Sejarawan
3 tahun lalu · 4584 view · 8 min baca menit baca · Pendidikan 01.jpg
Para siswa di Finlandia belajar di Kelas. (www.telegraph.co.uk)

Rahasia Sistem Pendidikan Finlandia

Biologi aku grogi
Sejarah aku pasrah
Olahraga aku bergaya
Bahasa aku tak bisa
Matematika membuatku terluka
Guru-guru memaksaku mengerjakan semuanya
membuat mulutku semakin menganga.
 

Itulah potongan bait puisi yang tertera di halaman belakang buku kenangan sebuah Sekolah Menengah Pertama yang terletak di bilangan Mayestik, Jakarta Selatan. Kenangan yang kami lalui ketika masih mengenakan seragam putih-biru, wajah-wajah lugu yang belum terpapar tebasan gear serta menornya kosmetika. Belum lagi nama-nama panggilan jadul yang menyimbolkan kejenakaan, terukir dalam lembaran tipis buku yang kini telah terbubuhi debu itu.

Puisi itu, mungkin kini tiada lagi alumni yang mengingatnya. Apalagi para tenaga pengajar yang saat ini mungkin sebagian telah purnatugas atau menghadap yang di atas. Namun, prosa bernada seirama itu jelas menyiratkan sebuah elegi di mana lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi mata air pencerahan, nyatanya justru menginjeksikan penderitaan bagi partisipannya.

Kondisi demikian, memang telah menjadi momok yang menghantui Civitas Academica di seluruh Indonesia semenjak masa silam. Dimulai dari minimnya fasilitas serta infrastruktur penunjang pendidikan, kualitas tenaga pengajar yang rendah, jam pelajaran yang super padat.

Belum lagi buku-buku pelajaran berukuran kolosal yang sudah ketinggalan zaman. Juga pengutamaan nilai tinggi dibanding kelayakan akal budi. Kurikulum yang tentatif, kerap berganti layaknya bunglon bermimikri warna.

Impilkasi dari kebobrokan tersebut, tahun 2015 kemarin, Peringkat Indonesia dalam World Competitive Index melorot 16 Tingkat dari Posisi 25 ke 41. Menempatkan Indonesia di bawah negara-negara penunggak hutang seperti Portugal dan Yunani serta Trio Negara Minor di wilayah Baltik yaitu Lithuania, Latvia, dan Estonia.

Survey ini dikemukakan oleh Institute of Management Development yang bermarkas di Lausanne, Swiss. Dalam pemaparannya di Singapura, lembaga ini menganggap Indonesia kekurangan tenaga profesional yang diakibatkan kurangnya belanja publik untuk sektor pendidikan.

Padahal, Gary Stanley Becker dalam bukunya yang berjudul Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis menyimpulkan bahwa pendidikan adalah aset masyarakat. Pendidikan merupakan tambahan bagi Human Capital yang mencakup kompetensi, pengetahuan, atribut sosial dan kepribadian yang diwujudkan dalam kemampuan untuk melakukan kerja sehingga menghasilkan nilai ekonomi.

Becker memandang waktu sebagai investasi utama dalam pendidikan. Waktu yang diinvestasikan untuk menempuh pendidikan inilah yang disebut sebagai Opportunity Cost.

Pendapat Becker tersebut diperkuat pula oleh Gregory Mankiw, David Romer dan David Weil dalam tulisan ilmiah mereka yang berjudul A Contribution to the Empirics of Economic Growth. Bagi mereka, Pendidikan adalah penentu penting dari kesejahteraan ekonomi.

Pendidikan memiliki mekanisme yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Karena, pendidikan dapat menambah Human Capital yang melekat dalam angkatan kerja, yang otomatis meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan, sehingga mempercepat transisi menuju tingkat ekuilibrium output yang lebih tinggi. Ini selaras dengan argumen yang sering digembar-gemborkan oleh para penganut Teori Pertumbuhan Ekonomi Neoklasik.

Rakyat Indonesia sendiri, sebenarnya mafhum bahkan tak sedikit yang bersikap apatis terhadap atmosfer keprimitifan yang menaungi bangsa ini. Penyebabnya adalah inisiatif maupun Good Will yang minim dari pemerintah untuk menciptakan terobosan yang transformasi di bidang pendidikan.

Di sisi lain, sebagian masyarakat kita yang masih menyimpan asa akan terwujudnya pendidikan yang layak, merata dan berkualitas, mencari-cari role model sistem pendidikan idaman yang kelihatannya bisa diterapkan di Indonesia.

Mereka kemudian menemukan impian itu pada Republik Finlandia, sebuah negeri di belahan utara benua biru yang berdekatan dengan lingkar kutub, berselimutkan es dan diselubungi tirai Aurora.

Dinobatkan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) sebagai yang negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia memang disegani karena menawarkan metode pengajaran yang ultra-progresif dengan integrated curriculum, metode mengajar yang berpusat pada siswa (student centered teaching method), serta pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu (individualized instruction).

