran akan makna dan filosofinya.

Tradisi Ledhug Suro atau Lesung Suro Bedhug Muharam merupakan ritual Ngalab Berkah Bolu Rahayu yang dipercaya mampu membawa keberuntungan dan keberkahan bagi masyarakat yang mengikutinya. 

Ngalab sendiri mempunyai arti meraih berkah. Selain itu, tradisi ini bertujuan sebagai sarana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkah yang telah Ia berikan selama satu tahun terakhir. 

Ledhug Suro dilaksanakan selama seminggu penuh sebelum tahun baru Jawa dan Tahun Baru Islam. Tradisi ini memiliki beberapa rangkaian acara dan ditutup dengan Rebutan Bolu Rahayu sebagai puncak acaranya.

Rebutan Bolu Rahayu adalah puncak acara yang paling ditunggu-tunggu bagi warga Magetan. Bolu Rahayu merupakan salah satu makanan khas Magetan yang berupa roti dengan bentuk seperti telur namun kedua pucuknya berbentuk lancip dengan rasa manis dan campuran jahe di dalamnya. 

Sebelum puncak acara dimulai, dua puluh ribu bolu rahayu telah dipersiapkan oleh industri rumahan roti bolu yang telah diberikan tugas untuk membuat. Setelah itu, bolu-bolu tersebut disusun rapi pada kerangka bambu yang berbentuk bedhug, gong, gunungan, dan bentuk-bentuk yang lainnya. 

Bolu Rahayu ini dikirap atau diarak oleh para pejabat dinas dari kediaman Bupati sampai Gor Ki Mageti dengan menggunakan kuda serta kereta kencana. Kuda-kuda yang ditunggangi oleh para pejabat merupakan kuda-kuda milik masyarakat sekitar telaga sarangan yang ikut berpartisipasi. 

Namun untuk gunungan bolu rahayu sendiri murni dipanggul oleh beberapa orang yang telah tugaskan dengan berjalan kaki.

Pakaian yang dikenakan oleh para pejabat dan bupati biasanya berupa beskap lengkap dengan blangkon serta bawahan yang berupa batik khas Magetan yang bermotif Pring Sedapur. Pring Sedapur merupakan motif batik khas Magetan yang sudah ada sejak jaman dahulu pula. Pring dalam bahasa Jawa memiliki arti sebagai bambu, namun Pring Sedapur sendiri berarti serumpun pohon bambu. 

Corak ini memiliki filosofi yang sangat tinggi. Tanaman bambu biasanya hidup bergerombol menjadi satu kesatuan dan akan menjadi lebih kuat jika disatukan sedangkan jika diurai akan tetap menjadi sebuah tali yang sangat erat. 

Filosofi pada batik pring menggambarkan masyarakat Magetan yang sangat kental dengan budaya gotong-royongnya. Batik ini berasal dari Dusun Papringan, Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.

Selain para pejabat dan Bupati, ada beberapa Bagus dan Dyah yang ikut mengarak Bolu Rahayu. Bagus dan Dyah adalah putra dan putri daerah yang terpilih sebagai simbol dari sosok kawula muda yang cinta akan daerah. Mereka ditugaskan untuk membawa baki berisikan makanan pelengkap dan mereka juga ikut mengarak roti bolu yang akan dibagikan kepada masyarakat. Bagus dan Dyah ini juga kerap kali ikut serta dalam promosi wisata yang sering dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Magetan. 

Selain tradisi Bolu Rahayu ini, masih ada tradisi-tradisi lain yang sarat akan makna dan masih dipertahankan eksistensinya guna melindungi warisan budaya daerah. Sebagai salah satu kabupaten yang masih berkembang, Dinas Pariwisata Kabupaten Magetan selalu meningkatkan kualitas wisatanya, baik itu wisata alam maupun wisata budayanya.

Antusiasme masyarakat dapat dilihat dari banyaknya jumlah mereka yang mulai berdatang di tempat berakhirnya bolu rahayu dikirap. Semua golongan, baik anak kecil maupun orang dewasa, mulai menunggu di sana untuk berebut bolu rahayu yang dipercaya mampu mendatangkan keberkahan.

Begitu rombongan datang dan aba-aba untuk berebut bolu sudah diumumkan, mereka langsung berlari menuju gunungan bolu rahayu yang telah dibentuk sedemikian rupa dan mereka berusaha sekuat tenaga untuk meraih beberapa roti bolu meskipun sisi kanan dan kiri dari gunungan tersebut sudah dipenuhi dengan kerumunan. 

Meskipun terasa begitu susah dan melelahkan, warga Magetan tetap merasa senang karena dapat ikut serta dalam rangkaian tradisi tanah kelahiran mereka yang masih setia untuk dipertahankan ini.

Jika kalian ingin mengikuti tradisi Ledhug Suro, sangat disarankan untuk tidak membawa anak kecil ketika berebut bolu karena kerumunannya yang sangat ramai dan sesak. 

Masyarakat Magetan berharap bahwa tradisi Ledhug Suro makin dikenal oleh banyak orang agar sektor pariwisata di Kabupaten Magetan juga makin meningkat. Selain itu, keindahan alam dan tradisi dari Kabupaten Magetan perlu mendapatkan sorotan penuh dari berbagai pihak agar Kabupaten yang terletak di Lereng Gunung Lawu ini juga makin maju dalam sektor perekonomian maupun pariwisatanya.

Sebagai generasi masa kini, kita patut merasa bangga bahwa beberapa tradisi kuno masih tetap ada dan dilestarikan.