Penulis
10 bulan lalu · 193 view · 3 menit baca · Cerpen 84592_11363.jpg
darkness

Rahasia Sang Pengantin

Di pagi buta, Diana terbangun bersama kesalnya. Sudah seminggu semenjak malam pertama berahinya tak pernah terlampiaskan. Tidak selesai. Itu artinya tak ada malam pertama bagi sepasang pengantin ini. Apalagi malam kedua, ketiga dan seterusnya.

Meski kesal dibuatnya, Diana enggan menanyakan kepada suaminya. Sebagai perempuan, barangkali ia malu. Bisa saja. Siapa yang tahu? Diana Seorang. Lebih jauh lagi, Diana tak mau menghancurkan kebahagiaan yang masih baru, jika harus menanyakan sesuatu yang memang cukup sensitif adanya.

Malam-malam mereka hanya ada kegemingan. Sebentar saling tatap sebelum akhirnya diam tanpa bicara. Jika malam pertama bagi sepasang pengantin adalah malam paling bersejarah atas nama cinta, tidak demikian dengan Diana dan Rambo. Malam mereka hanya diselimuti kebisuan yang menyedihkan.

Selalu begitu; Sekali waktu, Rambo, suami Diana, hanya akan memandangnya dalam keadaan telah telanjang sebelum akhirnya ia memilih untuk tidur. Ia takan berbicara sepatah kata pun dan akan membelakangi Diana.

Atau juga, pernah, Rambo yang telah dalam keadaan telanjang tetapi tiba-tiba saja ia bergeming dan memilih untuk tidur. Ia seperti bingung. Dan sialnya, ia tetap membelakangi istrnya. Diana pun hanya diam dan terbangun ketika pagi masih buta dan ia akan kesal sejadinya.

Diana mencoba bersabar dan akhirnya ia pula tak tahan. Kasian. Bagaimanapun, Diana cukup penasaran pada nikmatnya malam pertama. Seperti cerita yang ia dapatkan dari ibu-ibu yang lebih dulu kawin. Sakit tapi enak, kata ibu-ibu itu.

Tetapi apa yang didapat Diana atas cerita itu? Tidak ada. Tak ada malam pertama baginya, pun kenikmatan. Kecuali bayang-bayang kenikmatan yang tak pernah ia rasakan. Seperti dendam, hanya akan berakhir oleh sebuah pembalasan.

“Rambo yang kukenal itu perkasa dalam segala hal. Entah Rambo macam apa yang kudapatkan,” keluh Diana. Ia akhirnya memilih untuk menceritakan semuanya kepada sahabatnya di suatu waktu. Sahabatnya hanya terkekeh mendengar jika malam pertamanya hanya bayang-bayang saja serupa dongeng sebelum tidur. Sebelum akhirnya sahabatnya memberi saran:

“Ada baiknya kau menanyakannya, Diana. Lebih baik daripada hanya mengeluhkannya. Lebih baik daripada tidak sama sekali dan lebih baik daripada hanya membayangkannya. Bercinta itu enak, Diana” Sahabatnya terkekeh lagi begitu riang. Entah apa yang ia kekehkan.

***

Apakah Rambo memiliki penyakit? Diana tak tahu. Sebagaimana ia tak tahu apakah suaminya itu normal atau tidak. Atau boleh jadi Rambo lemah syahwat dan malu sebab itulah ia tak pernah menyetubuhinya? Diana pun tak tahu.

Diana hanya yakin jika suaminya masih baik-baik saja sebab burungnya masih bangun dan tegang. Dan segala pertanyaan itu hanya akan berputar-putar dalam kepalanya sebelum membikin hatinya begitu tercabik dan kesal begitu rupa.

Selain keyakinan Diana, yang diketahui betul olehnya adalah bahwa Rambo tak memiliki satu pun masa lalu tentang cinta. Ia bukan pria yang tangkas akan hal itu. Pecundang. Meski mereka sebelumnya berpacaran, itu pun hanya seminggu saja. Apa yang bisa diharapkan dari hubungan seminggu? Tak banyak. Bercinta? Terlalu cepat. Ciuman? Jangan harap Rambo mengerti.

Rambo akui itu sebagaimana Diana mengetahuinya. Rambo adalah lelaki yang terlalu tolol soal cinta. Ia hanya mengerti bagaimana bekerja dan bekerja. Berterima gaji dan menabungnya. Membeli ini dan itu jika diperlukan. Bagaimana mau bercinta, toh kekasih saja tak punya. Jikapun menyewa pelacur, itu bukan Rambo yang dikenal Diana.

***

Hingga akhirnya sampailah Diana pada titik selesai. Ia selesai dengan dirinya. Ia sudah belajar banyak hal dari bayang-bayang kenikmatan itu. Ia mengambil hikmah. Kehidupan ini menjadi rumit sebab manusia selalu menafsirkannya dengan cara yang rumit, kata Diana.

Jika di masa berpacaran selama seminggu itu Diana pernah meminta barang-barang mewah kepada Rambo ketika menemaninya berbelanja entah di pasar-pasar atau di toko-toko atau di mana pun, maka kini tiada lagi hal itu. Diana telah kuasa mengendalikan hasrat keduniawiannya.

Di dunia ini, semua palsu. Kata Diana yang lebih mirip orang-orang patah hati dan memilih menjadi filsuf. Mengarungi jalan sunyi. Sendiri dan sepi. Ia hanya akan berlaku sebagaimana mestinya seorang Istri; memanjakkan suaminya. Tak banyak meminta dan lebih banyak memberi jika dipinta pun tak dipinta.

***

Bulan pun berganti tahun dan menjadi tahun-tahun yang tua bagi mereka. Tanpa berahi yang selesai, tak pernah bercinta. Dan tentu tak memiliki anak. Malam pertama bagi pengantin hanya mitos. Paling tidak itu menurut Diana. Dan tak perlu diperdebatkan.

Jauh sebelum tahun perkawinan mereka menua oleh waktu, memadu kasih tanpa bercinta, berpasangan tanpa anak, Diana memang pernah sekali waktu dengan nyali yang tinggi, bertanya kepada suaminya perihal kenikmatan yang hanya menjadi bayang-bayang itu, ketika didorong oleh penasaran dan sahabatnya.

Ini sebelum Diana menjadi filsuf dadakan.

"Kau tahu, tak sekalipun pernah aku memilih. Aku tak tahu dan terlalu tolol untuk memilih"

"Apa maksudmu?" Kata Diana terheran-heran.

"Aku tak tahu lubang mana yang pantas bagiku!"

Diana hening. Rambo pun hening.

Artikel Terkait