Sejumlah inovasi edukatif di Finlandia semakin membuat rakyat Indonesia tercengang. Bagaimana tidak? Di Finlandia, tidak ada PR dan ujian rutin. Kompetisi belajar pun dinihilkan. Selain itu, guru diupah lebih dari cukup dan anak-anak juga dimotivasi agar menyukai proses belajar mengajar.

Sebenarnya, apa yang mendorong pemerintah Finlandia mengimplementasikan terciptanya suasana nir-tekanan pada para anak didik? Mengapa fenomena yang tak lazim ditemukan di Tanah Air kita yang dibumbui otoritarianisme dan feodalisme ini, justru dianggap lebih ampuh dan efektif?

Jawabannya, sejarah dan kearifan lokal yang mendarah daginglah yang menjadi ultima ratio (penentu akhir) bagi Pemerintah Finlandia dalam mengeksekusi kebijakan seputar dunia pendidikan.

Bangsa Suomi, sebagai penduduk asli Finlandia, dikategorikan oleh Arnold Toynbee dalam bukunya yang berjudul A Study of History, sebagai peradaban yang tak sempurna. Pasalnya, challange (tantangan) dari wilayah Finlandia yang membeku, merupakan obstacle (hambatan) bagi Bangsa Suomi yang bermigrasi dari Pegunungan Ural, untuk melahirkan bentuk peradaban yang sofistikatif.

Alhasil, selama berabad-abad Bangsa Suomi hidup nomaden (berpindah-pindah) sebagai penggembala rusa. Struktur keluarga mereka tergolong Nuclear Family. Mereka juga tak mengenal tradisi aksara sebagai perekam adat istiadat serta tradisi.

Hingga pada tahun 1249, Bangsa Swedia yang termasuk rumpun bangsa Jermanik Utara, dipimpin oleh Birger Magnusson Bjelbo datang dari Semenanjung Skandinavia ke Finlandia. Birger menamai tanah yang ia injak itu sebagai Österland (wilayah Timur). Lantas memulai penguasaan atas Bangsa Suomi selama 600 tahun.

Pada tahun 1249, Bangsa Swedia gagal menguasai sebagian bangsa Suomi yang tinggal di Semenanjung Kola dan Karelia Timur karena intervensi Republik Novgorod. Sejak itulah bangsa Suomi mulai bersentuhan dengan peradaban lain yang lebih maju.

Bangsa Swedia memperkenalkan agama Katolik Roma, huruf Latin dan cara-cara hidup khas masyarakat Eropa Barat. Sedangkan Republik Novgorod, memboyong bangsa Suomi yang tinggal di Karelia dan Semenanjung Kola untuk memeluk Kristen Ortodox dan mengadopsi budaya Rusia.

Namun, bangsa Suomi berada di bawah kekuasaan bangsa Swedia yang akhirnya lebih maju. Pada tahun 1550, Gustav Eriksson Vasa selaku Raja Swedia mendirikan kota Helsinki (cikal bakal ibukota Finlandia saat ini) dan juga memperkenalkan agama Kristen Protestan.

Bangsa Suomi yang tadinya hanya petani dan penggembala rusa kemudian didayagunakan pula tenaganya sebagai prajurit tempur. Pada tahun 1596, para petani di Pohjanmaa dipersenjatai dengan pedang dan artileri untuk ikut dalam perang saudara antara Raja Sigismund Johannsson Vasa dan pamannya, Pangeran Karl Gustavsson Vasa.

Pada paruh pertama abad ke 17, Kerajaan Swedia makin digdaya. Di bawah kepemimpinan Raja Gustav Adolf Vasa, rakyat Finlandia direkrut ke dalam Kavaleri Ringan yang disebut Hakkapeliitat. Mereka diikutsertakan dalam Perang 30 tahun antara Kekaisaran Romawi Suci melawan negeri-negeri Jerman beragama Protestan yang mendapat support dari Swedia.

Kendati demikian, dalam kehidupan keseharian di mana perang tidak berkecamuk, masyarakat Suomi tetap hidup sederhana dan bersahaja: memburu ikan di danau, bertani, dan menggembalakan rusa

Akhirnya, 600 tahun penjajahan Swedia pun harus berakhir. Raja Swedia, Gustav Adolf von Holstein Gottorp dikalahkan oleh Tsar Alexander I dari Russia ketika Perang Napoleon. Swedia dipaksa menandatangani Traktat Fredrikshamn yang mengharuskan Swedia menyerahkan Finlandia pada Rusia.

Dengan begitu, dimulailah 200 tahun penjajahan Rusia. Sebagai penjajah baru, Rusia memilih memberikan otonomi khusus pada Finlandia dengan membentuk entitas otonom yang bernama 'Kearyapatihan Finlandia'. Tsar Alexander I menjadikan bahasa Finlandia sebagai bahasa adminstrasi di samping bahasa Swedia. Ia juga merekrut banyak rakyat Finlandia untuk menjadi pejabat maupun anggota parlemen.

