Dewasa ini, kehidupan manusia semakin kompleks, manusia dihadapkan dengan berbagai permasalahan dalam hidupnya. Setiap hari, masalah terus bertambah. Manusia dihadapkan pada pilihan untuk lari dari masalah itu atau dengan berani menghadapinya lalu memecahkannya.

Sering kali manusia merasa tertekan akan masalah yang dihadapinya, baik itu masalah pribadi, masalah keluarga, masalah keuangan, masalah asmara, dan lain sebagainya. Banyaknya masalah dalam hidup akan memunculkan pikiran-pikiran negatif yang menyebabkan kecemasan, stress bahkan depresi.

Lari dari masalah tidak akan membuat masalah itu hilang, justru ia akan terus mengikuti pemiliknya. Jalan satu-satunya yaitu menghadapinya dan memecahkannya. Karena memecahkan masalah dapat membuat seseorang behagia.

Bahagia itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya keadaan atau perasaan senang dan tenteram, bebas dari segala sesuatu yang menyusahkan.

Menurut Seligman, kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif dimana seseorang memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup, dan juga pikiran dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya.

Menurut filsuf stoic, kebahagiaan adalah terbebas dari emosi-emosi negatif, seperti rasa marah, rasa iri, dan lain sebagainya. Menurut mereka, emosi-emosi negatif berasal dari manusia itu sendiri, jadi manusia itu sendirilah yang dapat mengendalikannya.

Kadang manusia lupa bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang telah diciptakan Allah dibandingkan dengan makhluk – makhluk lain, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya terletak pada ada tidaknya akal. Manusia diberikan akal sedangkan makhluk lainnya tidak.

Akal, dalam kamus bahasa arab secara harfiyah diartikan sebagai menahan, ikatan, melarang dan mencegah. Ibn Manshur membagi arti akal (al-aql)  menjadi enam, yaitu (1) akal, pikiran, intelegensi, (2) menahan, (3) mencegah, (4) membedakan, (5) tambang pengikat, dan (6) ganti rugi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akal memiliki empat pengertian, yaitu (1)  daya pikir, pikiran, ingatan, (2) jalan atau cara melakukan sesuatu, daya upaya, ikhtiar, (3) tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan dan (4) kemampuan melihat atau cara-cara memahami lingkungan.

Menurut al-Ghazali akal merupakan salah satu dimensi terpenting dalam diri manusia, dimana akal sebagai alat berpikir, merenungkan sesuatu dan menarik pelajaran atau i’tibar dari kejadian-kejadian yang dilihat atau dialami manusia.

Dari beberapa pengertian mengenai akal di atas, dapat diketahui bahwa akal dapat berupa hal yang baik dan hal yang buruk. Oleh karena itu, akal manusia perlu diarahkan agar tidak menjurus ke arah negatif, salah satunya dengan cara berpikir logis.

Logis berasal dari kata logika, logika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu logos yang artinya perkataan atau sabda. Menurut Irving, logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dari penalaran yang salah.

Menurut Romauli, berpikir logis adalah kegiatan berpikir yang didasarkan atas kaidah-kaidah, aturan-aturan sistematika dan teknik berpikir yang tepat dan benar, sehingga tidak mengandung kesalahan dan dapat mennghasilkan kesimpulan yang benar.

Andriawan menjelaskan berpikir logis yaitu suatu proses berpikir dalam menarik kesimpulan yang berupa pengetahuan berdasarkan fakta yang ada dengan menggunakan argumen yang sesuai dengan langkah dalam menyelesaikan masalah hingga didapat suatu kesimpulan.

Berpikir logis merupakan suatu proses menalar tentang suatu objek dengan cara menghubungkan serangkaian pendapat untuk sampai pada sebuah kesimpulan menurut aturan-aturan logika.

Aturan-aturan logika yang digunakan untuk mendapatkan pemikiran logis harus memenuhi komponen dasar berpikir. Ada tiga komponen dasar berpikir logis, yaitu (1) pengertian, (2) keputusan, dan (3) penalaran. Ketiganya merupakan satu kesatuan dan harus ada dalam proses berpikir logis.

Pengertian adalah hasil penangkapan dari  inti suatu objek. Istilah mengerti berarti menangkap inti dari sesuatu. Inti sesuatu di sini disebut hakekat.

Istilah lain dari pengertian adalah ide. Plato mengartikaan ide atau idea dengan pengertian atau maksud. Kata ide berarti gambar, hal-hal yang tergambar secara abstrak mengenai sesuatu adalah ide/ idea. Orang yang telah memiliki ide artinya telah memiliki gambaran tentang sesuatu, sehingga dapat menjelaskannya jika diminta menjelaskan.

Istilah lainnya dari pengertian adalah konsep atau conceptus yang berarti menangkap. Orang yang memiliki konsep berarti telah menangkap identitas objek. Tangkapan atas identitas objek merupakan hasil abstraksi dari suatu objek tersebut.

Dalam logika, keputusan diartikan sebagai aksi manusia, kegiatan rohani manusia, serta hasil tindakan akal budi manusia dalam mengakui atau mengingkari sesuatu terhadap sesuatu yang lain.

Penalaran adalah suatu proses rangkaian kegiatan akal manusia untuk sampai pada suatu kesimpulan (pendapat baru) dari satu atau lebih pendapat yang telah diketahui (data). Penalaran biasa disebut juga dengan silogisme. Silogisme merupakan inti logika Aristoteles.

Yaman, dalam penelitiannya tentang Effectiveness on Development of Logical Thinking Skills of Problem Based Learning Skills in Science Teaching, kemampuan berpikir logis mengacu pada kemampuan individu untuk memecahkan masalah dengan menggunakan operasi mental atau kemampuannya untuk mencapai prinsip-prinsip atau aturan dengan membuat generalisasi atau abstraksi.

Orang yang dapat berpikir logis akan menghadapi setiap masalah cenderung lebih tenang dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan bijak. Dengan logika yang benar, seseorang dapat mengambil kesimpulan dan keputusan yang tepat untuk menghadapi setiap masalah.

Seperti yang dikatakan oleh Prof Syafrizal Sy, seoraang Guru Besar Ilmu Matematika Universitas Andalas Padang, “orang dengan kemampuan logika yang baik, ia akan cerdas berakal sehingga kehidupannya tertata dengan baik”.