Dengan tetap mematuhi protokol Covid-19, minggu ini saya memaksakan diri untuk mudik ke kampung halaman. Tidak jauh sebenarnya, hanya 75 km. Jarak yang amat nanggung untuk meraih keringanan salat.

Sepanjang perjalanan dari Madiun ke pedalaman Nganjuk kampung halaman saya, ada pemandangan yang cukup janggal. Tidak adanya pohon kelapa (nyiur) sejauh mata memandang. Benar. Saya tidak melihat satu pun pohon kelapa yang tumbuh sepanjang jangkauan mata saya. Baik di kampung pemberangkatan maupun di kampung tempat tujuan saya, pohon kelapa raib seperti tanpa bekas.

Hal ini cukup berbeda saat masa kecil saya yang begitu banyak terdapat pohon kelapa. Saya sendiri memanjatnya bersama teman-teman, membuat ayunan yang digantungkan di antara keduanya, bermain dengan pelepahnya, atau bermain sepak bola yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Alarm pulang saya adalah saat emak datang dengan membawa ranting pohon, atau sapu di tangannya. “Pulang!”

Pernah tetangga saya mencoba menanam kembali pohon legendaris anak pramuka ini, tapi gagal. Belum sampai ketinggian mencapai tiga meter, pohon kelapa itu harus merelakan dirinya tewas digerogoti kumbang yang kami sebut dengan Kwawung.

Kwawung inilah yang menurut penuturan bapak sebagai tersangka atas musnahnya pohon kelapa di daerah kami. Dia merongrong pohon tanpa ampun, beranak pinak di dalamnya, serta memakan segala yang di dalamnya dengan rakus. Mungkin Si Kwawung mengira pohon kelapa yang dibuat sarang itu bisa diperoleh secara gratis, yang bisa dia bawa pulang dengan memasukkannya ke dalam karung untuk oleh-oleh keluarganya.

Entah bersarang di mana dia sekarang di kampung kami kala pohon kelapa sirna. Ada yang bilang di tumpukan jerami, ada yang bilang di tumpukan kotoran sapi, yang jelas mereka tiba-tiba muncul saat mengetahui ada pohon kelapa yang tumbuh.

Eh, tapi kata Bapak saya dia bersarang di limbah kertas. Saya baru ingat tidak jauh di kecamatan sebelah memang terdapat pabrik kertas raksasa. Raksasa untuk ukuran penduduk kampung kami yang jarang melihat hutan beton. Tapi saya tidak ingin berkesimpulan sejauh itu.

Yang aneh, masyarakat seakan biasa-biasa saja menghadapi fenomena ini. Padahal, dulu kami biasa memetik janur saat hari raya Idul Fitri tanpa harus susah payah membeli. 

Dulu saat kami duduk di bangku SD, kami sangat suka sekali mendapatkan tugas ketrampilan yang berbahan dasar daun kelapa, batok kelapa, atau serabut kelapa, karena begitu berlimpahnya daun itu di kampung kami. Namun, kini menghilang dan seperti tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Pemerintah setempat juga sama, tidak ada yang memperhatikan hal ini, untuk kemudian membuat konferensi pers, atau para ahli tanaman yang mencoba meneliti mengapa pohon kelapa di tempat kami raib begitu saja.

Saya juga tidak pernah menemukan komunitas pecinta kelapa yang kemudian memunculkan tagar savecoconut. Yang saya temukan hanyalah petani kelapa yang suaranya sudah kelewat parau hanya didengar media tanpa ada balasan apa-apa. Di sana juga ada para pandu yang bangga dengan logo tunasnya. Eh, ngomong-ngomong, pernahkah pramuka diajak untuk menanam kelapa?

Kembali ke kumbang terkutuk ini, setelah saya telusuri di media internet, binatang Kwawung atau bernama latin Rhynchophorus ini sudah pernah viral di internet yang mengakibatkan para petani di sejumlah daerah Jawa Timur mulai sambat. Namun, berita yang paling baru mengenai hal ini yang saya temukan ialah tahun 2018, tepat nya 2 tahun lalu.

Sayangnya, saya tidak menemukan berita yang cukup menggembirakan berkenaan dengan kegelisahan saya ini, kecuali tentang sawit, tanaman yang konon hanya dikuasai segelintir elite di negeri ini.

Kita mungkin akan menunggu pohon kelapa sampai punah terlebih dahulu agar mendapat perhatian. Seperti plang ‘daerah rawan kecelakaan’ yang baru muncul setelah puluhan motor terjatuh di kawasan tersebut. Atau traffic light yang juga baru muncul setelah persimpangan itu benar-benar macet atau banyak kecelakaan.

Mungkinkah kita berharap suatu saat nanti ada beberapa orang VVIP negeri ini yang menguasai berhektare-hektare kebun kelapa, kemudian kwawung dan bala tentaranya menyerbu, terus mereka sambat dan langsung mendapat perhatian dari aparat setempat? Bahkan para pakar flora di universitas ternama kemudian berlomba mengadakan penelitian, laboratorium mereka dipenuhi dengan gegap gempita upaya untuk menjawab satu pertanyaan: Bagaimana mengatasi hama kwawung?

Kampung kami telah kehilangan ‘sosok’ yang sebenarnya selalu menghiasi kegiatan kami. Kelahiran, hari raya, pernikahan, tiang rumah, tikar, kapal-kapalan, hingga kancing baju. Namun perlahan-lahan kami melupakannya, begitu saja.

Kami terus saja mengandalkan ‘impor’ kelapa dari kabupaten seberang yang terletak di daratan tinggi. Yang pelan namun pasti hama kwawung juga merapat ke daerah sana. Kami lupa bahwa dulu, kami sempat mempunyainya.

Ah. Iya, berbicara mengenai kemampuan manusia melupakan, saya teringat guru saya di pesantren Atini Fuad Fadilatin yang pernah menegur saya saat lupa tidak mengerjakan tugas, “Kamu lupa itu karena kamu tidak memperhatikan,” tegasnya.

Oh. Pohon kelapa, kami mengakui, kami memang tidak memperhatikanmu, sedari dulu.