Angin kebebasan ini lantas memicu percikan Nasionalisme Finlandia. Tetapi, bukan rakyat Suomi sendiri yang berinisiatif menjadikan perasaan ini sebagai sebuah gerakan yang terorganisir. Ada juga inisiatif dari para Homines Novi, bangsawan Swedia yang sudah lama tinggal di Finlandia sebagai tuan-tuan tanah dan mengabdi di Parlemen Finlandia, yang menjadi progenitor bangkitnya Pergerakan Nasional Finlandia.

Gerakan itu disebut Fennoman, yang dimotori oleh Bangsawan Swedia bernama Johann Wilhelm Snellman. Sekali waktu ia pernah berujar dengan lantang dalam Bahasa Suomi :

Ruotsalaisia emme ole
venäläisiksi emme tahdo tulla
olkaamme siis suomalaisia.

"Kita bukan lagi orang Swedia
Kita juga tak akan menjadi orang Rusia
Kita harus menjadi orang Finlandia.

Himbauan Johann Wilhelm Snellman itu sukses mengajak bangsawan Swedia untuk Nobless Oblige, mengabdi untuk rakyat jelata, membimbing rakyat Finlandia agar mau berjuang membela tanah air yang mereka tempati bersama. 

Gerakan itu berhasil menyemaikan benih-benih kebangsaan yang turut membantu terbentuknya identitas bangsa Finlandia. Elias Lönnrot mengompilasi cerita rakyat Finlandia yang diwariskan secara turun temurun lewat generasi lisan menjadi sebuah buku berjudul "Kalevala".

Johann Christian Sibelius kemudian menggubah cerita-cerita tersebut menjadi simfoni musik klasik yang menggugah hati. Johannes Linnankoski juga aktif mendirikan sekolah-sekolah rakyat dan surat kabar berbahasa Finlandia.

Hingga Finlandia merdeka pasca Perang Dunia Pertama pun, para elit Swedia masih mendominasi panggung perpolitikan. Tak kurang dari empat generasi awal Presiden Finlandia berasal dari kelas ini, yakni Karl Johan Stahlberg, Lauri Christian Relander, Peter Svenhufund dan Karl Gustaf Emil Mannerheim.

Salah satu tokoh yang mendorong Reformasi Pendidikan di Finlandia, sekaligus yang mempropagandakan keberhasilan itu ke seluruh dunia, adalah Dr.Pasi Sahlberg, yang notabene juga keturunan Swedia.

Ia adalah Dosen di Universitas Harvard yang juga pernah mejabat sebagai Director General of CIMO (National Centre for International Mobility and Cooperation) di Kementrian Kebudayaan Republik Finlandia. Ia juga menulis buku berjudul Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland.

Sejarah panjang bangsa Finlandia, di mana mereka yang semula hanyalah suku penggembala rusa yang hidup sederhana namun harus menghadapi penjajahan jangka panjang oleh Imperium-imperium besar dan malah menerima uluran tangan dari penjajahnya sendiri untuk bisa menghirup udara kebebasan, membuat rakyat Finlandia sadar bahwa untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri, mereka pun harus jadi terpelajar, harus berbudaya, harus cerdas.

Namun, dengan bekal kebudayaan yang minim itu, rasanya sulit untuk bisa mengejar ketertinggalan dibanding bangsa Swedia yang lebih maju atau bangsa Rusia yang telah menjelma menjadi kekuatan adidaya. Untuk itulah, Pemerintah Finlandia menciptakan sistem pendidikan yang tidak represif, yang mengutamakan kegembiraan, bukannya ketakutan.

Karena, jika cara belajarnya teralu monoton, kuanitatif, dan ditransmisikan melalui angkara murka para pendidik, bagaimana mungkin anak anak Suomi yang hidupnya dari menggembalakan rusa itu akan mau belajar tekun?

Sementara itu, bangsa Indonesia yang berbudaya tinggi malah terjebak dalam tindakan pengabaian terhadap perasaan dan kesejahteraan anak didik yang sedang menuntut ilmu. Memang, kita punya Borobudur, dan memang dulunya Majapahit adalah Imperium besar. Tapi, diluar sana, banyak bangsa yang lebih hebat dari kita.

Bangsa Cina sudah mengenal catatan kependudukan sejak 1500 tahun sebelum masehi, di saat kita masih berkelana di hutan-hutan. Akhirnya terbukti pula, walau kita kaya rempah-rempah, namun kita dikalahkan oleh bangsa Eropa yang tadinya mengenal mesiu dari bangsa Cina.

Untuk itu, hendaknya arogansi dan chauvinisme kita buang jauh jauh. Tirulah para bangsawan Swedia yang mau turun kebawah, yang mau melayani dan mengayomi rakyat yang bahkan berbeda ras dari mereka. Khususnya bagi para pejabat dan politikus di negeri ini, mau sampai kapan Anda duduk santai sambil meluruskan kaki layaknya tuan-tuan tanah sementara banyak ketertinggalan yang harus dikejar oleh bangsa ini. Terutama dalam hal pendidikan.

Artikel Terkait