Jika saya ditanya oleh seseorang mengenai apa sebenarnya rahasia untuk mendapatkan karya tulis yang baik, maka saya akan menjawab, “Rahasianya adalah, ya si penulis itu sendiri.” Tentu saja orang yang menanyai saya itu akan terkekeh lantaran menganggap saya sedang bercanda dan tidak serius dalam menjawab.

Mungkin saja ia akan beranggapan bahwa jawaban saya itu maksudnya adalah dengan cara menghadirkan fisik dan sosok penulis secara langsung untuk mengerjakan karya terbaik mereka.

Namun, sebenarnya maksud saya itu bukanlah demikian. Jika kita ingin mendapatkan hasil karya tulisan yang bagus, maka kita harus mengupayakan diri kita menjadi penulis yang bagus terlebih dahulu. Kemudian, pertanyaan selanjutnya yang bisa saja muncul adalah apakah mungkin bagi seorang penulis amatir—termasuk saya sendiri ini—berpeluang menjadi penulis yang bagus?

Entah, sejauh ini saya masih memiliki jawaban yang sangat optimis dan tidak hanya sekadar diplomatis, saya memiliki keyakinan tentu saja bisa. Kita berpeluang menjadi penulis sekaliber Eka Kurniawan, Emha Ainun Nadjib, Aguk Irawan, atau Mahfud Ikhwan manakala kita mau belajar dari guru mereka atau setidaknya kita mau mempelajari ilmu mereka.

Kemudian, untuk dapat mempelajari ilmu mereka, apakah kita harus ber-muwajahah atau bertatap muka langsung dengan mereka? Saya kira bertemu langsung dengan mereka dan belajar bersama mereka itu sangat baik, namun kita tidak harus melakukannya manakala kita memiliki keterbatasan untuk mewujudkannya.

Dalam sebuah pitutur orang yang bijak telah diterangkan, bahwa jika kita tidak mampu menjadi orang yang pandai, maka hormatilah dia—orang yang pandai itu—beserta ilmunya. Siapa tahu, dengan berbekal penghormatan kita kepada seorang alim dan ilmu yang dibawanya itu, akan membuahkan rahmat pengetahuan pada diri kita, sehingga kita pun dapat mewarisi kemampuannya.

Untuk menjelaskan hal ini, saya akan memberikan satu contoh dari kisah wayang saja. Dalam satu kisah wayang, barangkali kita telah mengenal sosok Karna. Konon, Karna (yang terlepas dari kontroversinya sebagai pembela Kurawa) adalah bagian dari barisan pemanah terbaik seantero jagat raya ini. Ia telah mendapatkan kemampuannya itu dengan cara belajar secara otodidak.

Pada mulanya, minat Karna untuk mempelajari teknik memanah yang baik ini muncul lantaran ia terinspirasi oleh kemampuan Resi Drona pada saat mengajari Arjuna cara untuk memanah.

Setiap hari, di sela-sela kesibukannya menggembala ternak, Karna terus saja mengamati proses latihan Arjuna yang mendapatkan bimbingan langsung dari sang guru besar itu. Ia mengamati, mempelajari, dan mempraktikkan sendiri apa yang telah ia peroleh sewaktu berada di padang gembalanya, begitu ia sampai di rumah.

Dan secara tidak sengaja, ia pun menjadi pribadi yang sangat mengagumi kepiawaian sosok Drona yang mengajari Arjuna itu. Dalam batinnya ia selalu saja menggumam, sungguh beruntungnya si Arjuna itu sebab ia telah mendapatkan pendidikan langsung dari sang begawan.

Sewaktu berada di rumah, sebelum Karna mempraktikkan teknik memanahnya itu, ia memiliki ritual untuk memejamkan mata sejenak. Ia membayangkan seolah-olah sang begawan hadir di sampingnya dan memberikan bimbingan padanya secara langsung. Kalau dalam kepercayaan sebagian masyarakat kita, mungkin saja ini adalah apa yang disebut dengan tawasul dan tabarukan, sehingga kita memperoleh keberkahan atas penghormatan itu.

Ajaibnya, dengan terus-menerus melakukan ritual dan latihan itu, Karna pun menjelma menjadi sosok pemanah yang teramat hebat dan pilih tanding. Dan bahkan berkat kemampuannya itu, Arjuna pun sempat dibuat minder dan gentar olehnya. Dan bahkan, ia pernah dalam kondisi yang sangat ragu akan kemampuan dirinya, meski sebenarnya ia telah memperoleh bimbingan langsung dari sang guru utama.

Dan andai saja, Guru Drona tidak meminta Karna untuk memotong ibu jarinya itu sebagai tanda baktinya sebagai seorang murid, dan Karna pun tidak mematuhi permintaan sosok yang paling dikaguminya itu, mungkin saja, ia akan menjadi pemanah yang terhebat sejagat. Bahkan melampaui kehebatan sosok Arjuna dan guru imajinernya, Drona.

