“Bedanya aku dengan kalian adalah: kepala kalian satu, tapi di dalamnya ada banyak wanita; sedangkan kepalaku sepuluh, tapi di dalamnya hanya ada Shinta.” ~ Sabda Rahwana

Rahwana yang digambarkan sebagai sosok raksasa antagonis yang selama ini dianggap sebagai orang ketiga di antara Rama dan Dewi Shinta nyatanya menyimpan cinta mendalam yang tulus hanya untuk Dewi Shinta.

Dalam kisah Ramayana, Rahwana selalu digambarkan dengan perwujudan angkara murka dan penuh dengan dosa-dosa manusia. Kelahirannya yang berwujud raksasa diramalkan mampu menjadi penyebab goncangan bumi yang teramat dahsyat.

Dalam wujudnya yang dasamuka, tak banyak yang tahu bahwa kemampuannya dapat menyamai dewa-dewa. Namun, di balik kebuasan dan kegarangannya, ia hanya jatuh, luluh, dan menyerah pada seorang wanita yang lemah lembut, yaitu Dewi Shinta.

Sebelum bertemu dengan Dewi Shinta, sosok Rahwana diceritakan pernah memiliki seorang istri yang juga sangat dicintainya. Dewi Setyawati namanya. Namun, takdir harus memisahkan Rahwana dengan Dewi Setyawati. Karena istri yang dicintainya pergi meninggalkannya selamanya. Dewi Setyawati meninggal dunia.

Kemudian, takdir mempertemukan Rahwana dengan Dewi Shinta. Ia terkejut ketika melihat Shinta. Karena ternyata Dewi Shinta merupakan titisan dari istri yang dicintainya. Hatinya terasa hidup kembali karena kehadiran Shinta, namun ia harus menelan kekecewaan karena ternyata pujaan hatinya itu sudah dimiliki oleh pria lain. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rama.

Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, Rahwana berusaha merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan bertaruh nyawa sekalipun.

Kemudian Dewi Shinta diculiknya dan ia bawa pulang ke Alengka. Selama tiga tahun Dewi Shinta disekap di sana, ia diperlakukan dengan sangat baik seperti ratu oleh Rahwana. Meski dia bisa menyiksa dan mengancam serta memaksa Shinta, namun Rahwana tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan dengan cara apa pun.

Rahwana selalu menunggu Shinta, menunggu Shinta hingga bisa mencintainya juga. Karena menunggu adalah hal terbaik yang ia lakukan agar sang dewi tak terluka hatinya. Ia akan tetap menunggu. Sampai kapan pun. Padahal dia tahu benar bahwa titisan Dewi Setyawati itu terlahir begitu setia kepada suaminya.

Dengan segala usaha dan berbagai cara Rahwana lakukan untuk mendapatkan cintanya. Setiap hari Rahwana mendatangi Shinta dengan berbagai puisi indah dan ungkapan cinta yang dibuatnya sambil meminta maaf karena sudah menculiknya. Namun, Shinta tetap bersikeras dan menolaknya.

Selama bertahun-tahun Rahwana melakukan itu tanpa menyerah, hingga akhirnya Shinta luluh dan merasakan ketulusan Rahwana. Rahwana yang dulunya selalu bermuram durja dan dingin kini berubah menjadi seorang yang begitu hangat dan murah senyum sehingga suasana kerajaan pun penuh dengan kedamaian dan rasa kebahagiaan.

Walaupun Shinta sudah mulai luluh dan sudah bisa mencintai Rahwana, ia tetap tidak mau mengkhianati suaminya, Rama. Ia tetap menunggu Rama menjemputnya dan kembali padanya.

Shinta pun mengakui kepada Rahwana bahwa ia sudah mencintainya, namun ia tak mau melukai hati suaminya karena sudah berkhianat. Kemudian, ia meminta agar Rahwana merelakannya pergi dan kembali kepada suaminya.

Mendengar perkataan Shinta, Rahwana begitu senang bukan kepalang. Akhirnya wanita yang ia cintai juga mencintainya. Sebab hanya kata-kata itulah yang selama ini dinanti. Ia hanya ingin mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Dewi Shinta.

Akan tetapi, Rahwana tidak begitu saja melepaskan Dewi Shinta dengan mudah. Ia menantang Rama berduel untuk memperebutkan Dewi Shinta.

Ketika Rama datang dengan balatentara wanara dan juga Hanoman, dengan gagah berani Rahwana menyambutnya.

“Aku mencintai Shinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan kembali Shinta.”

Pertarungan pun berlangsung sengit, hingga akhirnya Rahwana berhasil dikalahkan oleh Rama. Dan Dewi Shinta pun kembali ke dalam pelukan suami yang selama ini dinantinya.

Namun, bukannya sambutan hangat yang diberikan Rama kepada Dewi Shinta, Rama justru mencurigai Dewi Shinta bahwa istrinya itu pasti sudah ternoda dan tak suci lagi. Itulah yang dipikirkan Rama.

Berkali-kali Shinta menjelaskan pada Rama bahwa ia masih suci dan Rahwana tak pernah menyentuhnya sama sekali. Namun Rama tetap tidak mempercayainya. Hingga akhirnya Dewi Shinta nekat menceburkan diri ke dalam bara api menyala demi untuk membuktikan kesuciannya.

Namun, karena Shinta memang berkata jujur, api itu pun tak bisa membunuhnya hingga akhirnya Rama pun mempercayainya dan mau kembali padanya.

Tinggallah kemudian sukma sang Rahwana yang menangis sejadi-jadinya, meratapi kisah cintanya yang tidak berpihak padanya.

Kenapa semesta tidak memilihnya? Kenapa Tuhan melakukan ini padanya? Kenapa takdir buruk selalu menimpanya? Dan kenapa pula Dewi Shinta memilih pria yang bahkan tidak bisa mempercayainya?

Sementara Rahwana akan tetap mencintai dan menerima Dewi Shinta bagaimanapun keadaannya. Ternoda atau tidak, dia tidak peduli. Karena yang dia tahu, dia sangat mencinta Dewi Shinta.

“Tuhan, jika cintaku kepada Shinta terlarang, kenapa kau bangun begitu megah rasa itu di hatiku?” keluh Rahwana sambil terisak.

Rahwana yang selalu khas dengan segala kejahatan dan kekejaman yang menjadi nama belakangnya ternyata memiliki hati semurni dan setulus dewa. Cinta sucinya yang hanya diberikan kepada Shinta, dengan sabarnya ia menunggu dan menanti. Hingga akhirnya ketulusannya berbuah manis.

Hanya kalimat itu, kalimat pernyataan bahwa Dewi Shinta juga mencintainya, mampu membuat Rahwana menjadi pria paling bahagia di dunia. Ia bersyukur. Walaupun Dewi Shinta tidak menjadi miliknya, setidaknya Dewi Shinta juga mencintainya.