Gereja pada abad ke IV mengalami banyak persoalan teologis. Ada perbedaan pandangan dari para teolog timur dan teolog barat. Teolog timur cenderung membahas perihal relasi antara Kristus, Bapa dan Roh Kudus, sedangkan para teolog barat cenderung membahas perihal keselamatan. 

Sementara itu, ada pengaruh politik juga begitu kuat. Kristen menjadi agama Kerajaan melalui maklumat Tesalonika tahun 380. Secara otomatis terjadi kristenisasi secara massal tanpa persiapan yang matang bagi para calon (Kristiyanto, 2002:101-102).

Pada saat keadaan menjadi kacau tersebut, muncullah Pelagius. Pelagius adalah seorang Biarawan dan Teolog yang berasal dari Inggris yang hidup sekitar tahun 400. Ia tinggal di Roma dan menghabiskan waktunya untuk belajar teologi Kristiani. 

Pelagius memiliki ajaran-ajaran yang sangat kaku tentang bagaimana mengikuti Kristus. Ajaran tentang rahmat, kehendak bebas, dosa asal adalah ajaran yang menjadi inti dari pemikiran Pelagius. Dari ajarannya ini, Pelagius memiliki pengaruh yang cukup besar sehingga ia memiliki banyak pengikut.

Akan tetapi, ajaran itu, bagi Agustinus, merupakan ajaran yang sesat. Agustinus merasa bahwa ajaran-ajaran yang dikeluarkan oleh Pelagius sangat menyimpang dari ajaran Gereja. Tanpa tedeng aling-aling, Agustinus menyerang ajaran Pelagius.

Untuk itu, dalam tulisan ini, saya mencoba membahas permasalahan antara ajaran Pelagius dan Agustinus. Namun, yang akan menjadi inti dari tulisan ini adalah mengenai konsep Agustinus dalam menyerang ajaran Pelagius. 

Adapun pertanyaan penuntun dalam menulis tulisan ini adalah siapakah Agustinus itu? Siapa Pelagius itu dan apa ajaran yang dilontarkkannya kepada Gereja? Bagaimana ajaran atau konsep dari Agustinus menghadapi ajaran Pelagius?

Biografi Singkat St. Agustinus

Agustinus Aurelius lahir di Thagaste, provinsi Numidia, 13 November 354. Ayahnya bernama Patrisius, seorang yang berwatak keras namun peduli pada pendidikan Agustinus. Ibunya bernama Monika, seorang katolik yang amat saleh. Monika pernah berujar kepada Agustinus: “Aku ingin tinggal cukup lama dalam kehidupan ini untuk melihat engkau menjadi seorang katolik” (Co. IX. X. 26).

Sewaktu masa mudanya ia pernah menyimpan dan hidup bersama seorang gundik selama 15 tahun. Dari gundik itulah lahirlah Adeodatus (tahun 372). Ia kemudian bertobat dan dibabtis oleh Ambrosius, seorang uskup, pada tahun 386/387 di Milano.

Agustinus wafat pada tahun 430. Kemasyuran karya-karyanya mencapai puncak pada tahun 1986/1987. Menurut Agustinus, ukuran dalam menilai hidup manusia adalah cinta kasih. Ia begitu memahami kekayaan dan makna hidup manusia sehingga sebagai uskup ia bukanlah seorang moralis yang kaku. 

Ia sendiri telah mencicipi segala kenikmatan manusiawi dan duniawi, yang baik maupun buruk melalui pengalaman hidupnya. Agustinus sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi Gereja Barat dan Timur. Keseluruhan karyanya terjalin dalam pengalaman dan refleksinya tentang keserasian, kerukunan, persaudaraan dan persahabatan.

Pelagianisme

Aliran Pelagianisme dipelopori oleh Pelagius 350-425, seorang rahib dari Inggris (Kristiyanto, 2007:118-123). Aliran ini berbicara tentang rahmat yang menganggap bahwa manusia mampu memperoleh keselamatan lewat ketekunan usahanya sendiri. 

Selain itu, dosa asal dianggap tidak mempengaruhi kehendak bebas manusia. Dasar inilah yang kemudian oleh Pelagius digunakan untuk melawan pandangan Agustinus bahwa segala sesuatunya tergantung pada rahmat.

Akan tetapi, Pelagius memiliki pandangan lain bahwa kehendak bebas adalah modal dasar ciptaan yang paling mulia, yang di dalamnya ada kebaikan dan keburukan. Daya inilah yang membuatnya memiliki pandangan bahwa jika ingin hidup bersama Allah berarti hidup tanpa berbuat dosa. 

Hiduplah tanpa dosa jika kau ingin hidup bersama dengan Allah” demikian jargon Pelagius. Memang tampak sekali di sini bahwa Pelagius terlalu menentang penyebaran dosa sehingga munculah beberapa konsekuensi yang kaku dari pandangannya ini.

