Mobil dobel gardan jenis SUV itu beringas membelah koloni peziarah Tembok Ratapan. Kerumunan massa mulai kocar-kacir dan menepi ke tembok-tembok kota tua Yerusalem.

Mobil taktis itu terus-menerus meraungkan sirine dan menghujani peziarah dengan kilatan lampu rotator-nya yang menyala berputar-putar merah terang. Seolah ingin membangkitkan kengeriannya tersendiri. Sedang di belakangnya, satu peleton militer berteriak lantang dengan bahasa yang tak dimengerti oleh sebagian peziarah yang heterogen itu.

Suaranya makin memekakkan telinga saja, setelah tersambung dengan megafon yang bertengger di atas mobil. Ucapan-ucapan aneh kental seakan berbuih-buih menyemburi udara panas Yerusalem.

Pasukan itu memberikan gestur-gestur tangan yang hanya dimengerti oleh kombatan, meringsek ke kanan-kiri, memaksa peziarah untuk mencium tembok tua dengan tangan di atas kepala. Sebuah mode pemeriksaan level satu, peluru-peluru bersedia muntah jika diperlukan.

“Unit Sayeret Matkal,” bisik Yahya lirih.

“Wah, gawat!” celetuk Zebulon sambil terus menghimpitkan tubuhnya ke tembok tua itu.

Zebulon mengenali unit itu, karena pernah berurusan dengannya dalam sebuah misi transfer ilmu dan teknologi antara National University of Singapore (NUS) dengan Universitas Ibrani Israel yang banyak dihuni kombatan Sayeret Matkal.

“Bagaimana ini?” Zebulon si komunis itu mulai gemetar menghadapi suasana kacau yang tak pernah ia alami sebelumnya.

“Tenang, kita tunggu dia,” Yahya mencoba menenangkan temannya yang mulai kencing di celana. Harap maklum, keduanya sebenarnya dalam suasana travelling bonus acara kongres pemuda liberal dan komunis di Tel Aviv kemarin lusa.

"Yahya, bagaimana ini?” tampaknya dia makin kacau. Tiba-tiba saja dengan gerakan secepat kilat, Yahya menginjak kuat-kuat sepatu Zebulon.

“Aduh, kenapa??” Zebulon merintih.

Mungkin itu untuk mengalihkan perasaan cemas si Zebulon.

Apa yang dikhawatirkan Zebulon itu benar adanya. Sayeret Matkal, kesatuan elit yang berjuluk “The Unit” itu, adalah pasukan khusus yang pernah dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, si perdana menteri itu.

Kualitas kombatnya tak perlu diragukan lagi. Pasukan Sayeret Matkal yang sedang beringas itu, bisa disejajar dengan Navy Seal-nya Amerika.

“Tapi kenapa sekacau ini?” pikir keduanya. Aneh dan janggal melihat cara-cara yang disajikan oleh pasukan itu yang katanya elit itu.

Apalagi menggunakan megafon untuk mencari seseorang yang bernama “Rahel”. Sampai begitu pentingnya, hingga satuan elit rekon kombat itu turun ke pelataran  Tembok Ratapan.

“Rahel!!!” teriakan itu berulang-ulang keluar nyaring dari megafon mobil taktis.

Yang berlaku saat itu hanya zeroth law of impedence, hukum kesenyapan suara, yang berkuasa hanya suara Tuhan yang diterjemahkan oleh megafon itu.

“Rahel!!”

“Rahel!!”

Mereka para kombatan sudah persetan dengan resilensi rangkaian doa-doa liturgia yang terus dirangkai oleh para peziarah yang mulai ketakutan.

Yahya melirik ke sisi selatan tembok ratapan yang hanya dipisahkan oleh Mechitza, sebuah pagar besi sebagai pemisah jamaah laki dan perempuan.

Matanya mencari-cari perempuan yang dipanggil-pangil oleh megafon pasukan elit itu. Yahya kenal sekali nama yang dipanggil itu. Apalagi postur tubuhnya, wajahnya, kulitnya, desahan nafasnya, hingga rintihannya. 

