Bangun dan beribadah di waktu malam adalah dambaan setiap muslim, setiap muslim pasti menginginkan bangun di waktu malam, selain karena di anjurkan, di waktu malam juga menjadi salah satu tempat di mana doa akan di ijabah oleh Allah swt. Namun, tidak semua orang mampu bangun di waktu malam.

Selain karena faktor malas, terkadang sebagian orang menganggap bahwa bangun di waktu malam memiliki dampak negative di siang hari. Padahal jika kita mau mengamati para ulama dahulu sangat senang memanfaatkan waktu malamnya untuk belajar dan beribadah.

Syekh Khotib mengisahkan bahwa para ulama dahulu selalu melakukan diskusi ilmu mulai dari waktu isya’ dan tidak akan berhenti sebelum mereka mendengar suara adzan subuh. Beliau menegaskan :

وَأَفْضَلُ الْمُذَاكَرَاةِ مُذَاكَرَةُ الْلَيْلِ

Artinya:”Mudzakaroh yang paling utama adalah mudzakaroh di waktu malam”

Para ulama dahulu juga sangat  bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan waktu malamnya, karena mereka sangat menyadari, bahwa ibadah di waktu malam memiliki manfaat yang sangat besar dibanding ibadah di siang hari, serta mereka sangat menyadari betul, bahwa di waktu siang pasti mereka akan sibuk dengan urusan dunia mereka masing-masing. Allah berfirman dalam QS. Al-Muzammil : 6-7

اِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيْلَا (٦ ) اِنَّ لَكَ فِيْ النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيْلًا ( ٧ )

Artinya:”Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu malam itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)” QS. Al-Muzammil : 6-7

Mengisi waktu malam untuk beribadah atau belajar merupakan tugas yang sangat berat, karena dalam diri manusia terdapat nafsu yang selalu mengajaknya untuk bermalas-malasan. Nafsu merasa memiliki jatah untuk membaringkan tubuhnya agar beristirahat, oleh karena itu hanya orang yang mampu menundukkan nafsunya lah yang akan mampu bangun di waktu malam.

Para ulama terdahulu juga mewajibkan para santri-santrinya untuk bangun di waktu malam dan mengisinya untuk beribadah serta belajar. Mereka juga mengajarkan bagaimana cara mengelola waktu tersebut supaya kegiatan bangun di waktu malam tidak berdampak negative di siang hari. Berikut rahasia sukses para ulama bangun di waktu malam ;

Pertama, menjaga porsi makan. Orang yang perutnya senantiasa terisi penuh, maka akan berakibat munculnya rasa kantuk yang amat dahsyat. Pada dasarnya penyebab seseorang merasa kantuk adalah banyaknya air yang tersimpan dalam perutnya. Lantas apa hubungannya dengan menjaga porsi makan? Logikanya demikian, semakin banyak orang tersebut makan, maka semakin banyak pula orang tersebut untuk minum.

Kedua, tidur qoilulah. Agar kita dapat bangun di waktu malam, kita perlu melakuhkan tidur Qailulah, yakni tidur di waktu sebelum dzuhur. Karena jisim berbeda dengan ruh yang lebih kuat, sedang jisim tidak sekuat ruh, lantaran ia terikat oleh hukum alam. Oleh karena itu tidur merupakan sebuah kebutuhan pokok manusia.

Kita dapat melakukan aktivitas tidur qailulah dengan dua niat, yakni niat untuk menghindari maksiat dan niat untuk bangun malam. Tidur qailulah  dilakukan agar kita dapat kuat ketika bangun di waktu malam. Sama halnya dengan puasa yang membutuhkan makan sahur agar puasanya lebih kuat.

Ketiga, menghindari perbuatan maksiat. Para ulama terdahulu telah membuktikan akan hal ini. Setiap kali mereka tidak bangun di waktu malam, maka mereka akan mengingat-ingat perbuatan apa yang mereka lakukan di siang hari. Karena perbuatan disiang hari menentukan seseorang agar dapat bangun malam, oleh karena itu para ulama membuat langkah demikian agar Allah memudahkan mereka untuk bangun di waktu malam.

Keempat, niat yang kuat sebelum tidur. Manusia dapat memprogram apapun yang ia inginkan dengan otaknya. Kita dapat bangun di waktu malam secara otomatis menggunakan kekuatan niat yang tersimpan di dalam otak kita. Jika kita niat dengan sungguh-sungguh untuk bangun jam 2 malam, maka secara otomatis kita akan bangun.

Namun, yang dapat menentukan apakah ia akan bangkit dari tidurnya atau malah ia akan kembali tidur adalah faktor seberapa banyak maksiat yang sudah ia lakukan di siang hari.

Begitulah langkah rahasia sukses para ulama bangun di waktu malam. Mereka dengan sungguh-sungguh memanfaatkan waktu malamnya untuk beribadah dan belajar supaya waktu yang sudah Allah berikan untuknya tidak terbuang sia-sia.

Seorang yang menghabiskan waktu malamnya untuk memperbanyak tidur adalah orang yang bodoh. Seorang yang bergelar sulthobul ulama, yakni Syekh Izuddin bin Abdissalam mengatakan dalam sya’irnya.

اَيْنَ مِنْكَ الْعَقْلُ وَالْفَهْمُ اِذَا ۝ غَلَبَ النَّوْمُ, فَقُلْ لِيْ يَاجَهُوْلُ

Artinya:”Dimana akalmu dan kefahamanmu ketika tidur mengalahkanmu, jawablah pertanyaanku wahai orang bodoh”

 Orang yang terlalu banyak tidur selain waktunya hanya terbuang sia-sia dan termasuk orang-orang yang bodoh, para ulama juga berpendapat bahwa terlalu banyak tidur dapat menyebabkan faqir harta dan faqir ilmu. Syekh Azzarnuji berkata dalam kitab Ta’limul muta’alim;

سُرُوْرُ النَّاسِ فِيْ لُبْسِ اللِّبَاسِ ۝ وَجَمْعُ الْعِلْمِ فِيْ تَرْكِ النُّعَاسِ

Artinya:”Kebahagiaan manusia terletak pada pakaian yang ia kenakan, sedang mengumpulkan ilmu terletak pada meninggalkan ngantuk”.