Siapa bakal lupa kagumi damai
kota tua di penghujung Timur Indonesia

Di sinilah tebe likurai ramai menghentak tiap daun kaki.
Nyanyian merdu oras loro malirin setia mengalun kenangan.
Dentang lonceng-lonceng gereja mengurai kesibukan yang hampir lupa Tuhan.
Aroma cendana adalah wangi masa lalu.

Kini hanya ada rindu mahadashyat pada nikmat talas, singkong, kuah asam, jagung bose dan laru putih tak lekang menuai kebosanan.

Kelak kami akan meminang cantik gadis gadismu, meski harus gemetaran menakar belis dihadapan tua adat.

Kami rindu suara Ina ama mendaraskan mitologi tentang Lakaan - Mandeu.
Ceritakan kepada kami dogeng Suri Ikun dan Buik Ikun,
Nyanyilah merdu lagu Manu Mutin Torok
Kisahkan lagi perjuangan -perjuangan para Ksatria Vialaran.

Oooo
Ini rindu sebatas rindu, rindu yang hampir lupa.

Wahai....
Ema rai belu
Ema foho bot rai bot
bot we bot bo rai mara.
Mari kita serius berbenah
Tak membenamkan kepala dalam tas bermerek rupiah.
Dana desa terus mencairkan kepala desanya
Rakyat terbahak-bahak kebingungan.

Ironis memang.
Masihkan kita bangga duduk beralas tikar menenun gosip dan kemalasan
Membunuh kutu kutu yang tak slah merawat rambut.

Wahai....
Ema rai belu
Ema foho bot rai bot
Bot we bot bot rai mara.
Mari kita serius berbenah
Membaca politik penuh nurani
Tidak saling maki-memaki
Serang menyerang
Kalah melawan
Ita ema rai bot
Ho kneter ho ktaek.
Mari kenakan identitas penuh hormat
Jangan bikin malu
Jangan bikin ragu
Jangan bikin-bikin

Rai Belu tetuk no nesan diak no kmanek.
Tabe Rai Belu, jadilah damai seperti magis namamu.


Suatu Malam di Perbatasan

Tiap derap langkah menimbul curiga.
Ada apa?
Mungkin ada yang sedang melembur
Memperbaiki pintu rumah tetangga.
Mana senter?
Baterai sudah kalah.
Baiklah,, aku akan menyelesaikan malam ini.

Pagi - pagi seluruh kampung heboh
Ama Dato mengetuk tiap daun pintu.
Ada apa?
Pencuri semalam berhasil
menyusahkan tetangga sebelah.
Mana Polisi?
Polisi ada di Kota.
Baiklah, malam ini kita menanti.
Jangan sampai mereka ingin memperbaiki jendela kamar kami.


Mama dan Ramai Pasar

Meski telah renta
Mama masih berhasrat memeluk debu
Dari pasar ke pasar.
Di minggu pagi ia menghidangkan rezeki di meja Altar.
Dalam sujud, doanya tak berujung.
Ia berpinta, "Tuhan pertebal imanku
agar lutut tidak goyah menyembah
Dan tangan tidak lupa memberi.
Gagal yang nyaris tetap bertamu


Rahasia

Aku larut dalam mistik dialog keseharian .
Memalingkan wajah pada dimensi ketersingkapan.

Waktu menjadi begitu otentik
Melemparkanku dalam ketersesuaian

Bermukim di dunia yang seolah olah ramah

Padahal penuh kemungkinan - kemungkinan menjadi nekat atau pengecut.

Tekad yang dibungkus kekinian
Terbentur masa lalu yang belum diambil seluruh.


Musim Pesta

Musim paling di nantikan adalah pesta
Salon bertumpuk tinggi di samping pengantin
demikian pun generator (maklum belum tersentuh PLN) di belakang dapur.
Tenda penuh sukacita.
Pengantin capai membagi ciuman dan terima selamat.

Di luar tenda lampu petromax memanaskan permainan kuru kuru.
Ketuas yang pandai menebak leki bot leki kiik. 
Menang telak.

Opereter sibuk putar lagu Ambon di tanah Timor.
Ketuas dan ferik saling lirik mata sebelah
Minta tebe Lese Luan
Menyembuhkan kaki yang sering asam urat
Kelebihan makan bunga pepaya daun dan kacang hijau.

Muda mudi masih malu-malu
tunggu lagu dansa.
Opereter putar lagu sio Nona
Tenda penuh wangi keringat.
Muka pengantin penuh debu
Terlalu bersemanga ikuti irama gerak dua satu, satu satu.

Pemuda yang gagal hormat
Tersinggung dihadapan gadis
Hampir kacau
Untung belum membereskan sopi di sudut tenda.

Untuk mengingat tuan pesta
Mereka tingalkan ramai dan sampah
Dibereskanlah mereka ketika tiba pagi.

Musim paling di sesali adalah pesta
Kembalikan pinjaman dan bayar utang.


Mandeunesia

Dengarlah Mandeunesia!
Tanahmu bermuatan cinta
Mengalirkan energi-energi positif
Dalam darah - nadi hidupmu.
Tanahmu beraroma sirih dan pinang
Mengikat lidah dan bibir untuk bersatu.
Kesejukan tersembul dari barisan hutan dan padang hijau disana.
Tiada berkas resah ditinggal leluhur
Semua telah tersapu angin yang tak kenal berat dan lelah sejak jadinya.
Sedikit marah yang sering menyala
Hanyalah umpan untuk membakar damai.
Sebab damai itu rapuh
Dikoyakkan oleh egoisme.

Dengarlah, wahai Mandeunesia
Sudah uzur ina amamu ini
Kekuatan makin surut .
Rambut telah memutih.
Sebelum lupa menguasai ingatan
Pada kalian kami tegaskan.
Janganlah gemulai tubuh, jiwa, semangat, roh cintamu pada Rai Bot, Foho Bot, Foho Mandeu.
Jadilah bijak dalam berpijak.
Camkanlah baik-baik dalam bathinmu
Camkanlah.....
Tanah ini, tanah berbintang
Tanah ini, tanah damai.
Tanah ini milik kita
Mandeunesia.