Kedatangan pasukan Sareyet Matkal jelas ada hubungannya dengan sobekan kertas yang baru saja ia ambil dari sela-sela Tembok Ratapan itu. Yahya mengemban tugas yang tidak diketahui rekan disampingnya, Zebulon.

Sejuta catatan doa, pengharapan, ratapan, puisi, prosa atau coretan apapun, baik berbahan kertas atau lain, telah tradisi diselipkan setiap tahunnya oleh para peziarah Tembok Ratapan sebagai bagian ritualnya.

Catatan tersebut dikumpulkan dua kali setiap tahun dan dikuburkan di dekat Bukit Zaitun.

Di Tembok Ratapan itu juga berlaku hukum khalwat, di mana tidak diizinkan laki-laki berbaur dengan perempuan.

Namun, siang itu, kekacauan yang digalang oleh unit kombat istimewa, telah membuat peziarah laki dan perempuan kacau bercampur aduk.

“Karov la'bayit, shekhinah!!” lirih seorang perempuan yang mendekati Yahya.

Al Bait? Sakinah?” Yahya berusaha menebak arti bahasa Ibrani itu dengan pendekatan persamaan bunyinya. Belum mendapatkan jawaban, perempuan yang bertudung rapat dari ujung kepala hingga kakinya itu lenyap di kerumunan.

“Payah, kenapa tidak ia katakan dalam bahasa Inggris saja?” gumam Yahya yang mulai tampak mengambil ancang-ancang pelolosan pemeriksaan pasukan itu.

“Ayo, Zeb!”

“Kemana?”

Tanpa menjawab, Yahya langsung menyambar tangan Zebulon. Pelan-pelan bergerak mendekati bangunan di sisi selatan Tembok Ratapan. 

Tiba-tiba dari arah utara Tembok Ratapan, muncul demonstran Yahudi ultra ortodoks. Mereka berkekuatan ratuasan pelajar putri berseragam khas rok panjang dengan membawa kitab suci bersama para Rabbi ortodoksnya. 

Mereka menghambur, berusaha sekuat tenaga menembus barikade pasukan, sambil meneriakkan yel-yel agitasi:

Adonai!Adonai!Ha kotel Hama'aravi(Tuhan!Tuhan! inilah Tembok Barat!)

Sedang pada sisi lain, datang pula kelompok demonstran lainnya, yaitu para perempuan aktivis kebebasan Yahudi liberal yang tergabung dalam Women of Wall.

Kontras dengan kelompok ortodoks tadi, kelompok demonstran liberal ini memakai dandanan yang tampak lebih santai, namun cukup menohok. Bukan karena pakaian minimalisnya, namun, di dahi mereka terikat sebuah Teffilin.

 “Agama dan penguasa, bebaskan!!!”

Kelompok liberal, Women of the Wall ini sedang memperjuangkan hak berdoa di Tembok Ratapan. yang sementara ini telah ditindas oleh kelompok ortodoks dengan dukung pemerintah.

Menurut yang ortodok, adalah tabu bagi wanita untuk hadir dan berdoa di Tembok Ratapan.

“Mana Rahel?” tanya Zebulon sambil terus merunduk sambil berlari.

Al Bait!”

Jawaban tak memuaskan dan tak dimengerti Zebulon itu, menambah penasarannya, apa yang dituju dan dimaksud oleh Yahya dengan kata "Al_bait" itu.

Di pikirannya berkecamuk. juga tentang yang mengaku Rahel tadi, sekelebatan dengan tudung yang menutupi hampir wajahnya, dan hanya melirih, “Karov la'bayit, shekhinah’.

Yahya, Zebulon dan Rahel adalah warga negara Singapura yang memenuhi undangan Jewish Welfare Board (JWB) untuk sebuah kongres tadi. Hari itu, mereka bertiga terjebak kekacauan di arae suci Tembok Ratapan.

Sementara itu, kedua kelompok demonstran yang terkonsentrasi tepat di depan Tembok Ratapan msih saja beritegang. Mereka saling ejek, di bawah pengawasan unit Sareyet Matkal.