Berawal dari kisah itu, kita dapat mengadaptasikannya dalam dunia kepenulisan. Untuk menjadi penulis yang baik, kita pun dapat mengambil pengalaman belajar dari Karna. Kita dapat mengimajinasikan diri kita seakan telah mendapatkan bimbingan langsung dari penulis-penulis hebat itu. Untuk mewujudkan hal ini, maka setidaknya kita perlu menyiapkan dua modal saja.

Modal pertama adalah kita harus mengakui secara tulus mengenai kehebatan para penulis yang kita kagumi, yang selanjutnya kita anggap sebagai guru itu. Adapun modal keduanya yaitu mengakui kebodohan diri kita dan ketidaktahuan kita, sehingga kita mau untuk menampung pengetahuan dari karya-karya guru imajiner kita, yang telah kita baca, kita pelajari, dan kita pahami teknik-teknik dalam menuliskannya.

Saya menganggap setiap penulis pasti memiliki ciri khas tersendiri dalam memberikan pemahaman pada pembaca karya mereka sekaligus mempunyai strategi yang berbeda untuk mengaduk-aduk perasaan mereka. Ciri khas inilah yang harus kita temukan pada masing-masing penulis yang menjadi guru kita itu. Kemudian kita pelajari dan kita praktikkan dalam karya-karya kita.

Saya yakin di antara sekian banyak teknik menulis dari penulis jempolan itu, pasti akan ada di antaranya yang sesuai dengan gaya menulis kita. Dan tentu saja, sangat boleh bagi kita untuk menggunakan satu, dua, tiga, atau berapa pun jurus menulis mereka itu. Kita pun boleh mengombinasikannya dengan teknik yang dimiliki oleh penulis lain, mengembangkan konsepnya, sehingga akan membentuk karakter tersendiri pada karya tulis kita.

Sebagai penambah keyakinan kita untuk berproses penulis yang hebat ini, kita juga dapat mengambil pelajaran dari potongan kisah dalam Film Kungfu Panda.

Dalam film itu dikisahkan, suatu ketika, Pho, si panda gendut yang digadang-gadang akan menjadi sosok pendekar naga, mengalami kebingungan yang luar biasa pada saat ia hendak mengungkap rahasia seni bela diri yang tertinggi.

Lantaran, gulungan naskah rahasia yang ia anggap akan menjadi cikal bakal untuk menyelamatkan dunia itu, ternyata isinya kosong. Sewaktu ia membuka lempengan naskah tembaga itu, tidak ada gambaran apapun yang terpancar di dalamnya, kecuali hanya pantulan gambar wajah orang yang memandangnya.

Singkat cerita, Pho baru menyadari sepenuhnya rahasia dari gulungan naskah itu manakala ia mendapatkan inspirasi dari ayah angkatnya, si bebek penjual mie ayam.

Sewaktu mereka hendak mengungsi dari desa yang kondisinya saat itu sedang mencekam akibat ancaman serangan dari Pendekar Harimau Tai Lung, sang ayah berwasiat pada Pho, bahwa rahasia tertinggi dari resep minya yang terkenal begitu enak itu sebenarnya tidak ada. Ia menegaskan bahwa sebenarnya kita sendirilah yang menyebabkan masakan itu bisa menjadi enak.

Penuturan ayah angkat Pho benar-benar membuka kesadarannya mengenai rahasia tertinggi ilmu bela diri itu. Ternyata maksud gambar yang tercermin pada gulungan naskah naga itu adalah menunjuk pada mereka yang memegangnya. Ya. Untuk menjadi seorang pendekar yang hebat, tidaklah ditentukan oleh sebuah jurus rahasia, namun ia ditentukan sendiri oleh mereka yang menghendakinya.

Berbekal kesadaran itulah, pada akhirnya Pho dapat menjadi ksatria naga yang mampu mengalahkan Tai Lung dan sejumlah penjahat kelas kakap lainnya yang berbuat onar di muka bumi.

Berangkat dari kisah Pho ini, maka kita pun dapat mengambil sebuah pelajaran, bahwa untuk menjadi seorang penulis yang baik itu memang tidak ada rahasianya. Jika memang ada rahasianya, maka rahasia terbesar itu adalah ya si penulis itu sendiri.

Setiap penulis memiliki kesempatan untuk mengungkap dan mengeksplorasi setiap detail potensi yang ada pada dirinya, sehingga ia benar-benar akan mampu menjadi penulis yang baik seperti yang tergambar dalam imajinasinya. Jadi, ya kembali lagi, rahasia untuk menjadi penulis yang baik adalah ditentukan oleh si penulis itu sendiri.