Pertama, untuk menjalankan perintah Allah, manusia tidak membutuhkan bantuan Ilahi. Seakan rahmat dari sang Ilahi tidak diperlukan lagi. Padahal sebenarnya Pelagius mengakui adanya rahmat Adikodrati. Kedua, dosa asal dianggapnya tidak memperlemah manusia sekarang (kehendak bebasnya dengan kondisi ketika Adam diciptakan). 

Padahal kehendak bebas itu lebih kuat, lantaran kebiasaan buruk yang tidak baik. Inilah gambaran Pelagianisme yang jatuh dalam sikap mereduksi moralitas, sehingga justru mengurangi makna dan arti dasariah tentang pentingnya keselamatan yang dianugerahkan dari Atas.

Pelagius menjadi begitu terkenal dan semakin dikagumi oleh banyak orang melalui pandangannya ini. Tercatat beberapa orang menjadi pengikutnya, yakni rahub Celestius dan Yulianus, dan Uskup Eklano. Para murid Pelagius ini menjadi lebih radikal daripada gurunya. Mereka berkotbah dimana-mana dan menyebarkanluaskan karya-karya pembaruan moral (Kristiyanto, 2002:103).

Jelas sekali, ajaran ini ditentang oleh Gereja, terutama oleh Agustinus. Agustinus memulai ajarannya sesuai dengan konteks zaman saat ia hidup, di mana Sepuluh Perintah Allah begitu kuat pengaruhnya. Menurutnya, tiga perintah pertama menyangkut hubungan manusia dengan Allah dan ketujuh perintah berikutnya menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya. 

Agustinus berpendapat bahwa kejahatan manusia (dosa) terjadi karena manusia melawan “yang ketiga” dan “yang ketujuh” tersebut. Oleh karena perjuangan Agustinus terhadap Plagianisme ini, ia digelari sebagai Doctor gratie.

Rahmat dan Kehendak Bebas dalam Konsep St. Agustinus

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (KSPL) berbahasa Ibrani, kata rahmat merupakan transliterasi dari kata hanan (Kirchberger, 2007:324). Hanan merujuk pada sifat Allah yang murah hati. Allah memberi segala sesuatu kepada manusia tanpa sedikitpun usaha, kerja keras, maupun jasa dari pihak manusia. Dengan kata hanan ini, kata hen tidak mendapat tempat dalam KSPL dalam menjelaskan sifat Allah yang murah hati.

Kata hen dapat diartikan sebagai pemberian yang didasarkan pada usaha, kerja keras, maupun jasa dari pihak lain. Itu artinya, manusia harus memiliki kapasitas dalam dirinya untuk bisa menarik hati Allah supaya diberi sesuatu sesuai dengan yang diminta. Dengan kata lain, Allah akan memberi jika manusia mau berusaha atau bekerja keras terlebih dahulu. Untuk itu, kata hen ini tidak dipakai oleh KSPL untuk menjelaskan sifat Allah yang murah hati.

Selanjutnya, Agustinus tidak setuju dengan ajaran Pelagianisme mengenai rahmat. Bagi Agustinus, rahmat itu tidak semata-mata karena tingkah laku manusia dihadapan Allah. Rahmat adalah inisiatif tunggal dan radikal dari pihak Allah (Kirchberger, 2007:346). Jadi, Agustinus melihat rahmat sebagai hanan.

Oleh sebab itu, manusia merupakan pribadi dependen. Manusia, bagaimanapun juga, akan selalu membutuhkan Allah. Ketika berhadapan dengan tuntutan Allah, manusia tidak sanggup memenuhi tuntutan Allah itu sehingga jelas bagi Agustinus bahwa manusia bergantung sepenuhnya pada rahmat Allah secara radikal dan mutlak (Kirchberger, 2007:347).

Maka, dalam Confessiones Agustinus menulis tentang ketergantungannya pada Allah:

“Sempit benar rumah jiwaku untuk Kaudatangi; semoga diperluas rumah itu oleh-Mu! Hampir roboh rumah itu: perbaikilah. Ada dalam keadaannya yang menyakiti mata mata-Mu, aku akui, aku tahu. Tetapi siapa akan menyucikannya? Atau kepada siapa selain kepada-Mu akan kuserukan, “Sucikan aku dari kejahatanku yang tersembunyi, ya Tuhan, dan lindungilah hamba-Mu dari kejahatan orang lain” (Co. 1.IV.6)

Terkait rahmat, Agustinus menulis:

“Betapa banyaknya kejahatan yang terkandung dalam perbuatanku, kalau bukan dalam perbuatanku, sekurang-kurangnya dalam kataku, kalau bukan dalam kataku, sekurang-kurangnya dalam kehendakku. Tetapi Kau, ya Tuhan, Engkau baik dan penuh kemurahan, Kauduga dengan tangan kanan-Mu dan Kaulihat kedalaman kematianku dan dari dasar hatiku Kaukosongkan jurang kerusakan.” (Co. 9.I.1)

Kontroversi selanjutnya adalah dosa asal. Bagi Pelagius, dosa asal tidak memperlemah manusia. Menurutnya, Allah tidak adil jika dosa satu orang dituduhkan kepada semua manusia (Kristiyanto, 2007:121-122).