Pasukan khusus itu sejatinya sibuk dengan misinya sendiri, entah apa. Yang pasti, mereka puas memorak-porandakan konsentrasi liturgi peziarah dengan kebisingan pemanggilan seseorang yang bernama Rahel lewat megafon itu.

Sekarang, sebagian dari mereka, sibuk kumpulkan lembar kertas yang terselip di celah-celah Tembok Ratapan itu.

Di tempat lain, tak jauh dari Tembok Ratapan, sosok berjubah yang mengaku Rahel tadi, tampak sibuk membaca lembaran Torah yang terbuka gulungannya.

Tempat ia berdiri, ada sebuah meja besar yang menghampar, cukup untuk membuka gulungan super besar itu.

Lampu LED di dahinya menyorot huruf demi huruf aneh alephbeth yang jauh bentuknya dari huruf alfabet pada umumnya. Ruangan berdinding bebatuan kapur itu, serasa beku oleh gelap dan lembabnya sekitar.

Beberapa rembesan pipa air menetes tegas pada sebuah loyang persembahan di atas sebuah altar kuno berhias ukiran dusun Magdala, tempat Maria Magdalena berasal dalam cerita alkitabiah.

Bau dupa pemujaan masih tersisa, entah dari zaman apa, yang pasti bau-bau harum itu melekat erat, terserap di porositas tembok-tembok yang sengaja dipilihkan bahannya dari batu kapur itu.

 ”Elkanah, God has possessed, God has created," gumamnya sambil terus meniti ayat-ayat yang berisi lafaz “elkanah” itu.

Sesaat kemudian, matanya melirik lembaran lain yang berisi tabel “alkana” rantai lurus, sebuah rumus-rumus kimia yang diurutkan berdasarkan jumlah atom karbonnya.

Beberapa detik kemudian, Zebulon dan Yahya sudah berada di belakang gadis bertudung itu. 

Tiba-tiba saja, Zebulon sudah menodongkan sebuah pistol ke tengkuk sang gadis.

“Serahkan!” sergapnya.

Yahya langsung terkejut dengan apa yang terjadi.

“Zeb?” mulutnya belum juga mengatup atas keterkejutannya.

“Kau juga merapat ke tembok, cepat!!” perintah Zebulon kepada Yahya yang masih tidak percaya apa yang terjadi.

Ditariknya tudung yang menjuntai hingga mata kaki itu. Dan, zlappp….

Ternyata gadis yang dipanggil Rahel itu berseragam tentara IDF Israel!

“Kau………??”

Yahya tak putus keherannya. Seolah tak percaya, gadis yang menemani acara kongrtes libertarian dan Komunis di Tel Aviv kemarin lusa itu seorang kombatan Israel. 

Kini dengan seragam yang menempel di tubuhnya, tersimpulkan bahwa Rahel adalah benar-benar seorang Female IDF Israel. 

Tak disangka, setanah air Singapura itu, ternyata berbakti juga kepada Israel. Jadi, selama ini, Rahel yang berstatus sebagai mahasiswa Lassale Singapura itu, sedang  mengemban tugas dari Israel. Sebuah fenomena kewargaan ganda.

Rahel berhasil menyusup ke jaringan libertarian Singapura, yang akhirnya terbuka juga kedoknya di bangunan yang disebut “Al-Bait” itu. Kini, ketiga mahasiswa dari kampus berbeda itu, berada dalam sebuah suasana yang menegangkan.

“Jalan!” perintah Zebulon. Rahel dan Yahya berjalan di bawah todongan pistol. Beberpa belokan dan lorong gelap mereka lewati. Labirin ruwet itu sepertinya sudah ditandai oleh Zebulon dengan melihat banyaknya tanda-tanda coretan cat putih di setiap persimpangannya.

Hingga ditemuinya alat angkut yang terbimbing oleh rel. Keduanya tidak bisa memastika alat angkut apa itu.

Melesatlah ketiganya di atas alat angkut yang tak terdengar bunyi kinerja mekaniknya. Sepertinya tak bermesin, tapi sangat laju sekali.

Sesekali Zebulon tampak sibuk berkomunikasi lewat gelombang radio, secara nalar juga tak mungkin terjadi di dalam lorong bawah tanah yang sangat “faraday cage” banget itu.

Ketidaktahuan dan keheranan menjadi satu, membuat jarak tak terasa terlampaui. Percepatan atas velositas tubuh mereka, terpotong oleh keruwetan pikiran yang tak berujung yang terus menebak-nebak alur peristiwa serba mengejutkan tadi.

Akhirnya, jalur rel itu berakhir pada sebuah merah tebal dari bahan logam yang sudah karatan. Rahel dan Yahya dipaksa untuk membukanya dengan todongan pistol yang siap menyalak.

Ha-Zeitim !!”desah Rahel, matanya terbelalak. Di depannya adalah Bukit Zaitun yang berjarak puluhan kilometer dari Tembok Ratapan

 “Bukit Zaitun?” sela Yahya, yang sedari tadi berusaha keras untuk mengerti ujaran-ujaran Ibrani dari mulut Rahel.

Di kejauhan, di titik tertinggi Bukit yang hanya berketinggian 818 meter itu, tampak asap membumbung tinggi. Sesekali diiringi percikan api yang tak jelas sumbernya.

“Jalan terus, naik!! paksa Zebulon. Ketiganya bersusah paya menaiki Bukit Zaitun yang sebagian besar berisi makam-makam kuno Yahudi.

Kanan dan kiri hanya terlihat nisan-nisan tebal yang rapat berjajar. Beberapa onggok besar daun dan bunga-bungaan layu terlihat di situ. Sepertinya habis perayaan hari raya Sukkot (Hari Raya Pondok Daun-daunan) yang sejak dulu ditradisikan oleh Yahudi di Bukit Zaitun.

Mata Yahya yang jeli itu melihat seberkas pantulan lensa yang sepertinya tak terkontrol penggunanya. Panatulan itu berasal dari onggokan bangkai bunga dan daun bekas perayaan Sukkot tadi.

“Kenapa ada sniper,” pikirnya dalam hati.

Siang makin terik, matahari memanggang jalur daki Bukit Zaitun yang kini gersang itu. Tapa adanya jeda, Zebulon memaksa Yahya dan Rahel untuk terus mendaki.

Zebulon sangat terburu-buru dengan waktu. Entah sebuah deadline apa itu.

“Kalian berdua hanyalah alat kapitalis!” tiba-tiba Zebulon ngoceh tak keruan.

“Apa maksudmu, bukankah kita satu barisan! Apakah kau berkhianat kawan?” Yahya membela diri.

“Persetan libertarian, aku tetap komunis!! Kalian saja sok bebas, padahal jadi tunggangan kapitalis!” Zebulon menghentikan langkah, seolah melepaskan sesak dadanya, benar -benar emosi.

“Bukankah kita sepakat untuk selamatkan kotak beradioaktif itu?” Rahel menyela.

“Ohh, kau mulai perhitungan wahai kapitalis!!” respon Zebulon sambil terus menodongkan pistolnya.

Yahya semakin bingung, model konspirasi apa ini. Belum sempat, jauh berpikir, di kejauhan, tepatnya di titik koordinat Tembok Ratapan, terdengar bunyi ledakan keras yang beriring asap putih membumbung timggi.

Yahya sudah melayangkan pikirannya terjadinya bentrok dua kelompok demonstran yang saling berhadapan untuk masalah kesetaraan hak berdoa di Tembok Ratapan.

Pasukan Sareyet Matkal pasti sudah tak bisa menguasai keadaan. Misi pribadi pasukan untuk menemukan lembar kertas yang kini ada di genggaman Yahya itu, pasti tak ingin diganggu demonstran yang tak ada hubungannya dengan dunia harta dan tahta.

Kertas yang tak pernah terpikirkan oleh Zebulon itu berisi catatan penting yang sedang dicaari-cari kolektor barang antik sedunia. Sedang di sini, di Israel, misi itu terwakilkan oleh pasukan Sayeret Matkal yang sudah disusupi pemodal asing.