Untuk itu ajaran Pelagianisme ini mendapat tanggapa serius dari Agustinus. Agustinus sendiri telah merangkum ajaran Pelagianisme adalam enam dalil (Kirchberger, 2007:318):

1. Adam diciptakan dalam keadaan fana (mortalitas) dan harus meninggal, entah berdosa maupun tidak berdosa.

2. Dosa Adam hanya merugikan Adam sendiri, bukan umat manusia seluruhnya.

3. Hukum membawa orang ke dalam Kerajaan Allah, sama baiknya seperti Injil.

4. Sebelum Kristus datang ke dunia sudah ada manusia tanpa dosa.

5. Anak yang baru lahir berada dalam keadaan yang sama seperti Adam sebelum ia berdosa.

6. Seluruh umat manusia tidak meninggal oleh karena kematian dan dosa Adam, sama seperti seluruh umat manusia tidak bangkit oleh karena kebangkitan Kristus.

Ajaran itu pun ditentang oleh Agustinus. Baginya, Adam adalah wakil manusia dalam melakukan praktik dosa. Karena kesombongan luar biasa manusia di taman Eden, manusia menjadi berdosa. Akibatnya, setiap orang yang dilahirkan mendapat materai dosa asal.

Secara teknis, dosa Adam melahirkan dosa sebagai kenyataan obyektif dan dosa sebagai kenyataan subyektif (Kirchberger, 2007:317). Dosa sebagai kenyataan obyektif berarti dosa yang diperbuat oleh Adam adalah ‘in se’ sejak Adam jatuh dalam dosa. Sedangkan dosa sebagai kenyataan subyektif berarti dosa yang terjadi ketika manusia melakukan praktik dosa. Hak ini terjadi karena concupiscentia ada dalam diri manusia. Concupiscentia ini semakin mempertegas dosa sebagai kenyataan obyektif.

Untuk itu, bagi Agustinus, setiap orang harus menerima pembaptisan untuk menghapus dosa asal itu. Hanya saja melalui pembaptisan itu, Concupiscentia sudah tidak lagi disebut sebagai dosa melainkan sebagai kelemahan atau kencenderungan.

Namun, Agustinus memiliki pandangan yang cukup ekstrim ketika berbicara mengenai Concupiscentia bagi anak-anak yang tidak dibabtis. Schoonenberg menulis demikian”

Concupiscentia membuat anak-anak yang dibaptis menjadi berdosa dan membawa mereka sebagai putra-putri kemurkaan kepada hukuman abadi, juga jika mereka meninggal sebagai anak kecil.” (Kirchberger, 2007:320)

Dari dosa, dosa menjalar pada kehendak bebas. Pada kodratnya, manusia memiliki kehendak bebas. Namun, dosa merusak kehendak bebas itu sehingga tidak bisa lagi disebut ‘bebas’. 

Kehendak bebas yang telah tercemar oleh dosa, Agustinus melihat kehendak manusia cenderung untuk memilih kejahatan (Irvin dan Sanquist, 2004:354). Maka itu, agar kehendak ini dapat dipulihkan menjadi kehendak bebas, manusia membutuhkan rahmat.

Penutup

Diskusi panjang antara Pelagius dan Agustinus mendapat perhatian serius dari pihak Gereja. Diskusi berujung pada kutukan terhadap Pelagius bersama ajarannya dan juga para pengikutnya. Itu berarti Agustinus memenangi perdebatannya dengan Pelagius.

Pelagius dikutuk oleh Sinode Kartago pada tahun 418. Ajaran Agustinus diterima karena lebih sesuai dengan cara berpikir dan perkembangan di Gereja Barat kerajaan Romawi pada waktu itu, dan juga karena pengikut Pelagius tidak mengerti dan tidak sadar akan dasar dari ajaran Pelagius yaitu keyakinan bahwa seluruh perkembangan kosmos dan sejarah manusia sudah merupakan rahmat Allah (Kirchberger, 2007:348).

Lama kelamaan ajaran Agustinus diterima secara umum dalam Gereja melalui kanon-kanon dari sinode kedua di Orange tahun 529. Sinode itu berbicara bahwa karena dosa Adam, keadaan manusia berubah menjadi lebih buruk, bukan hanya Adam sendiri yang berdosa melainkan juga semua manusia (kecuali manusia Yesus dan manusia Maria) yang pernah terlahir di dunia. 

Dari situ kehendak bebas dilemahkan oleh dosa sehingga tidak sanggup lagi untuk mencintai Allah tanpa bantuan rahmat Allah.