Yahya mendapatkan informasi lembaran kertas itu dari seorang yang bernama Rahel yang kini tertodong bersamanya olegh pistol Zebulon.

“Akulah Rahel” suara itu menghentikan ketiganya, tepat di puncak Bukit Zaitun.

Ada dua Rahel di puncak bukit itu. Yahya bolak-balik memandangi Rahel yang sangat mirip wajahnya itu.

“Apa lagi ini?” Yahya semakin bingung.

Rahel yang satu itu tidak memakai seragam IDF Israel. Dia malah memakai baju adat perempuan Yahudi yang lebih ortodoks dari baju yang dipakai demonstran ortodok di Tembok Ratapan itu.

Baju itu berupa burqoh tanpa cadar, seperti baju-baju badui nomadik pada umumnya.

Kilatan lensa pembidik sniper makin banyak saja. Terik matahari benr-benar tidak memberi kesempatan kepada para sniper untuk menyembunyikan pantulan lensanya. Sepertinya mereka sudah tak sabar lagi untuk mendapat perintah eksekusi. Entah siapa targetnya.

Rahel yang berbaju kombatan IDF Israel tampak menunduk sambil terisak. Sedang Rahel yang satunya, yang ber-burqoh, menyeringai dan tertawa lepas sambil mengeluarkan lembar kertas untuk menyaingi kertas yang tergenggam di tangan Yahya.

Beberapa senapan sniper menyalak berbarengan dengan redanya tawa Rahel yang ber-burqoh. Sepertinya kode eksekusi. Dua tubuh roboh berdebum ke tanah, bersimbah darah.

Kemudian terdengar kidung “Lot (Luth) dan Keluarga” yang dilirihkan oleh Rahel yang ber-burqoh itu:

larilah, cepatlah Lot dan keluarga,
api Tuhan turun Sodom Gomora,
janganlah menoleh melihat harta,
istri Lot lupa dan menoleh ke belakang,
Jadi tiang garam. 

Danau laut mati seakan mengamini kidung tersebut. Pelan namun pasti, bayangannya mendekati bayangan satunya yang masih mematung.

Akhirnya dua bayangan tinggi semampai itu hampir semenit merapat dengan gerakan-gerakan erotis dan desahan khas feminin. Bayangan itu makin liar saja bergerak, berhimpitan erat, seakan mengejek dua simbol maskulinitas yang telah tumbang di tanah Bukit Zaitun itu.

Kertas-kertas sumber petaka itu sudah berada di tangan komandan sniper. Setengah jam kemudian, tampak dua sniper muncul dari galian kuburan kuno yang telah terkoordinat dari dua kertas yang disatukan tadi. Sebuah kotak besar diangkat keluar dari lubang galian kuburan kuno itu.

Rahel yang berseragam kombatan itu melepaskan diri dari dekapan si pembentuk bayangan erotis tadi. Lipstik dibibirnya sudah pucat, sepucat wajahnya.

Rahel si kombatan IDF Israel itu meluncur turun tanpa menghiraukan kegembiraan lain di puncak Bukit Zaitun yang telah menemukan sesuatu yang dicari kolektor sedunia itu.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kemampuan, Rahel IDF Israel itu berusaha menuju pelataran Tembok Ratapan yang entah apa keadaannya sekarang. Sedang Rahel yang ber-burqoh tadi lenyap dari pandangan, bersamaan dengan kotak yang paling dicari itu.

“Kenapa kau tega milik kita diambil!!!” meledaklah tangis Rahel yang berseragam kombatan itu.

Pria yang menjadi tumpuhan ledakan tangisnya mematung saja. Dia adalah komandan Sayeret Matkal yang sudah terbeli oleh Rahel yang ber-burqoh tadi.

Karov la'bayit, shekhinah, Tabut Shekhinah,” kata-kata itu diulanginya, sambil tubuhnya dibopong kombatan laki IDF Israil menuju mobil taktis yang masih saja menyalak sirinenya.